
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka kembali
duduk bersama. Nhea, Oliver, Chanwo, Jang Eunbi dan Jongdae. Meski belum
benar-benar kembali seperti semula, setidaknya hubungan mereka kali ini sudah
jauh lebih baik daripada sebelumnya.
“Waktu adalah pengobat untuk beberapa hal.”
Kalimat tersebut tidak bisa dibenarkan sepenuhnya. Namun, di
sisi lain juga tidak seutuhnya salah. Untuk beberapa situasi mungkin tidak
berlaku. Terkecuali dengan kondisi mereka kali ini.
Anak-anak itu sedang berkumpul di tribun penonton. Bahkan kelimanya
duduk secara berderet dalam satu barisan tempat duduk. Nyaris tidak ada jarak
yang tercipta di antara mereka. Jauh berbeda seperti yang sebelumnya.
“Kapan mereka akan membuka acaranya?” tanya Chanwo.
Secara tiba-tiba pria itu buka suara dan memecah keheningan
suasana di antara mereka berlima kala itu. Bukan sesuatu yang mengejutkan
sebenarnya. Namun, entah kenapa seluruh mata mendadak menjadi tertuju ke
arahnya. Seolah yang barusan bukan hal yang biasa terjadi.
Pria itu sempat merasa canggung akan situasi tersebut untuk
beberapa saat. Sebelum pada akhirnya ia memutuskan untuk berdeham beberapa
__ADS_1
kali. Cara yang satu itu mungkin cukup ampuh untuk meredam perasaan aneh ini,
sekaligus menetralisir atmosfir sekitar.
“Kenapa kalian melihatku dengan tatapan seperti itu?” tanya
Chanwo dengan ketus. Tidak lupa, ia juga melemparkan tatapan sinisnya.
“Hari ini semua orang tampaknya sedang bergelagat aneh,”
cicitnya setengah menyindir.
Lupakan soal pertanyaan yang tadi. Kini, ia sama sekali
tidak ingin memusingkan hal tersebut. Ia bahkan sudah tidak merasa penasaran
sedikit pun lagi perihal tersebut. Chanwo sama sekali tidak tertarik.
Sementara itu, di sisi lain Nhea masih sibuk berkutat dengan
sedang berada di sini bersama dengan yang lainnya, namun jiwa Nhea tidak pernah
benar-benar hadir. Sulit untuk dipercaya. Tapi, hal tersebut benar terjadi. Jiwa
dan raga gadis itu sedang tidak benar-benar berada di satu tempat yang sama
sekarang. Mereka bahkan tidak lagi menjadi satu kesatuan sejak beberapa saat
yang lalu.
Pikiran Nhea masih terjebak dalam mimpinya. Ia tidak bisa
berhenti untuk memikirkan hal tersebut. Tidak peduli seberapa keras ia mencoba
untuk menyingkirkannya dari dalam pikirannya. Atau hanya untuk sekedar
__ADS_1
melupakannya selama sesaat. Tapi, tetap saja tidak bisa. Hasilnya nihil. Padahal
ia sudah bekerja keras.
Tatapannya sudah kosong sejak tadi. Sepertinya mimpi buruk
yang sempat ia alami tadi malam bukan menjadi satu-satunya alasan kenapa ia
bisa bersikap seperti ini sekarang. Ada hal lain yang pasti juga mempengaruhinya. Saat ini kepalanya sungguh sedang
berisik. Ia sendiri bahkan tidak tahu bagaimana lagi cara untuk menenangkannya.
“Hei!” sahut Oliver sambil menepuk pundak Nhea.
Sepertinya ia mulai menyadari jika pada kenyataannya
temannya yang satu itu sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
Pasalnya, sejak tadi pagi ia terus bertingkah laku aneh. Tidak seperti
biasanya. Hari ini Nhea jauh lebih banyak diam.
“Apa ada sesuatu yang ingin kau ceritakan kepadaku?” tanya
Oliver untuk memastikan.
“Tidak ada,” jawab Nhea.
“Sungguh?” tanya gadis itu lagi.
Nhea hanya mengangguk untuk mengiyakan perkataaan temannya
yang satu itu. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, jika kali ini ia lebih
memilih untuk diam. Tidak banyak bicara. Terkesan misterius.
__ADS_1