
Eun Ji Hae berhasil melakukan apa yang seharusnya ia lakukan
sejak awal. Meskipun dengan rasa terpaksa dan juga berat hati. Namun, ini
adalah satu-satunya cara yang paling layak untuk mengebumikan Ify. Tidak ada
cara lain yang bisa mereka lakukan untuk sekarang. Mengingat situasinya yang
juga tidak memungkinkan. Mungkin ini adalah cara terbaik baginya untuk
pergi menuju alam baka.
Seteleh proses kremasi yang memakan waktu kurang lebih Selma
tiga jam, pada akhirnya jasad Ify telah berubah sutuhnya menjadi abu. Yang
tersisa hanya tulang-belulang yang tidak bisa terbakar habis oleh api. Sosoknya
menghilang, bersamaan dengan perginya jiwa tersebut ke angkasa. Kini yang
tersisa hanya kesedihan mendalam bagi para anggota keluarga. Terutama Bibi Ga
Eun dia adalah orang yang paling merasa sakit di sini. Namun di sisi lain,
ternyata Nhea juga rupanya menjadi orang yang paling merasa bersalah di sini. Mereka
semua sama-sama sedih dengan alasan yang berbeda. Namun penyebab utamanya tetap
saja sama. Yaitu karena kepergian Ify yang mendadak. Tidak ada yang mengira
jika kali ini Ify yang akan menjadi korban atas keganasannya sendiri. Pasalnya
selama ini selalu para siswa sekolah yang menjadi korban. Setiap musim dingin,
__ADS_1
pasti selalu ada korban jiwa. Banyak orang yang berguguran.
Itu adalah hal yang manusiawi. Wjar jika kita merasa sedih
saat ditinggal pergi oleh seseorang. Terutama jika orang tersebut sangat
berarti bagi kita. Pasti tidak akan mudah untuk melepaskannya.
Sekarang sudah pukul tiga lewat. Masih ada waktu beberapa
jam lagi sampai matahari benar-benar terbit dan keluar dari sarangnya. Karena
sekarang sedang musim dingin, matahari akan terbit sedikit lebih lambat
daripada biasanya. Dan begitu pula sebaliknya. Durasi matahari terbenam akan
sedikit lebih cepat dari biasanya. Bisa dibilang, waktu malam hari akan jau
Para siswa yang telah ditugaskan sejak awal, langsung
membereskan semua kekacauan itu. Abu dari jenazah Ify langsung dimasukkan ke
dalam sebuah guci khusus untuk abu. Setelah ini, keluarga inti akan pergi
mengantarkan abu tersebut ke tempat peristirahatan abadinya. Sebuah ruangan
khusus untuk para jiwa yang telah abadi. Tidak aakan ada upacara apa-apa lagi
setelahnya. Prosesnya akan berhenti sampai di situ. Guci tersebut akan di
simpan di ruangan tersebut, sampai waktu yang tidak ditentukan. Mungkin
selamanya mereka akan tetap berada di sana. Itu adalah tempat terbaik menurut
__ADS_1
para anggota keluarga.
“Ini abunya nyonya kepala sekolah,” ucap salah satu murid
sembari menyodorkan guci abu tersebut.
Bibi Ga Eun langsung menerimanya, tanpa pikir panjang lagi.
Ia tetap harus membawa puterinya ke tempat peristirahatan terakhirnya itu. Meskipun
sebenarnya ia masih terpukul dan tidak percaya. Tangannya bergetar hebat. Tapi
wanita itu berusaha untuk tetap kuat. Ia tidak ingin menjatuhkan guji abu ini
dan membuat kekacauan yang hanya akan merepotkan orang-orang.
Abunya pasti akan berserakan di lantai jika sampai gucinya
pecah. Oleh sebab itu, Bibi Ga Eun harus memegang benda tersebut dengan
erat-erat sampai di ruangan penyimpanan abu. Akan sulit untuk membereskannya
lagi setelah itu. Karena abunya pasti akan bercampur dengan pecahan kaca. Pasti
tidak mudah untuk memisahkannya. Terlebih ukurannya yang memang sangat kecil.
Mikro bahkan.
“Mari kita antar Ify!” ajak Vallery.
Seluruh anggota keluarga mengangguki perkataannya, termasuk
Nhea. Kemudian segera menyusul langkah Bibi Ga Eun dari belakang.
__ADS_1