Mooneta High School

Mooneta High School
Roof Top


__ADS_3

Jika beberapa hari yang lalu semua orang tampak begitu


antusias karena parade, maka sekarang juga terjadi hal yang demikian. Tepat


pada malam ini akan dilangsungkan pengumuman akhir peserta dan juga sekaligus


upacara penutupan. Untuk pertama kalinya Nhea mendapati acara perpisahan dimana


semua orang tampak bersuka cita. Berbeda dengan kebanyakan orang pada umumnya.


Biasanya mereka akan merasa sedih jika terpaksa harus menghadapi yang namanya


perpisahan. Namun, di sisi lain malah terjadi sebaliknya.


Sungguh tidak masuk akal. Tapi, hal tersebut sungguh


terjadi. Ia bahkan melihat segalanya dengan mata kepalanya sendiri. Nhea masihi


tidak habis pikir. Mungkin di antara semua orang, hanya dirinya lah


satu-satunya jiwa yang merasa sedih. Perasaannya sedang tiak menentu sejak


siang tadi.


Kejadian di tenda tadi siang, sebenarnya sudah tidak terlalu


ia pikirkan. Nhea sendiri bahkan tidak meras begitu terpukul. Wajar jika merasa


sakit hati. Namun, gadis itu telah memutuskan untuk tidak memperpanjang


masalahnya. Sedikit banyaknya, Nhea sudah pasti bersalah di sini. Meski


sebenarnya Nick jauh lebih bersalah. Tapi, mau bagaiman lagi memangnya.


Merasa bosan berada di ruang penyimpanan, Nhea memutuskan


untuk naik ke atap. Ada satu jalur yang tidak diketahui orang banyak untuk


menuju atap. Tepat di setiap sudut ruangan paling atas, biasanya ada satu


tangga yang akan langsung menuju ke atas sana. Namun karea selama ini tertutup


oleh pintu, jadi tidak banyak yang tahu. Itu saja, Nhea bisa tahu karena


Oliver. Beberapa waktu yang lalu, Oliver pernah mengajaknya ke atap begitu


kelas selesai. Suasana di atas sana cukup untuk menenangkan pikiranmu. Biasanya


dimulai dari petang hingga larut malam. Namun, malam hari tetap menjadi


pemandangan terbaik yang pernah ia jumpai.


Nhea bisa mengamati seisi kota dari atap bangunan ini.


Bahkan ia bisa menyaksikan upacara penutup festival dari sini, tanpa harus


jauhjauh datang ke sana hanya sekedar untuk menghadirinya. Sekarang ia tidak


berada di gedung utama lagi. Nhea beralih ke gedung asrama dan memutuskan untuk


berdiam diri di atapnya.


“Tampaknya mereka begitu menikmati acara tersebut,” gumam


Nhea sambil menghela napasnya.


Kemudian ia membenarkan posisi duduknya.


“Tapi, apakah semua orang sungguh bersenang-senang?” tanya

__ADS_1


gadis itu secara tiba-tiba.


Jelas tidak ada jawaban sama sekali. Ia memang sengaja


menujukan pertanyaan tersebut kepada dirinya sendiri. Namun, di sisi lain ia


juga tidak tahu pasti apa jawabannya. Pada akhirnya suasana kembali hening.


Matanya masih sibuk menyoroti keramaian yang berada jauh di


sana. Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan. Satu-satunya hal yang paling


memungkinkan adalah mengamati setiap kejadian dari kejauhan. Dengan begitu, ia


tetap bisa terhubung dengan dunia luar tanpa harus takut ketahuan. Setidaknya


Nhea tidakakan tertinggal lebih banyak informasi lagi.


Untuk yang kesekian kalinya, Nhea kembali menghela napasnya.


Pandangannya beralih ke batas cakrawala. Gulita tengah menyelimuti seluruh


kota. Manusia-manusia di bumi menyalakan pelita agar tetap terjaga.


Hal paling menarik yang ia temui di sini adalah lentera.


Entah kenapa jumlahnya jauh lebih banyak daripada malam-malam sebelumnya. Mungkin


saja karena sedang ada acara besar. Jadi, para penduduk kota menyambutnya


dengan penuh suka cita. Mereka memasang lentera jauh lebih banyak daripada


sebelumnya. Hal tersebut berhasil membuat kota ini tampak lebih terang dibanding


kemarin.


ini. Mereka pasti tidak akan sadar jika sedang berada di ujung jalan menuju


persimpangan,” celoteh gadis itu dengan panjang lebar.


