
Setelah mendengarkan beberapa pendapat dari para peserta
rapat, Bibi Ga Eun akan menampung semua saran mereka terlebih dahulu sebelum
membuat keputusan. Satu-satunya pihak yang akan terlibat dalam penentuan
keputusan ini adalah para anggota keluarga dan juga petinggi sekolah.
Selebihnya tidak akan dilibatkan sama sekali. Mereka hanya bisa mengharapkan
hasil yang terbaik saja. Nanti malam mereka akan kembali melakukan rapat
lanjutan untuk menentukan keputusannya. Baru keesokan paginya hasil dari rapat
terakhir akan segera diumumkan kepada seluruh warga sekolah.
“Baiklah, terima kasih atas partisipasi kalian dalam rapat
kali ini. Untuk sementara saran dari kalian semua akan kami tampung dan
pertimbangkan dengan sebaik mungkin,” jelas Bibi Ga Eun dengan panjang lebar.
Sementara Bibi Ga Eun bertugas sebagai pemimpin rapat kali
ini, Eun Ji Hae adalah orang yang menjadi notulennya di sini. Dia akan mencatat
setiap hal-hal penting yang mereka diskusikan dalam rapat. Termasuk setiap
opini yang ada. Dia tidak akan melewatkan setiap hal kecil dari rapat ini
sedikit pun.
“Sekian untuk rapat hari ini,” ucap Bibi Ga Eun.
“Rapat untuk kesempatan kali ini resmi ditutup!” finalnya.
“Silahkan meninggalkan ruangan dan sampai bertemu pada rapat
berikutnya,” persilahkan Eun Ji Hae.
Satu-persatu dari mereka tampak mulai meninggalkan ruangan
ini secara teratur. Hingga hanya tesisa beberapa orang di dalamnya. Termasuk
Eun Ji Hae dan juga Bibi Ga Eun. Mereka harus mengumpulkan beberap berkas
penting yang berhasil didapatkan hari ini. Bisa dikatakan jika mereka berdua
merupakan orang yang paling sibuk pada saat ini.
Ketika keduanya tengah sibuk membereskan setiap tumpukan
kertas yang berisikan catatan penting tersebut, mendadak seorang siswa muncul
dari balik pintu. Ia langsung menerobos masuk begitu saja ke dalam aula tanpa
mengucapkan sepatah kata pun. Hal tersebut sontak membuat keduanya kaget. Baik
Eun Ji Hae mau pun Bibi Ga Eun saat ini sama-sama terheran melihat siswa
tersebut.
Kelihatannya ia ingin menyampaikan sesuatu kepada mereka.
Tapi sayangnya napasnya masih terasa memburu. Ia baru saja berlari untuk sampai
ke tempat ini. Jadi wajar saja jika napasnya tersengal-sengal seperti ini.
“Ada apa?” tanya Eun Ji Hae dengan nada datar.
Wajahnya terlihat serius memperhatikan gadis itu. Pandangannya
tajam menelisik setiap ekspresi yang dikeluarkan olehnya.
Baik Eun Ji Hae mau pun Bibi Ga Eun, keduanya memang merasa
penasaran. Tapi tetap saja mereka harus menunggu terlebih dahulu. Bersabar
sedikit lagi. Setidaknya sampai gadis itu bisa mengontrol dirinya sendiri dan
mulai berbicara. Mereka tidak akan mendesaknya untuk segera mengatakan hal
tersebut. Jadi tidak perlu merasa khawatir. Mereka berdua juga paham dengan
kondisinya saat ini. Yang sedang tidak baik-baik saja.
Setelah merasa jauh lebih baik, gadis itu mulai menegakkan
tubuhnya yang terlihat membungkuk sembilan puluh derajat sebelumnya. Ia kembali
menghela napas dengan panjang sebelum mulai berbicara.
“Ada sebuah mayat tergeletak begitu saja di koridor menuju
gedung sekolah,” ucapnya masih dengan napas yang teratur. Tapi sudah jauh lebih
baik dari pada yang tadi.
Sontak kedua bola mata mereka berdua membualt dengan
sempurna. Eun Ji Hae sampai melongo tak percaya. Sungguh tidak masuk akal.
