Mooneta High School

Mooneta High School
Killer


__ADS_3

Setelah mendengarkan beberapa pendapat dari para peserta


rapat, Bibi Ga Eun akan menampung semua saran mereka terlebih dahulu sebelum


membuat keputusan. Satu-satunya pihak yang akan terlibat dalam penentuan


keputusan ini adalah para anggota keluarga dan juga petinggi sekolah.


Selebihnya tidak akan dilibatkan sama sekali. Mereka hanya bisa mengharapkan


hasil yang terbaik saja. Nanti malam mereka akan kembali melakukan rapat


lanjutan untuk menentukan keputusannya. Baru keesokan paginya hasil dari rapat


terakhir akan segera diumumkan kepada seluruh warga sekolah.


“Baiklah, terima kasih atas partisipasi kalian dalam rapat


kali ini. Untuk sementara saran dari kalian semua akan kami tampung dan


pertimbangkan dengan sebaik mungkin,” jelas Bibi Ga Eun dengan panjang lebar.


Sementara Bibi Ga Eun bertugas sebagai pemimpin rapat kali


ini, Eun Ji Hae adalah orang yang menjadi notulennya di sini. Dia akan mencatat


setiap hal-hal penting yang mereka diskusikan dalam rapat. Termasuk setiap


opini yang ada. Dia tidak akan melewatkan setiap hal kecil dari rapat ini


sedikit pun.


“Sekian untuk rapat hari ini,” ucap Bibi Ga Eun.


“Rapat untuk kesempatan kali ini resmi ditutup!” finalnya.


“Silahkan meninggalkan ruangan dan sampai bertemu pada rapat


berikutnya,” persilahkan Eun Ji Hae.


Satu-persatu dari mereka tampak mulai meninggalkan ruangan


ini secara teratur. Hingga hanya tesisa beberapa orang di dalamnya. Termasuk


Eun Ji Hae dan juga Bibi Ga Eun. Mereka harus mengumpulkan beberap berkas


penting yang berhasil didapatkan hari ini. Bisa dikatakan jika mereka berdua


merupakan orang yang paling sibuk pada saat ini.


Ketika keduanya tengah sibuk membereskan setiap tumpukan


kertas yang berisikan catatan penting tersebut, mendadak seorang siswa muncul


dari balik pintu. Ia langsung menerobos masuk begitu saja ke dalam aula tanpa


mengucapkan sepatah kata pun. Hal tersebut sontak membuat keduanya kaget. Baik


Eun Ji Hae mau pun Bibi Ga Eun saat ini sama-sama terheran melihat siswa


tersebut.


Kelihatannya ia ingin menyampaikan sesuatu kepada mereka.


Tapi sayangnya napasnya masih terasa memburu. Ia baru saja berlari untuk sampai


ke tempat ini. Jadi wajar saja jika napasnya tersengal-sengal seperti ini.


“Ada apa?” tanya Eun Ji Hae dengan nada datar.


Wajahnya terlihat serius memperhatikan gadis itu. Pandangannya


tajam menelisik setiap ekspresi yang dikeluarkan olehnya.


Baik Eun Ji Hae mau pun Bibi Ga Eun, keduanya memang merasa


penasaran. Tapi tetap saja mereka harus menunggu terlebih dahulu. Bersabar


sedikit lagi. Setidaknya sampai gadis itu bisa mengontrol dirinya sendiri dan


mulai berbicara. Mereka tidak akan mendesaknya untuk segera mengatakan hal


tersebut. Jadi tidak perlu merasa khawatir. Mereka berdua juga paham dengan


kondisinya saat ini. Yang sedang tidak baik-baik saja.


Setelah merasa jauh lebih baik, gadis itu mulai menegakkan


tubuhnya yang terlihat membungkuk sembilan puluh derajat sebelumnya. Ia kembali


menghela napas dengan panjang sebelum mulai berbicara.


“Ada sebuah mayat tergeletak begitu saja di koridor menuju


gedung sekolah,” ucapnya masih dengan napas yang teratur. Tapi sudah jauh lebih


baik dari pada yang tadi.


Sontak kedua bola mata mereka berdua membualt dengan


sempurna. Eun Ji Hae sampai melongo tak percaya. Sungguh tidak masuk akal.


