
Mereka semua sudah bersiap dengan sebagai mana mestinya.
Segala perlengkapan digunakan demi alasan keamanan. Tidak bisa dipungkiri jika
mereka tetap harus berusaha dengan semaksimal mungkin. Harapan Mooneta ada di
tangan para peserta didik. Mereka yang akan menentukan jalan ceritanya
kemudian. Sementara para tetua serta staff penting lainnya memantau dari
belakang panggung.
Mereka tidak akan pernah dilepaskan dari pengawasan para
tetua. Jangan lupa jika Eun Ji Hae juga turut dilibatkan dalam aksi pengawasan
ini. Mengingat sekarang dia sudah bukan siswa biasa lagi. Melainkan staff
khusus. Ringkasnya, ia adalah pembantu non-resmi kepala sekolah.
"Apa kau menggunakan pelindung tangan juga?" tanya
Oliver yang baru menyadari hal tersebut.
Nhea tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Untuk
benerapa saat ia memandangi kain pembalut tangannya sebelum memberikan jawaban.
"Setidaknya aku tidak akan dikeluarkan pada saat
bertanding hanya karenanya," ucap gadis itu secara gamblang.
"Lagi pula Eun Ji Hae tidak akan melakukan ini secara
sengaja. Dia bisa menyingkirkanku kapan saja ia mau," batin Nhea di dalam
hati.
Cukup tidak masuk akal jika Eun Ji Hae benar-benar melakukan
hal tersebut dengan maksud buruk yang tersembunyi. Menyingkirkan Nhea dan
timnya dari pertandingan bukan cara yang baik sama sekali. Tidak tepat. Hal
tersebut bukan hanya berdampak kepada Nhea saja. Tapi, juga menyangkut nama
besar akademi sihir Mooneta.
Eun Ji Hae terlalu egois jika begitu caranya. Menghalalkan
segala cara demi balas dendam. Lebih tepatnya demi menyingkirkan gadis itu
secara tidak langsung untuk membuat posisinya semakin kuat.
Meski sampai saat ini tidak ada yang bisa memastikan apa
tujuan Eun Ji Hae yang sebenarnya. Mereka tidak bisa asal menyimpulkan. Eun Ji
Hae pasti tidak akan terima jika dituduh soal perihal yang tidak benar.
Percayalah jika gadis itu tidak akan tinggal diam. Paling tidak ia pasti akan
melakukan pembelaan mati-matian untuk tetap menjaga nama baiknya. Lagi-lagi Eun
Ji Hae pasti akan melakukan segala cara untuk membuktikan jika dirinya tak
bersalah.
***
Tak ingin ambil pusing soal hal tersebut, Nhea dan Oliver
__ADS_1
memilih untuk mencari udara segar sembari menunggu waktu makan siang. Keadaan
di dalam kamp terlalu sumpek dan panas. Membuat siapa saja merasa tidak betah
jika harus berlama-lama di sana. Tidak peduli seberapa besar ruangan di
dalamnya. Tetap saja mereka merasa tidak nyaman.
“Sepertinya mereka harus menambahkan lebih banyak lubang
ventilasi lagi!” celetuk Oliver secara tiba-tiba.
Mereka berjalan beriringan keluar dari kamp. Bersama
beberapa orang lainnya yang juga kebetulan akan beranjak dari sana dengan
segera. Suasana di luar kamp sudah terlihat jauh lebih ramai dari pada
sebelumnya. Kebanyakan dari mereka tampak sudah menggunakan baju seragam yang
berbeda-beda. Setidaknya bisa disimpulkan jika sebagian besar dari para peserta
sudah siap untuk bertanding.
Ini adalah sebuah awal yang bagus. Setidaknya mereka sudah
bersiap dari jauh-jauh waktu untuk menghadapi hal tersebut. Meski nomer urut
pertandingannya baru akan diumumkan setelah selesai makan siang.
‘BRAK!!!’
Tubuh Nhea terjembap ke tanah. Kedua kakinya menghantam
permukaan tanah dengan sangat keras. Beruntung tangannya bisa melakukan gerakan
refleks yang cukup cepat dan tepat. Sehingga tidak terjadi kecelakaan serius. Hanya
sakit biasa saja. Masih bisa ia tahan untuk sementara waktu. Tidak ada yang serius.
