
Nhea hanya bisa berdiri mematung di sana. Kedua bola matanya
terpaku pada sebuah pemandangan menyedihkan yang berada di seberang sana. Ia
tidak bisa memahami apapun di sini. Semuanya menjadi serba salah. Bahkan tujuan
utama mereka saat ini, adalah untuk menghentikan akhis gadis itu. Bahkan tidak
jarang terlintas sebuah rencana di dalam pikiran mereka untuk melenyapkan gadis
itu. Sekarang semuanya sudah terjadi tepat di depan mata semua orang. Tujuan
mereka terealisasikan sudah.
Ketakutan yang selama ini menghantui mereka sepanjang musim
dingin, telah tiada. Ikut menguap kee udara, bersama dengan sisa nyawa Ify. Nhea
telah melakukan semuanya yang ia bisa. Mereka memerintahkan dirinya untuk
menghabisi Ify, maka dia akan melakukan hal itu tanpa segan-segan. Melakukan
semuanya sesuai perintah. Dan sekarang semua orang malah berbalik menyerangnya.
Bukankah kematian Ify adalah sesuatu yang selalu mereka
impikan selama ini? Lantas kenapa setelah Ify tiada, mereka malah bersedih.
Sama sekali tidak masuk akal. Nhea tengah bersusah payah untuk mencerna semua
peristiwa dan sikap mereka yang membingungkan ini.
“Apakah sekarang aku yang bersalah?” gumamnya.
__ADS_1
Gadis itu tertawa sarkas, sebelum akhirnya menyeringai
tajam. Dia bisa gila lama-lama jika terus berada di tempat ini. Kesehatan
mentalnya pasti telah terganggu. Bibi Ga Eun sengaja mengirimnya ke tempat ini,
karena ia sudah gila. Nhea tidak akan bertahan lama di tempat ini. Dia tahu
soal hal itu. Bahkan sebelum dirinya menginjakkan kaki di tempat ini.
Nhea yang telah membunuh Ify dengan tangannya sendiri. Jadi,
apakah itu artinya jika Neha bersalah? Apakah ia akan menerima hukuman yang
setimpal dengan perbuatannya ini? Memangnya dia salah apa sampai harus di hukum
seperti itu. Yang benar saja. Ia bahkan tidak bersalah. Semua orang seharusnya
Nhea.
Jika tahu akan seperti ini pada akhirnya, Nhea tidak akan
mau turut serta dalam pertempuran ini. Dari pada buang-buang tenaga, lebih baik
ia bersembunyi dan berlindung di sebuah tempat. Tidak peduli jika mereka akan
menyebutnya sebagai pengecut.
Percuma saja kemarin ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk
membangun portal. Jika pada akhirnya semua orang hanya bisa menyalahkannya. Padahal
waktu itu, nyawa gadis itu sendiri lah yang menjadi taruhannya.Dia sempat tak
__ADS_1
sadarkan diri karena hal itu. Tapi, apa balasan yang ia terima sekarang. Apa
semuanya akan baik-baik saja? Mungkin tidak. Sesuatu yang buruk akan
menimpanya.
Nhea telah terperangkap dalam sesuatu yang bahkan ia sendiri
tidak tahu itu apa. Mencekiknya dan membuat Nhea tidak berdaya. Ia tidak bisa
berkutik sedikitpun. Apalagi melarikan diri. Sungguh tidak mungkin.
“Apa dia akan dimakamkan?” tanya Nhea dengan nada datar.
“Entah lah, aku juga tidak tahu,” balas Oliver.
“Kita akan menggelar upacara pemakaman untuknya,” ucap Nhea
dengan yakin.
Bibi Ga Eun akan melakukan apa saja untuk puterinya. Apalagi
sebagai salam perpisahan untuk yang terakhir kalinya. Wanita itu pasti sama
sekali tidak mengira jika anak semata wayangnya akan meninggal dengan cara yang
kejam seperti itu. Sungguh miris.
Nhea bertanya-tanya, bagaimana reaksi semua orang nanti saat
mengetahui jika ialah pelakunya. Terutama Bibi Ga Eun. Dia pasti akan sangat
marah. Mungkin dia juga tidak mengangka jika gadis itu benar pembunuhnya.
__ADS_1