Mooneta High School

Mooneta High School
Armor


__ADS_3

Tidak semua orang bisa memiliki plot armor di kehidupan nyata.


Hanya mereka yang terpilih yang bisa mendapatkan keistimewaan tersebut.


Terlepas dari apa yang sudah terjadi kepada gadis itu sejauh ini, setidaknya


Chanwo bisa merasa jauh lebih lega. Lain kali sepertinya ia harus bicara empat


mata dengan Nhea untuk membahas perihal dirinya. Bahwa ia tidak boleh


kehilangan lebih banyak darah lagi. Jika tidak, maka nyawanya akan terancam.


Terserah ia akan percaya atau tidak. Semua kembali lagi ke Nhea.


Dia berhak untuk menentukan segalanya. Termasuk hidupnya sendiri. Hal seperti


apa yang akan ia jalani. Pilihan soal baik dan buruk ada di tangannya. Chanwo


tidak berhak untuk ikut campur. Selagi ia sudah memberi tahu kebenarannya,


gadis itu pasti akan mempertimbangkan segalanya dengan matang-matang.


“Dari mana saja kau ini?” interupsi Oliver begitu gadis ini


sampai di barisan.


Orang yang diajak berbicara hanya bisa menggeleng-gelengkan


kepalanya. Menurutnya itu cukup sebagai jawaban untuk menjawab pertanyaan dari


gadis itu barusan. Dia tidak perlu menceritakannya dengan panjang lebar.


Apalagi jika sampai Oliver tahu kalau tadi ia sempat berbincang dengan Chanwo. Gadis


itu pasti akan mengomelinya habis-habisan. Ia tidak suka jika sampai temannya


yang satu ini kembali berurusan dengan Chanwo.


Menurutnya, Chanwo adalah seorang pria yang aneh. Bukan


hanya itu. Ia juga misterius dan sulit untuk ditebak. Sepertinya semua hal yang


berbau misterius dengannya menjadi suatu ciri khas tersendiri. Tidak ada orang


lain dengan kriteria di atas yang tinggal di akademi sihir ini kecuali Chanwo. Dia


adalah orang yang paling berbeda dengan yang lain. Untuk pertama kalinya Nhea


dan Oliver bertemu dengan manusia seperti itu. Jadi, wajar saja jika mereka


merasa cukup terkejut.


Omong-omong, mereka berdua sama sekali belum tahu siapa


Chanwo sebenarnya. Dia bukanlah manusia seutuhnya. Pria itu bahkan tidak bisa


dikatakan sebagai seorang manusia karena tidak memiliki darah keturunan manusia


di tubuhnya. Ia berasal dari garis keturunan seorang vampir murni.


Hampir seluruh orang yang tinggal bersamanya di akademi


sihir Mooneta sama sekali tidak tahu menahu soal fakta tersebut. Hanya beberapa


orang saja yang sudah tahu. Itu pun mereka memilih untuk tetap bungkam. Salah


satunya adalah Eun Ji Hae dan juga Wilson. Sejauh ini masih mereka saja yang


mengetahui rahasia besar pria itu. Tapi anehnya, Wilson sama sekali tidak

__ADS_1


berminat untuk mengungkap rahasia besar tersebut. Siapa yang tidak tahu jika ia


sangat tak suka melihat keberadaan pria itu di sekitarnya. Ia bisa melakukan


apa saja untuk menyingkirkan Chanwo. Terlebih, posisinya di tempat ini juga


tergolong cukup kuat.


Hanya ada satu pertanyaan kini. Kenapa Wilson tidak


menyerang Chanwo terlebih dahulu sebelum ia menyerangnya balik? Padahal modal


awal yang ia miliki saat ini bisa menjadi senjata yang cukup ampuh. Dapat


dipastikan jika ia akan menang. Keberuntungan akan memihak kepadanya. Paling


tidak sebesar tujuh puluh persen keberhasil sudah berada di tangannya. Tidak


perlu takut.


Lantas, apa yang masih dipikirkan oleh pria itu. Kenapa ia


ragu untuk memulai. Padahal Wilson tahu jika kali ini ia berpotensi untuk


berada di posisi yang jauh lebih unggul. Entahlah. Mungkin dia masih memikirkan


efek jangka panjang dari perbuatannya yang satu ini. Mengingat mereka masih


berada pada kaum yang sama. Masalah seperti apa saja bisa berbalik menimpanya.


