
Sejak awal Nhea memang sudah merasa
curiga. Pasalnya, Jongdae tampak seperti tengah menyembunyikan sesuatu.
Sepertinya memang tidak semua hal bisa mereka ketahui dengan mudah. Itu
sebabnya kenapa relasi penting.
Nhea yakin jika Jongdae juga tidak
mendapatkan informasi tersebut dari sembarang orang. Paling tidak, ada satu
atau dua orang tertentu yang bisa ia percaya di akademi ini.
“Jadi, kau akan membaginya denganku
atau tidak?” tanya Nhea dengan nada sedikit mendesak.
Ia memang harus seperti ini. Jika tidak
didesak, kemungkinan besar Jongdae tidak akan memberitahunya informasi apa pun.
Sementara itu di sisi lain, Nhea juga sudah tidak bisa menahan rasa
penasarannya lagi. Gadis itu tidak akan mau jika dibuat untuk menunggu lebih
lama lagi.
“Jongdae!” panggil guru dari depan
sana.
Sontak pria itu langsung membalas
sahutan tersebut dengan suara lantangnya. Sungguh hanya suara pria itu saja
yang terdengar menggema di dalam ruangan kelas ini. Tidak ada yang lain.
“Bisa kemari sebentar?” tanya wanita
paruh baya tersebut.
Mau tak mau, Jongdae terpaksa harus
pergi ke depan untuk menhampirinya. Tidak ada pilihan lain lagi. Ia tidak
mungkin menolak permintaan wanita tersebut. Sungguh tidak sopan jika Jongdae
benar-benar menolaknya. Pria itu akan dianggap tidak mengindahkan peraturan
yang berlaku di sini.
Jongdae beranjak dari tempat
duduknya, Kemudian beralih ke depan ruang kelas. Ia tampak sibuk berbincang
dengan wanita itu di mejanya yang terletak di depan sana. Tidak ada seorang pun
yang mengetahui apa isi pembicaraan mereka berdua. Pasalnya, keduanya saling
berkomunikasi menggunakan volume suara yang tidak terlalu besar.
Tampaknya staff pengajar yang satu
ini juga tidak ingin mengganggu proses belajar mengajar yang sedang berlangsung
di kelas. Anggaplah jika ia memang taat dengan peraturan yang berlaku. Sebab,
tidak ingin membuat keributan sama sekali.
Menghargai adalah dasar yang harus
dimiliki oleh semua orang. Tanpa terkecuali. Semua hal yang terjadi di dunia
ini terjadi berdasarkan hukum timbal balik. Semua yang kita lakukan akan
terjadi secara timbal balik. Tidak ada yang bisa melawan hukum semesta yang
satu ini.
__ADS_1
Jika ingin dihargai, maka sebaiknya
kau mulai belajar bagaimana cara menghargai orang lain. Jika kau ingin
didengarkan, maka dengarkan orang lain terlebih dahulu. Apa pun yang orang lain
lakukan ke kita, semua itu adalah salah satu refleksi dari sikap kita selama
ini.
Jadi tidak perlu merasa terkejut
lagi. Ini bukan sesuatu yang baru. Hal baik atau buruk bisa saja terjadi di
dunia ini. Manusia memegang kendali lebih dari setengah atas hal macam apa yang
akan terjadi di bumi. Kelanjutan ceritanya berada di tangan manusia. Sebab,
keputusan terbesar juga berada di tangan mereka. Tidak ada yang bisa mengganggu
gugat soal hal tersebut.
“Apa yang sebenarnya sedang mereka
bicarakan di sana?” gumam Nhea sambil tetap menyoroti orang-orang itu.
Nhea meninggikan lehernya. Berusaha untuk
mencuri lebih banyak informasi dari berbagai sudut pandang yang berhasil ia
dapatkan. Gadis itu terlalu penasaran untuk berhenti. Sehingga, ia tetap akan
melanjutkan pekerjaannya yang satu ini. Meski sebenarnya tidak ada hasil yang
pasti yang bisa ia harapkan.
Entah sejak kapan gadis itu mulai
begitu terobsesi dengan yang namanya seni memata-matai orang lain. Pada
dasarnya, Nhea bukan tipikal orang yang suka mengurusi kehidupan orang lain
menyangkut dengan kehidupannya sendiri secara langsung.
