Mooneta High School

Mooneta High School
Hutang Penjelasan


__ADS_3

Sejak awal Nhea memang sudah merasa


curiga. Pasalnya, Jongdae tampak seperti tengah menyembunyikan sesuatu.


Sepertinya memang tidak semua hal bisa mereka ketahui dengan mudah. Itu


sebabnya kenapa relasi penting.


Nhea yakin jika Jongdae juga tidak


mendapatkan informasi tersebut dari sembarang orang. Paling tidak, ada satu


atau dua orang tertentu yang bisa ia percaya di akademi ini.


“Jadi, kau akan membaginya denganku


atau tidak?” tanya Nhea dengan nada sedikit mendesak.


Ia memang harus seperti ini. Jika tidak


didesak, kemungkinan besar Jongdae tidak akan memberitahunya informasi apa pun.


Sementara itu di sisi lain, Nhea juga sudah tidak bisa menahan rasa


penasarannya lagi. Gadis itu tidak akan mau jika dibuat untuk menunggu lebih


lama lagi.


“Jongdae!” panggil guru dari depan


sana.


Sontak pria itu langsung membalas


sahutan tersebut dengan suara lantangnya. Sungguh hanya suara pria itu saja


yang terdengar menggema di dalam ruangan kelas ini. Tidak ada yang lain.


“Bisa kemari sebentar?” tanya wanita


paruh baya tersebut.


Mau tak mau, Jongdae terpaksa harus


pergi ke depan untuk menhampirinya. Tidak ada pilihan lain lagi. Ia tidak


mungkin menolak permintaan wanita tersebut. Sungguh tidak sopan jika Jongdae


benar-benar menolaknya. Pria itu akan dianggap tidak mengindahkan peraturan


yang berlaku di sini.


Jongdae beranjak dari tempat


duduknya, Kemudian beralih ke depan ruang kelas. Ia tampak sibuk berbincang


dengan wanita itu di mejanya yang terletak di depan sana. Tidak ada seorang pun


yang mengetahui apa isi pembicaraan mereka berdua. Pasalnya, keduanya saling


berkomunikasi menggunakan volume suara yang tidak terlalu besar.


Tampaknya staff pengajar yang satu


ini juga tidak ingin mengganggu proses belajar mengajar yang sedang berlangsung


di kelas. Anggaplah jika ia memang taat dengan peraturan yang berlaku. Sebab,


tidak ingin membuat keributan sama sekali.


Menghargai adalah dasar yang harus


dimiliki oleh semua orang. Tanpa terkecuali. Semua hal yang terjadi di dunia


ini terjadi berdasarkan hukum timbal balik. Semua yang kita lakukan akan


terjadi secara timbal balik. Tidak ada yang bisa melawan hukum semesta yang


satu ini.

__ADS_1


Jika ingin dihargai, maka sebaiknya


kau mulai belajar bagaimana cara menghargai orang lain. Jika kau ingin


didengarkan, maka dengarkan orang lain terlebih dahulu. Apa pun yang orang lain


lakukan ke kita, semua itu adalah salah satu refleksi dari sikap kita selama


ini.


Jadi tidak perlu merasa terkejut


lagi. Ini bukan sesuatu yang baru. Hal baik atau buruk bisa saja terjadi di


dunia ini. Manusia memegang kendali lebih dari setengah atas hal macam apa yang


akan terjadi di bumi. Kelanjutan ceritanya berada di tangan manusia. Sebab,


keputusan terbesar juga berada di tangan mereka. Tidak ada yang bisa mengganggu


gugat soal hal tersebut.


“Apa yang sebenarnya sedang mereka


bicarakan di sana?” gumam Nhea sambil tetap menyoroti orang-orang itu.


Nhea meninggikan lehernya. Berusaha untuk


mencuri lebih banyak informasi dari berbagai sudut pandang yang berhasil ia


dapatkan. Gadis itu terlalu penasaran untuk berhenti. Sehingga, ia tetap akan


melanjutkan pekerjaannya yang satu ini. Meski sebenarnya tidak ada hasil yang


pasti yang bisa ia harapkan.


Entah sejak kapan gadis itu mulai


begitu terobsesi dengan yang namanya seni memata-matai orang lain. Pada


dasarnya, Nhea bukan tipikal orang yang suka mengurusi kehidupan orang lain


menyangkut dengan kehidupannya sendiri secara langsung.


