
Mereka menyelesaikan semuanya dengan cepat. Beberapa saat
yang lalu sudah terdengar suara dentangan yang berasal dari jam lantai paling
bawah. Biasanya jam tersebut selalu berbunyi tiap kali jarumnya melewati angka
dua belas. Entaah itu dua belas siang atau bahkan dua belas malam.
“Darimana kita akan pergi?” tanya Nhea.
“Bukankah kemarin kau mengatakan jika jendela adalah
satu-satunya akses menuju dunia luar yang paling aman?” tanya pria itu balik.
Nhea tidak langsug menjawab pertanyaan tersebut. Ia tetap
bergeming selama beberapa saat, untuk berpikir kembali. Nhea perlu mencera
informasi yang baru saja ia terima dengan baik-baik, supaya tidak terjadi
kesalah pahaman.
“Tapi, kurasa yang satu itu hanya berlaku bagimu,” ungkap
Nhea secara gamblang.
Nhea mengatakan hal seperti itu, karena tidak mungkin
rasanya bagi ia untuk pergi melalui jendela. Apalagi saat ini mereka tengah
berada di lantai tiga. Bagaimana jika dirinya kehilangan keseimbangan dan malah
terjatuh ke bawah.
Ia berbeda dengan Chanwo. Meski pada dasarnya mereka
sama-sama berasal dari kaum yang sama. Genetik tidak akan diwariskan sepenuhnya
kepada keturunan kita. Apalagi mereka berasal dari pernikahan klan yang
berbeda.
“Ayo!” ajan Chanwo sembari mengulurkan tangannya kepada
gadis itu.
Di sisi lain, Nhea tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Sejujurnya
ia masih merasa ragu dengan kepurusannnya yang satu ini. Terlebih lagi begitu
Nhea menyadari jika mereka harus benar-benar pergi melalui jendela. Padahal lewat
pintu juga bisa. Hanya saja memang tidak menjamin keamanan. Orang-orang yang
tinggal di lantai atas bisa saja keluar dari kamarnya sewaktu-waktu. Bahkan tidak
menutup kemungkinan jika itu tengah malam sekali pun. Ada begtu banyak orang
yang memutuskan untuk pergi keluar kamar di tengah malam, hanya karena desakan
ingin buang air. Hal tersebut memang tidak bisa dipungkiri, karena memang Nhea
pernah merasakannya sendiri.
Tidak ada yang bisa memprediksi hal macam apa saja yang akan
terjadi di masa depan. Baik itu hal buruk atau malah sebaliknya. Lantas untuk
menghindari hal tak terduga seperti itu, maka Nhea perlu berhati-hati dalam
__ADS_1
setiap tindakan yang ia ambil. Tidak boleh sembarangan. Sekali lagi, waspada
akan membuatnya tetap aman.
Setelah berpikir berulang kali, pada akhirnya Nhea
memutuskan untuk tetap keluar melalui jendela. Tidak ada pilihan lain. Mau tak
mau ia harus meyakinkan dirinya sendiri. Setidaknya kali ini ia tidak akan
merasa kesulitan akibat pilihannya yang ia putuskan. Chanwo sudah menawarkan
bantuan sejak awal. dengan begitu ia tentu tidak akan merasa kesulitan sama
sekali.
Dengan bantuan Chanwo, gadis itu berhasil keluar dari ruang
penyimpanan. Kemudian kembali ke kamar asramanya. Mungkin kemunculan Nhea akan
terkesan tiba-tiba. Tidak menutup kemungkinan jka besok ia akan mengejutkan
teman sekamarnya begitu bangun. Siap atau tidak, Nhea tetap harus siap
menghadapi konsekuensinya. Kemungkinan besar jika besok aka nada berita baru
yang menyebar di akademi sihir Mooneta. Tidak perlu waktu lama agar seisi
akademi tahu. Bisa dipastikan jika mereka akan menerima informasi tersebut,
tepat sebelum jam makan siang.
“Pergilah masuk!” titah Chanwo.
“Lalu, bagaimana denganmu?” tanya Nhea basa-basi.
“Aku akan langsung kembali ke kamarku begitu kau masuk,”
“Jangan sampai tertangkap,” peringati Nhea.
