Mooneta High School

Mooneta High School
Pencari Masalah


__ADS_3

Mereka semua sudah bersiap dengan sebagai mana mestinya.


Segala perlengkapan digunakan demi alasan keamanan. Tidak bisa dipungkiri jika


mereka tetap harus berusaha dengan semaksimal mungkin. Harapan Mooneta ada di


tangan para peserta didik. Mereka yang akan menentukan jalan ceritanya


kemudian. Sementara para tetua serta staff penting lainnya memantau dari


belakang panggung.


Mereka tidak akan pernah dilepaskan dari pengawasan para


tetua. Jangan lupa jika Eun Ji Hae juga turut dilibatkan dalam aksi pengawasan


ini. Mengingat sekarang dia sudah bukan siswa biasa lagi. Melainkan staff


khusus. Ringkasnya, ia adalah pembantu non-resmi kepala sekolah.


"Apa kau menggunakan pelindung tangan juga?" tanya


Oliver yang baru menyadari hal tersebut.


Nhea tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Untuk


benerapa saat ia memandangi kain pembalut tangannya sebelum memberikan jawaban.


"Setidaknya aku tidak akan dikeluarkan pada saat


bertanding hanya karenanya," ucap gadis itu secara gamblang.


"Lagi pula Eun Ji Hae tidak akan melakukan ini secara


sengaja. Dia bisa menyingkirkanku kapan saja ia mau," batin Nhea di dalam


hati.


Cukup tidak masuk akal jika Eun Ji Hae benar-benar melakukan


hal tersebut dengan maksud buruk yang tersembunyi. Menyingkirkan Nhea dan


timnya dari pertandingan bukan cara yang baik sama sekali. Tidak tepat. Hal


tersebut bukan hanya berdampak kepada Nhea saja. Tapi, juga menyangkut nama


besar akademi sihir Mooneta.


Eun Ji Hae terlalu egois jika begitu caranya. Menghalalkan


segala cara demi balas dendam. Lebih tepatnya demi menyingkirkan gadis itu


secara tidak langsung untuk membuat posisinya semakin kuat.


Meski sampai saat ini tidak ada yang bisa memastikan apa


tujuan Eun Ji Hae yang sebenarnya. Mereka tidak bisa asal menyimpulkan. Eun Ji


Hae pasti tidak akan terima jika dituduh soal perihal yang tidak benar.


Percayalah jika gadis itu tidak akan tinggal diam. Paling tidak ia pasti akan


melakukan pembelaan mati-matian untuk tetap menjaga nama baiknya. Lagi-lagi Eun


Ji Hae pasti akan melakukan segala cara untuk membuktikan jika dirinya tak


bersalah.


***


Tak ingin ambil pusing soal hal tersebut, Nhea dan Oliver

__ADS_1


memilih untuk mencari udara segar sembari menunggu waktu makan siang. Keadaan


di dalam kamp terlalu sumpek dan panas. Membuat siapa saja merasa tidak betah


jika harus berlama-lama di sana. Tidak peduli seberapa besar ruangan di


dalamnya. Tetap saja mereka merasa tidak nyaman.


“Sepertinya mereka harus menambahkan lebih banyak lubang


ventilasi lagi!” celetuk Oliver secara tiba-tiba.


Mereka berjalan beriringan keluar dari kamp. Bersama


beberapa orang lainnya yang juga kebetulan akan beranjak dari sana dengan


segera. Suasana di luar kamp sudah terlihat jauh lebih ramai dari pada


sebelumnya. Kebanyakan dari mereka tampak sudah menggunakan baju seragam yang


berbeda-beda. Setidaknya bisa disimpulkan jika sebagian besar dari para peserta


sudah siap untuk bertanding.


Ini adalah sebuah awal yang bagus. Setidaknya mereka sudah


bersiap dari jauh-jauh waktu untuk menghadapi hal tersebut. Meski nomer urut


pertandingannya baru akan diumumkan setelah selesai makan siang.


‘BRAK!!!’


Tubuh Nhea terjembap ke tanah. Kedua kakinya menghantam


permukaan tanah dengan sangat keras. Beruntung tangannya bisa melakukan gerakan


refleks yang cukup cepat dan tepat. Sehingga tidak terjadi kecelakaan serius. Hanya


sakit biasa saja. Masih bisa ia tahan untuk sementara waktu. Tidak ada yang serius.


