Mooneta High School

Mooneta High School
I'm Not Sorry


__ADS_3

Pertarungan tadi berhasil dimenangkan oleh Eun Ji Hae dan


kedua teman barunya yang berasal dari hutan terkutuk itu. Mereka berhasil


mengambil alih permainan dalam waktu yang cukup singkat. Bahkan Wilson mengaku


kalah sebelum Hwang Ji Na sempat melancarkan ultimatumnya. Sangat disayangkan


karena pertarungan itu selesai sebelum mencapai *******. Tapi, para anak muda


itu juga tidak ingin melanjutkannya kembali. Lagi pula Wilson tampaknya sudah


tak berdaya. Ia enggan untuk mengatakan menyerah.


“Bukankah sekarang


kami bisa pergi? Aku sudah mengalahkanmu.”


“Kau hanya seorang


pengecut yang mengandalkan teman. Kemenanganmu tidak sah.”


“Terserah apa pun yang


kau katakan. Aku tidak peduli.”


“Tapi, kau telah


berbuat curang dalam permainan ini.”


“Bukankah siapa yang


menang, maka ia berhak untuk menentukan? Itu adalah kesepakatan kita di awal.”


Jika dipikir-pikir lagi, apa yang dikatakan oleh pria itu


tadi ada benarnya juga. Chanwo menang karena dibantu oleh Eun Ji Hae dan juga


Hwang Ji Na. Entah kenapa ketiganya tampak sangat kompak tadi.


Dialog yang terjadi setelah kekalahan Wilson tadi masih


terngiang-ngiang di dalam kepala Eun Ji Hae. Ia tidak bisa menyingkirkan hal


tersebut dari kepalanya. Tidak peduli seberapa keras gadis itu mencoba.


Hasilnya tetap saja sama. Ia tidak bisa mengubahsetiap hal yang telah terjadi


di sini.


Eun Ji Hae langsung meninggalkan Wilson begitu saja di bukit


belakang tadi setelah pertarungan selesai. Hwang Ji Na dan Chanwo juga telah


pergi pada saat itu. Jadi, tidak ada alasan lagi baginya untuk tetap berada di


sana. Bahkan gadis itu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Wilson.


Tampaknya ia sudah bernar-benar tak peduli lagi dengan pria yang telah


menyakiti hatinya itu. Terlepas dari semua hubungan kekerabatan mereka.


Manusia lebih mudah


untuk mengingat satu salah daripada seribu kebaikan.


Kini Eun Ji Hae setuju dengan pendapat tersebut setelah ia


mengalaminya sendiri. Tidak peduli seberapa banyak kebaikan yang telah

__ADS_1


dilakukan oleh Wilson kepadanya. Tak peduli seberapa tulus pria itu dalam


melakukan segalanya. Tetap saja kesalahan hari ini telah menghancurkan semua


itu.


***


Belum ada satu malam sejak Hwang Ji Na dan Chanwo pergi, Eun


Ji Hae sudah merasa kesepian saja. Ia tidak tahu harus mengajak bicara siapa.


Gadis itu tidak terlalu dekat dengan para siswa. Bahkan hubungannya dengan


anggota keluarga sudah tidak baik-baik saja. Eun Ji Hae memang bukan seseorang


yang ahli dalam menjaga hubungan.


Tadi, ia tidak sengaja berpapasan dengan Wilson saat


melangkah keluar dari gedung asrama. Ia baru saja mengecek kondisi kamar


miliknya. Kebetulan gedung asrama siswa dengan asrama staff saling berhadapan.


Seluruh staff dan anggota keluarga akademi sihir Mooneta ditempatkan di gedung


yang satu itu. Pasalnya, tidak ada tempat lain di sekolah ini.


Eun Ji Hae sama sekali tidak menanyakan bagaimana kabar pria


itu setelah kejadian tadi. Apakah punggungnya terasa sakit atau tidak.


Jangankan basa-basi seperti itu. Menyapa saja ia sudah tidak mau lagi. Eun Ji


Hae benar-benar berubah drastis setelah kejadian hari ini. Sebenarnya ada


banyak hal yang terjadi. Bahkan, beberapa kejadian terjadi secara sekaligus


pola pikirnya.


