Mooneta High School

Mooneta High School
New Student


__ADS_3

Untuk beberapa menit pertama, guru sama ekali belum memasuki


kelas. Padahal ini sudah waktunya bagi jam pelajaran untuk segera dimulai.


Jongdae selaku ketua kelas telah mengeceknya ke kantor guru, tapi tidak ada


sama sekali. Tempat itu sedang sepi. Lantas ada dimana wanita itu.


“Ibu Hee Jung tidak ada di ruangannya!” seru Jongdae begitu


sampai di kelas.


“Kalau begitu, kita tunggu saja sampai dia datang,” ucapnya


kemudian.


Pria itu segera kembali ke tempat duduknya semula. Untuk berjaga-jaga


jika mendadak wania  itu datang kemari. Kelas


harus tetap dalam keadaan yang rapih dan tertib. Dia paling tidak suka jika ada


kelas yang tidak disiplin dalam hal apa pun.


Bu Hee Jung termasuk ke dalam salah daftar guru yang


terkenal killer di sekolah ini. Yang berarti


tidak hanya ia saja. Tapi melainkan ada beberapa orang lainnya. Bu Hee Jung


sendiri membawakan mata pelajaran paengantar ilmu sihir dasar setiap tahunnya. Dia


telah berkecimpung di dalam hal yang sama selama lebih dari lima tahun. Wanita


itu menghabiskan sisa hidupnya di Sekolah Mooneta.


“Lama sekali! Aku mulai merasa bosan sekarang,” gerutu Jang


Eunbi.


“Selamat pagi anak-anak!” sapa seseorang yang baru saja


masuk.


Hal tersebut lantas langsung membuat semua orang terkesiap.


“Pagi? Apa dia tidak bisa melihat kondisi langit di luar


sama?” gumam Oliver.


Bukan hanya gadis itu yang menjadi satu-satunya orang yang


dibuat kebingungan di sini. Melainkan nyaris dari seluruh siswa yang berada di


ruangan ini cukup dikejutkan oleh sapaan wanita itu.


“Kenapa kalian tidak membalas sapaanku?!” protes wanita itu


tak terima.


“Selama malam bu!” balas mereka secara bersamaan beberapa


saat kemudian.


Bu Hee Jung baru menyadarinya tepat setelah mereka membalas


sapaan dari dirinya. Ia menepuk kepalanya sendiri begitu tahu. Wanita itu


merutuki kebodohannya sendiri. Kini ia pasti tampak bodoh di mata seluruh


muridnya.


“Ah? Maaf saya sedang tidak konsentrasi tadi,” dalihnya.


Padahal ia sudah tidak tahu akan meletakkan wajahnya dimana


lagi. Ia sudah benar-benar malu rasanya. Bahkan beberapa orang yang berada di


dalam kelas itu sedang terlihat berusaha untuk menahan tawa agar tidak

__ADS_1


kelepasan. Bisa habis mereka jika sampai ketahuan.


“Baiklah semuanya, harap tenang!” seru wanita itu dari


depan.


Tidak perlu waktu lama untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.


Karena para murid tentu tidak akan berani untuk membantah. Suasana menjadi


kembali serius kali ini. Berberapa orang mulai terbawa suasana.


“Silahkan masuk!” sahut bu Hee Jung sambil


melaimbai-lambaikan tangannya.


Ia kelihatan sedang berbicara dengan seseorang yang tengah


berada di luar ruang kelas saat ini. Tapi siapa. Memangnya ada siswa yang


terlambat dam belum masuk. Tapi jika dilihat-lihat, isi kelas mereka telah


komplit sejak awal masuk tadi. Bahkan sebelum bu Hee Jung datang kemari. Lagi pula,


selama ini wanita itu terkenal cukup tidak toleransi kepada para siswa yang


terlambat. Mereka tidak akan diberi izin untuk masuk kemari dan mengikuti jam


pelajarannya.


Tak lama kemudian, seorang pria tak dikenal dengan seragam


sekolah lengkap. Perawakannya cukup tinggi. Ia memiliki bentuk rahang yang


tegas. Aura natural yang berasal dari dalam dirinya berhasil mengintimidasi


setiap orang yang tengah berada di sekitarnya secara tidak langsung.


“Apa dia murid baru itu?”


“Wah, ia terlihat begitu berkharisma.


