Mooneta High School

Mooneta High School
Talk to My Friends


__ADS_3

Mereka tetap melangsungkan acara perjamuan makan seperti


biasanya. Meski Nhea masih tetap bertahan di tepi jendela tanpa menghiraukan


siapa pun. Sebenarnya Eun Ji Hae merasa risih dan terganggu. Tapi, memangnya ia


bisa apa. Di saat seperti ini dirinya tidak bisa asal sembarangan mengambil


keputusan begitu saja. Paling tidak ia harus melibatkan salah satu dari ketiga


anggota keluarga tertua. Seperti Bibi Ga Eun, Vallery serta Wilson. Tapi, bagaimanapun


juga ia tidak akan berurusan dengan pria itu. Tidak peduli sesulit apa masalah


yang sedang menghadangnya.


Meski sempat berpisah saat acara perjamuan makan, Nhea dan


teman-temannya kembali bersama setelahnya. Gadis itu bersama keempat teman


dekatnya yang lain memutuskan untuk menghabiskan waktu sebentar di taman.


Mereka ingin melepas rasa rindunya terhadap gadis itu. Terkecuali Chanwo. Pria


itu bahkan sudah bertemu dengan Nhea setiap hari. Diam-diam mereka telah jauh


lebih sering menghabiskan waktu bersama.


“Jadi, kenapa kau mendadak menghilang? Lalu kemana saja kau


pergi selama ini?” interupsi Jongdae.


Pria itu bahkan tidak memberikan jeda sama sekali antara


pertanyaan yang satu dengan yang lainnya. Sehingga Nhea tidak memiliki


kesempatan untuk menjawab pertanyaan pertama. Belum sempat ia memikirkan


jawabannya, Jongdae sudah langsung menyambungnya dengan pertanyaan kedua. Hal


tersebut nyaris membuat Nhea merasa kelimpungan. Tapi, beruntung ia bisa


mengendalikan hal tersebut.


“Apa masih ada pertanyaan lain di dalam kepalamu?” tanya


Nhea untuk memastikan sekali lagi.


“Jika memang masih ada, lebih baik keluarkan saja semuanya


sekarang juga!” titah gadis itu.


“Daripada ujung-ujungnya kau malah berakhir dengan memotong


perkataanku seperti biasanya,” cicit Nhea sebagai penutup.


Satu-satunya hal yang sangat ingin ia protes dari pria itu


adalah kebiasaannya untuk menyela perkatana orang lain. Padahal mereka belum


sempat menyelesaikan kalimatnya yang satu itu. Cukup mengesalkan bagi Nhea.


Bahkan, mungkin bukan hanya Nhea saja yang merasakan hal tersebut. Tapi, orang


lain juga.


Perkataan gadis itu tadi memang terkesan sedikit sarkas jika


diperhatikan baik-baik. Namun, tenang saja. Tidak ada yang perlu


dipermasalahkan. Hubungan persahabatan mereka kali ini sudah cukup baik. Bahkan


sudah jauh lebih kuat daripada sebelumnya.

__ADS_1


Kalimat seperti itu tentu tidak akan bisa memutus tali


persahabatan mereka lagi kali ini. Sudah cukup banyak ujian yang mereka hadapi.


Dan rasanya semua orang yang berada di dalamnya sudah cukup kebal dengan hal


tersebut. Mereka sudah mulai terbiasa.


Pada dasarnya, tidak semua hal bisa langsung dianggap


serius. Terkadang malah ada yang sebaliknya. Jadi, mereka harus pintar dalam


menempatkan diri. Tidak boleh sembarangan. Ada baiknya jika mereka bisa membaca


situasi terlebih dahulu.


“Jawab saja! Kami penasaran!” celetuk Jang Eunbi tidak


sabaran.


Sepertinya gadis itu sedang bersemangat hari ini. Ia tampak


begitu antusias. Entah hal baik macam apa yang terjadi hari ini, sehingga


dirinya terlihat begitu girang.


Tak ingin ambil pusing soal hal tersebut, Nhea lantas segera


mengalihkan perhatiannya. Sekarang sepertinya ia tidak bisa menjawab dengan


jujur sepenuhnya. Bukannya Nhea tidak merasa percaya dengan teman-temannya.


Tapi, memang ada beberapa hal yang tidak bisa diceritakan kepada orang lain.


Bukan karena gadis itu tidak ingin bersikap terbuka. Hanya saja memang ada


beberapa hal yang harus ia jaga sampai waktunya tiba. Bukan pekara yang lain.


