
Kali ini mereka tidak melewati jalur yang sama seperti sebelumnya. Eun Ji Hae mengarahkan semua orang untuk melewati satu jalur rahasia yang hanya sedikit orang tahu. Rute tersebut berada tepat di aliran sungai dari Reodal yang melewati daerah sekitar Mooneta. Ada jalan setapak yang bisa mereka gunakan untuk mempersingkat perjalanan. Mereka bisa sampai dalam hitungan beberapa jam. Tidak harus kembali bergelut dengan jalanan yang panjang dan berbahaya seperti kemarin. Bisa dipastikan jika mereka akan sampai di akademi sihir Mooneta sebelum petang.
Hwang Ji Na yang memberitahu Eun Ji Hae tentang hal ini. Gadis itu merasa berhutang budi kepadanya. Jadi, anggap saja jika informasi penting yang diberikannya pada waktu itu merupakan bentuk balas budi atas kebaikan Eun Ji Hae karena telah mau menolong Chanwo. Hanya itu satu-satunya hal yang bisa ia lakukan sekarang.
“Ada sebuah jalanan setapak. Tempatnya masih cukup rahasia. Jika sewaktu-waktu kalian ingin pergi dari tempat terkutuk ini, bisa menggunakan rute yang satu itu. kalian akan sampai lebih cepat di Mooneta.”
Entah bagaimana caranya sampai kalimat yang satu itu masih terngiang dengan jelas di dalam kepala Eun Ji Hae. Sampai ia tidak bisa melupakannya.
Hwang Ji Na telah mengetahui rute rahasia itu sejak lama. Ia masih mengingatnya dengan jelas saat mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Hwang Ji Na dan kawanan serigala lainnya menggunakan jalan tersebut pada waktu itu. Mereka berpindah dari hutan di selatan menuju utara. Kebetulan saat itu ia melewati Mooneta, Reodal dan juga hutan kegelapan tempatnya tinggal sekarang.
Perpindahan serigala secara berkelompok dari satu tempat ke tempat lain sudah menjadi hal biasa. Bukan sesuatu yang mengejutkan lagi jika melihat mereka bergerombol. Itu artinya para serigala itu tengah melakukan perjalan panjang. Lebih mirip seperti sebuah siklus. Mereka akan meninggalkan suatu tempat dan mencari tempat tinggal baru jika waktunya telah tiba.
Meski waktu itu Hwang Ji Na masih terbilang cukup muda, tapi otaknya bisa merekam semua kejadian. Setiap hal kecil yang terjadi tepat pada hari itu masih diingatnya hingga sekarang. Termasuk rute tersebut. Kebetulan jalanannya lurus dan tidak banyak berbelok. Sehingga akan lebih mudah baginya untuk mengingat hal tersebut. Bahkan bisa dibilang jika rute itu terlalu mudah untuk diingat.
Hwang Ji Na sempat melewati jalanan itu kembali beberapa saat yang lalu. Tepat malam dimana ia sampai di Mooneta dan pergi ke kamar Chanwo dengan cara mengendap-endap. Tentu saja ia melewati tempat itu agar bisa sampai di sana tanpa kehilangan banyak tenaga.
__ADS_1
Beruntung Eun Ji Hae bertemu dengan orang seperti Hwang Ji Na. Mungkin kebanyakan orang mengira jika ia adalah gadis yang cukup dingin dan tidak peduli dengan sekitarnya. Egois dan tidak ingin terlalu mengurusi hidup orang lain. Dia hanya peduli dengan dirinya sendiri. Mungkin itulah kesan pertama yang ia berikan tehadap orang-orang. Tapi, hal tersebut sama sekali tidak berlaku bagi Eun Ji Hae. Dia adalah orang yang pertama menolong gadis itu saat dihadang oleh beberapa penjaga di pintu masuk menuju hutan kegelapan.
Sepertinya Eun Ji Hae harus banyak berterima kasih kepada gadis itu. Berkat Hwang Ji Na, sekarang hidupnya telah jauh lebih mudah. Mungkin dia adalah orang terbaik yang pernah dijumpainya seumur hidup. Eun Ji Hae tidak akan pernah menyesal dipertemukan oleh Hwang Ji Na. Sejauh ini mereka telah banyak memberikan bantuan untuk satu sama lain. Sebuah kebaikan yang tidak bisa dideskripsikan begitu saja.
***
“Apakah kalian masih sanggup untuk melanjutkan perjalanan?” tanya Eun Ji Hae.
Ia sengaja meninggikan nada bicaranya pada saat itu, agar semua orang bisa mendengarnya.
“Baiklah, semuanya silahkan duduk dan nikmati waktu bersantai kalian!” seru Eun Ji Hae dari barisan paling depan.
“Kita akan istirahat selama lima belas menit sebelum kembali melanjutkan perjalanan,” lanjutnya.
Pada siswa menghela napas dengan lega. Beruntung Eun Ji Hae tahu betul bagaimana perasaan mereka saat ini. Dia tidak akan memaksa anak-anak itu untuk tetap berjalan. Eun Ji Hae juga harus memikirkan kesehatan para tetua. Terlebih, kemarin Wilson mengatakan jika dirinya sedang tidak enak badan. Eun Ji Hae tidak akan mengacuhkannya begitu saja. Meskipun hubungannya dengan sang Ayah saat ini sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
“Eun Ji Hae!” sahut Vallery.
Wanita itu langsung melambai-lambaikan tangannya kea rah Eun Ji Hae. Memintanya untuk menghampiri Vallery yang tengah duduk di atas sebuah batu besar. Kelihatannya wanita itu juga cukup lelah. Beruntung Eun Ji Hae langsung paham dengan maksud sang Ibu. Tanpa pikir panjang lagi, ia segera beranjak pergi dari tempatnya berdiri semula dan menghampiri wanita itu. Eun Ji Hae duduk bersimpuh di depan Vallery. Ia adalah satu-satunya anggota kaluarga yang masih memiliki hubungan baik dengan Eun Ji Hae. Tidak ada jarak apa pun di antara mereka bedua saat ini.
“Ada apa Bu?” tanya Eun Ji Hae. Dia bukan tipikal prang yang suka berbasa-basi. Jadi, lebih baik langsung saja ke intinya jika ingin berbicara dengan gadis ini.
“Apa kau yakin jika kita melalui jalan yang benar?” tanya Vallery balik.
Eun Ji Hae tidak langsung menjawab pertanyaan wanita itu. Entah apa yang dipikirkan olehnya. Tapi, yang jelas ia harus segera menjawab pertanyaan tersebut. Vallery butuh untuk memastikan keraguannya tersebut. Ia tidak bisa membuat Vallery menunggu terlalu lama untuk mendapatkan jawabannya.
“Kenapa Ibu mendadak bertanya seperti itu?” tanya Eun Ji Hae.
“Apa Ibu tidak percaya kepadaku?” lanjutnya.
Kali ini giliran Vallery yang dibuat bungkam. Ia tetap bergeming. Tak bisa berkutik sama sekali. Mendadak ia kehabisan kata-kata.
__ADS_1
Bukannya bermaksud untuk menyudutkan Eun Ji Hae secara tidak langsung seperti ini. Tapi, ia perlu memastikan satu hal. Ada sedikit keraguan di dalam hatinya. Vallery terus merasa gundah sejak tadi. Dia tidak tahu harus berbuat apa. satu-satunya cara hanyalah dengan bertanya kepada Eun Ji Hae.