Bagaimana bisa ada seorang mayat di sekolah ini. Memangnya apa yan terjadi.


Siapa yang meletakannya di sana.


“Apa yang kau maksud?!” tanya Bibi Ga Eun yang masih belum


bisa mengambil kesimpulan dari kalimat gadis itu barusan.


“Apa yang kau maksud itu adalah mayat manusia atau bangkai


hewan?” tanya Eun Ji Hae yang ikut menimpali perkataan wanita itu barusan.


“Katakan dengan jelas!” tukasnya.


Kali ini nada bicara Eun Ji Hae terdengar jauh lbeih tinggi


dari pada sebelumnya.


“Mayat manusia,” katanya.


“Dia adalah salah satu murid dari sekolah kita. Seorang


siswa dari kelas A-3,” jelas gadis itu kemudian dengan suara yang bergetar.


Setelah mendengar penjelasan yang jauh lebih mendetail dari


gadis itu barusan, mereka bertiga segera meninggalkan ruangan tersebut  untuk melihat tempat kejadian secara


langsung. Meski pun ini sama sekali sulit untuk dipercaya. Apa penyebab


kematiannya. Kenapa ia bisa sampai ada di sana.


Eun Ji Hae mempercepat langkahnya, meninggalkan Bibi Ga Eun


jauh di belakangnya. Ia tidak bisa mementingkan hal itu lagi sekarang. Otaknnya


terus menolak untuk percaya. Dia tidak akan bisa percaya dengan mudah terhadap


perkataan gadis itu tadi sebelum melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

__ADS_1


Ada satu dorongan dari dalam diri Eun Ji Hae yang membuat


rasa penasarannya semakin memuncak. Ia sudah tidak bisa membendungnya lagi


sekarang. Eun Ji Hae adalah orang yang pertama kali sampai di sana di antara


mereka bertiga. Kemudian disusul dengan Bibi Ga Eun dan gadis itu tadi. Begitu


mereka sampai di sana, sudah ada banyak orang yang berkumpul dan mengerumuni


seorang siswa yang tak lagi bernyawa tersebut. Termasuk para anggota rapat yang


baru saja membubarkan diri. Mereka langsung dihadapkan pada pemandangan yang


mengejutkan sekaligus menjijikkan seperti ini begitu melangkah keluar dari


dalam aula.


Terksecuali dengan Chanwo. Pria itu sedang tidak berada di


tempat kejadian waktu itu. Meski pun ia tahu jika ada kabar mengejutkan


tersebut. Ia bahkan menolak ajakan salah satu temannya untuk mendatangi tempat


kejadian tersebut. Cahnwo memang sengaja menghindari hal-hal seperti itu. Ia


tahu kalau ada terlalu banyak darah di sana. Dia takut tidak bisa mengendalikan


dirinya sendiri. Pasalnya, pria itu adalah vampir. Bukan klan bayangan seperti


Nhea dan juga Wilson.


Sangking banyaknya darah yang berceceran di sana, baunya


bahkan sampai tercium oleh pria itu sampai ke kamarnya. Padahal gedungnya saja


sudah berseberangan. Entah memang karena separah itu, atau malah penciuman


Chanwo sendiri yang terlalu tajam. Sampai-sampai ia berhasil menangkap bau dari


jarak sejauh itu.


Jika saja tidak ada seorang pun di tempat ini, mungkin ia


sudah bertindak semaunya saja. Tidak akan ada yang melarangnya dan juga tidak


ada yang perlu ia khawatirkan sama sekali. Tapi mengingat situasi saat ini yang


tidka memungkinkan baginya untuk bersikap seperti pada umumnya, ia harus


menahan dirinya sendiri di dalam kamar. Chanwo tidak mau mengambil resiko.


Saat ini Wilson sudah mulai mencurigai kerberadaannya. Ia


harus tetap merahasiakan identitas aslinya. Setidaknya sampai ia mendapatkan


kembali detak jantungnya. Sampai ia benar-benar mirip seperti manusia pada


umumnya. Atau paling tidak sampai ia berhasil keluar dari sini dan memutuskan


untuk kembali ke kerajaaan.


