Mooneta High School

Mooneta High School
Upset 2


__ADS_3

Semua orang tampak tidak bersemangat sama sekali setelah


pertandingan mereka selesai dengan cara paling tidak memuaskan. Mungkin bisa


dikatakan jika ini adalah pertama kalinya mereka kalan sepanjang akademi sihir Mooneta


berdiri. Apa yang terjadi hari ini pasti akan menciptakan suatu sejarah baru.


Eun Ji Hae yang menyaksikan pertandingan tersebut secara


langsung, mendadak merasa malu. Dia tidak tahu harus ditaruh dimana wajahnya. Gadis


itu sama sekali tidak bisa menerima jika mereka benar-benar kalah. Apalagi mereka


kalah dengan Reodal. Sungguh tidak masuk akal.


“Arghh!!!” gerutu Eun Ji Hae dengan kasar. Ia bahkan nyaris


berteriak.


Tidak hanya sampai di situ saja. Aksinya masih terus


berlanjut, bahkan terkesan semakin brutal. Mulai dari mengacak-acak rambutnya,


hingga menendang benda apa saja yang berada di sekitarnya. Ia melakukan semua


itu karena merasa kesal. Emosinya sudah tidak terbendung lagi. Ubun-ubunnya


bahkan terasa seperti sudah mendidih.


Tidak peduli seberapa keras usahanya untuk menenangkan diri.


Hasilnya tetap sama saja seperti yang sebelumnya. Nihil. Emosi akan terkenal


sulit untuk dikendalikan apabila sudah mencapai titik tertentu. Yang paling


berbahaya adalah ketika kau sudah lepas kendali atas dirimu sendiri. Akan sangat


fatal akibatnya.


Bukan hanya Nhea satu-satunya orang yang sedang merasa buruk


hari ini. Namun, ialah yang paling merasa bersalah di sini. Karena bagaimanapun


juga, dari awal itu sudah menjadi tanggung jawabnya. Eun Ji Hae, pelatih bahkan


segenap anggota tim telah memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjadi


penyerang utama. Sejauh ini gadis itu banyak diandalkan. Bahkan, bsia dikatakan


jika jalannya permainan bergantung kepada dirinya. Nhea menempati posisi vital


di dalam tim. Tidak bisa diganggu gugat sama sekali.


Tapi, untuk hari ini ia mengacaukan perasaan semua orang. Setelah


berhasil mengemban tanggung jawab tersebut selama beberapa hari belakangan,


tepat pada hari ini ia berhasil mematahkan asumsi semua orang. Padahal mereka


sudah berharap banyak kepada Nhea. Ekspektasinya sudah melebihi apa pun.


Gadis itu berjalan lunglai menuju daerah belakang panggung


bersama anggota tim yang lainnya. Sama sekali tidak ada semangat yang tersisa


di dalam dirinya. Sisa rasa tersebut ikut menguap bersama sisa hasil


pernapasannya. Wajahnya tampak sedang diselimuti oleh awan mendung yang teramat


tebal. Sejak awal wasit mengumumkan hasil akhir pertandingannya saja, Nhea sama

__ADS_1


sekali tidak pernah terlihat mengangkat wajahnya. Ia terus berjalan dengan


kepala tertunduk. Pandangannya hanya tertuju kepada sepasang alas kakinya, atau


bahkan terkadang malah menatap jalanan di sekitarnya. Tentu saja dengan


jangkauan yang masih sangat terbatas karena posisi seperti itu.


Setelah meletakkan perlengkapan tandingnya di tempat yang


sudah disediakan, Nhea bergegas mengikuti Jang Eunbi yang ternyata sudah


melangkah beberapa meter lebih dulu di depannya. Entah memang ia yang bergerak


terlalu lambat, atau malah Jang Eunbi yang semakin cepat dalam berjalan.


“Kenapa dia berjalan lebih dulu?” gumam Nhea.


“Apa Jang Eunbi tidak ingin berada di sekitar pengecut seperti


diriku?” lanjutnya.


Semakin ke sini, ia semakin berkecil hati. Seolah setiap hal


yang terjadi sekarang akibat kesalahannya. Nhea tidak henti-hentinya


menyalahkan dirinya sendiri setelah kejadian itu. Padahal belum tentu jika ia


bersalah. Pasti ia merasa sangat terpukul. Sulit untuk menerima kenyataan jika


tim mereka harus kalah pada babak final. Meski menang dan kalah adalah sebuah


hal yang biasa dalam suatu pertandingan.


