Mooneta High School

Mooneta High School
Isi Kepala


__ADS_3

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka kembali


duduk bersama. Nhea, Oliver, Chanwo, Jang Eunbi dan Jongdae. Meski belum


benar-benar kembali seperti semula, setidaknya hubungan mereka kali ini sudah


jauh lebih baik daripada sebelumnya.


“Waktu adalah pengobat untuk beberapa hal.”


Kalimat tersebut tidak bisa dibenarkan sepenuhnya. Namun, di


sisi lain juga tidak seutuhnya salah. Untuk beberapa situasi mungkin tidak


berlaku. Terkecuali dengan kondisi mereka kali ini.


Anak-anak itu sedang berkumpul di tribun penonton. Bahkan kelimanya


duduk secara berderet dalam satu barisan tempat duduk. Nyaris tidak ada jarak


yang tercipta di antara mereka. Jauh berbeda seperti yang sebelumnya.


“Kapan mereka akan membuka acaranya?” tanya Chanwo.


Secara tiba-tiba pria itu buka suara dan memecah keheningan


suasana di antara mereka berlima kala itu. Bukan sesuatu yang mengejutkan


sebenarnya. Namun, entah kenapa seluruh mata mendadak menjadi tertuju ke


arahnya. Seolah yang barusan bukan hal yang biasa terjadi.


Pria itu sempat merasa canggung akan situasi tersebut untuk


beberapa saat. Sebelum pada akhirnya ia memutuskan untuk berdeham beberapa

__ADS_1


kali. Cara yang satu itu mungkin cukup ampuh untuk meredam perasaan aneh ini,


sekaligus menetralisir atmosfir sekitar.


“Kenapa kalian melihatku dengan tatapan seperti itu?” tanya


Chanwo dengan ketus. Tidak lupa, ia juga melemparkan tatapan sinisnya.


“Hari ini semua orang tampaknya sedang bergelagat aneh,”


cicitnya setengah menyindir.


Lupakan soal pertanyaan yang tadi. Kini, ia sama sekali


tidak ingin memusingkan hal tersebut. Ia bahkan sudah tidak merasa penasaran


sedikit pun lagi perihal tersebut. Chanwo sama sekali tidak tertarik.


Sementara itu, di sisi lain Nhea masih sibuk berkutat dengan


sedang berada di sini bersama dengan yang lainnya, namun jiwa Nhea tidak pernah


benar-benar hadir. Sulit untuk dipercaya. Tapi, hal tersebut benar terjadi. Jiwa


dan raga gadis itu sedang tidak benar-benar berada di satu tempat yang sama


sekarang. Mereka bahkan tidak lagi menjadi satu kesatuan sejak beberapa saat


yang lalu.


Pikiran Nhea masih terjebak dalam mimpinya. Ia tidak bisa


berhenti untuk memikirkan hal tersebut. Tidak peduli seberapa keras ia mencoba


untuk menyingkirkannya dari dalam pikirannya. Atau hanya untuk sekedar

__ADS_1


melupakannya selama sesaat. Tapi, tetap saja tidak bisa. Hasilnya nihil. Padahal


ia sudah bekerja keras.


Tatapannya sudah kosong sejak tadi. Sepertinya mimpi buruk


yang sempat ia alami tadi malam bukan menjadi satu-satunya alasan kenapa ia


bisa bersikap seperti ini sekarang. Ada hal lain yang pasti juga mempengaruhinya.  Saat ini kepalanya sungguh sedang


berisik. Ia sendiri bahkan tidak tahu bagaimana lagi cara untuk menenangkannya.


“Hei!” sahut Oliver sambil menepuk pundak Nhea.


Sepertinya ia mulai menyadari jika pada kenyataannya


temannya yang satu itu sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.


Pasalnya, sejak tadi pagi ia terus bertingkah laku aneh. Tidak seperti


biasanya. Hari ini Nhea jauh lebih banyak diam.


“Apa ada sesuatu yang ingin kau ceritakan kepadaku?” tanya


Oliver untuk memastikan.


“Tidak ada,” jawab Nhea.


“Sungguh?” tanya gadis itu lagi.


Nhea hanya mengangguk untuk mengiyakan perkataaan temannya


yang satu itu. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, jika kali ini ia lebih


memilih untuk diam. Tidak banyak bicara. Terkesan misterius.

__ADS_1


__ADS_2