“Tenang saja, tidak akan semudaj itu bagi mereka untuk
menangkapku,” balas Chanwo secara gamblang yang contak mengundang gelak tawa
bagi gadis itu.
Di satu sisi mungkin ia terkesan sombong dan begitu arogan. Namun
di sisi lain pada saat yang bersamaan, ia malah menunjukkan sisi yang
sebaliknya. Ada sesuatu yang tidak biasa dari Chanwo. Dan mereka menganggap hal
tersebut sebagai sesuatu yang positif.
“Kalau begitu, mari kita melakukannya di saat yang bersamaan
agar terkesan jauh lebih adil,” usul gadis itu secara tiba-tiba.
“Aku akan masuk dan kau pergi,” jelasnya kemudian.
Tanpa pikir panjang lagi, Chanwo segera mengiyakan
perkataaan gadis itu. Karena ini bukan sesuatu yang terlalu sulit untuk
diputuskan, oleh sebab itu Chanwo juga tidak perlu waktu lama untuk berpikir
juga.
Mereka berdua telah menyepakati hal tersebut. Hitungan ketiga,
__ADS_1
baik Chanwo maupun Nhea sama-sama melakukan hal yang sudah mereka sepakati
bersama sebelumnya. Jadi, tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi.
Begitu Chanwo pergi, Nhea buru-buru menutup jendela untuk
mencegah angin malam masuk ke dalam kamarnya. Oliver bisa terjaga karena hal
tersebut. Ia tidak ingin mengejutkan gadis itu pada jam segini. Besok pagi
rasanya adalah waktu yang paling tepat untuk mengejutkan semua orang dengan
kemunculannya kembali. Mungkin Eun Ji Hae juga tidak akan habis pikir.
Tak ingin ambil pusing soal apa yang akan terjadi esok hari,
Nhea segera beralih ke kasur miliknya. Kemudian merebahkan dirinya di atas
sana. Sudah sangat lama sejak terakhir kali ia bisa tidur dengan nyaman di
kamarnya. Diam-diam Nhea merindukan tempat yang satu ini juga. Meski tidak bisa
dipungkiri jika ruang penyimpanan juga sama nyamannya. Tapi, anggaplah itu
sebagai rumah keduanya setelah kamar.
Hari ini ia harus cukup istirahat. Belakangan ini jam tidur
gadis itu sering tidak beraturan. Entah kenapa gaya hidupnya berubah drastis
ketika berada di sana. Ia sendiri juga tidak tahu bagaimana bisa seperti itu.
Belum ada satu menit sejak ia meluruskan punggungnya di atas
tempat tidur, kini rasa kantuk sudah mulai menghampirinya. Nhea sama sekali
tidak pernah mengira jika ia akan terlelap secepat ini sebelumnya. Kedua
kelopak matanya sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Rasa kantuk sudah
membuainya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Gadis itu berakhir dengan ketiduran di atas kasurnya
sendiri. Sangking mengantuknya, ia bahkan tidak sempat untuk membentang
selimut. Angin malam sama sekali bukan sesuatu yang penting. Tidak masalah jika
ia harus terkena angina selama semalam. Hawa dingin juga bukan sesuatu yang
perlu dipermasalahkan. Nhea sudah merasa cukup terbiasa dengan yang satu itu.
Semua itu tidak ada apa-apanya. Nhea masih bisa tertidur
dengan nyenyak. Tidak peduli dengan apa pun yang sedang mengusiknya di tengah
malam yang tenang. Nhea sungguh tidak peduli. Yang ada di dalam pikirannya saat
ini hanyalah tidur. Bagaimanapun menghadapi hari esok pasti perlu tenaga yang
cukup banyak. Bukan satu atau dua orang yang akan ia hadapi, melainkan seluruh
akademi.
Setidaknya untuk saat ini Nhea sudah bisa mengambil garis
besarnya. Di dalam pikirannya ia sudah bisa membayangkan hal-hal macam apa saja
yang akan terjadi. Mulai dari hal buruk hingga hal paling baik. Namun,
__ADS_1
sepertinya hari esok tidak akan seindah itu. Setidaknya pasti ada satu atau dua
masalah yang timbul di hari itu juga.