Bayangkan saja ketika kau harus menerima hal baik dan hal


buruk dalam waktu yang bersamaan. Tadi pagi, Nhea dan timnya begitu antusias


akademi sihir Mooneta secara resmi masuk ke babak final. Hanya tinggal satu


langkah lagi saja untuk mencapai podium juara. Namun, di saat yang bersamaan


pula ekspektasi mereka harus dipatahkan oleh kenyataan yang semesta berikan.


“Tidak bisakah aku beruntung?” tanya gadis itu kepada


dirinya sendiri.


“Setidaknya sekali saja dalam seumur hidupku,” ucapnya


dengan nada lemah.


Sungguh miris. Sepertinya Nhea termasuk kepada orang-orang


yang jarang mendapatkan keberuntungan. Entah karena faktor apa. Bukannya tidak


pernah sama sekali. Hanya saja memang jarang. Bahkan bisa dihitung dengan jari,


seberapa sering ia pernah merasa beruntung di dunia ini. Mungkin hanya beberapa


kali.


Bukannya ingin merasa paling tersakiti. Namun, pada


kenyataannya hidupnya memang tidak seindah yang ia inginkan. Selama ini


kenyataan yang disuguhkan oleh semesta selalu berhasil mematahkan semangatnya. Jangankan


semangat, ia bahkan sudah tidak memiliki alasan lagi untuk tetap bertahan


sampai besok. Paling tidak, jika ada seseorang yang membuatnya bertahan, maka

__ADS_1


ia akan bertahan.


Nhea masih menurunkan pandangannya. Ia belum berani membalas


tatapan setiap orang yang saat ini ia yakini sedang tertuju ke arahnya.


Meskipun tadi Nick yang menyerang di saat terakhir, tapi tetap saja Nhea akan


terkena imbasnya. Gadis itu juga ikut disalahkan atas perbuatan Nick.


Terkesan tidak adil untuk dirinya memang. Bagaimana bisa


manusia malah menghakimi manusia lainnya dengan cara yang tidak manusiawi


seperti itu? Mereka bahkan tidak tahu apa yang terjadi di lapangan. Lantas,


apakah mereka masih pantas untuk disebut sebagai manusia? Ia rasa tidak lagi.


Setelah mendapati beberapa kejadian, dimana dirinya dibuat


sakit hati oleh manusia lainnya. Perkataan Chanwo yang sempat ia utarakan


beberapa saat lalu memang benar adanya. Mereka hanya bisa menunjuk ke arah


orang lain. Bukankah menyalahkan orang lain jauh lebih asik, daripada harus


melihat kesalahan diri kita sendiri? Selama ini prinsipnya memang selalu


begitu.


‘DUG!’


Gadis itu menghentikan langkahnya saat menabrak orang lain


secara tidak sengaja. Sepertinya mulai saat ini ia harus mulai memperhatikan


langkahnya secara lebih seksama. Tentu agar kesalahan yang serupa tidak


terulang kembali.


Jika dilihat dari seragam yang sedang ia kenakan saat ini,


Nhea jelas merasa tidak asing. Bahkan seragam mereka berdua memiliki corak yang


sama persis. Bisa dipastikan jika orang tersebut berasal dari akademi sihir


yang sama dengannya. Atau mungkin bisa saja jika ia adalah salah satu teman


dekat Nhea.


Kini pandangan Nhea beralih ke objek lain. Kalau


diperhatikan baik-baik dari celana hingga sepatunya, Nhea yakin betul jika yang


berada di hadapannya saat ini adalah seorang pria. Sambil menghela napas dengan


kasar, gadis itu memberanikan diri untuk menegakkan kepalanya. Setidaknya,


untuk sekarang ia bisa merasa jauh lebih aman. Karena yang jelas siapa pun ia,


orang tersebut bukan Eun Ji Hae. Fakta tersebut berhasil membuat Nhea merasa


jauh lebih lega.


Tidak sengaja kedua netra tersebut saling bertemu pandang


satu sama lain. Tepat saat gadis itu mendongakkan kepalanya.


“Sedang apa kau di sini?” tanya pria tersebut, yang diyakini


sebagai Chanwo.

__ADS_1


__ADS_2