
Tidak semua orang bisa memiliki plot armor di kehidupan nyata.
Hanya mereka yang terpilih yang bisa mendapatkan keistimewaan tersebut.
Terlepas dari apa yang sudah terjadi kepada gadis itu sejauh ini, setidaknya
Chanwo bisa merasa jauh lebih lega. Lain kali sepertinya ia harus bicara empat
mata dengan Nhea untuk membahas perihal dirinya. Bahwa ia tidak boleh
kehilangan lebih banyak darah lagi. Jika tidak, maka nyawanya akan terancam.
Terserah ia akan percaya atau tidak. Semua kembali lagi ke Nhea.
Dia berhak untuk menentukan segalanya. Termasuk hidupnya sendiri. Hal seperti
apa yang akan ia jalani. Pilihan soal baik dan buruk ada di tangannya. Chanwo
tidak berhak untuk ikut campur. Selagi ia sudah memberi tahu kebenarannya,
gadis itu pasti akan mempertimbangkan segalanya dengan matang-matang.
“Dari mana saja kau ini?” interupsi Oliver begitu gadis ini
sampai di barisan.
Orang yang diajak berbicara hanya bisa menggeleng-gelengkan
kepalanya. Menurutnya itu cukup sebagai jawaban untuk menjawab pertanyaan dari
gadis itu barusan. Dia tidak perlu menceritakannya dengan panjang lebar.
Apalagi jika sampai Oliver tahu kalau tadi ia sempat berbincang dengan Chanwo. Gadis
itu pasti akan mengomelinya habis-habisan. Ia tidak suka jika sampai temannya
yang satu ini kembali berurusan dengan Chanwo.
Menurutnya, Chanwo adalah seorang pria yang aneh. Bukan
hanya itu. Ia juga misterius dan sulit untuk ditebak. Sepertinya semua hal yang
berbau misterius dengannya menjadi suatu ciri khas tersendiri. Tidak ada orang
lain dengan kriteria di atas yang tinggal di akademi sihir ini kecuali Chanwo. Dia
adalah orang yang paling berbeda dengan yang lain. Untuk pertama kalinya Nhea
dan Oliver bertemu dengan manusia seperti itu. Jadi, wajar saja jika mereka
merasa cukup terkejut.
Omong-omong, mereka berdua sama sekali belum tahu siapa
Chanwo sebenarnya. Dia bukanlah manusia seutuhnya. Pria itu bahkan tidak bisa
dikatakan sebagai seorang manusia karena tidak memiliki darah keturunan manusia
di tubuhnya. Ia berasal dari garis keturunan seorang vampir murni.
Hampir seluruh orang yang tinggal bersamanya di akademi
sihir Mooneta sama sekali tidak tahu menahu soal fakta tersebut. Hanya beberapa
orang saja yang sudah tahu. Itu pun mereka memilih untuk tetap bungkam. Salah
satunya adalah Eun Ji Hae dan juga Wilson. Sejauh ini masih mereka saja yang
mengetahui rahasia besar pria itu. Tapi anehnya, Wilson sama sekali tidak
__ADS_1
berminat untuk mengungkap rahasia besar tersebut. Siapa yang tidak tahu jika ia
sangat tak suka melihat keberadaan pria itu di sekitarnya. Ia bisa melakukan
apa saja untuk menyingkirkan Chanwo. Terlebih, posisinya di tempat ini juga
tergolong cukup kuat.
Hanya ada satu pertanyaan kini. Kenapa Wilson tidak
menyerang Chanwo terlebih dahulu sebelum ia menyerangnya balik? Padahal modal
awal yang ia miliki saat ini bisa menjadi senjata yang cukup ampuh. Dapat
dipastikan jika ia akan menang. Keberuntungan akan memihak kepadanya. Paling
tidak sebesar tujuh puluh persen keberhasil sudah berada di tangannya. Tidak
perlu takut.
Lantas, apa yang masih dipikirkan oleh pria itu. Kenapa ia
ragu untuk memulai. Padahal Wilson tahu jika kali ini ia berpotensi untuk
berada di posisi yang jauh lebih unggul. Entahlah. Mungkin dia masih memikirkan
efek jangka panjang dari perbuatannya yang satu ini. Mengingat mereka masih
berada pada kaum yang sama. Masalah seperti apa saja bisa berbalik menimpanya.
