
Sekarang sudah hampir setengah dari mereka yang berada di
luar gerbang dan tinggal menunggu sisanya. Para siswa adalah yang diutamakan di
sini. Mereka akan pergi ke luar lebih dulu, sementara para staff akan tetap di
dalam untuk mengawasi situasi. Terkadang selalu ada saja hal yang terjadi di
luar kendali kita. Tidak ada yang bisa menebaknya, tapi setidaknya masih bisa
untuk kita antisipasi.
Anggota keluarga, petinggi sekolah serta pejabat asrama
lainnya masih tetap di dalam. Mereka memiliki tanggung jawab besar di sini.
Termasuk Nhea dan teman-temannya. Hanya satu orang dari mereka berempat yang
berhasil keluar lebih dulu. Yaitu Jang Eunbi. Gadis itu termasuk kepada
golongan yang diutamakan. Berbeda dengan Oliver, Jongdae dan Nhea.
Mereka semua yang masih berada di dalam aula harus
memastikan kembali jika tidak ada seorang pun yang tertinggal di dalam. Setidaknya
kini semua orang harus sudah berada di luar sebelum mereka benar-benar pergi
meninggalkan tempat ini. Mungkin terlihat sepele. Tapi, akan fatal akibatnya
jika sampai ada yang tertinggal.
“Jongdae dan Oliver!” sahut Eun Ji Hae.
Mereka berdua segera menghadap gadis itu tanpa banyak
bertanya lagi.
“Periksa seluruh asrama, pastikan sudah tidak ada
siapa-siapa lagi di sana!” perintah gadis itu.
“Baik Kakak Ji!” balas Oliver dan Jongdae secara bersamaan.
Tanpa pikir panjang lagi, mereka berdua segera berlari
meninggalkan ruangan ini untuk menuju asramanya masing-masing. Itu memang sudah
tugas mereka sebagai ketua asrama. Tidak perlu merasa heran lagi.
Seharusnya tempat itu sudah kosong dan tidak ada siapa-siapa
lagi di sana. Semua orang sudah berada di luar. Tapi, tidak ada salahnya untuk
kembali memastikan jika asrama telah kosong. Mereka harus memastikan jika
bangunan ini sudah benar-benar kosong.
“Kau!” ucap Eun Ji Hae.
Yang sedang ia maksud saat ini adalah Nhea. Di antara mereka
bertiga hanya tersisa gadis itu. Kedua temannya sudah pergi berpencar.
Nhea sama sekali tidak berniat untuk menjawab sahutan gadis
itu barusan. Yang tak lain tak bukan adalah kakak angkatnya. Hubungan mereka
sedang tidak baik-baik saja belakangan ini. Tapi, juga tidak buruk-buruk amat. Intinya
mereka masih saling merasa canggung dan belum terlalu akrab sebagai keluarga. Masih
perlu proses adaptasi sedikit lagi. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Aku ingin kau memeriksa setiap ruangan yang berada di
__ADS_1
gedung utama,” ujar Eun Ji Hae.
“Pastikan tidak ada orang lagi di sana,” tukasnya.
Entah kenapa kali ini nada bicara gadis itu terdengar jauh
lebih tenang dari pada sebelumnya.
“Kembali ke sini sebelum tengah malam, atau kita tidak bisa
keluar karena salju akan kembali turun setelahnya,” jelas gadis itu dengan
panjang lebar.
Nhea masih tampak enggan untuk menggubris ucapan Eun Ji Hae.
Lebih tepatnya dia memang tidak terlalu suka banya bicara dengan orang asing. Meski
pada dasarnya keduanya bukan orang asing sama sekali. Tapi mereka adalah
keluarga. Tidak ada yang bisa memungkiri hal tersebut. Mungkin Eun Ji Hae dan
Nhea sama sekali tidak memiliki hubungan darah satu sama lain. Tapi, mereka
terikat pada satu hubungan kekerabatan yang disengaja.
“Apa kau mengerti?” tanya Eun Ji Hae untuk memastikan.
“Aku paham,” balas Nhea sembari mengangguk-anggukkan
kepalanya.
Tanpa berkata sepatah kata pun, gadis itu segera pergi untuk
meninggalkan ruangan. Ia harus segera sampai di gedung utama dan memeriksanya
dengan cepat. Kemudian bergegas kembali sebelum tengah malam. Jika ia sampai
terlambat satu detik saja, maka habislah dirinya.