Siapa bilang jika Nha tidak mengikuti upacara penutupan? Gadis


itu masih tetap mengawasi semuanya dari kejauhan. Setidaknya, ia sudah memenuhi


kewajibannya sebagai salah satu peserta lomba. Mereka diwajibkan untuk hadir


dalam malam penutupan. Tidak peduli apakah timmu menang atau kalah. Yang mereka


inginkan adalah, keramaian yang sama ketika upacara pembukaan. Nantinya harus


begitu juga di upacara penutupan.


Dengan begitu, tentu acara festival sihir tahun ini tidak


akan kalah meriahnya dengan yang sudah berlalu. Kabarnya festival selanjutnya


akan dilaksanakan pada musim semi tahun depan. Mereka akan menyelenggarakannya


di daerah timur. Untuk kotanya sendiri masih belum pasti. Bahkan tuan rumahnya


saja belum diberi tahu sama sekali. Nhea dan teman-temannya hanya mendengar


kabar burung dari para peserta yang lainnya saja.


Nanti juga akan diumumkan pada akhirnya. Panita festival


akan segera mengumumkannya segera. Tepat sebelum acara benar-benar ditutup. Sejujurnya,


ia juga merasa penasaran dan ingin pergi ke sana. Informasi yang ia terima

__ADS_1


sungguh terbatas jika hanya menyaksikan melalui atap asaram saja. Mungkin Nhea


bisa mengulik berbagai jenis informasi dengan leluasa saat berada di sana. Namun,


sekarang ia harus menahan dirinya terlebih dahulu.


Nhea harus membatasi interaksinya dengan orang lain.


Terlebih dunia luar. Ia memang terkesan seperti mengasingkan diri. Tapi, hal


tersebut disengaja. Menurutnya, dirinya hanya akan sembuh jika memberikan jeda


antara dirinya dengan semesta. Meski luka yang ada tidak bisa sembuh


sepenuhnya, tapi paling tidak sudah jauh lebih baik dari yang sebelumnya.


Gadis itu mengganti posisinya dari duduk menjadi berbaring. Rasanya


begitu lega. Tubuhnya ia baringkan pada atap asrama. Sorot matanya beralih ke


hamparan langit yang kali ini sedang gelap gulita. Namun setidaknya, gelap


tidak lagi menjadi sesuatu yang begitu menakutkan baginya. Nhea sudah mulai


terbiasa dengan suasana gelap seperti ini. Meski tidak ada seberkas cahaya yang


menyapa pemandangannya.


Malam ini, jutaan benda langit tergantung di angkasa. Menghiasi


langit malam yang hitam pekat. Dengan bulan sebagai pusatnya.


Sebenarnya Nhea sendiri tidak terlalu paham dengan konsep


rasi bintang. Katanya, rasi bintang dan ramalan saling berkaitan. Siklus peredaran


bumi juga berbagai macam benda langit lainnya. Salah satu guru mereka pernah


menyinggung permasalahan tersebut saat berada di dalam kelas. Namun, ia tidak


pernah membahasnya lebih jauh lagi.


Entah kenapa belakangan ini Nhea merasa tertarik dengan yang


namanya rasi bintang, siklus peredaran bumi, gerhana serta berbagai hal lain


yang berkaitan erat dengan semesta. Menurutnya akan sangat keren jika ia bisa


meramal. Walau ramalan tidak selamanya akurat. Itu hanyalah kemampuan


memprediksi yang diikuti dengan intuisi.


Meski belum tentu benar, Nhea merasa begitu tertantang. Rasa


antusiasmenya sudah tidak terbendung sama sekali. Ia tak sabar untuk belajar


soal hal tersebut tahun depan. Kebetulan tepat satu tahun lagi, ia akan naik


satu tingkat menuju kelas tingkatan ke empat.


Semakin lama levelnya akan semakin tinggi. Selain itu, beban


pelajarannya juga pasti bertambah. Mau tak mau ia harus siap dengan hal


tersebut.


“Pasti menyenangkan jika semesta


memberikanku sedikit bocoran tentang kehidupanku,” ucapnya secara gamblang.

__ADS_1


__ADS_2