
Mereka tetap melangsungkan acara perjamuan makan seperti
biasanya. Meski Nhea masih tetap bertahan di tepi jendela tanpa menghiraukan
siapa pun. Sebenarnya Eun Ji Hae merasa risih dan terganggu. Tapi, memangnya ia
bisa apa. Di saat seperti ini dirinya tidak bisa asal sembarangan mengambil
keputusan begitu saja. Paling tidak ia harus melibatkan salah satu dari ketiga
anggota keluarga tertua. Seperti Bibi Ga Eun, Vallery serta Wilson. Tapi, bagaimanapun
juga ia tidak akan berurusan dengan pria itu. Tidak peduli sesulit apa masalah
yang sedang menghadangnya.
Meski sempat berpisah saat acara perjamuan makan, Nhea dan
teman-temannya kembali bersama setelahnya. Gadis itu bersama keempat teman
dekatnya yang lain memutuskan untuk menghabiskan waktu sebentar di taman.
Mereka ingin melepas rasa rindunya terhadap gadis itu. Terkecuali Chanwo. Pria
itu bahkan sudah bertemu dengan Nhea setiap hari. Diam-diam mereka telah jauh
lebih sering menghabiskan waktu bersama.
“Jadi, kenapa kau mendadak menghilang? Lalu kemana saja kau
pergi selama ini?” interupsi Jongdae.
Pria itu bahkan tidak memberikan jeda sama sekali antara
pertanyaan yang satu dengan yang lainnya. Sehingga Nhea tidak memiliki
kesempatan untuk menjawab pertanyaan pertama. Belum sempat ia memikirkan
jawabannya, Jongdae sudah langsung menyambungnya dengan pertanyaan kedua. Hal
tersebut nyaris membuat Nhea merasa kelimpungan. Tapi, beruntung ia bisa
mengendalikan hal tersebut.
“Apa masih ada pertanyaan lain di dalam kepalamu?” tanya
Nhea untuk memastikan sekali lagi.
“Jika memang masih ada, lebih baik keluarkan saja semuanya
sekarang juga!” titah gadis itu.
“Daripada ujung-ujungnya kau malah berakhir dengan memotong
perkataanku seperti biasanya,” cicit Nhea sebagai penutup.
Satu-satunya hal yang sangat ingin ia protes dari pria itu
adalah kebiasaannya untuk menyela perkatana orang lain. Padahal mereka belum
sempat menyelesaikan kalimatnya yang satu itu. Cukup mengesalkan bagi Nhea.
Bahkan, mungkin bukan hanya Nhea saja yang merasakan hal tersebut. Tapi, orang
lain juga.
Perkataan gadis itu tadi memang terkesan sedikit sarkas jika
diperhatikan baik-baik. Namun, tenang saja. Tidak ada yang perlu
dipermasalahkan. Hubungan persahabatan mereka kali ini sudah cukup baik. Bahkan
sudah jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
__ADS_1
Kalimat seperti itu tentu tidak akan bisa memutus tali
persahabatan mereka lagi kali ini. Sudah cukup banyak ujian yang mereka hadapi.
Dan rasanya semua orang yang berada di dalamnya sudah cukup kebal dengan hal
tersebut. Mereka sudah mulai terbiasa.
Pada dasarnya, tidak semua hal bisa langsung dianggap
serius. Terkadang malah ada yang sebaliknya. Jadi, mereka harus pintar dalam
menempatkan diri. Tidak boleh sembarangan. Ada baiknya jika mereka bisa membaca
situasi terlebih dahulu.
“Jawab saja! Kami penasaran!” celetuk Jang Eunbi tidak
sabaran.
Sepertinya gadis itu sedang bersemangat hari ini. Ia tampak
begitu antusias. Entah hal baik macam apa yang terjadi hari ini, sehingga
dirinya terlihat begitu girang.
Tak ingin ambil pusing soal hal tersebut, Nhea lantas segera
mengalihkan perhatiannya. Sekarang sepertinya ia tidak bisa menjawab dengan
jujur sepenuhnya. Bukannya Nhea tidak merasa percaya dengan teman-temannya.
Tapi, memang ada beberapa hal yang tidak bisa diceritakan kepada orang lain.
Bukan karena gadis itu tidak ingin bersikap terbuka. Hanya saja memang ada
beberapa hal yang harus ia jaga sampai waktunya tiba. Bukan pekara yang lain.