“Hey! Perhatikan jalanmu!” sarkas seseorang yang diyakini
sebagai orang yang menabraknya barusan.
Diam-diam ternyata Nhea merasa tidak terima jika dirinya
disalahkan seperti ini. Padahal sudah jelas jika ia tak bersalah. Siapa yang
sedang mencoba untuk membalikkan fakta sebenarnya di sini. Nhea atau malah orang
itu.
Gadis itu mengepal erat kedua tangannya. Sorot matanya masih
menatap rendah. Bukan karena ia takut untuk menatap mata sang pelaku. Nhea bisa
melakukan lebih dari itu bahkan. Tapi, emosinya perlu dikontrol. Sekali lagi,
pengendalian emosi dan pikiran menjadi kunci utama dari pertandingan.
Ada banyak orang yang tampak menguji kesabaran gadis ini. Mereka
bermunculan satu-persatu entah dari mana. Dengan harapan bisa mendistraksi
fokus dan konsentrasi Nhea. Tidak semudah itu. Anak-anak dari akademi sihir
Mooneta memang terkenal sulit untuk dikendalikan. Sebab, mereka adalah salah
satu pemegang kendali yang belum bisa digantikan posisinya sampai saat ini.
“Ku kira malah sebaliknya!” celetuk Oliver sembari melipat
__ADS_1
kedua tangannya di depan dada.
Ia akan bersikap sesuai dengan perilaku orang lain
kepadanya. Oliver bisa jauh lebih baik jika orang lain memperlakukannya dengan
baik. Namun, di saat yang bersamaan ia bisa menjadi orang yang paling
menyebalkan di dunia. Semua kembali lagi kepada siapa ia sedang berhadapan saat
ini. Jangan salahkan jika mendadak Oliver berubah menjadi seseorang yang kejam
dan tidak kenal ampun. Mungkin lawan bicaranya saat ini sedang bertindak
demikian.
“Kau akan mendapatkan
buah dari apa yang kau tanam selama ini.”
Ternyata pepatah kuno tersebut memang benar adanya. Tapi,
bukan itu yang paling penting di sini. Poin utamanya adalah saat kau mengetahui
sebuah fakta jika pepatah tersebut tidak memiliki batas waktu tertentu. Kalimat
bijak tersebut akan berlaku seumur hidup. Selamanya. Sepanjang sejarah
beradaban manusia. Dari yang paling awal, hingga yang paling akhir. Situasinya tidak
akan pernah berubah. Alam semesta sudah menetapkan hukum dan ketentuannya
sendiri sejak awal. Jauh sebelum manusia diutus ke muka bumi.
“Apa begini cara anak-anak dari akademi terkenal
memperlakukan orang lain?” tanya orang asing tersebut.
“Menurutmu, siapa yang salah di sini?!” balas Oliver. Kali
ini nada bicaranya sedikit lebih tinggi dari pada yang sebelumnya.
Tanpa pikir panjang, Nhea segera bangkit dari posisinya saat
itu tanpa bantuan dari siapa pun. Bahkan saat ia terlalu mengharapkan Oliver
untuk mengulurkan tangannya, gadis itu malah sibuk beradu argumen dengan orang
lain. Sebenarnya yang mana yang jauh lebih penting. Temannya atau orang asing.
“Apa kau ingin mencari masalah dengan kami?!” seru Oliver.
Sekarang ia sudah tidak terkendali. Emosinya mendidih di
puncak ubun-ubun. Tidak bisa dipungkiri jika atmosfir di antara mereka bertiga
mulai semakin memanas.
“Bukannya kau yang lebih dulu mencari masalah dengan kami?”
balas orang asing tersebut dengan begitu santai.
Entah bagaimana bisa ia bersikap seperti itu. Padahal sudah
jelas-jelas jika ia bersalah. Sungguh tidak punya malu. Ia bahkan menuduuh
orang lain dan bukannya mengakui kesalahannya sendiri. Sepertinya nilai tata
krama dan sopan santunnya di sekoolah pasti rendah. Atau bahkan mereka tidak
mendapatkan pelajaran seperti itu sama sekali. Sehingga para siswanya tidak
__ADS_1
memiliki karakter yang cukup baik dalam kehidupan sosial. Oliver perlu mencari
tahu lebih lanjut dari akademi mana sebenarnya mereka.