Mooneta High School

Mooneta High School
Watch You


__ADS_3

Karena sedang terjadi badai lagi kali ini, mau tak mau mereka


harus tetap menunggu setidaknya sampai badai selesai. Bibi Ga Eun memerintahkan


mereka untuk menyalakan api unggun untuk menghangatkan suasana sekitar. Merski


saat ini mereka berada dalam jarak yang cukup berdekatan satu sama lain, hal


itu sama sekali tidak cukup untuk membuat suhu sekitar agar tetap hangat juga.


Udara dingin terus menyeruak tajam, bergerak dengan bebas keluar masuk goa ini.


Sampai pada akhirnya, Bibi Ga Eun memerintahkan mereka semua


untuk membuat portal yang bisa menahan hembusan angin dari luar. Sehingga angin


dari luar tidak akan mudah masuk dan memadamkan api yang mereka buat. Hasil


kerjanya akan terasa jauh lebih maksimal jika seperti ini.


Mendadak, Nhea merasakan sesuatu yang aneh. Dia menduga jika


ada sesuatu yang salah dengannya. Gadis itu langsung mengeluarkan tangannya


dari dalam saku. Dan yang benar saja. Dugaannya tepat. Ia sedang tidak


baik-baik saja. Jari kelingking gadis itu membiru hampir membeku. Suhunya juga


mendadak dingin. Tidak seperti anggota tubuh yang lainnya.


Panik adalah reaksi alami pertama yang ia alami. Tanpa tahu apa


alasannya, secara mendadak sebagian kecil dari tangannya hampir membeku.


Sungguh gila. Ia masih tak habis pikir tentang bagaimana bisa hal ini terjadi.


Tanpa pikir panjang lagi, Nhea segera mengambil sarung tangan miliknya dari


dalam saku. Seharusnya benda itu cukup untuk menghangatkan tangannya. Sehingga


setidaknya ia tidak akan membeku total. Paling tidak jaringan di bawah kulitnya


masih berfungsi dengan baik.


“Apa ini karena salju abadi tadi?” batinnya di dalam hati.


Gadis itu mencoba untuk tenang. Padahal ia tahu jika dirinya


sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Tapi, panik tidak akan


menyelesaikan apa pun. Ia juga tidak akan bisa berpikir dengan jernih jika terjebak


dalam rasa panik. Pikirannya akan kalut. Akan sulit bagi Nhea untuk berdamai


dengan dirinya sendiri setelah semua itu terjadi. Emosi negatif akan beralih


menguasai dirinya. Oleh sebab itu, dalam situasi seperti ini Nhea harus


pandai-pandai dalam mengendalikan dirinya sendiri.


Mungkin saat ini wajahnya terlihat begitu tenang. Sama


sekali tidak menunnjukkan jika ada yang aneh apa lagi sampai sesuatu yang


salah. Nhea terlalu tenang sampai orang mengira jika gadis itu baik-baik saja.


Seolah tidak ada yang terjadi di sini. yang barusan bukan apa-apa.


Orang tidka bisa menilai sesuatu dari yang terlihat saja.

__ADS_1


yang tidak terlihat belum tentu tidak kejadian. Semua asumsi tersebut benar.


Karena saat ini hati dan otak gadis itu sedang tidak sinkron. Ia sedang merasa


kegaduhan dengan dirinya sendiri. Sangat sulit untuk berdamai rasanya.


Kejadian aneh tadi benar-benar membuatnya kebingungan


setengah mati. Sampai-sampai ia harus memutar otak untuk mencari jalan keluar


dari semua permasalahan yang ada. Tapi, sampai sekarang hasilnya tetap saja


nihil. Ia tak tahu harus berbuat apa dan kenapa hal semacam ini bisa terjadi.


“Kenapa kau memakai sarung tangan?” tanya Oliver yang


kebetulan tengah duduk di sebelah gadis itu.


“Udaranya semakin dingin,” bohong


Nhea.


“Lagi pula sedang ada badai di tengah malam,” tukasnya.


Oliver mengangguk paham dengan penjelasna dari gadis itu


barusan. Meski sebenarnya sama sekali tidak ada masalah jika Nhea memakai


sarung tangan. Lagi pula bukan hanya ia satu-satunya orang yang melakukan hal


serupa di sini. Ada banyak orang yang sudah mulai memakai sarung tangannya


karena merasa dingin.


