
Mahkota tersebut adalah miliknya. Nhea tidak bisa terima
jika orang lain merebutnya secara terang-terangan tepat di depan kedua bola
matanya sendiri. Sontak emosi gadis itu langsung meluap. Ubun-ubunnya terasa
mendidih. Tapi, ia terus dipaksa untuk bersikap baik-baik saja. Seolah tidak
ada apa-apa.
Bagaimana mungkin ia bisa bersikap demikian. Itu sama saja
dengan membohongi dirinya sendiri. Nhea tidak ingin terus berusaha untuk menipu
dirinya sendiri lagi. Kebiasaan buruk yang harus ia tinggalkan tahun ini
sebelum musim dingin datang lagi.
Jika dugaannya benar, maka Nhea
tidak akan memberikan kesempatan untuk negosiasi kepada siapa pun. Bisa
dipastikan jika gadis itu akan membungkam mulut semua orang yang berada di
sini. Termasuk Eun Ji Hae dan juga Bibi Ga Eun. Mereka tidak akan bisa berbuat
apa-apa lagi kali ini.
Mulai sekarang gadis itu akan
menghabisi siapa saja yang berusaha untuk menghalangi jalannya. Dia tidak mau
terus-terusan menjadi pihak yang mengalah. Sesekali, mereka juga harus belajar
bagaimana caranya mengalah.
Beberapa manusia memang
diciptakan dengan sikap egoisnya yang teramat tinggi. Bukan sesuatu yang mengejutkan lagi. Ada banyak orang yang bisa
kita jumpai di dalam kehidupan kita seperti itu. Contoh paling nyatanya adalah
Eun Ji Hae.
“Hei!” sahut Chanwo yang
kebetulan sedang berada tepat di samping gadis itu.
Nhea lantas tersentak. Isi
kepalanya mendadak buyar seketika. Ia bahkan sudah tidak ingat sama sekali, apa
yang sedang ia pikirkan sejak tadi. Reaksi tubuhnya memang terlalu berlebihan
kadang. Padahal pria itu sama sekali tidak bermaksud untuk mengejutkannya.
“Ada apa?” tanya Nhea sembari
mengalihkan pandangannya ke arah pria tersebut.
Akan sangat tidak sopan jika ia berbicara
tanpa menatap mata kawan bicaranya. Bukan seperti itu tata krama yang selama
ini mereka pelajari.
Sebenarnya, Nhea bukan tipikal
orang yang selalu suka berbuat baik. Namun ia juga tidak bisa dikategorikan
sebagai orang jahat. Sebab, setiap orang pasti memiliki dua sisi di dalam
dirinya. Yaitu sisi jahat dan juga sisi baik.
Nhea akan bersikap sebagaimana
orang lain bersikap kepadanya. Tergantung. Perlakuan gadis ini tidak bisa
disama ratakan ke setiap orang. Karena tentu ia akan memperlakukannya secara
__ADS_1
berbeda.
“Sepertinya sejak tadi kau
memikirkan begitu banyak hal,” ujar Chanwo dengan nada bergurau. Meskipun
begitu, ia tetap bermaksud untuk serius.
“Mungkin hanya perasaanmu saja.
Aku tidak sedang memikirkan apa pun,” dalih gadis itu.
“Sungguh?” balas Chanwo.
Pria itu mendekatkan wajahnya ke
arah wajah Nhea dengan sengaja. Berusaha untuk mempersempit jarak di antara
mereka. Sontak gadis itu melakukan gerakan refleks untuk mundur dan menghindar.
“Memangnya apa yang kupikirkan,
hingga membuatmu merasa penasaran seperti itu?!” sarkas Nhea sembari mendorong
tubuh pria itu untuk menjauh darinya.
Sementara itu Chanwo hanya
tersenyum miring. Dia tidak terlalu memusingkan perkataan Nhea barusan.
Entah kenapa mendadak atmosfirnya
terasa begitu berbeda. Nhea merasa canggung setelah kejadian tadi. Beruntung
pipinya tidak memerah karena kejadian tersebut. Jika tidak mungkin Nhea akan
merasa malu. Sesekali ia berdeham untuk menetralisir suasana hatinya. Kemudian
membenarkan posisi duduknya.
“Aku bisa saja membantumu untuk
berbisik.
