Mooneta High School

Mooneta High School
Yakin Bisa?


__ADS_3

Mahkota tersebut adalah miliknya. Nhea tidak bisa terima


jika orang lain merebutnya secara terang-terangan tepat di depan kedua bola


matanya sendiri. Sontak emosi gadis itu langsung meluap. Ubun-ubunnya terasa


mendidih. Tapi, ia terus dipaksa untuk bersikap baik-baik saja. Seolah tidak


ada apa-apa.


Bagaimana mungkin ia bisa bersikap demikian. Itu sama saja


dengan membohongi dirinya sendiri. Nhea tidak ingin terus berusaha untuk menipu


dirinya sendiri lagi. Kebiasaan buruk yang harus ia tinggalkan tahun ini


sebelum musim dingin datang lagi.


Jika dugaannya benar, maka Nhea


tidak akan memberikan kesempatan untuk negosiasi kepada siapa pun. Bisa


dipastikan jika gadis itu akan membungkam mulut semua orang yang berada di


sini. Termasuk Eun Ji Hae dan juga Bibi Ga Eun. Mereka tidak akan bisa berbuat


apa-apa lagi kali ini.


Mulai sekarang gadis itu akan


menghabisi siapa saja yang berusaha untuk menghalangi jalannya. Dia tidak mau


terus-terusan menjadi pihak yang mengalah. Sesekali, mereka juga harus belajar


bagaimana caranya mengalah.


Beberapa manusia memang


diciptakan dengan sikap egoisnya yang teramat  tinggi. Bukan sesuatu yang mengejutkan lagi. Ada banyak orang yang bisa


kita jumpai di dalam kehidupan kita seperti itu. Contoh paling nyatanya adalah


Eun Ji Hae.


“Hei!” sahut Chanwo yang


kebetulan sedang berada tepat di samping gadis itu.


Nhea lantas tersentak. Isi


kepalanya mendadak buyar seketika. Ia bahkan sudah tidak ingat sama sekali, apa


yang sedang ia pikirkan sejak tadi. Reaksi tubuhnya memang terlalu berlebihan


kadang. Padahal pria itu sama sekali tidak bermaksud untuk mengejutkannya.


“Ada apa?” tanya Nhea sembari


mengalihkan pandangannya ke arah pria tersebut.


Akan sangat tidak sopan jika ia berbicara


tanpa menatap mata kawan bicaranya. Bukan seperti itu tata krama yang selama


ini mereka pelajari.


Sebenarnya, Nhea bukan tipikal


orang yang selalu suka berbuat baik. Namun ia juga tidak bisa dikategorikan


sebagai orang jahat. Sebab, setiap orang pasti memiliki dua sisi di dalam


dirinya. Yaitu sisi jahat dan juga sisi baik.


Nhea akan bersikap sebagaimana


orang lain bersikap kepadanya. Tergantung. Perlakuan gadis ini tidak bisa


disama ratakan ke setiap orang. Karena tentu ia akan memperlakukannya secara

__ADS_1


berbeda.


“Sepertinya sejak tadi kau


memikirkan begitu banyak hal,” ujar Chanwo dengan nada bergurau. Meskipun


begitu, ia tetap bermaksud untuk serius.


“Mungkin hanya perasaanmu saja.


Aku tidak sedang memikirkan apa pun,” dalih gadis itu.


“Sungguh?” balas Chanwo.


Pria itu mendekatkan wajahnya ke


arah wajah Nhea dengan sengaja. Berusaha untuk mempersempit jarak di antara


mereka. Sontak gadis itu melakukan gerakan refleks untuk mundur dan menghindar.


“Memangnya apa yang kupikirkan,


hingga membuatmu merasa penasaran seperti itu?!” sarkas Nhea sembari mendorong


tubuh pria itu untuk menjauh darinya.


Sementara itu Chanwo hanya


tersenyum miring. Dia tidak terlalu memusingkan perkataan Nhea barusan.


Entah kenapa mendadak atmosfirnya


terasa begitu berbeda. Nhea merasa canggung setelah kejadian tadi. Beruntung


pipinya tidak memerah karena kejadian tersebut. Jika tidak mungkin Nhea akan


merasa malu. Sesekali ia berdeham untuk menetralisir suasana hatinya. Kemudian


membenarkan posisi duduknya.


“Aku bisa saja membantumu untuk


berbisik.