“Bukankah ia cocok untuk menjadi seorang pemimpin?”


“Itu adalah murid baru yang kita bicarakan selama ini bukan?”


“Dia akan masuk ke kelas kita?”


“Apa dia akan menjadi salah satu bagian dari kelas kita mulai


saat ini?”


Desas-desus tak jelas itu mulai terdengar ari berbagai


sudut. Bahkan kini ruangan ini rasanya telah penuh.


“Harap tenang!” seru bu Hee Jung dengan nada bicara yang


jauh lebih tinggi dari pada sebelumnya.


Sontak, semua orang langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Mereka


mendadak diam seribu bahasa. Dua kata penuh penekanan yang meluncur keluar dari


bibirnya itu berhasil membungkm setiap mulut yang ada di sini. Mereka tidak


bisa berkutik sedikit pun lagi.


“Sekarang bukan giliran kalian untuk berbicara. Apa aku ada


menyuruh kalian semua untuk buka suara?” ujarnya masih dengan nada bicara yang


sama.


Semua siswa menundukkan kepalanya. Tidak ada yang berani


untuk membalas tatapannya secara langsung. Wanita itu jauh lebih menyeramkan dari


pada aslinya ketika marah.

__ADS_1


“Baiklah, silahkan perkenalkan namamu!” persilahkan bu Hee Jung.


Pria yang dimaksud itu hanya mengangguk, untuk mengiyakan


perkataan bu Hee Jung.


“Nama saya Chanwo. Senang bisa bertemu dengan kalian semua!”


sapanya lebih dulu.


“Aku berharap agar kita bisa berteman dengan baik. Terima kasih!”


finalnya.


“Chanwo?” batin Nhea di dalam hati.


Ia seperti pernah mendengar nama itu sebelumnya. Wajah pria


itu barusan juga terlihat tidak terlalu asing baginya. Nhea yakin jika ia


pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi dimana. Ia tidak bisa benar-benar


mengingat setiap detail dari kejadiannya. Ingatannya sedang payah belakangan


ini.


“Mungkin aku hanya mengalami dejavu,” batinnya.


Ia masih mencoba untuk bersikap tenang dan berpikir positif.


Tidak sampai sesuatu tiba-tiba terlintas di dalam pikirannya. Sekarang gadis


itu bisa mengingta dengan jelas siapa pria itu sebenarnya. Kenapa terasa tidak


asing. Pada faktanya, mereka memang pernah saling bertemu sebelumnya. Bahkan


sampai menjalin komunikasi dalam durasi yang terbilang cukup singkat.


Beberapa potongan klip yang berhasil di tangkap oleh


matanya, kemudian disimpan dalam berupa bentuk sebuah ingatan, kini seolah


kembali disodorkan kepadanya. Nhea dan Chanwo sudah beberapa kali bertemu di tempat


ini dengan disengaja. Chanwo pula lah yang telah menghasut gadis ini untuk membunuh


Ify.


Nhea tidak salah lagi. Semua itu memng benar perbuatan pria


ini. Pantas saja ia bisa sampai ke sini tanpa perlu takut akan salju abadi. Ternyata


ia memang sudah sampai di sini sejak lama. Menyusup diam-diam. Bahkan Chanwo


telah datang, jauh sebelum salju abadi turun menyelimuti seluruh sekolah. Kini


Nhea mengingat segalanya.


Ia menegakkan kepalanya. Pandangannya lurus ke depan


mengarah kepada pria itu. Nhea terus menyorotinya dengan lekat. Tatapannya penuh


akan amarah. Bagaimana bisa pria itu masih berani untuk menunjukkan dirinya di


depan Nhea setelah semua hal buruk yang telah ia lakukan. Masalahnya, bukan


hanya Nhea yang dirugikan di sini. Melainkan hampir semua orang terkena akan


dampaknya.


“Sebenarnya, dia masih punya rasa malu atau tidak?” geram


Nheaa sambil bergumam.


“Lo bilang apa tadi?” tanya Oliver yang ternyata berhasil


menangkap sebuah suara.


“Ah, enggak! Bukan apa-apa,” dalih gadis itu.

__ADS_1


Tentu saja dia tidak akan mengatakan yang sebenarnya kepada


Oliver sekarang. Bisa panjang ceritanya nanti.


__ADS_2