Melainkan Nhea harus mulai peduli kepada dirinya sendiri.
Sudah jelas-jelas jika ia sedang berbohong saat ini. Mungkin
teman-temannya yang lain akan merasa percaya saja dan tidak menaruh rasa curiga
sama sekali. Namun, jangan pernah mencoba untuk menipu Chanwo pada situasi
seperti ini. Meski pria itu tahu jika Nhea tengah berbohong, ia tidak mencegah
perbuatan itu sama sekali. Karena Chanwo sendiri paham betul jika pasti ada
alasan tertentu yang membuat Nhea merasa belum siap.
Tapi, tenang saja. Chanwo tidak akan membeberkan hal
tersebut kepada siapa pun, jika Nhea tidak berbicara jujur sama sekali. Baginya
bukan masalah sama sekali dan sepertinya memang tidak perlu dipermasalahkan. Cukup
hanya pria itu yang tahu kebenarannya. Tidak dengan yang lain.
“Apa kau pergi ke hutan sendirian?” tanya Oliver.
“Kau tidak takut?” timpalnya kemudian.
Nhea lantas menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, sebagai
bentuk respon dari pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis itu barusan
“Memangnya kenapa aku harus merasa takut?” tanya Nhea balik.
“Lagipula aku tidak pergi terlalu jauh ke dalam hutan. Jadi
tidak ada yang perlu dicemaskan. Tidak ada hal buruk yang terjadi. Kalau pun
__ADS_1
benar ada, aku pasti masih bisa membereskannya sendiri,” jelas gadis itu dengan
panjang lebar.
“Buktinya aku masih bisa bertahan hidup sampai sekarang
bukan?” finalnya kemudian.
Yang dimaksud hutan oleh gadis itu sebenarnya di sini bukan
hutan sungguhan. Itu hanya sebuah perumpamaan. Meski pada faktanya tidak semua
orang paham. Gadia itu yakin, jika sebagan besar dari mereka pasti mengira jika
itu sungguh hutan. Di dalam pikirannya mereka membayangkan jika Nhea sungguh
berada di tengah hutan belantara.
Sebenarnya Nhea bisa saja melakukan hal tersebut. Melarikan diri
ke hutan dan tidak bertemu siapa pun selama berhari-hari. Namun, yang menjadi
permasalahannya di sini adalah tekad gadis itu. Rasanya hutan masih terlalu
berbahaya bagi orang seperti dirinya. Nhea masih terlalu lemah. Akan jauh lebih
berbahaya jika ia tetap memutuskan untuk pergi ke sana tanpa persiapan sama
sekali. Itu sama saja dengan Nhea menyerahkan dirinya ke hadapan malaikan
pencabut nyawa.
Padahal, hutan yang sedang ia maksud di sini adalah hutan
misteri. Yang tak lain dan tak bukan adalah ruangan penyimpanan. Nhea sungguh
menganggap tempat tersebut selayaknya sebuah hutan. Sebab, ada terlalu banyak
rahasia yang belum diungkap di dalamnya. Oleh karena itu, Nhea memberikannya
juluan sebagai hutan misteri.
Ketika kau pergi ke sana, maka sebuah rahasia juga akan ikut
terbongkar. Sebaiknya kau bersiap untuk tidak tercengang. Nhea sendiri saja
sudah merasa kaget pada langkah pertama. Tapi, semakin ke sini rasanya sudah
biasa. Tidak perlu merasa heran. Jika dipikir-pikir, informasi yang satu pasti
selalu berkaitan dengan informasi yang lainnya.
“Bagaimana bisa aku tidak khawatir denganmu?!” seru Oliver
sambil memukul lengan gadis itu pelan.
Sepertinya ia cukup merasa kesal sekaligus panik selama
beberapa hari belakangan ini, karena Nhea menghilang begitu saja tanpa ada
kabar.
“Tapi, bukankah waktu itu Chanwo sudah pergi mencarimu ke
hutan juga?” tanya Jongdae yang kemudian teringat akan sesuatu.
Sepertinya kebohongan Nhea tidak
berjalan lancar kali ini. Ada satu celah yang hampir ia lupakan. Sehingga mengundang
kecurigaan dari pihak lain. Bagaimana bisa gadis itu mendadak menjadi ceroboh
seperti ini. Padahal ia telah merencanakan segalanya dengan sedemikian rupa. Seharusnya
__ADS_1
sekarang rencananya sudah cukup sempurna.