Pasalnya, topik pembicaraan
mereka kali ini cukup sensitif. Tidak semua orang bisa mendengarkannya. Hanya
orang-orang tertentu saja, yang dipercaya bisa menjaga rahasia tersebut. Salah
satunya adalah Nhea dan Chanwo.
Sebenarnya ini bukan yang pertama kalinya Nhea
dan Chanwo bekerja sama. Mereka sudah sering melakukan hal serupa sebelumnya.
Tapi kelihatannya kali ini Nhea masih ragu untuk memutuskan. Entah dia akan
menerima tawaran bantuan dari Chanwo lagi atau tidak sama sekali. Padahal,
tanpa ditawarkan pun Chanwo pasti akan tetap membantu gadis itu.
“Jadi, bagaimana?” tanya Chanwo
sekali lagi.
Pria itu membutuhkan jawaban
dengan segera. Agar tahu apa yang harus dilakukan ke depannya. Ia tidak bisa
terus menunggu. Sama seperti Nhea, pria itu juga tidak suka jika harus dibuat
menunggu oleh orang lain.
Sebenarnya Nhea ingin melakukan
semuanya sendiian. Kali ini ia sedang berusaha untuk tidak melibatkan siapa
pun. Termasuk Chanwo atau teman-temannya yang lain. Pasalnya, ini hanya urusan
__ADS_1
antara dirinya dengan Eun Ji Hae saja. Gadis itu tidak ingin membuat orang lain
sampai terseret dengan masalahnya yang satu ini.
Berhadapan dengan Eun Ji Hae
bukan sesuatu yang mudah jika ia tidak memiliki kekuatan. Tak ada yang bisa
diandalkan. Bahkan bagi Nhea sendiri sulit. Pasti akan terasa jauh lebih sulit jika
ia melibatkan teman-temannya yang lain. Mengingat jika mereka tidak memiliki
posisi yang cukup kuat untuk mempertahankan dirinya sendiri di akademi.
Eun Ji Hae bisa saja
menyingkirkan mereka dengan mudah. Termasuk Jang Eunbi. Bahkan gadis itu sudah
selesai menjabat sebagai ketua asrama. Sekarang ia tidak memiliki kewenangan
apa pun lagi. Jika Jang Eunbi sampai terlibat juga, entah bagaimana ia akan
menyelamatkan dirinya sendiri.
“Sebaiknya kau tidak perlu ikut
campur dalam urusan kali ini,” ungkap Nhea secara gamblang.
“Apa kau yakin?” tanya Chanwo.
Kali ini wajahnya berubah serius.
Bahkan nada bicara pria itu ikut berubah juga. Ekspresinya tidak bisa menipu.
Mendengar pertanyaan tersebut,
Nhea lantas mengangguk-anggukkan kepalanya untuk mengiyakan perkataan pria itu.
Tidak ada jawaban lain yang terlintas di dalam kepalanya. Otaknya tidak
menyediakan opsi lain. Mau tidak mau gadis itu harus yakin dengan jawabannya
sendiri.
Namun meski ia sudah merasa
yakin, Chanwo tetap saja tidak bisa mempercayai perkataan gadis itu sepenuhnya.
Chanwo mengerutkan dahinya. Sehingga kedua alinya tampak seperti menyatu. Tidak
hanya sampai di situ saja. Bahkan di dalam hatinya juga masih terasa seperti
ada yang mengganjal. Ia tidak yakin jika Nhea bisa melakukan semuanya
sendirian.
Bukan hanya Chanwo saja. Nhea
sebenarnya juga merasakan hal serupa. Ia juga sebenarnya masih belum yakin
untuk menghadapi Eun Ji Hae sendiri. Gadis itu terlalu berbahaya baginya.
Namun, di sisi lain Nhea juga tidak ingin melibatkan orang lain. Entah kenapa
Nhea merasa tidak percaya dengan dirinya sendiri. Padahal sebelumnya tidak
pernah seperti ini.
Satu detik,
dua detik, tiga detik berlalu. Tapi, masih belum ada jawaban sama sekali dari
Nhea. ada dua kemungkinan yang sedang terjadi di sini. Pertama mungkin karena
Nhea yang tidak tahu harus menjawab apa, atau malah karena ia tidak yakin. Jika
saja pria itu bisa membaca isi pikirannya saat ini, maka Chanwo pasti akan tahu
apa jawabannya tanpa perlu menunggu lebih lama lagi.
__ADS_1