
Jika beberapa hari yang lalu semua orang tampak begitu
antusias karena parade, maka sekarang juga terjadi hal yang demikian. Tepat
pada malam ini akan dilangsungkan pengumuman akhir peserta dan juga sekaligus
upacara penutupan. Untuk pertama kalinya Nhea mendapati acara perpisahan dimana
semua orang tampak bersuka cita. Berbeda dengan kebanyakan orang pada umumnya.
Biasanya mereka akan merasa sedih jika terpaksa harus menghadapi yang namanya
perpisahan. Namun, di sisi lain malah terjadi sebaliknya.
Sungguh tidak masuk akal. Tapi, hal tersebut sungguh
terjadi. Ia bahkan melihat segalanya dengan mata kepalanya sendiri. Nhea masihi
tidak habis pikir. Mungkin di antara semua orang, hanya dirinya lah
satu-satunya jiwa yang merasa sedih. Perasaannya sedang tiak menentu sejak
siang tadi.
Kejadian di tenda tadi siang, sebenarnya sudah tidak terlalu
ia pikirkan. Nhea sendiri bahkan tidak meras begitu terpukul. Wajar jika merasa
sakit hati. Namun, gadis itu telah memutuskan untuk tidak memperpanjang
masalahnya. Sedikit banyaknya, Nhea sudah pasti bersalah di sini. Meski
sebenarnya Nick jauh lebih bersalah. Tapi, mau bagaiman lagi memangnya.
Merasa bosan berada di ruang penyimpanan, Nhea memutuskan
untuk naik ke atap. Ada satu jalur yang tidak diketahui orang banyak untuk
menuju atap. Tepat di setiap sudut ruangan paling atas, biasanya ada satu
tangga yang akan langsung menuju ke atas sana. Namun karea selama ini tertutup
oleh pintu, jadi tidak banyak yang tahu. Itu saja, Nhea bisa tahu karena
Oliver. Beberapa waktu yang lalu, Oliver pernah mengajaknya ke atap begitu
kelas selesai. Suasana di atas sana cukup untuk menenangkan pikiranmu. Biasanya
dimulai dari petang hingga larut malam. Namun, malam hari tetap menjadi
pemandangan terbaik yang pernah ia jumpai.
Nhea bisa mengamati seisi kota dari atap bangunan ini.
Bahkan ia bisa menyaksikan upacara penutup festival dari sini, tanpa harus
jauhjauh datang ke sana hanya sekedar untuk menghadirinya. Sekarang ia tidak
berada di gedung utama lagi. Nhea beralih ke gedung asrama dan memutuskan untuk
berdiam diri di atapnya.
“Tampaknya mereka begitu menikmati acara tersebut,” gumam
Nhea sambil menghela napasnya.
Kemudian ia membenarkan posisi duduknya.
“Tapi, apakah semua orang sungguh bersenang-senang?” tanya
__ADS_1
gadis itu secara tiba-tiba.
Jelas tidak ada jawaban sama sekali. Ia memang sengaja
menujukan pertanyaan tersebut kepada dirinya sendiri. Namun, di sisi lain ia
juga tidak tahu pasti apa jawabannya. Pada akhirnya suasana kembali hening.
Matanya masih sibuk menyoroti keramaian yang berada jauh di
sana. Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan. Satu-satunya hal yang paling
memungkinkan adalah mengamati setiap kejadian dari kejauhan. Dengan begitu, ia
tetap bisa terhubung dengan dunia luar tanpa harus takut ketahuan. Setidaknya
Nhea tidakakan tertinggal lebih banyak informasi lagi.
Untuk yang kesekian kalinya, Nhea kembali menghela napasnya.
Pandangannya beralih ke batas cakrawala. Gulita tengah menyelimuti seluruh
kota. Manusia-manusia di bumi menyalakan pelita agar tetap terjaga.
Hal paling menarik yang ia temui di sini adalah lentera.
Entah kenapa jumlahnya jauh lebih banyak daripada malam-malam sebelumnya. Mungkin
saja karena sedang ada acara besar. Jadi, para penduduk kota menyambutnya
dengan penuh suka cita. Mereka memasang lentera jauh lebih banyak daripada
sebelumnya. Hal tersebut berhasil membuat kota ini tampak lebih terang dibanding
kemarin.
ini. Mereka pasti tidak akan sadar jika sedang berada di ujung jalan menuju
persimpangan,” celoteh gadis itu dengan panjang lebar.