Wilson pasti akan semakin mencurigainya jika sampai ia


berada di sana pada saat seperti ini. Hal tersebut terlalu beresiko baginya. Chanwo


masih belum memiliki kekuatan atau antisipasi yang cukup untuk menghadapi pria


itu sendirian.


***


tadi benar apa adanya. Dia tidak sedang mencoba untuk mengelabui mereka


sekarang. Memangnya siapa yang berani untuk menantag  Eun Ji Hae. Apa lagi dengan Bibi Ga Eun. Mendengar


namanya saja sudah membuat nyali mereka ciut terlebih dahulu.


“Apa yang sebenarnya terjadi di sini?” tanya Eun Ji Hae.


Namun tidak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk


menjawab pertanyaan gadis itu barusan. Karena memang tidak ada seorang pun yang


tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini. Begitu mereka sampai, gadis ini sudah


tergeletak begitu saja di koridor dengan bersimbah darah.


“Siapa namanya?” tanya Eun Ji Hae.


Menurut penuturan gadis itu tadi, dia merupakan salah satu


murid dari kelas A-3. Jika hal itu benar, maka seharusnya teman-teman


sekelasnya mengenal gadis ini. Setidaknya pasti ada salah satu dari mereka yang


pernah melihat wajahnya sebelumnya. Karena setiap siswa di sekolah ini pasti


akan saling bertemu satu sama lainnya. Setidaknya sekali dalam sehari.


Itulah sebebnya kenapa mereka memiliki koneksi yang luas. Tidak


hanya sebatas teman sekelas atau teman sekamar saja. Tapi mereka bisa saling


mengenal lebih dari itu.


Untuk pertama kalinya Eun Ji Hae diacuhkan oleh semua orang


yang berada di sini. Korban pembunuhan ini ternyata jauh lebih menarik


perhatian dari pada Eun Ji Hae sendiri.  Ia hanya bisa menggeram kesal ketika


mendapatkan perlakuan seperti itu. Padahal Eun Ji Hae melakukan semua itu demi mengungkap


siapa dalang dibalik semua ini.


Eun Ji Hae menduga kuat jika ia adalah salah satu korban


pembunuhan yang belum diketahui siapa pelakunya. Tidak masuk akal jika ia


menghabisi dirinya sendiri. Untuk apa memangnya. Lagi pula jika ia menghabisi


dirinya sendiri, mana mungkin sampai sebanyak ini darah yang keluar. Alih-alih


bunuh diri, ia lebih terlihat seperti seorang korban pembantaian. Pelakunya pasti


salah satu di antara mereka yang berdiri saat ini. Yang jelas, ia masih


merupakan bagian dari sekolah ini. Pelakunya pasti bukan orang jauh. Tidak masuk


akal jika ia diserang oleh binatang buas. Meskipun hal itu mungkin saja


terjadi. Tapi bukan di tempat ini. Melainkan di hutan belantara. Tidak ada


hewan buas di sini. Hanya ada griffin dan pegasus. Itu pun mereka masih menetap


di dalam kandangnya masing-masing karena cuara yang semakin memburuk.


“Perhatian semuanya!” seru Eun Ji Hae.


Usahanya kali ini tidak sia-sia. Dia berhasil menarik

__ADS_1


perhatian semua orang hanya dalam waktu kurang dari satu detik. Kini semua mata


mengarah kepadanya. Membuat gadis ini menjadi pusat perhatian dalam waktu


singkat.


“Aku akan bertanya sekali lagi,” ucapnya dengan penuh


penekanan.


“Siapa nama gadis ini? Aku yakin jika paling tidak salah


satu dari kalian ada yang mengenalinya,” ujar Eun Ji Hae.


“Namanya adalah Shin Nara!” sahut seseorang siswa dari


belakang.


“Benar! Dia adalah murid dari kelas A-3!” timpal yang


lainnya.


Sekarang rasa penasaran Eun Ji Hae akan hal itu terjawab


sudah. Ini adalah sebuah langkah yang bagus untuk memulai sesuatu. Orang-orang


bisa  mendapatkan apa saja yang mereka


mau dengan hanya bermodalkan nama lengkap saja. Berawald ari nama lengkap,


orang asing bisa menemukan informasi lengkap kita dalam sekejap mata.


