
Untuk beberapa menit pertama, guru sama ekali belum memasuki
kelas. Padahal ini sudah waktunya bagi jam pelajaran untuk segera dimulai.
Jongdae selaku ketua kelas telah mengeceknya ke kantor guru, tapi tidak ada
sama sekali. Tempat itu sedang sepi. Lantas ada dimana wanita itu.
“Ibu Hee Jung tidak ada di ruangannya!” seru Jongdae begitu
sampai di kelas.
“Kalau begitu, kita tunggu saja sampai dia datang,” ucapnya
kemudian.
Pria itu segera kembali ke tempat duduknya semula. Untuk berjaga-jaga
jika mendadak wania itu datang kemari. Kelas
harus tetap dalam keadaan yang rapih dan tertib. Dia paling tidak suka jika ada
kelas yang tidak disiplin dalam hal apa pun.
Bu Hee Jung termasuk ke dalam salah daftar guru yang
terkenal killer di sekolah ini. Yang berarti
tidak hanya ia saja. Tapi melainkan ada beberapa orang lainnya. Bu Hee Jung
sendiri membawakan mata pelajaran paengantar ilmu sihir dasar setiap tahunnya. Dia
telah berkecimpung di dalam hal yang sama selama lebih dari lima tahun. Wanita
itu menghabiskan sisa hidupnya di Sekolah Mooneta.
“Lama sekali! Aku mulai merasa bosan sekarang,” gerutu Jang
Eunbi.
“Selamat pagi anak-anak!” sapa seseorang yang baru saja
masuk.
Hal tersebut lantas langsung membuat semua orang terkesiap.
“Pagi? Apa dia tidak bisa melihat kondisi langit di luar
sama?” gumam Oliver.
Bukan hanya gadis itu yang menjadi satu-satunya orang yang
dibuat kebingungan di sini. Melainkan nyaris dari seluruh siswa yang berada di
ruangan ini cukup dikejutkan oleh sapaan wanita itu.
“Kenapa kalian tidak membalas sapaanku?!” protes wanita itu
tak terima.
“Selama malam bu!” balas mereka secara bersamaan beberapa
saat kemudian.
Bu Hee Jung baru menyadarinya tepat setelah mereka membalas
sapaan dari dirinya. Ia menepuk kepalanya sendiri begitu tahu. Wanita itu
merutuki kebodohannya sendiri. Kini ia pasti tampak bodoh di mata seluruh
muridnya.
“Ah? Maaf saya sedang tidak konsentrasi tadi,” dalihnya.
Padahal ia sudah tidak tahu akan meletakkan wajahnya dimana
lagi. Ia sudah benar-benar malu rasanya. Bahkan beberapa orang yang berada di
dalam kelas itu sedang terlihat berusaha untuk menahan tawa agar tidak
__ADS_1
kelepasan. Bisa habis mereka jika sampai ketahuan.
“Baiklah semuanya, harap tenang!” seru wanita itu dari
depan.
Tidak perlu waktu lama untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
Karena para murid tentu tidak akan berani untuk membantah. Suasana menjadi
kembali serius kali ini. Berberapa orang mulai terbawa suasana.
“Silahkan masuk!” sahut bu Hee Jung sambil
melaimbai-lambaikan tangannya.
Ia kelihatan sedang berbicara dengan seseorang yang tengah
berada di luar ruang kelas saat ini. Tapi siapa. Memangnya ada siswa yang
terlambat dam belum masuk. Tapi jika dilihat-lihat, isi kelas mereka telah
komplit sejak awal masuk tadi. Bahkan sebelum bu Hee Jung datang kemari. Lagi pula,
selama ini wanita itu terkenal cukup tidak toleransi kepada para siswa yang
terlambat. Mereka tidak akan diberi izin untuk masuk kemari dan mengikuti jam
pelajarannya.
Tak lama kemudian, seorang pria tak dikenal dengan seragam
sekolah lengkap. Perawakannya cukup tinggi. Ia memiliki bentuk rahang yang
tegas. Aura natural yang berasal dari dalam dirinya berhasil mengintimidasi
setiap orang yang tengah berada di sekitarnya secara tidak langsung.
“Apa dia murid baru itu?”
“Wah, ia terlihat begitu berkharisma.