Pasalnya, topik pembicaraan


mereka kali ini cukup sensitif. Tidak semua orang bisa mendengarkannya. Hanya


orang-orang tertentu saja, yang dipercaya bisa menjaga rahasia tersebut. Salah


satunya adalah Nhea dan Chanwo.


 Sebenarnya ini bukan yang pertama kalinya Nhea


dan Chanwo bekerja sama. Mereka sudah sering melakukan hal serupa sebelumnya.


Tapi kelihatannya kali ini Nhea masih ragu untuk memutuskan. Entah dia akan


menerima tawaran bantuan dari Chanwo lagi atau tidak sama sekali. Padahal,


tanpa ditawarkan pun Chanwo pasti akan tetap membantu gadis itu.


“Jadi, bagaimana?” tanya Chanwo


sekali lagi.


Pria itu membutuhkan jawaban


dengan segera. Agar tahu apa yang harus dilakukan ke depannya. Ia tidak bisa


terus menunggu. Sama seperti Nhea, pria itu juga tidak suka jika harus dibuat


menunggu oleh orang lain.


Sebenarnya Nhea ingin melakukan


semuanya sendiian. Kali ini ia sedang berusaha untuk tidak melibatkan siapa


pun. Termasuk Chanwo atau teman-temannya yang lain. Pasalnya, ini hanya urusan

__ADS_1


antara dirinya dengan Eun Ji Hae saja. Gadis itu tidak ingin membuat orang lain


sampai terseret dengan masalahnya yang satu ini.


Berhadapan dengan Eun Ji Hae


bukan sesuatu yang mudah jika ia tidak memiliki kekuatan. Tak ada yang bisa


diandalkan. Bahkan bagi Nhea sendiri sulit. Pasti akan terasa jauh lebih sulit jika


ia melibatkan teman-temannya yang lain. Mengingat jika mereka tidak memiliki


posisi yang cukup kuat untuk mempertahankan dirinya sendiri di akademi.


Eun Ji Hae bisa saja


menyingkirkan mereka dengan mudah. Termasuk Jang Eunbi. Bahkan gadis itu sudah


selesai menjabat sebagai ketua asrama. Sekarang ia tidak memiliki kewenangan


apa pun lagi. Jika Jang Eunbi sampai terlibat juga, entah bagaimana ia akan


menyelamatkan dirinya sendiri.


“Sebaiknya kau tidak perlu ikut


campur dalam urusan kali ini,” ungkap Nhea secara gamblang.


“Apa kau yakin?” tanya Chanwo.


Kali ini wajahnya berubah serius.


Bahkan nada bicara pria itu ikut berubah juga. Ekspresinya tidak bisa menipu.


Mendengar pertanyaan tersebut,


Nhea lantas mengangguk-anggukkan kepalanya untuk mengiyakan perkataan pria itu.


Tidak ada jawaban lain yang terlintas di dalam kepalanya. Otaknya tidak


menyediakan opsi lain. Mau tidak mau gadis itu harus yakin dengan jawabannya


sendiri.


Namun meski ia sudah merasa


yakin, Chanwo tetap saja tidak bisa mempercayai perkataan gadis itu sepenuhnya.


Chanwo mengerutkan dahinya. Sehingga kedua alinya tampak seperti menyatu. Tidak


hanya sampai di situ saja. Bahkan di dalam hatinya juga masih terasa seperti


ada yang mengganjal. Ia tidak yakin jika Nhea bisa melakukan semuanya


sendirian.


Bukan hanya Chanwo saja. Nhea


sebenarnya juga merasakan hal serupa. Ia juga sebenarnya masih belum yakin


untuk menghadapi Eun Ji Hae sendiri. Gadis itu terlalu berbahaya baginya.


Namun, di sisi lain Nhea juga tidak ingin melibatkan orang lain. Entah kenapa


Nhea merasa tidak percaya dengan dirinya sendiri. Padahal sebelumnya tidak


pernah seperti ini.


Satu detik,


dua detik, tiga detik berlalu. Tapi, masih belum ada jawaban sama sekali dari


Nhea. ada dua kemungkinan yang sedang terjadi di sini. Pertama mungkin karena


Nhea yang tidak tahu harus menjawab apa, atau malah karena ia tidak yakin. Jika


saja pria itu bisa membaca isi pikirannya saat ini, maka Chanwo pasti akan tahu


apa jawabannya tanpa perlu menunggu lebih lama lagi.

__ADS_1


__ADS_2