Mooneta High School

Mooneta High School
Sleep Over


__ADS_3

Mereka menyelesaikan semuanya dengan cepat. Beberapa saat


yang lalu sudah terdengar suara dentangan yang berasal dari jam lantai paling


bawah. Biasanya jam tersebut selalu berbunyi tiap kali jarumnya melewati angka


dua belas. Entaah itu dua belas siang atau bahkan dua belas malam.


“Darimana kita akan pergi?” tanya Nhea.


“Bukankah kemarin kau mengatakan jika jendela adalah


satu-satunya akses menuju dunia luar yang paling aman?” tanya pria itu balik.


Nhea tidak langsug menjawab pertanyaan tersebut. Ia tetap


bergeming selama beberapa saat, untuk berpikir kembali. Nhea perlu mencera


informasi yang baru saja ia terima dengan baik-baik, supaya tidak terjadi


kesalah pahaman.


“Tapi, kurasa yang satu itu hanya berlaku bagimu,” ungkap


Nhea secara gamblang.


Nhea mengatakan hal seperti itu, karena tidak mungkin


rasanya bagi ia untuk pergi melalui jendela. Apalagi saat ini mereka tengah


berada di lantai tiga. Bagaimana jika dirinya kehilangan keseimbangan dan malah


terjatuh ke bawah.


Ia berbeda dengan Chanwo. Meski pada dasarnya mereka


sama-sama berasal dari kaum yang sama. Genetik tidak akan diwariskan sepenuhnya


kepada keturunan kita. Apalagi mereka berasal dari pernikahan klan yang


berbeda.


“Ayo!” ajan Chanwo sembari mengulurkan tangannya kepada


gadis itu.


Di sisi lain, Nhea tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Sejujurnya


ia masih merasa ragu dengan kepurusannnya yang satu ini. Terlebih lagi begitu


Nhea menyadari jika mereka harus benar-benar pergi melalui jendela. Padahal lewat


pintu juga bisa. Hanya saja memang tidak menjamin keamanan. Orang-orang yang


tinggal di lantai atas bisa saja keluar dari kamarnya sewaktu-waktu. Bahkan tidak


menutup kemungkinan jika itu tengah malam sekali pun. Ada begtu banyak orang


yang memutuskan untuk pergi keluar kamar di tengah malam, hanya karena desakan


ingin buang air. Hal tersebut memang tidak bisa dipungkiri, karena memang Nhea


pernah merasakannya sendiri.


Tidak ada yang bisa memprediksi hal macam apa saja yang akan


terjadi di masa depan. Baik itu hal buruk atau malah sebaliknya. Lantas untuk


menghindari hal tak terduga seperti itu, maka Nhea perlu berhati-hati dalam

__ADS_1


setiap tindakan yang ia ambil. Tidak boleh sembarangan. Sekali lagi, waspada


akan membuatnya tetap aman.


Setelah berpikir berulang kali, pada akhirnya Nhea


memutuskan untuk tetap keluar melalui jendela. Tidak ada pilihan lain. Mau tak


mau ia harus meyakinkan dirinya sendiri. Setidaknya kali ini ia tidak akan


merasa kesulitan akibat pilihannya yang ia putuskan. Chanwo sudah menawarkan


bantuan sejak awal. dengan begitu ia tentu tidak akan merasa kesulitan sama


sekali.


Dengan bantuan Chanwo, gadis itu berhasil keluar dari ruang


penyimpanan. Kemudian kembali ke kamar asramanya. Mungkin kemunculan Nhea akan


terkesan tiba-tiba. Tidak menutup kemungkinan jka besok ia akan mengejutkan


teman sekamarnya begitu bangun. Siap atau tidak, Nhea tetap harus siap


menghadapi konsekuensinya. Kemungkinan besar jika besok aka nada berita baru


yang menyebar di akademi sihir Mooneta. Tidak perlu waktu lama agar seisi


akademi tahu. Bisa dipastikan jika mereka akan menerima informasi tersebut,


tepat sebelum jam makan siang.


“Pergilah masuk!” titah Chanwo.


“Lalu, bagaimana denganmu?” tanya Nhea basa-basi.


“Aku akan langsung kembali ke kamarku begitu kau masuk,”


“Jangan sampai tertangkap,” peringati Nhea.