Melainkan Nhea harus mulai peduli kepada dirinya sendiri.


Sudah jelas-jelas jika ia sedang berbohong saat ini. Mungkin


teman-temannya yang lain akan merasa percaya saja dan tidak menaruh rasa curiga


sama sekali. Namun, jangan pernah mencoba untuk menipu Chanwo pada situasi


seperti ini. Meski pria itu tahu jika Nhea tengah berbohong, ia tidak mencegah


perbuatan itu sama sekali. Karena Chanwo sendiri paham betul jika pasti ada


alasan tertentu yang membuat Nhea merasa belum siap.


Tapi, tenang saja. Chanwo tidak akan membeberkan hal


tersebut kepada siapa pun, jika Nhea tidak berbicara jujur sama sekali. Baginya


bukan masalah sama sekali dan sepertinya memang tidak perlu dipermasalahkan. Cukup


hanya pria itu yang tahu kebenarannya. Tidak dengan yang lain.


“Apa kau pergi ke hutan sendirian?” tanya Oliver.


“Kau tidak takut?” timpalnya kemudian.


Nhea lantas menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, sebagai


bentuk respon dari pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis itu barusan


“Memangnya kenapa aku harus merasa takut?” tanya Nhea balik.


“Lagipula aku tidak pergi terlalu jauh ke dalam hutan. Jadi


tidak ada yang perlu dicemaskan. Tidak ada hal buruk yang terjadi. Kalau pun

__ADS_1


benar ada, aku pasti masih bisa membereskannya sendiri,” jelas gadis itu dengan


panjang lebar.


“Buktinya aku masih bisa bertahan hidup sampai sekarang


bukan?” finalnya kemudian.


Yang dimaksud hutan oleh gadis itu sebenarnya di sini bukan


hutan sungguhan. Itu hanya sebuah perumpamaan. Meski pada faktanya tidak semua


orang paham. Gadia itu yakin, jika sebagan besar dari mereka pasti mengira jika


itu sungguh hutan. Di dalam pikirannya mereka membayangkan jika Nhea sungguh


berada di tengah hutan belantara.


Sebenarnya Nhea bisa saja melakukan hal tersebut. Melarikan diri


ke hutan dan tidak bertemu siapa pun selama berhari-hari. Namun, yang menjadi


permasalahannya di sini adalah tekad gadis itu. Rasanya hutan masih terlalu


berbahaya bagi orang seperti dirinya. Nhea masih terlalu lemah. Akan jauh lebih


berbahaya jika ia tetap memutuskan untuk pergi ke sana tanpa persiapan sama


sekali. Itu sama saja dengan Nhea menyerahkan dirinya ke hadapan malaikan


pencabut nyawa.


Padahal, hutan yang sedang ia maksud di sini adalah hutan


misteri. Yang tak lain dan tak bukan adalah ruangan penyimpanan. Nhea sungguh


menganggap tempat tersebut selayaknya sebuah hutan. Sebab, ada terlalu banyak


rahasia yang belum diungkap di dalamnya. Oleh karena itu, Nhea memberikannya


juluan sebagai hutan misteri.


Ketika kau pergi ke sana, maka sebuah rahasia juga akan ikut


terbongkar. Sebaiknya kau bersiap untuk tidak tercengang. Nhea sendiri saja


sudah merasa kaget pada langkah pertama. Tapi, semakin ke sini rasanya sudah


biasa. Tidak perlu merasa heran. Jika dipikir-pikir, informasi yang satu pasti


selalu berkaitan dengan informasi yang lainnya.


“Bagaimana bisa aku tidak khawatir denganmu?!” seru Oliver


sambil memukul lengan gadis itu pelan.


Sepertinya ia cukup merasa kesal sekaligus panik selama


beberapa hari belakangan ini, karena Nhea menghilang begitu saja tanpa ada


kabar.


“Tapi, bukankah waktu itu Chanwo sudah pergi mencarimu ke


hutan juga?” tanya Jongdae yang kemudian teringat akan sesuatu.


Sepertinya kebohongan Nhea tidak


berjalan lancar kali ini. Ada satu celah yang hampir ia lupakan. Sehingga mengundang


kecurigaan dari pihak lain. Bagaimana bisa gadis itu mendadak menjadi ceroboh


seperti ini. Padahal ia telah merencanakan segalanya dengan sedemikian rupa. Seharusnya

__ADS_1


sekarang rencananya sudah cukup sempurna.


__ADS_2