Siapa bilang jika Nha tidak mengikuti upacara penutupan? Gadis
itu masih tetap mengawasi semuanya dari kejauhan. Setidaknya, ia sudah memenuhi
kewajibannya sebagai salah satu peserta lomba. Mereka diwajibkan untuk hadir
dalam malam penutupan. Tidak peduli apakah timmu menang atau kalah. Yang mereka
inginkan adalah, keramaian yang sama ketika upacara pembukaan. Nantinya harus
begitu juga di upacara penutupan.
Dengan begitu, tentu acara festival sihir tahun ini tidak
akan kalah meriahnya dengan yang sudah berlalu. Kabarnya festival selanjutnya
akan dilaksanakan pada musim semi tahun depan. Mereka akan menyelenggarakannya
di daerah timur. Untuk kotanya sendiri masih belum pasti. Bahkan tuan rumahnya
saja belum diberi tahu sama sekali. Nhea dan teman-temannya hanya mendengar
kabar burung dari para peserta yang lainnya saja.
Nanti juga akan diumumkan pada akhirnya. Panita festival
akan segera mengumumkannya segera. Tepat sebelum acara benar-benar ditutup. Sejujurnya,
ia juga merasa penasaran dan ingin pergi ke sana. Informasi yang ia terima
__ADS_1
sungguh terbatas jika hanya menyaksikan melalui atap asaram saja. Mungkin Nhea
bisa mengulik berbagai jenis informasi dengan leluasa saat berada di sana. Namun,
sekarang ia harus menahan dirinya terlebih dahulu.
Nhea harus membatasi interaksinya dengan orang lain.
Terlebih dunia luar. Ia memang terkesan seperti mengasingkan diri. Tapi, hal
tersebut disengaja. Menurutnya, dirinya hanya akan sembuh jika memberikan jeda
antara dirinya dengan semesta. Meski luka yang ada tidak bisa sembuh
sepenuhnya, tapi paling tidak sudah jauh lebih baik dari yang sebelumnya.
Gadis itu mengganti posisinya dari duduk menjadi berbaring. Rasanya
begitu lega. Tubuhnya ia baringkan pada atap asrama. Sorot matanya beralih ke
hamparan langit yang kali ini sedang gelap gulita. Namun setidaknya, gelap
tidak lagi menjadi sesuatu yang begitu menakutkan baginya. Nhea sudah mulai
terbiasa dengan suasana gelap seperti ini. Meski tidak ada seberkas cahaya yang
menyapa pemandangannya.
Malam ini, jutaan benda langit tergantung di angkasa. Menghiasi
langit malam yang hitam pekat. Dengan bulan sebagai pusatnya.
Sebenarnya Nhea sendiri tidak terlalu paham dengan konsep
rasi bintang. Katanya, rasi bintang dan ramalan saling berkaitan. Siklus peredaran
bumi juga berbagai macam benda langit lainnya. Salah satu guru mereka pernah
menyinggung permasalahan tersebut saat berada di dalam kelas. Namun, ia tidak
pernah membahasnya lebih jauh lagi.
Entah kenapa belakangan ini Nhea merasa tertarik dengan yang
namanya rasi bintang, siklus peredaran bumi, gerhana serta berbagai hal lain
yang berkaitan erat dengan semesta. Menurutnya akan sangat keren jika ia bisa
meramal. Walau ramalan tidak selamanya akurat. Itu hanyalah kemampuan
memprediksi yang diikuti dengan intuisi.
Meski belum tentu benar, Nhea merasa begitu tertantang. Rasa
antusiasmenya sudah tidak terbendung sama sekali. Ia tak sabar untuk belajar
soal hal tersebut tahun depan. Kebetulan tepat satu tahun lagi, ia akan naik
satu tingkat menuju kelas tingkatan ke empat.
Semakin lama levelnya akan semakin tinggi. Selain itu, beban
pelajarannya juga pasti bertambah. Mau tak mau ia harus siap dengan hal
tersebut.
“Pasti menyenangkan jika semesta
memberikanku sedikit bocoran tentang kehidupanku,” ucapnya secara gamblang.
__ADS_1