“Hey! Perhatikan jalanmu!” sarkas seseorang yang diyakini


sebagai orang yang menabraknya barusan.


Diam-diam ternyata Nhea merasa tidak terima jika dirinya


disalahkan seperti ini. Padahal sudah jelas jika ia tak bersalah. Siapa yang


sedang mencoba untuk membalikkan fakta sebenarnya di sini. Nhea atau malah orang


itu.


Gadis itu mengepal erat kedua tangannya. Sorot matanya masih


menatap rendah. Bukan karena ia takut untuk menatap mata sang pelaku. Nhea bisa


melakukan lebih dari itu bahkan. Tapi, emosinya perlu dikontrol. Sekali lagi,


pengendalian emosi dan pikiran menjadi kunci utama dari pertandingan.


Ada banyak orang yang tampak menguji kesabaran gadis ini. Mereka


bermunculan satu-persatu entah dari mana. Dengan harapan bisa mendistraksi


fokus dan konsentrasi Nhea. Tidak semudah itu. Anak-anak dari akademi sihir


Mooneta memang terkenal sulit untuk dikendalikan. Sebab, mereka adalah salah


satu pemegang kendali yang belum bisa digantikan posisinya sampai saat ini.


“Ku kira malah sebaliknya!” celetuk Oliver sembari melipat

__ADS_1


kedua tangannya di depan dada.


Ia akan bersikap sesuai dengan perilaku orang lain


kepadanya. Oliver bisa jauh lebih baik jika orang lain memperlakukannya dengan


baik. Namun, di saat yang bersamaan ia bisa menjadi orang yang paling


menyebalkan di dunia. Semua kembali lagi kepada siapa ia sedang berhadapan saat


ini. Jangan salahkan jika mendadak Oliver berubah menjadi seseorang yang kejam


dan tidak kenal ampun. Mungkin lawan bicaranya saat ini sedang bertindak


demikian.


“Kau akan mendapatkan


buah dari apa yang kau tanam selama ini.”


Ternyata pepatah kuno tersebut memang benar adanya. Tapi,


bukan itu yang paling penting di sini. Poin utamanya adalah saat kau mengetahui


sebuah fakta jika pepatah tersebut tidak memiliki batas waktu tertentu. Kalimat


bijak tersebut akan berlaku seumur hidup. Selamanya. Sepanjang sejarah


beradaban manusia. Dari yang paling awal, hingga yang paling akhir. Situasinya tidak


akan pernah berubah. Alam semesta sudah menetapkan hukum dan ketentuannya


sendiri sejak awal. Jauh sebelum manusia diutus ke muka bumi.


“Apa begini cara anak-anak dari akademi terkenal


memperlakukan orang lain?” tanya orang asing tersebut.


“Menurutmu, siapa yang salah di sini?!” balas Oliver. Kali


ini nada bicaranya sedikit lebih tinggi dari pada yang sebelumnya.


Tanpa pikir panjang, Nhea segera bangkit dari posisinya saat


itu tanpa bantuan dari siapa pun. Bahkan saat ia terlalu mengharapkan Oliver


untuk mengulurkan tangannya, gadis itu malah sibuk beradu argumen dengan orang


lain. Sebenarnya yang mana yang jauh lebih penting. Temannya atau orang asing.


“Apa kau ingin mencari masalah dengan kami?!” seru Oliver.


Sekarang ia sudah tidak terkendali. Emosinya mendidih di


puncak ubun-ubun. Tidak bisa dipungkiri jika atmosfir di antara mereka bertiga


mulai semakin memanas.


“Bukannya kau yang lebih dulu mencari masalah dengan kami?”


balas orang asing tersebut dengan begitu santai.


Entah bagaimana bisa ia bersikap seperti itu. Padahal sudah


jelas-jelas jika ia bersalah. Sungguh tidak punya malu. Ia bahkan menuduuh


orang lain dan bukannya mengakui kesalahannya sendiri. Sepertinya nilai tata


krama dan sopan santunnya di sekoolah pasti rendah. Atau bahkan mereka tidak


mendapatkan pelajaran seperti itu sama sekali. Sehingga para siswanya tidak

__ADS_1


memiliki karakter yang cukup baik dalam kehidupan sosial. Oliver perlu mencari


tahu lebih lanjut dari akademi mana sebenarnya mereka.


__ADS_2