Mooneta High School

Mooneta High School
I'm Vampire


__ADS_3

 


 


Nhea masih terus berusaha untuk kembali mengingat-ingat siapa sebenarnya pria yang tengah berada di hadapannya saat ini. Sekeras apapun ia mecoba untuk membolak-balikkan pikirannya itu, tetap saja hasilnya nihil. Sepertinya memang benar-benar tak ada sedikitpun jejak yang meyakinkan tentang pria ini di dalam ingatannya sejauh ini. Nhea sangat yakin jika pria aneh ini hanya mengada-ada saja. Gadis ini juga sangat yakin jika mereka tak pernah bertemu sebelumnya, ah pasti ia sedang dikerjai oleh orang asing ini.


“Sebaiknya kau pergi saja, aku tak mengingatmu sama sekali,” ujar gadis itu dengan nada bicara yang terkesan ketus.


“Hah! Dasar!” balas Chanwo.


“Bagaimana bisa kalimat kasar dan tak berperi kemanusiaan seperti itu keluar dari mulut seorang gadis berparas malaikat sepertimu,” lanjutnya.


Nhea yang mendadak merasa tersindir itu, langsung mendorong tubuh Chanwo dengan sekuat tenaga. Akhirnya ia berani melawan setelah ditindas oleh pria ini. Menurutnya Chanwo sudah mulai keterlaluan karena telah sembarangan menuduh dirinya seperti ini. Jangan-jangan Chanwo adalah seorang penyusup yang mencoba sok akrab dengan dirinya, hanya agar penyamarannya tak dicurigai.


“Hei, kenapa kau mendorongku?” tanya Chanwo dengan kedua mata yang terbelalak lebar.

__ADS_1


“Harusnya kau tanyakan itu kepada dirimu sendiri! Kau lah yang telah memulai pertikaian ini terlebih dahulu!” sindir Nhea balik.


“Sebenarnya aku datang ke sini hanya untuk memastikan agar kau baik-baik saja setelah kejadian itu. Kau juga seharusnya berterima kasih kepadaku karena aku telah menyelamatkanmu  dari maut,” jelas Chanwo dengan panjang lebar.


Pria itu berkata sambil melipat kedua tangannya di depan dada, serta turut menaikkan dagunya, tatapannya terlihat begitu meremehkan seorang gadis lemah yang ia anggap tak akan jadi apa-apa tanpa dirinya. Sikap angkuhnya mulai muncul karena pertikaian kecil ini. Sebenarnya yang sedang mereka permasalahkan saat ini adalah sebuah persoalan sepele yang dibuat semakin terlihat rumit dengan sikap egois mereka masing-masing.


Nyaris lebih dari tiga menit kedua anak manusia ini saling acuh dan bungkam satu sama lain. Eh, tunggu dulu sepertinya aku salah. Anak setengah vampir dan penyihir, dan yang satunya lagi merupakan keturunan vampir murni. Tapi mereka berdua sama-sama memiliki rupa seperti seorang manusia pada umumnya, ditambah dengan paras mereka yang tak kalah rupawan. Lantas apakah aku salah jika menyebut mereka sebagai seorang anak manusia?


“Sudah, pergilah! Aku tahu kau ingin menyusup ke tempat ini,” ucap Nhea yang akhirnya memulai kembali topik pembicaraan terlebih dahulu.


“Lihat saja! Bagaimana bisa lagi-lagi kau menuduhku dengan yang tidak-tidak seperti ini?!” balas Chanwo tak terima.


“Kau sengaja datang ke sini dan mencoba mempengaruhiku dengan kondisi baru sadar seperti ini. Kau pasti ingin menjadikanku sebagai perisaimu, agar aksimu tetap berjalan sesuai rencana. Benar kan?” lanjutnya.


Chanwo menarik napasnya dalam-dalam, ia mencoba meningkatkan level kesabarannya yang nyaris habis tak tersisa karena gadis ini. Nhea benar-benar sedang menguji kesabaran pria ini, yang bahkan ia sendiri tak tahu pasti apakah seorang vampir seperti dirinya memiliki satu hal yang dinamakan dengan sabar.

__ADS_1


“Terserahmu saja, tapi aku masih menunggu ucapan terimakasihmu itu,” ujar Chanwo dengan perasaan hampa dan putus asa.


“DNA vampir yang sudah menyatu dengan darahmu itu akan membuat semua ingatanmu kembali. Tapi…. Ah, entahlah!” lanjutnya.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2