Sementara itu di sisi lain, Hwang Ji Na diam-diam masih


mampu mencuri perhatiannya. Entah kenapa ia berhasil mencuri seluruh perhatian


Hwang Ji Na hingga ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Nhea sedikit


pun. Sepertinya, gadis itu memiliki daya tarik yang cukup besar terhadap


sekitarnya.


Hwang Ji Na kemudian menepuk-nepuk pundak pria yang tengah


berada di sampingnya secara sengaja. Ia melakukan hal tersebut untuk


mendapatkan perhatian dari Chanwo. Pria itu refleks mengalihkan pandangannya ke


arah Hwang Ji Na. Sorot matanya menuntut jawaban.


“Ada apa?” tanya pria itu tanpa mengeluarkan suara sedikit


pun.


Setelah menyadari jika ia berhasil mendapatkan perhatian


dari pria itu, Hwang Ji Na segera berbalik menghadap Chanwo. Sehingga kedua


netra mereka saling bertemu pandang satu sama lain. Tatapan Chanwo masih memiliki


makna yang sama kurang lebih.


“Kau bilang, gadis itu masih memiliki darah manusia di dalam


tubuhnya bukan?” tanya Hwang Ji Na.


Jari telunjuknya mengarah ke arah seseorang yang sedang ia

__ADS_1


maksud dalam kalimatnya barusan. Memangnya siapa lagi jika bukan Nhea.


“Iya,” jawab pria itu dengan apa adanya.


“Kenapa memangnya?” tanya Chanwo balik.


“Apa ada sesuatu yang salah dengannya?” lanjutnya.


Hwang Ji Na mengangguk-anggukkan kepalanya setelah menerima


jawaban yang ia inginkan dari pria itu. Kemudian dengan cepat ia mengubah


gerakan kepalanya menjadi menggeleng ketika Chanwo bertanya alasan gadis itu. Hwang


Ji Na bukan tidak tahu soal jawabannya. Melainkan ia hanya sedang tidak ingin


memperpanjang obrolan mereka saat ini. Menurutnya, alasan tersebut tidak


terlalu penting. Bukan itu poin penting yang menjadi sorotannya di sini


sekarang. Tapi, ada hal lain yang jauh lebih penting dari semua itu baginya. Hwang


Ji Na tidak bisa menceritakan semua itu kepada sembarang orang. Sekalipun terhadap


Chanwo. Selama belum ada kepastian soal asumsinya, Hwang Ji Na tidak akan


membeberkan sisi pikirannya sendiri.


“Bukan apa-apa,” dalih Hwang Ji Na.


“Apa kau sedang berusaha untuk menyembunyikan sesuatu


dariku?” tanya Chanwo untuk memastikan.


Hwang Ji Na menggeleng dengan cepat untuk menepis pernyataan


dari pria itu. Yang baru saja diucapkan oleh Chanwo sama sekali tidak benar. Dia


sedang mengada-ngada.


“Kalau begitu, kenapa kau bertanya soal Nhea?” tanya Chanwo.


“Ah, jadi namanya Nhea?” tanya Hwang Ji Na balik.


Sepertinya Chanwo telah menyebutkan nama itu sebelumnya saatia


bertanya soal siapa gadis itu sebelum mereka memulai perjalanan tadi. Tapi,


sepertinya daya ingat Hwang Ji Na memang tidak terlalu bagus belakangan ini. Ia


menjadi sering melupakan banyak hal. Mulai dari yang paling sepele hingga yang


paling penting. Dia menyama ratakan semuanya dengan begitu saja.


Chanwo hanya bisa menghela napas dengan kasar. Ia sama


sekali tidak habis pikir dengan gadis itu. Chanwo sudah kehabisan kata-kata. Ia


sampai bungun harus berbuat apa dengan Hwang Ji Na. Hari ini gadis itu


benar-benar menguji kesabarannya.


“Lupakan saja kalau begitu!” celetuk Chanwo dengan nada


bicara yang jauh lebih tinggi dari biasanya.


Kelihatannya pria itu sedang kesal. Tapi Hwang Ji Na tetap


mengacuhkannya begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2