Bagaimana bisa ada seorang mayat di sekolah ini. Memangnya apa yan terjadi.
Siapa yang meletakannya di sana.
“Apa yang kau maksud?!” tanya Bibi Ga Eun yang masih belum
bisa mengambil kesimpulan dari kalimat gadis itu barusan.
“Apa yang kau maksud itu adalah mayat manusia atau bangkai
hewan?” tanya Eun Ji Hae yang ikut menimpali perkataan wanita itu barusan.
“Katakan dengan jelas!” tukasnya.
Kali ini nada bicara Eun Ji Hae terdengar jauh lbeih tinggi
dari pada sebelumnya.
“Mayat manusia,” katanya.
“Dia adalah salah satu murid dari sekolah kita. Seorang
siswa dari kelas A-3,” jelas gadis itu kemudian dengan suara yang bergetar.
Setelah mendengar penjelasan yang jauh lebih mendetail dari
gadis itu barusan, mereka bertiga segera meninggalkan ruangan tersebut untuk melihat tempat kejadian secara
langsung. Meski pun ini sama sekali sulit untuk dipercaya. Apa penyebab
kematiannya. Kenapa ia bisa sampai ada di sana.
Eun Ji Hae mempercepat langkahnya, meninggalkan Bibi Ga Eun
jauh di belakangnya. Ia tidak bisa mementingkan hal itu lagi sekarang. Otaknnya
terus menolak untuk percaya. Dia tidak akan bisa percaya dengan mudah terhadap
perkataan gadis itu tadi sebelum melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
__ADS_1
Ada satu dorongan dari dalam diri Eun Ji Hae yang membuat
rasa penasarannya semakin memuncak. Ia sudah tidak bisa membendungnya lagi
sekarang. Eun Ji Hae adalah orang yang pertama kali sampai di sana di antara
mereka bertiga. Kemudian disusul dengan Bibi Ga Eun dan gadis itu tadi. Begitu
mereka sampai di sana, sudah ada banyak orang yang berkumpul dan mengerumuni
seorang siswa yang tak lagi bernyawa tersebut. Termasuk para anggota rapat yang
baru saja membubarkan diri. Mereka langsung dihadapkan pada pemandangan yang
mengejutkan sekaligus menjijikkan seperti ini begitu melangkah keluar dari
dalam aula.
Terksecuali dengan Chanwo. Pria itu sedang tidak berada di
tempat kejadian waktu itu. Meski pun ia tahu jika ada kabar mengejutkan
tersebut. Ia bahkan menolak ajakan salah satu temannya untuk mendatangi tempat
kejadian tersebut. Cahnwo memang sengaja menghindari hal-hal seperti itu. Ia
tahu kalau ada terlalu banyak darah di sana. Dia takut tidak bisa mengendalikan
dirinya sendiri. Pasalnya, pria itu adalah vampir. Bukan klan bayangan seperti
Nhea dan juga Wilson.
Sangking banyaknya darah yang berceceran di sana, baunya
bahkan sampai tercium oleh pria itu sampai ke kamarnya. Padahal gedungnya saja
sudah berseberangan. Entah memang karena separah itu, atau malah penciuman
Chanwo sendiri yang terlalu tajam. Sampai-sampai ia berhasil menangkap bau dari
jarak sejauh itu.
Jika saja tidak ada seorang pun di tempat ini, mungkin ia
sudah bertindak semaunya saja. Tidak akan ada yang melarangnya dan juga tidak
ada yang perlu ia khawatirkan sama sekali. Tapi mengingat situasi saat ini yang
tidka memungkinkan baginya untuk bersikap seperti pada umumnya, ia harus
menahan dirinya sendiri di dalam kamar. Chanwo tidak mau mengambil resiko.
Saat ini Wilson sudah mulai mencurigai kerberadaannya. Ia
harus tetap merahasiakan identitas aslinya. Setidaknya sampai ia mendapatkan
kembali detak jantungnya. Sampai ia benar-benar mirip seperti manusia pada
umumnya. Atau paling tidak sampai ia berhasil keluar dari sini dan memutuskan
untuk kembali ke kerajaaan.