“Dia berhutan cerita kepadaku,” ucap


Nhea dengan penuh penekanan.


Tepat setelah pria itu pergi dari


sana, mereka kembali melanjutkan proses belajarnya. Sehingga tidak ada waktu


lagi bagi Nhea untuk mencari tahu lebih banyak. Mau tak mau ia harus kembali


memusatkan pikirannya hanya kepada satu objek saja.


Pelajaran kali ini memang terkenal


sulit. Karena memang, ini bukan porsi mereka lagi. melainkan beberapa kelas di


atasnya. Jadi, tidak mudah bagi mereka untuk beradaptasi dengan segala


perubahan yang ada. Anak-anak itu harus mulai terbiasa untuk belajar jauh lebih


giat dari pada sebelumnya. Guna untuk mengejar ketertinggalan.


Omong-omong, sama sekali tidak ada


yang tahu kemana pria itu pergi. Tampaknya staff pengajar meminta Jongdae untuk


pergi ke suatu tempat yang dirahasiakan kepada semua orang. Hanya mereka berdua


saja yang tahu.


Entah kemana pria itu pergi sampai


memakan waktu yang cukup lama. Ia bahkan tidak sempat mengikuti pelajaran di


kelas. Lebih tepatnya, Jongdae sama sekali belum kembali lagi sejak terakhir

__ADS_1


kali ia menginggalkan kelas. Jangankan kembali. Batang hidungnya saja tidak ada


terlihat sejak tadi.


Kelas sudah mulai sepi. Satu-persatu


siswa mulai membubarkan diri dari ruangann tersebut. Sehingga hanya menyisakan


beberapa orang saja. Salah satunya termasuk Nhea dan Oliver. Mereka memang


sengaja belum kembali ke kamar asramanya. Kali ini kedua gadis itu tidak ingin


bertindak terlalu terburu-buru.


Masih ada beberapa hal yang perlu


mereka lakukan sebelum kembali ke kamar asrama. Karena Jongdae sama sekali


belum kembali sejak tadi, maka kau tak mau Oliver yang harus mengambil alih urusan


kelas untuk sementara waktu. Setidaknya sampai pria itu kembali lagi. Meski


saat ia kembali semu tugas sudah diselesaikan oleh Oliver.


“Ini adalah pekerjaan terakhir yang


harus kita lakukan,” ujar Oliver sembari menunjukkan selembar kertas yang ia


ambil dari atas meja.


Mengantarkan kertas absensi ke


ruangan Bibi Ga Eun sungguh adalah pekerjaan terakhir yang harus mereka


lakukan. Setelahnya tidak ada lagi. Mereka bisa langsung kembali ke kamar


asrama setelah menyelesaikan yang satu itu.


“Kalau begitu aku akan matikan


lenteranya,” ucap Nhea sembari melangkah masuk.


Mereka tidak akan kembali ke tempat


ini lagi. Jadi, ada baiknya jika mereka memadamkan seluruh penerangan yang ada


di tempat ini saja. Lagipula sudah tidak ada lagi orang yang akan berkunjung ke


sini.


Mereka hanya perlu mematikan seluruh


lentera yang tersisa di ruangan ini. Kemudian memadamkan sisanya di lorong saat


dalam perjalanan. Akademi biasanya selalu menyalakan paling tidak empat sampai


lima lentera di setiap lorongnya. Cahaya yang dihasilkan memang tidak terlalu


terang seperti biasanya. Tapi, setidaknya masih cukup jelas bagi mereka untuk


berjalan di tengah kegelapan.


Oliver tidak perlu ikut ambil alih


dalam pemadaman lentera kali ini. Nhea bisa melakukan semuanya sendiri.


“Sudah selesai?” interupsi Oliver


begitu gadis itu kembali.


Sosok yang ditanyai hanya bisa


mengangguk-anggukkan kepalanya untuk mengiyakan perkataan gadis itu.


“Kalau begitu, ayo!” ajak Oliver


sesaat kemudian. Tampak dengan jelas jika ia sedang tidak ingin berlama-lama di


tempat ini. Oliver ingin segera pergi. Kemana saja asal bukan di sini.

__ADS_1


“Ayo!” balas Nhea dengan cepat.


__ADS_2