Mooneta High School

Mooneta High School
Prioritas


__ADS_3

 


 


Sekarang sudah hampir setengah dari mereka yang berada di


luar gerbang dan tinggal menunggu sisanya. Para siswa adalah yang diutamakan di


sini. Mereka akan pergi ke luar lebih dulu, sementara para staff akan tetap di


dalam untuk mengawasi situasi. Terkadang selalu ada saja hal yang terjadi di


luar kendali kita. Tidak ada yang bisa menebaknya, tapi setidaknya masih bisa


untuk kita antisipasi.


Anggota keluarga, petinggi sekolah serta pejabat asrama


lainnya masih tetap di dalam. Mereka memiliki tanggung jawab besar di sini.


Termasuk Nhea dan teman-temannya. Hanya satu orang dari mereka berempat yang


berhasil keluar lebih dulu. Yaitu Jang Eunbi. Gadis itu termasuk kepada


golongan yang diutamakan. Berbeda dengan Oliver, Jongdae dan Nhea.


Mereka semua yang masih berada di dalam aula harus


memastikan kembali jika tidak ada seorang pun yang tertinggal di dalam. Setidaknya


kini semua orang harus sudah berada di luar sebelum mereka benar-benar pergi


meninggalkan tempat ini. Mungkin terlihat sepele. Tapi, akan fatal akibatnya


jika sampai ada yang tertinggal.


“Jongdae dan Oliver!” sahut Eun Ji Hae.


Mereka berdua segera menghadap gadis itu tanpa banyak


bertanya lagi.


“Periksa seluruh asrama, pastikan sudah tidak ada


siapa-siapa lagi di sana!” perintah gadis itu.


“Baik Kakak Ji!” balas Oliver dan Jongdae secara bersamaan.


Tanpa pikir panjang lagi, mereka berdua segera berlari


meninggalkan ruangan ini untuk menuju asramanya masing-masing. Itu memang sudah


tugas mereka sebagai ketua asrama. Tidak perlu merasa heran lagi.


Seharusnya tempat itu sudah kosong dan tidak ada siapa-siapa


lagi di sana. Semua orang sudah berada di luar. Tapi, tidak ada salahnya untuk


kembali memastikan jika asrama telah kosong. Mereka harus memastikan jika


bangunan ini sudah benar-benar kosong.


“Kau!” ucap Eun Ji Hae.


Yang sedang ia maksud saat ini adalah Nhea. Di antara mereka


bertiga hanya tersisa gadis itu. Kedua temannya sudah pergi berpencar.


Nhea sama sekali tidak berniat untuk menjawab sahutan gadis


itu barusan. Yang tak lain tak bukan adalah kakak angkatnya. Hubungan mereka


sedang tidak baik-baik saja belakangan ini. Tapi, juga tidak buruk-buruk amat. Intinya


mereka masih saling merasa canggung dan belum terlalu akrab sebagai keluarga. Masih


perlu proses adaptasi sedikit lagi. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


“Aku ingin kau memeriksa setiap ruangan yang berada di

__ADS_1


gedung utama,” ujar Eun Ji Hae.


“Pastikan tidak ada orang lagi di sana,” tukasnya.


Entah kenapa kali ini nada bicara gadis itu terdengar jauh


lebih tenang dari pada sebelumnya.


“Kembali ke sini sebelum tengah malam, atau kita tidak bisa


keluar karena salju akan kembali turun setelahnya,” jelas gadis itu dengan


panjang lebar.


Nhea masih tampak enggan untuk menggubris ucapan Eun Ji Hae.


Lebih tepatnya dia memang tidak terlalu suka banya bicara dengan orang asing. Meski


pada dasarnya keduanya bukan orang asing sama sekali. Tapi mereka adalah


keluarga. Tidak ada yang bisa memungkiri hal tersebut. Mungkin Eun Ji Hae dan


Nhea sama sekali tidak memiliki hubungan darah satu sama lain. Tapi, mereka


terikat pada satu hubungan kekerabatan yang disengaja.


“Apa kau mengerti?” tanya Eun Ji Hae untuk memastikan.


“Aku paham,” balas Nhea sembari mengangguk-anggukkan


kepalanya.


Tanpa berkata sepatah kata pun, gadis itu segera pergi untuk


meninggalkan ruangan. Ia harus segera sampai di gedung utama dan memeriksanya


dengan cepat. Kemudian bergegas kembali sebelum tengah malam. Jika ia sampai


terlambat satu detik saja, maka habislah dirinya.