“Bukankah ia cocok untuk menjadi seorang pemimpin?”
“Itu adalah murid baru yang kita bicarakan selama ini bukan?”
“Dia akan masuk ke kelas kita?”
“Apa dia akan menjadi salah satu bagian dari kelas kita mulai
saat ini?”
Desas-desus tak jelas itu mulai terdengar ari berbagai
sudut. Bahkan kini ruangan ini rasanya telah penuh.
“Harap tenang!” seru bu Hee Jung dengan nada bicara yang
jauh lebih tinggi dari pada sebelumnya.
Sontak, semua orang langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Mereka
mendadak diam seribu bahasa. Dua kata penuh penekanan yang meluncur keluar dari
bibirnya itu berhasil membungkm setiap mulut yang ada di sini. Mereka tidak
bisa berkutik sedikit pun lagi.
“Sekarang bukan giliran kalian untuk berbicara. Apa aku ada
menyuruh kalian semua untuk buka suara?” ujarnya masih dengan nada bicara yang
sama.
Semua siswa menundukkan kepalanya. Tidak ada yang berani
untuk membalas tatapannya secara langsung. Wanita itu jauh lebih menyeramkan dari
pada aslinya ketika marah.
__ADS_1
“Baiklah, silahkan perkenalkan namamu!” persilahkan bu Hee Jung.
Pria yang dimaksud itu hanya mengangguk, untuk mengiyakan
perkataan bu Hee Jung.
“Nama saya Chanwo. Senang bisa bertemu dengan kalian semua!”
sapanya lebih dulu.
“Aku berharap agar kita bisa berteman dengan baik. Terima kasih!”
finalnya.
“Chanwo?” batin Nhea di dalam hati.
Ia seperti pernah mendengar nama itu sebelumnya. Wajah pria
itu barusan juga terlihat tidak terlalu asing baginya. Nhea yakin jika ia
pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi dimana. Ia tidak bisa benar-benar
mengingat setiap detail dari kejadiannya. Ingatannya sedang payah belakangan
ini.
“Mungkin aku hanya mengalami dejavu,” batinnya.
Ia masih mencoba untuk bersikap tenang dan berpikir positif.
Tidak sampai sesuatu tiba-tiba terlintas di dalam pikirannya. Sekarang gadis
itu bisa mengingta dengan jelas siapa pria itu sebenarnya. Kenapa terasa tidak
asing. Pada faktanya, mereka memang pernah saling bertemu sebelumnya. Bahkan
sampai menjalin komunikasi dalam durasi yang terbilang cukup singkat.
Beberapa potongan klip yang berhasil di tangkap oleh
matanya, kemudian disimpan dalam berupa bentuk sebuah ingatan, kini seolah
kembali disodorkan kepadanya. Nhea dan Chanwo sudah beberapa kali bertemu di tempat
ini dengan disengaja. Chanwo pula lah yang telah menghasut gadis ini untuk membunuh
Ify.
Nhea tidak salah lagi. Semua itu memng benar perbuatan pria
ini. Pantas saja ia bisa sampai ke sini tanpa perlu takut akan salju abadi. Ternyata
ia memang sudah sampai di sini sejak lama. Menyusup diam-diam. Bahkan Chanwo
telah datang, jauh sebelum salju abadi turun menyelimuti seluruh sekolah. Kini
Nhea mengingat segalanya.
Ia menegakkan kepalanya. Pandangannya lurus ke depan
mengarah kepada pria itu. Nhea terus menyorotinya dengan lekat. Tatapannya penuh
akan amarah. Bagaimana bisa pria itu masih berani untuk menunjukkan dirinya di
depan Nhea setelah semua hal buruk yang telah ia lakukan. Masalahnya, bukan
hanya Nhea yang dirugikan di sini. Melainkan hampir semua orang terkena akan
dampaknya.
“Sebenarnya, dia masih punya rasa malu atau tidak?” geram
Nheaa sambil bergumam.
“Lo bilang apa tadi?” tanya Oliver yang ternyata berhasil
menangkap sebuah suara.
“Ah, enggak! Bukan apa-apa,” dalih gadis itu.
__ADS_1
Tentu saja dia tidak akan mengatakan yang sebenarnya kepada
Oliver sekarang. Bisa panjang ceritanya nanti.