
Semua orang tampak tidak bersemangat sama sekali setelah
pertandingan mereka selesai dengan cara paling tidak memuaskan. Mungkin bisa
dikatakan jika ini adalah pertama kalinya mereka kalan sepanjang akademi sihir Mooneta
berdiri. Apa yang terjadi hari ini pasti akan menciptakan suatu sejarah baru.
Eun Ji Hae yang menyaksikan pertandingan tersebut secara
langsung, mendadak merasa malu. Dia tidak tahu harus ditaruh dimana wajahnya. Gadis
itu sama sekali tidak bisa menerima jika mereka benar-benar kalah. Apalagi mereka
kalah dengan Reodal. Sungguh tidak masuk akal.
“Arghh!!!” gerutu Eun Ji Hae dengan kasar. Ia bahkan nyaris
berteriak.
Tidak hanya sampai di situ saja. Aksinya masih terus
berlanjut, bahkan terkesan semakin brutal. Mulai dari mengacak-acak rambutnya,
hingga menendang benda apa saja yang berada di sekitarnya. Ia melakukan semua
itu karena merasa kesal. Emosinya sudah tidak terbendung lagi. Ubun-ubunnya
bahkan terasa seperti sudah mendidih.
Tidak peduli seberapa keras usahanya untuk menenangkan diri.
Hasilnya tetap sama saja seperti yang sebelumnya. Nihil. Emosi akan terkenal
sulit untuk dikendalikan apabila sudah mencapai titik tertentu. Yang paling
berbahaya adalah ketika kau sudah lepas kendali atas dirimu sendiri. Akan sangat
fatal akibatnya.
Bukan hanya Nhea satu-satunya orang yang sedang merasa buruk
hari ini. Namun, ialah yang paling merasa bersalah di sini. Karena bagaimanapun
juga, dari awal itu sudah menjadi tanggung jawabnya. Eun Ji Hae, pelatih bahkan
segenap anggota tim telah memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjadi
penyerang utama. Sejauh ini gadis itu banyak diandalkan. Bahkan, bsia dikatakan
jika jalannya permainan bergantung kepada dirinya. Nhea menempati posisi vital
di dalam tim. Tidak bisa diganggu gugat sama sekali.
Tapi, untuk hari ini ia mengacaukan perasaan semua orang. Setelah
berhasil mengemban tanggung jawab tersebut selama beberapa hari belakangan,
tepat pada hari ini ia berhasil mematahkan asumsi semua orang. Padahal mereka
sudah berharap banyak kepada Nhea. Ekspektasinya sudah melebihi apa pun.
Gadis itu berjalan lunglai menuju daerah belakang panggung
bersama anggota tim yang lainnya. Sama sekali tidak ada semangat yang tersisa
di dalam dirinya. Sisa rasa tersebut ikut menguap bersama sisa hasil
pernapasannya. Wajahnya tampak sedang diselimuti oleh awan mendung yang teramat
tebal. Sejak awal wasit mengumumkan hasil akhir pertandingannya saja, Nhea sama
__ADS_1
sekali tidak pernah terlihat mengangkat wajahnya. Ia terus berjalan dengan
kepala tertunduk. Pandangannya hanya tertuju kepada sepasang alas kakinya, atau
bahkan terkadang malah menatap jalanan di sekitarnya. Tentu saja dengan
jangkauan yang masih sangat terbatas karena posisi seperti itu.
Setelah meletakkan perlengkapan tandingnya di tempat yang
sudah disediakan, Nhea bergegas mengikuti Jang Eunbi yang ternyata sudah
melangkah beberapa meter lebih dulu di depannya. Entah memang ia yang bergerak
terlalu lambat, atau malah Jang Eunbi yang semakin cepat dalam berjalan.
“Kenapa dia berjalan lebih dulu?” gumam Nhea.
“Apa Jang Eunbi tidak ingin berada di sekitar pengecut seperti
diriku?” lanjutnya.
Semakin ke sini, ia semakin berkecil hati. Seolah setiap hal
yang terjadi sekarang akibat kesalahannya. Nhea tidak henti-hentinya
menyalahkan dirinya sendiri setelah kejadian itu. Padahal belum tentu jika ia
bersalah. Pasti ia merasa sangat terpukul. Sulit untuk menerima kenyataan jika
tim mereka harus kalah pada babak final. Meski menang dan kalah adalah sebuah
hal yang biasa dalam suatu pertandingan.