“Tenang saja, tidak akan semudaj itu bagi mereka untuk


menangkapku,” balas Chanwo secara gamblang yang contak mengundang gelak tawa


bagi gadis itu.


Di satu sisi mungkin ia terkesan sombong dan begitu arogan. Namun


di sisi lain pada saat yang bersamaan, ia malah menunjukkan sisi yang


sebaliknya. Ada sesuatu yang tidak biasa dari Chanwo. Dan mereka menganggap hal


tersebut sebagai sesuatu yang positif.


“Kalau begitu, mari kita melakukannya di saat yang bersamaan


agar terkesan jauh lebih adil,” usul gadis itu secara tiba-tiba.


“Aku akan masuk dan kau pergi,” jelasnya kemudian.


Tanpa pikir panjang lagi, Chanwo segera mengiyakan


perkataaan gadis itu. Karena ini bukan sesuatu yang terlalu sulit untuk


diputuskan, oleh sebab itu Chanwo juga tidak perlu waktu lama untuk berpikir


juga.


Mereka berdua telah menyepakati hal tersebut. Hitungan ketiga,

__ADS_1


baik Chanwo maupun Nhea sama-sama melakukan hal yang sudah mereka sepakati


bersama sebelumnya. Jadi, tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi.


Begitu Chanwo pergi, Nhea buru-buru menutup jendela untuk


mencegah angin malam masuk ke dalam kamarnya. Oliver bisa terjaga karena hal


tersebut. Ia tidak ingin mengejutkan gadis itu pada jam segini. Besok pagi


rasanya adalah waktu yang paling tepat untuk mengejutkan semua orang dengan


kemunculannya kembali. Mungkin Eun Ji Hae juga tidak akan habis pikir.


Tak ingin ambil pusing soal apa yang akan terjadi esok hari,


Nhea segera beralih ke kasur miliknya. Kemudian merebahkan dirinya di atas


sana. Sudah sangat lama sejak terakhir kali ia bisa tidur dengan nyaman di


kamarnya. Diam-diam Nhea merindukan tempat yang satu ini juga. Meski tidak bisa


dipungkiri jika ruang penyimpanan juga sama nyamannya. Tapi, anggaplah itu


sebagai rumah keduanya setelah kamar.


Hari ini ia harus cukup istirahat. Belakangan ini jam tidur


gadis itu sering tidak beraturan. Entah kenapa gaya hidupnya berubah drastis


ketika berada di sana. Ia sendiri juga tidak tahu bagaimana bisa seperti itu.


Belum ada satu menit sejak ia meluruskan punggungnya di atas


tempat tidur, kini rasa kantuk sudah mulai menghampirinya. Nhea sama sekali


tidak pernah mengira jika ia akan terlelap secepat ini sebelumnya. Kedua


kelopak matanya sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Rasa kantuk sudah


membuainya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Gadis itu berakhir dengan ketiduran di atas kasurnya


sendiri. Sangking mengantuknya, ia bahkan tidak sempat untuk membentang


selimut. Angin malam sama sekali bukan sesuatu yang penting. Tidak masalah jika


ia harus terkena angina selama semalam. Hawa dingin juga bukan sesuatu yang


perlu dipermasalahkan. Nhea sudah merasa cukup terbiasa dengan yang satu itu.


Semua itu tidak ada apa-apanya. Nhea masih bisa tertidur


dengan nyenyak. Tidak peduli dengan apa pun yang sedang mengusiknya di tengah


malam yang tenang. Nhea sungguh tidak peduli. Yang ada di dalam pikirannya saat


ini hanyalah tidur. Bagaimanapun menghadapi hari esok pasti perlu tenaga yang


cukup banyak. Bukan satu atau dua orang yang akan ia hadapi, melainkan seluruh


akademi.


Setidaknya untuk saat ini Nhea sudah bisa mengambil garis


besarnya. Di dalam pikirannya ia sudah bisa membayangkan hal-hal macam apa saja


yang akan terjadi. Mulai dari hal buruk hingga hal paling baik. Namun,

__ADS_1


sepertinya hari esok tidak akan seindah itu. Setidaknya pasti ada satu atau dua


masalah yang timbul di hari itu juga.


__ADS_2