Bayangkan saja jika ia menyerang Chanwo lebih dulu dengan
menyebarkan rumor tersebut. Jika Chanwo adalah salah satu anggota klan. Besar
kemungkinan jika Wilson akan ikut terseret dalam permasalahan ini. Ringkasnya,
cara lain yang terasa jauh lebih aman baginya untuk menyingkirkan pria ini.
***
Pertandingan tadi siang memberikan hasil yang cukup
memuaskan kepada mereka semua. Seperti biasanya, Mooneta selalu menjadi pihak
yang memperoleh nilai paling tinggi di antara akademi sihir lainnya. Sejauh ini
mereka masih jauh lebih unggul. Belum ada yang bisa menyingkirkan posisi
mereka. Mungkin memang tidak akan pernah. Mustahil rasanya bagi akademi lain
untuk menyingkirkan Mooneta dari posisi pertama. Mereka terlalu kuat.
“Aku tahu kalau kalian semua bisa melakukannya. Terima kasih
untuk kerja keras yang telah kalian lakukan selama ini. Sehingga bisa
memberikan usaha yang terbaik tadi. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih untuk
kita semua,” papar Bibi Ga Eun dengan
panjang lebar.
Benar.Wanita itu tengah berpidato di depan sana. Jadi pada
intinya, ia benar-benar mengapresiasi kerja keras semua orang yang telah ikut
ambil peran dalam rangka menyukseskan festival tahun ini.
Semua orang sedang dikumpulkan para ruangan utama. Sebut
__ADS_1
saja aula. Tempat itu selalu menjadi ramai jika ada pertemuan-pertemuan seperti
ini.
Untuk hari ini, pertandingan sudah selesai. Acaranya memang
sengaja tidak dilangsungkan sampai malam. Ada sekitar lima sampai tujuh cabang
lomba yang sudah ditandingkan hari ini dari total keseluruhan. Sisanya akan kembali
dilanjutkan besok. Pada intinya, mereka semua akan menyelesaikan festival pada
batas waktu yang telah ditetukan.
“Aku berharap agar kalian tetap semangat untuk ke depannya,
apa pun yang akan terjadi nanti!” tukas wanita itu di akhir pidatonya.
Sedetik kemudian setelah ia mundur dari podiumnya, semua
orag memberikan apresiasi balik berupa tepuk tangan yang meriah.
“Kapan kita akan
dibawa ke ruang perjamuan makan?” gumam Oliver.
“Masih sempat-sempatnya kau memikirkan hal tersebut pada
saat seperti ini!” cicit Nhea sebagai balasan.
“Tentu saja! Kenapa tidak?!” protes gadis itu tak terima.
Wajar saja jika ia merasa lapar sekarang. Tidak bisa
dipungkiri jika peristiwa hari ini cukup menguras banyak energinya. Bahkan
hanya tinggal sedikit saja energi yang masih tersisa di dalam tubuhnya saat ini.
Oleh sebab itu Oliver memilih untuk tidak bergerak terlalu banyak.
“Bersabarlah sebentar lagi,” ucap Nhea secara gamblang.
Mendengar jawaban yang seperti itu, membuat Oliver secara
tidak sadar memajukan bibirnya beberapa centi ke depan. Ayolah! Siapa yang bisa
menunggu lebih lama lagi. Jika urusannya soal perut, maka tidak ada yang bisa
menolak.
Sayangnya tidak ada jam di sekitar sini. Jika ada, mungkin
ia bisa memastikan seberapa lama lagi ia harus menunggu di sini. Sepertinya
kali ini semua orang akan setuju dengan pendapatnya, jika menunggu adalah salah
satu kegiatan yang paling dibenci oleh umat manusia. Jangan pernah biarkan
mereka menunggu.
“Ku harap acara ini segera selesai. Atau paling tidak mereka
memberikan sepotong roti untuk mengganjal perut kita sembari mendengarkan
ocehan mereka,” gerutu Oliver dengan panjang lebar.
Tampaknya ia memang sudah tidak bisa bersabar lebih lama
lagi.
__ADS_1