Wilson pasti akan semakin mencurigainya jika sampai ia
berada di sana pada saat seperti ini. Hal tersebut terlalu beresiko baginya. Chanwo
masih belum memiliki kekuatan atau antisipasi yang cukup untuk menghadapi pria
itu sendirian.
***
tadi benar apa adanya. Dia tidak sedang mencoba untuk mengelabui mereka
sekarang. Memangnya siapa yang berani untuk menantag Eun Ji Hae. Apa lagi dengan Bibi Ga Eun. Mendengar
namanya saja sudah membuat nyali mereka ciut terlebih dahulu.
“Apa yang sebenarnya terjadi di sini?” tanya Eun Ji Hae.
Namun tidak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk
menjawab pertanyaan gadis itu barusan. Karena memang tidak ada seorang pun yang
tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini. Begitu mereka sampai, gadis ini sudah
tergeletak begitu saja di koridor dengan bersimbah darah.
“Siapa namanya?” tanya Eun Ji Hae.
Menurut penuturan gadis itu tadi, dia merupakan salah satu
murid dari kelas A-3. Jika hal itu benar, maka seharusnya teman-teman
sekelasnya mengenal gadis ini. Setidaknya pasti ada salah satu dari mereka yang
pernah melihat wajahnya sebelumnya. Karena setiap siswa di sekolah ini pasti
akan saling bertemu satu sama lainnya. Setidaknya sekali dalam sehari.
Itulah sebebnya kenapa mereka memiliki koneksi yang luas. Tidak
hanya sebatas teman sekelas atau teman sekamar saja. Tapi mereka bisa saling
mengenal lebih dari itu.
Untuk pertama kalinya Eun Ji Hae diacuhkan oleh semua orang
yang berada di sini. Korban pembunuhan ini ternyata jauh lebih menarik
perhatian dari pada Eun Ji Hae sendiri. Ia hanya bisa menggeram kesal ketika
mendapatkan perlakuan seperti itu. Padahal Eun Ji Hae melakukan semua itu demi mengungkap
siapa dalang dibalik semua ini.
Eun Ji Hae menduga kuat jika ia adalah salah satu korban
pembunuhan yang belum diketahui siapa pelakunya. Tidak masuk akal jika ia
menghabisi dirinya sendiri. Untuk apa memangnya. Lagi pula jika ia menghabisi
dirinya sendiri, mana mungkin sampai sebanyak ini darah yang keluar. Alih-alih
bunuh diri, ia lebih terlihat seperti seorang korban pembantaian. Pelakunya pasti
salah satu di antara mereka yang berdiri saat ini. Yang jelas, ia masih
merupakan bagian dari sekolah ini. Pelakunya pasti bukan orang jauh. Tidak masuk
akal jika ia diserang oleh binatang buas. Meskipun hal itu mungkin saja
terjadi. Tapi bukan di tempat ini. Melainkan di hutan belantara. Tidak ada
hewan buas di sini. Hanya ada griffin dan pegasus. Itu pun mereka masih menetap
di dalam kandangnya masing-masing karena cuara yang semakin memburuk.
“Perhatian semuanya!” seru Eun Ji Hae.
Usahanya kali ini tidak sia-sia. Dia berhasil menarik
__ADS_1
perhatian semua orang hanya dalam waktu kurang dari satu detik. Kini semua mata
mengarah kepadanya. Membuat gadis ini menjadi pusat perhatian dalam waktu
singkat.
“Aku akan bertanya sekali lagi,” ucapnya dengan penuh
penekanan.
“Siapa nama gadis ini? Aku yakin jika paling tidak salah
satu dari kalian ada yang mengenalinya,” ujar Eun Ji Hae.
“Namanya adalah Shin Nara!” sahut seseorang siswa dari
belakang.
“Benar! Dia adalah murid dari kelas A-3!” timpal yang
lainnya.
Sekarang rasa penasaran Eun Ji Hae akan hal itu terjawab
sudah. Ini adalah sebuah langkah yang bagus untuk memulai sesuatu. Orang-orang
bisa mendapatkan apa saja yang mereka
mau dengan hanya bermodalkan nama lengkap saja. Berawald ari nama lengkap,
orang asing bisa menemukan informasi lengkap kita dalam sekejap mata.
