
Pertarungan tadi berhasil dimenangkan oleh Eun Ji Hae dan
kedua teman barunya yang berasal dari hutan terkutuk itu. Mereka berhasil
mengambil alih permainan dalam waktu yang cukup singkat. Bahkan Wilson mengaku
kalah sebelum Hwang Ji Na sempat melancarkan ultimatumnya. Sangat disayangkan
karena pertarungan itu selesai sebelum mencapai *******. Tapi, para anak muda
itu juga tidak ingin melanjutkannya kembali. Lagi pula Wilson tampaknya sudah
tak berdaya. Ia enggan untuk mengatakan menyerah.
“Bukankah sekarang
kami bisa pergi? Aku sudah mengalahkanmu.”
“Kau hanya seorang
pengecut yang mengandalkan teman. Kemenanganmu tidak sah.”
“Terserah apa pun yang
kau katakan. Aku tidak peduli.”
“Tapi, kau telah
berbuat curang dalam permainan ini.”
“Bukankah siapa yang
menang, maka ia berhak untuk menentukan? Itu adalah kesepakatan kita di awal.”
Jika dipikir-pikir lagi, apa yang dikatakan oleh pria itu
tadi ada benarnya juga. Chanwo menang karena dibantu oleh Eun Ji Hae dan juga
Hwang Ji Na. Entah kenapa ketiganya tampak sangat kompak tadi.
Dialog yang terjadi setelah kekalahan Wilson tadi masih
terngiang-ngiang di dalam kepala Eun Ji Hae. Ia tidak bisa menyingkirkan hal
tersebut dari kepalanya. Tidak peduli seberapa keras gadis itu mencoba.
Hasilnya tetap saja sama. Ia tidak bisa mengubahsetiap hal yang telah terjadi
di sini.
Eun Ji Hae langsung meninggalkan Wilson begitu saja di bukit
belakang tadi setelah pertarungan selesai. Hwang Ji Na dan Chanwo juga telah
pergi pada saat itu. Jadi, tidak ada alasan lagi baginya untuk tetap berada di
sana. Bahkan gadis itu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Wilson.
Tampaknya ia sudah bernar-benar tak peduli lagi dengan pria yang telah
menyakiti hatinya itu. Terlepas dari semua hubungan kekerabatan mereka.
Manusia lebih mudah
untuk mengingat satu salah daripada seribu kebaikan.
Kini Eun Ji Hae setuju dengan pendapat tersebut setelah ia
mengalaminya sendiri. Tidak peduli seberapa banyak kebaikan yang telah
__ADS_1
dilakukan oleh Wilson kepadanya. Tak peduli seberapa tulus pria itu dalam
melakukan segalanya. Tetap saja kesalahan hari ini telah menghancurkan semua
itu.
***
Belum ada satu malam sejak Hwang Ji Na dan Chanwo pergi, Eun
Ji Hae sudah merasa kesepian saja. Ia tidak tahu harus mengajak bicara siapa.
Gadis itu tidak terlalu dekat dengan para siswa. Bahkan hubungannya dengan
anggota keluarga sudah tidak baik-baik saja. Eun Ji Hae memang bukan seseorang
yang ahli dalam menjaga hubungan.
Tadi, ia tidak sengaja berpapasan dengan Wilson saat
melangkah keluar dari gedung asrama. Ia baru saja mengecek kondisi kamar
miliknya. Kebetulan gedung asrama siswa dengan asrama staff saling berhadapan.
Seluruh staff dan anggota keluarga akademi sihir Mooneta ditempatkan di gedung
yang satu itu. Pasalnya, tidak ada tempat lain di sekolah ini.
Eun Ji Hae sama sekali tidak menanyakan bagaimana kabar pria
itu setelah kejadian tadi. Apakah punggungnya terasa sakit atau tidak.
Jangankan basa-basi seperti itu. Menyapa saja ia sudah tidak mau lagi. Eun Ji
Hae benar-benar berubah drastis setelah kejadian hari ini. Sebenarnya ada
banyak hal yang terjadi. Bahkan, beberapa kejadian terjadi secara sekaligus
pola pikirnya.