“Kalian keluarlah lebih dulu dan bergabung bersama dengan
“Lalu, bagaimana denganmu?” tanya Vallery.
“Aku akan menunggu sampai mereka kembali. Setelah itu kami
baru akan pergi bersama-sama,” jelasnya secara singkat namun jelas.
Wanita itu mengangguk. Ia paham sekaligus pecaya jika Eun Ji
Hae bisa melakukannya.
“Aku akan segera menyusul kalian. Tidka perlu khawatir,”
ungkapnya.
“Kalian bisa memegang perkataanku yang satu ini,” finalnya.
Tidak ada hal lain yang bisa mereka lakukan selain
mempercayai ucapan Eun Ji Hae. Selama ini dia selalu bisa diandalkan. Begitu pula
dengan hari ini. Gadis itu tidak pernah mengecewakan, meski ia sering merasa
dikecewakan.
Semua anggota keluarga beserta para staff yang masih tersisa
keluar dari tempat ini secara satu-persatu. Meninggalkan aula dengan teratur,
sehingga hanya tersisa Eun Ji Hae di dalamnya. Gadis itu masih tetap setiap menunggu
ketiganya kembali. Dia tidak akan pergi kemana-mana sebelum melihat batang
hidung mereka.
Eun Ji Hae membenarkan mantel musim dinginnya untuk mencegah
udara dingin masuk. Suhu udara selalu turun beberapa derajat sebelum salju
__ADS_1
turun. Hal itu selalu terjadi. Sebentar lagi tandanya salju akan segera turun. Bukan
salju biasa, melainkan salju abadi. Salju biasa tidak pernah turun sejak awal
musim dingin tiba. Mereka sudah dikejutkan dengan fenomena langka ini sejak
masih permulaan.
“Kenapa mereka lama sekali?” gumam Bibi Ga Eun.
Tak bisa dipungkiri jika wanita itu mulai merasa cemas. Ia tidak
bisa membayangkan bagaimana jadinya jika sampai mereka berempat terjebak di dalam
sana sendirian.
“Mereka pasti akan keluar sebentar lagi,” ujar Wilson yang
masih tetap optimis.
Pria itu memang selalu begitu. Ia terus berusaha untuk
bersikap lebih baik dari orang lain dengan cara menutupi kelemahannya. Padahal hal
tersebut sama sekali tidak memberikan pengaruh apa-apa.
“Astaga, apa mereka masih belum keluar juga?” ujar Chanwo
yan tampak tak sabaran.
“Sebenarnya siapa yang kita tungguh di sini?” tanya Hwang Ji
Na penasaran.
“Temanmu,” jawab pria itu dengan apa adanya.
“Temanku? Memangnya siapa temanku yang berada di dalam sana?”
gumamnya.
‘PLAK!’
“Aww!!!” lirih Hwang Ji Na. Kemudian ia mengusap-usap
kepalanya dengan lembut.
Chanwo terpaksa menghantam tulang tengkorak gadis itu karena
merasa kesal. Kenapa mendadak ia menjadi lamban seperti ini. Biasanya tidak
pernah. Apakah salju abadi atau udara dingin memberikan reaksi demikian
terhadap klan alpha. Membuat otak mereka bekerja lebih lambat dari pada
biasanya. Sungguh tidak dapat dipercaya jika hal tersebut benar-benar terjadi.
“Apa yang kau lakukan?!” protes Hwang Ji Na tak terima.
“Siapa suruh kau berpikir dengan lamban,” ucap Chanwo secara
gamblang. Dia sama sekali tidak peduli jika seseorang akan terluka karena
perkataannya barusan.
“Apa kau tidak menganggap Eun Ji Hae sebagi temanmu?” tanya
pria itu.
“Ku lihat kalian menjadi sangat akrab belakangan ini karena
ia tinggal di gua!” tukasnya.
Hwang Ji Na tidak langsung menanggapi perkatan pria itu
barusan. Melainkan mencernanya terlebih dahulu. ia tidak ingin sampai salah
paham lagi. Bisa-bisa Chanwo akan menghajarnya di tempat sekarang juga. Dia tidak
mau hal itu sampai terjadi lagi untuk yang kedua kalinya dalam hari ini.
__ADS_1