Bayangkan saja ketika kau harus menerima hal baik dan hal
buruk dalam waktu yang bersamaan. Tadi pagi, Nhea dan timnya begitu antusias
akademi sihir Mooneta secara resmi masuk ke babak final. Hanya tinggal satu
langkah lagi saja untuk mencapai podium juara. Namun, di saat yang bersamaan
pula ekspektasi mereka harus dipatahkan oleh kenyataan yang semesta berikan.
“Tidak bisakah aku beruntung?” tanya gadis itu kepada
dirinya sendiri.
“Setidaknya sekali saja dalam seumur hidupku,” ucapnya
dengan nada lemah.
Sungguh miris. Sepertinya Nhea termasuk kepada orang-orang
yang jarang mendapatkan keberuntungan. Entah karena faktor apa. Bukannya tidak
pernah sama sekali. Hanya saja memang jarang. Bahkan bisa dihitung dengan jari,
seberapa sering ia pernah merasa beruntung di dunia ini. Mungkin hanya beberapa
kali.
Bukannya ingin merasa paling tersakiti. Namun, pada
kenyataannya hidupnya memang tidak seindah yang ia inginkan. Selama ini
kenyataan yang disuguhkan oleh semesta selalu berhasil mematahkan semangatnya. Jangankan
semangat, ia bahkan sudah tidak memiliki alasan lagi untuk tetap bertahan
sampai besok. Paling tidak, jika ada seseorang yang membuatnya bertahan, maka
__ADS_1
ia akan bertahan.
Nhea masih menurunkan pandangannya. Ia belum berani membalas
tatapan setiap orang yang saat ini ia yakini sedang tertuju ke arahnya.
Meskipun tadi Nick yang menyerang di saat terakhir, tapi tetap saja Nhea akan
terkena imbasnya. Gadis itu juga ikut disalahkan atas perbuatan Nick.
Terkesan tidak adil untuk dirinya memang. Bagaimana bisa
manusia malah menghakimi manusia lainnya dengan cara yang tidak manusiawi
seperti itu? Mereka bahkan tidak tahu apa yang terjadi di lapangan. Lantas,
apakah mereka masih pantas untuk disebut sebagai manusia? Ia rasa tidak lagi.
Setelah mendapati beberapa kejadian, dimana dirinya dibuat
sakit hati oleh manusia lainnya. Perkataan Chanwo yang sempat ia utarakan
beberapa saat lalu memang benar adanya. Mereka hanya bisa menunjuk ke arah
orang lain. Bukankah menyalahkan orang lain jauh lebih asik, daripada harus
melihat kesalahan diri kita sendiri? Selama ini prinsipnya memang selalu
begitu.
‘DUG!’
Gadis itu menghentikan langkahnya saat menabrak orang lain
secara tidak sengaja. Sepertinya mulai saat ini ia harus mulai memperhatikan
langkahnya secara lebih seksama. Tentu agar kesalahan yang serupa tidak
terulang kembali.
Jika dilihat dari seragam yang sedang ia kenakan saat ini,
Nhea jelas merasa tidak asing. Bahkan seragam mereka berdua memiliki corak yang
sama persis. Bisa dipastikan jika orang tersebut berasal dari akademi sihir
yang sama dengannya. Atau mungkin bisa saja jika ia adalah salah satu teman
dekat Nhea.
Kini pandangan Nhea beralih ke objek lain. Kalau
diperhatikan baik-baik dari celana hingga sepatunya, Nhea yakin betul jika yang
berada di hadapannya saat ini adalah seorang pria. Sambil menghela napas dengan
kasar, gadis itu memberanikan diri untuk menegakkan kepalanya. Setidaknya,
untuk sekarang ia bisa merasa jauh lebih aman. Karena yang jelas siapa pun ia,
orang tersebut bukan Eun Ji Hae. Fakta tersebut berhasil membuat Nhea merasa
jauh lebih lega.
Tidak sengaja kedua netra tersebut saling bertemu pandang
satu sama lain. Tepat saat gadis itu mendongakkan kepalanya.
“Sedang apa kau di sini?” tanya pria tersebut, yang diyakini
sebagai Chanwo.
__ADS_1