“Dia berhutan cerita kepadaku,” ucap
Nhea dengan penuh penekanan.
Tepat setelah pria itu pergi dari
sana, mereka kembali melanjutkan proses belajarnya. Sehingga tidak ada waktu
lagi bagi Nhea untuk mencari tahu lebih banyak. Mau tak mau ia harus kembali
memusatkan pikirannya hanya kepada satu objek saja.
Pelajaran kali ini memang terkenal
sulit. Karena memang, ini bukan porsi mereka lagi. melainkan beberapa kelas di
atasnya. Jadi, tidak mudah bagi mereka untuk beradaptasi dengan segala
perubahan yang ada. Anak-anak itu harus mulai terbiasa untuk belajar jauh lebih
giat dari pada sebelumnya. Guna untuk mengejar ketertinggalan.
Omong-omong, sama sekali tidak ada
yang tahu kemana pria itu pergi. Tampaknya staff pengajar meminta Jongdae untuk
pergi ke suatu tempat yang dirahasiakan kepada semua orang. Hanya mereka berdua
saja yang tahu.
Entah kemana pria itu pergi sampai
memakan waktu yang cukup lama. Ia bahkan tidak sempat mengikuti pelajaran di
kelas. Lebih tepatnya, Jongdae sama sekali belum kembali lagi sejak terakhir
__ADS_1
kali ia menginggalkan kelas. Jangankan kembali. Batang hidungnya saja tidak ada
terlihat sejak tadi.
Kelas sudah mulai sepi. Satu-persatu
siswa mulai membubarkan diri dari ruangann tersebut. Sehingga hanya menyisakan
beberapa orang saja. Salah satunya termasuk Nhea dan Oliver. Mereka memang
sengaja belum kembali ke kamar asramanya. Kali ini kedua gadis itu tidak ingin
bertindak terlalu terburu-buru.
Masih ada beberapa hal yang perlu
mereka lakukan sebelum kembali ke kamar asrama. Karena Jongdae sama sekali
belum kembali sejak tadi, maka kau tak mau Oliver yang harus mengambil alih urusan
kelas untuk sementara waktu. Setidaknya sampai pria itu kembali lagi. Meski
saat ia kembali semu tugas sudah diselesaikan oleh Oliver.
“Ini adalah pekerjaan terakhir yang
harus kita lakukan,” ujar Oliver sembari menunjukkan selembar kertas yang ia
ambil dari atas meja.
Mengantarkan kertas absensi ke
ruangan Bibi Ga Eun sungguh adalah pekerjaan terakhir yang harus mereka
lakukan. Setelahnya tidak ada lagi. Mereka bisa langsung kembali ke kamar
asrama setelah menyelesaikan yang satu itu.
“Kalau begitu aku akan matikan
lenteranya,” ucap Nhea sembari melangkah masuk.
Mereka tidak akan kembali ke tempat
ini lagi. Jadi, ada baiknya jika mereka memadamkan seluruh penerangan yang ada
di tempat ini saja. Lagipula sudah tidak ada lagi orang yang akan berkunjung ke
sini.
Mereka hanya perlu mematikan seluruh
lentera yang tersisa di ruangan ini. Kemudian memadamkan sisanya di lorong saat
dalam perjalanan. Akademi biasanya selalu menyalakan paling tidak empat sampai
lima lentera di setiap lorongnya. Cahaya yang dihasilkan memang tidak terlalu
terang seperti biasanya. Tapi, setidaknya masih cukup jelas bagi mereka untuk
berjalan di tengah kegelapan.
Oliver tidak perlu ikut ambil alih
dalam pemadaman lentera kali ini. Nhea bisa melakukan semuanya sendiri.
“Sudah selesai?” interupsi Oliver
begitu gadis itu kembali.
Sosok yang ditanyai hanya bisa
mengangguk-anggukkan kepalanya untuk mengiyakan perkataan gadis itu.
“Kalau begitu, ayo!” ajak Oliver
sesaat kemudian. Tampak dengan jelas jika ia sedang tidak ingin berlama-lama di
tempat ini. Oliver ingin segera pergi. Kemana saja asal bukan di sini.
__ADS_1
“Ayo!” balas Nhea dengan cepat.