Bukan sulap, bukan sihir. Hal itu benar terjadi di dunia


nyata, tanpa campur tangan hal magis sama sekali. Semuanya bisa dijelaskan


dengan akal sehat manusia. Sehingga tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi di


sini.


“Lalu, siapa yang pertama kali sampai di sini dan menemukan


jasad Shin Nara?” tanya Eun Ji Hae.


Kali ini pertanyaan gadis itu jauh lebih kompleks dan lebih


bersifat khusus dari pad ayang sebelumnya. Mengarah kepada maksud dan tujuan


tertentu.


Selang beberapa menit kemudian, terlihat dua orang wanita


mengacungkan tangannya tinggi-tinggi. Kini semua mata beralih kepada keduanya.


“Jadi, kalian berdua yang lebih dulu sampai di sini sebelum


mereka?” tanya Eun Ji Hae sekali lagi untuk memastikan.


Keduanya hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya untuk


mengiyakan perkataan gadis itu barusan. Mereka tidak mungkin akan disalahkan


begitu saja tanpa dasar bukti yang jelas. Paling tidak mereka hanya akan


diinterogasi dan dimintai kesaksiannya.


Eun Ji Hae bukanlah tipikal orang yang akan tergesa-gesa


dalam melakukan sesuatu. Dia terkenal akan perencanaannya yang begitu


terstruktur. Bahkan sampai pada hal terkecil sekali pun. Ia akan memperhatikan


setiap detailanya dan memastikan jika hal tersebut berjalan sesuai renacananya.


Eun Ji Hae akan bertindak dengan sangat hati-hati saat melakukan sesuatu. Ada banyak


hal yang harus ia pertimbangkan sebelum mulai mengambil langkah.


“Apakah teman dekatnya ada di sini?” tanya Eun Ji Hae lagi.


Gadis ini telah melontarkan beberapa pertanyaan berbeda


untuk yang kesekian kalinya. Meski pun begitu, tujuannya tetap saja sama. Yaitu


untuk mencari tahu siapa pelakunya dan apa yang sebenarnya terjadi di sini. Padahal


tadi ia terlihat baik-baik saja.


“Aku adalah salah satu teman dekatnya,” ujar salah seorang


gadis yang berdiri tak jauh darinya.


“Baiklah,” katanya sembari menghela napas dengan kasar.


“Kalian bertiga ikut denganku!” ajak Eun Ji Hae.


Namun, kalimatnya lebih terdengar seperti sebuah perintah


yang tidak dapat dibantah.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Eun Ji Hae segera


beranjak dari sana terlebih dahulu. Menuntun tiga orang yang sedang berada di


belakangnya untuk segera mengikuti langkah gadis ini. Eun Ji Hae akan membawa


mereka bertiga ke suatu tempat yang jauh dari keramaian. Dan tentunya harus


tenang serta bersifat rahasia. Eun Ji Hae akan mulai menanyai mereka


satu-persatu begitu sampai di sana nanti.


Sementara Eun Ji Hae mengurus ketiga orang tersebut yang


berpotensi sebagai saksi, Bibi Ga Eun dan yang lainnya segera mengambil alih


tempat itu. Mereka tidak ingin membuat kerumunan ini terlalu lama. Wilson segera


memerintahkan para petugas kesehatan yang berada di sekolah ini untuk membawa


jasad tersebut ke salah satu ruang tak terpakai.


Untuk langkah selanjutnya, akan mereka pikirkan lagi nanti. Yang


terpenting sekarang, mereka harus membereskan tempat ini terlebih dahulu. Semua


orang tahu jika darah seperti ini akan memancing hal-hal buruk. Penting baginya


untuk memastikan tempat ini benar-benar bersih dari darah. Demi menghindari hal


buruk untuk terjadi lagi. Ini bukan yang pertama kalinya hal buruk terjadi di


sekolah ini dalah jangka waktu yang berdekatan. Bahkan masih di dalam satu


pekan yang sama.


“Lima orang dari kalian silahkan bergotong royong untuk


mulai membersihkan tempat ini. Pastikan tidak ada noda yang tertinggal,” jelas


Wilson sebelum beranjak pergi dari tempat kejadian.

__ADS_1


__ADS_2