Gadis itu memutuskan untuk benar-benar menjadga jarak dengan
para anggota keluarga. Eun Ji Hae akan tinggal bersama para siswa lainnya di
gedung yang sama. Bahkan ia ikut menjauhi Vallery yang sudah jelas tidak
melakukan kesalahan apa pun. Emosinya sungguh berdampak kepada setiap hal kecil
di dalam hidupnya. Eun Ji Hae tidak bisa menjelaskan itu semua secara
satu-persatu.
Eun Ji Hae langsung melesat cepat begitu menatap Wilson
sekilas. Tergambar dengan jelas di wajahnya jika ia sedang tidak mau berurusan
dengan pria itu. Tidak ada lagi hal yang perlu ia katakan. Mereka berdua juga
sudah sama-sama tahu apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana krronologi
awalnya.
Eun Ji Hae kembali melanjutkan perjalanannya untuk pergi ke
ruangan Do Yen Sae. Ada beberapa hal yang perlu mereka bicarakan. Tentu saja
terkait dengan penentuan nasib akademi ini nanti ke depannya. Eun Ji Hae pergi
begitu saja tanpa berpamitan sama sekali. Ia mengacuhkan Wilson yang tengah
__ADS_1
berdiri mematung tepat di belakangnya saat ini. Pria itu sudah tertinggal
beberapa langkah. Jarak mereka semakin meluas. Pada akhirnya, pria itu kembali
mengalihkan pandangannya ke arah lain saat punggung Eun Ji Hae telah menghilang
di batas cakrawala. Indera pengelihatannya tidak mampu menangkap objek apa pun
lagi setelahnya.
‘TAP! TAP! TAP!’
Suara telapak sepatu boots yang beradu dengan permukaan
lantai itu terdengar dengan jelas. Bahkan menggema ke sepanjang lorong. Suasana
di Reodal tidak jauh berbeda dengan Mooneta. Sunyi dan senyap. Entah kemana
semua orang pada saat seperti ini. Mungkin mereka tengah sibuk dengan urusannya
masing-masing.
Eun Ji Hae terus melangkahd engan penuh percaya diri sampai
ke ujung lorong yang kemudian membawanya pada dua jalur. Ke kanan atau ke kiri.
Gadis itu mengambil rute ke kiri, padahal ruangan Do Yen Sae berada di sebelah
kanan. Ia yakin jika rute yang diambilnya kali ini benar. Eun Ji Hae yakin jika
ia telah menghapal setiap denah tempat ini dengan baik. Karena bangunan Reodal
sendiri tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan Mooneta.
Eun Ji Hae tetap melangkah hingga ke ujung jalan dan tidak
menemukan apa pun di sana. Sampai pada akhirnya gadis itu menyadari jika
dirinya tersesat akibat mengambil jalan yang salah. Eun Ji Hae menghentikan
langkahnya seketika. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Kemudian
mengamati kondisi di sekelilingnya dengan seksama. Eun Ji Hae harus memastikan
terlebih dahulu jika ia benar tersesat sebelum memutar balik. Padahal semuanya
sudah terbukti. Sudah jelas jika ia sedang berada di tempat yang salah.
Tanpa pikir panjang lagi, Eun Ji Hae segera memutar balik
arah untuk kembali ke tempat semula. Tepat di ujung lorong yang terakhir kali
ia lewati pasti adalah awal mulanya. Ia sudah salah sejak pertama kali memilih
jalan di tempat itu. Seharusnya Eun Ji Hae melangkahkan kakinya ke lorong lain
yang berada di sebelah kanan. Bukannya malah berbelok ke kiri.
Eun Ji Hae menghela napasnya
dengan kasar. Ia terpaksa harus bolak-balik jika begini caranya. Jika saja dari
awal ia tidak salah, maka sekarang pasti sudah sampai. Mungkin ia akan sedikit
terlambat untuk sampai ke ruangan Do Yen Sae. Semoga gadis itu berlum menunggu
terlalu lama. Eun Ji Hae akan langsung menceritakan semua detail kejadiannya
agar dimengerti oleh gadis itu. Pasti Do Yen Sae akan memintanya untuk lebih
__ADS_1
banyak berkeliling di tempat ini lagi agar tidak tersesat.