Bukan sulap, bukan sihir. Hal itu benar terjadi di dunia
nyata, tanpa campur tangan hal magis sama sekali. Semuanya bisa dijelaskan
dengan akal sehat manusia. Sehingga tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi di
sini.
“Lalu, siapa yang pertama kali sampai di sini dan menemukan
jasad Shin Nara?” tanya Eun Ji Hae.
Kali ini pertanyaan gadis itu jauh lebih kompleks dan lebih
bersifat khusus dari pad ayang sebelumnya. Mengarah kepada maksud dan tujuan
tertentu.
Selang beberapa menit kemudian, terlihat dua orang wanita
mengacungkan tangannya tinggi-tinggi. Kini semua mata beralih kepada keduanya.
“Jadi, kalian berdua yang lebih dulu sampai di sini sebelum
mereka?” tanya Eun Ji Hae sekali lagi untuk memastikan.
Keduanya hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya untuk
mengiyakan perkataan gadis itu barusan. Mereka tidak mungkin akan disalahkan
begitu saja tanpa dasar bukti yang jelas. Paling tidak mereka hanya akan
diinterogasi dan dimintai kesaksiannya.
Eun Ji Hae bukanlah tipikal orang yang akan tergesa-gesa
dalam melakukan sesuatu. Dia terkenal akan perencanaannya yang begitu
terstruktur. Bahkan sampai pada hal terkecil sekali pun. Ia akan memperhatikan
setiap detailanya dan memastikan jika hal tersebut berjalan sesuai renacananya.
Eun Ji Hae akan bertindak dengan sangat hati-hati saat melakukan sesuatu. Ada banyak
hal yang harus ia pertimbangkan sebelum mulai mengambil langkah.
“Apakah teman dekatnya ada di sini?” tanya Eun Ji Hae lagi.
Gadis ini telah melontarkan beberapa pertanyaan berbeda
untuk yang kesekian kalinya. Meski pun begitu, tujuannya tetap saja sama. Yaitu
untuk mencari tahu siapa pelakunya dan apa yang sebenarnya terjadi di sini. Padahal
tadi ia terlihat baik-baik saja.
“Aku adalah salah satu teman dekatnya,” ujar salah seorang
gadis yang berdiri tak jauh darinya.
“Baiklah,” katanya sembari menghela napas dengan kasar.
“Kalian bertiga ikut denganku!” ajak Eun Ji Hae.
Namun, kalimatnya lebih terdengar seperti sebuah perintah
yang tidak dapat dibantah.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Eun Ji Hae segera
beranjak dari sana terlebih dahulu. Menuntun tiga orang yang sedang berada di
belakangnya untuk segera mengikuti langkah gadis ini. Eun Ji Hae akan membawa
mereka bertiga ke suatu tempat yang jauh dari keramaian. Dan tentunya harus
tenang serta bersifat rahasia. Eun Ji Hae akan mulai menanyai mereka
satu-persatu begitu sampai di sana nanti.
Sementara Eun Ji Hae mengurus ketiga orang tersebut yang
berpotensi sebagai saksi, Bibi Ga Eun dan yang lainnya segera mengambil alih
tempat itu. Mereka tidak ingin membuat kerumunan ini terlalu lama. Wilson segera
memerintahkan para petugas kesehatan yang berada di sekolah ini untuk membawa
jasad tersebut ke salah satu ruang tak terpakai.
Untuk langkah selanjutnya, akan mereka pikirkan lagi nanti. Yang
terpenting sekarang, mereka harus membereskan tempat ini terlebih dahulu. Semua
orang tahu jika darah seperti ini akan memancing hal-hal buruk. Penting baginya
untuk memastikan tempat ini benar-benar bersih dari darah. Demi menghindari hal
buruk untuk terjadi lagi. Ini bukan yang pertama kalinya hal buruk terjadi di
sekolah ini dalah jangka waktu yang berdekatan. Bahkan masih di dalam satu
pekan yang sama.
“Lima orang dari kalian silahkan bergotong royong untuk
mulai membersihkan tempat ini. Pastikan tidak ada noda yang tertinggal,” jelas
Wilson sebelum beranjak pergi dari tempat kejadian.
__ADS_1