Gadis itu memutuskan untuk benar-benar menjadga jarak dengan


para anggota keluarga. Eun Ji Hae akan tinggal bersama para siswa lainnya di


gedung yang sama. Bahkan ia ikut menjauhi Vallery yang sudah jelas tidak


melakukan kesalahan apa pun. Emosinya sungguh berdampak kepada setiap hal kecil


di dalam hidupnya. Eun Ji Hae tidak bisa menjelaskan itu semua secara


satu-persatu.


Eun Ji Hae langsung melesat cepat begitu menatap Wilson


sekilas. Tergambar dengan jelas di wajahnya jika ia sedang tidak mau berurusan


dengan pria itu. Tidak ada lagi hal yang perlu ia katakan. Mereka berdua juga


sudah sama-sama tahu apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana krronologi


awalnya.


Eun Ji Hae kembali melanjutkan perjalanannya untuk pergi ke


ruangan Do Yen Sae. Ada beberapa hal yang perlu mereka bicarakan. Tentu saja


terkait dengan penentuan nasib akademi ini nanti ke depannya. Eun Ji Hae pergi


begitu saja tanpa berpamitan sama sekali. Ia mengacuhkan Wilson yang tengah

__ADS_1


berdiri mematung tepat di belakangnya saat ini. Pria itu sudah tertinggal


beberapa langkah. Jarak mereka semakin meluas. Pada akhirnya, pria itu kembali


mengalihkan pandangannya ke arah lain saat punggung Eun Ji Hae telah menghilang


di batas cakrawala. Indera pengelihatannya tidak mampu menangkap objek apa pun


lagi setelahnya.


‘TAP! TAP! TAP!’


Suara telapak sepatu boots yang beradu dengan permukaan


lantai itu terdengar dengan jelas. Bahkan menggema ke sepanjang lorong. Suasana


di Reodal tidak jauh berbeda dengan Mooneta. Sunyi dan senyap. Entah kemana


semua orang pada saat seperti ini. Mungkin mereka tengah sibuk dengan urusannya


masing-masing.


Eun Ji Hae terus melangkahd engan penuh percaya diri sampai


ke ujung lorong yang kemudian membawanya pada dua jalur. Ke kanan atau ke kiri.


Gadis itu mengambil rute ke kiri, padahal ruangan Do Yen Sae berada di sebelah


kanan. Ia yakin jika rute yang diambilnya kali ini benar. Eun Ji Hae yakin jika


ia telah menghapal setiap denah tempat ini dengan baik. Karena bangunan Reodal


sendiri tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan Mooneta.


Eun Ji Hae tetap melangkah hingga ke ujung jalan dan tidak


menemukan apa pun di sana. Sampai pada akhirnya gadis itu menyadari jika


dirinya tersesat akibat mengambil jalan yang salah. Eun Ji Hae menghentikan


langkahnya seketika. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Kemudian


mengamati kondisi di sekelilingnya dengan seksama. Eun Ji Hae harus memastikan


terlebih dahulu jika ia benar tersesat sebelum memutar balik. Padahal semuanya


sudah terbukti. Sudah jelas jika ia sedang berada di tempat yang salah.


Tanpa pikir panjang lagi, Eun Ji Hae segera memutar balik


arah untuk kembali ke tempat semula. Tepat di ujung lorong yang terakhir kali


ia lewati pasti adalah awal mulanya. Ia sudah salah sejak pertama kali memilih


jalan di tempat itu. Seharusnya Eun Ji Hae melangkahkan kakinya ke lorong lain


yang berada di sebelah kanan. Bukannya malah berbelok ke kiri.


Eun Ji Hae menghela napasnya


dengan kasar. Ia terpaksa harus bolak-balik jika begini caranya. Jika saja dari


awal ia tidak salah, maka sekarang pasti sudah sampai. Mungkin ia akan sedikit


terlambat untuk sampai ke ruangan Do Yen Sae. Semoga gadis itu berlum menunggu


terlalu lama. Eun Ji Hae akan langsung menceritakan semua detail kejadiannya


agar dimengerti oleh gadis itu. Pasti Do Yen Sae akan memintanya untuk lebih

__ADS_1


banyak berkeliling di tempat ini lagi agar tidak tersesat.


__ADS_2