“Kalian keluarlah lebih dulu dan bergabung bersama dengan


“Lalu, bagaimana denganmu?” tanya Vallery.


“Aku akan menunggu sampai mereka kembali. Setelah itu kami


baru akan pergi bersama-sama,” jelasnya secara singkat namun jelas.


Wanita itu mengangguk. Ia paham sekaligus pecaya jika Eun Ji


Hae bisa melakukannya.


“Aku akan segera menyusul kalian. Tidka perlu khawatir,”


ungkapnya.


“Kalian bisa memegang perkataanku yang satu ini,” finalnya.


Tidak ada hal lain yang bisa mereka lakukan selain


mempercayai ucapan Eun Ji Hae. Selama ini dia selalu bisa diandalkan. Begitu pula


dengan hari ini. Gadis itu tidak pernah mengecewakan, meski ia sering merasa


dikecewakan.


Semua anggota keluarga beserta para staff yang masih tersisa


keluar dari tempat ini secara satu-persatu. Meninggalkan aula dengan teratur,


sehingga hanya tersisa Eun Ji Hae di dalamnya.  Gadis itu masih tetap setiap menunggu


ketiganya kembali. Dia tidak akan pergi kemana-mana sebelum melihat batang


hidung mereka.


Eun Ji Hae membenarkan mantel musim dinginnya untuk mencegah


udara dingin masuk. Suhu udara selalu turun beberapa derajat sebelum salju

__ADS_1


turun. Hal itu selalu terjadi. Sebentar lagi tandanya salju akan segera turun. Bukan


salju biasa, melainkan salju abadi. Salju biasa tidak pernah turun sejak awal


musim dingin tiba. Mereka sudah dikejutkan dengan fenomena langka ini sejak


masih permulaan.


“Kenapa mereka lama sekali?” gumam Bibi Ga Eun.


Tak bisa dipungkiri jika wanita itu mulai merasa cemas. Ia tidak


bisa membayangkan bagaimana jadinya jika sampai mereka berempat terjebak di dalam


sana sendirian.


“Mereka pasti akan keluar sebentar lagi,” ujar Wilson yang


masih tetap optimis.


Pria itu memang selalu begitu. Ia terus berusaha untuk


bersikap lebih baik dari orang lain dengan cara menutupi kelemahannya. Padahal hal


tersebut sama sekali tidak memberikan pengaruh apa-apa.


“Astaga, apa mereka masih belum keluar juga?” ujar Chanwo


yan tampak tak sabaran.


“Sebenarnya siapa yang kita tungguh di sini?” tanya Hwang Ji


Na penasaran.


“Temanmu,” jawab pria itu dengan apa adanya.


“Temanku? Memangnya siapa temanku yang berada di dalam sana?”


gumamnya.


‘PLAK!’


“Aww!!!” lirih Hwang Ji Na. Kemudian ia mengusap-usap


kepalanya dengan lembut.


Chanwo terpaksa menghantam tulang tengkorak gadis itu karena


merasa kesal. Kenapa mendadak ia menjadi lamban seperti ini. Biasanya tidak


pernah. Apakah salju abadi atau udara dingin memberikan reaksi demikian


terhadap klan alpha. Membuat otak mereka bekerja lebih lambat dari pada


biasanya. Sungguh tidak dapat dipercaya jika hal tersebut benar-benar terjadi.


“Apa yang kau lakukan?!” protes Hwang Ji Na tak terima.


“Siapa suruh kau berpikir dengan lamban,” ucap Chanwo secara


gamblang. Dia sama sekali tidak peduli jika seseorang akan terluka karena


perkataannya barusan.


“Apa kau tidak menganggap Eun Ji Hae sebagi temanmu?” tanya


pria itu.


“Ku lihat kalian menjadi sangat akrab belakangan ini karena


ia tinggal di gua!” tukasnya.


Hwang Ji Na tidak langsung menanggapi perkatan pria itu


barusan. Melainkan mencernanya terlebih dahulu. ia tidak ingin sampai salah


paham lagi. Bisa-bisa Chanwo akan menghajarnya di tempat sekarang juga. Dia tidak


mau hal itu sampai terjadi lagi untuk yang kedua kalinya dalam hari ini.

__ADS_1


__ADS_2