Bayangkan saja jika ia menyerang Chanwo lebih dulu dengan


menyebarkan rumor tersebut. Jika Chanwo adalah salah satu anggota klan. Besar


kemungkinan jika Wilson akan ikut terseret dalam permasalahan ini. Ringkasnya,


cara lain yang terasa jauh lebih aman baginya untuk menyingkirkan pria ini.


***


Pertandingan tadi siang memberikan hasil yang cukup


memuaskan kepada mereka semua. Seperti biasanya, Mooneta selalu menjadi pihak


yang memperoleh nilai paling tinggi di antara akademi sihir lainnya. Sejauh ini


mereka masih jauh lebih unggul. Belum ada yang bisa menyingkirkan posisi


mereka. Mungkin memang tidak akan pernah. Mustahil rasanya bagi akademi lain


untuk menyingkirkan Mooneta dari posisi pertama. Mereka terlalu kuat.


“Aku tahu kalau kalian semua bisa melakukannya. Terima kasih


untuk kerja keras yang telah kalian lakukan selama ini. Sehingga bisa


memberikan usaha yang terbaik tadi. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih untuk


kita semua,” papar  Bibi Ga Eun dengan


panjang lebar.


Benar.Wanita itu tengah berpidato di depan sana. Jadi pada


intinya, ia benar-benar mengapresiasi kerja keras semua orang yang telah ikut


ambil peran dalam rangka menyukseskan festival tahun ini.


Semua orang sedang dikumpulkan para ruangan utama. Sebut

__ADS_1


saja aula. Tempat itu selalu menjadi ramai jika ada pertemuan-pertemuan seperti


ini.


Untuk hari ini, pertandingan sudah selesai. Acaranya memang


sengaja tidak dilangsungkan sampai malam. Ada sekitar lima sampai tujuh cabang


lomba yang sudah ditandingkan hari ini dari total keseluruhan. Sisanya akan kembali


dilanjutkan besok. Pada intinya, mereka semua akan menyelesaikan festival pada


batas waktu yang telah ditetukan.


“Aku berharap agar kalian tetap semangat untuk ke depannya,


apa pun yang akan terjadi nanti!” tukas wanita itu di akhir pidatonya.


Sedetik kemudian setelah ia mundur dari podiumnya, semua


orag memberikan apresiasi balik berupa tepuk tangan yang meriah.


“Kapan  kita akan


dibawa ke ruang perjamuan makan?” gumam Oliver.


“Masih sempat-sempatnya kau memikirkan hal tersebut pada


saat seperti ini!” cicit Nhea sebagai balasan.


“Tentu saja! Kenapa tidak?!” protes gadis itu tak terima.


Wajar saja jika ia merasa lapar sekarang. Tidak bisa


dipungkiri jika peristiwa hari ini cukup menguras banyak energinya. Bahkan


hanya tinggal sedikit saja energi yang masih tersisa di dalam tubuhnya saat ini.


Oleh sebab itu Oliver memilih untuk tidak bergerak terlalu banyak.


“Bersabarlah sebentar lagi,” ucap Nhea secara gamblang.


Mendengar jawaban yang seperti itu, membuat Oliver secara


tidak sadar memajukan bibirnya beberapa centi ke depan. Ayolah! Siapa yang bisa


menunggu lebih lama lagi. Jika urusannya soal perut, maka tidak ada yang bisa


menolak.


Sayangnya tidak ada jam di sekitar sini. Jika ada, mungkin


ia bisa memastikan seberapa lama lagi ia harus menunggu di sini. Sepertinya


kali ini semua orang akan setuju dengan pendapatnya, jika menunggu adalah salah


satu kegiatan yang paling dibenci oleh umat manusia. Jangan pernah biarkan


mereka menunggu.


“Ku harap acara ini segera selesai. Atau paling tidak mereka


memberikan sepotong roti untuk mengganjal perut kita sembari mendengarkan


ocehan mereka,” gerutu Oliver dengan panjang lebar.


Tampaknya ia memang sudah tidak bisa bersabar lebih lama


lagi.

__ADS_1


__ADS_2