
Karena sedang terjadi badai lagi kali ini, mau tak mau mereka
harus tetap menunggu setidaknya sampai badai selesai. Bibi Ga Eun memerintahkan
mereka untuk menyalakan api unggun untuk menghangatkan suasana sekitar. Merski
saat ini mereka berada dalam jarak yang cukup berdekatan satu sama lain, hal
itu sama sekali tidak cukup untuk membuat suhu sekitar agar tetap hangat juga.
Udara dingin terus menyeruak tajam, bergerak dengan bebas keluar masuk goa ini.
Sampai pada akhirnya, Bibi Ga Eun memerintahkan mereka semua
untuk membuat portal yang bisa menahan hembusan angin dari luar. Sehingga angin
dari luar tidak akan mudah masuk dan memadamkan api yang mereka buat. Hasil
kerjanya akan terasa jauh lebih maksimal jika seperti ini.
Mendadak, Nhea merasakan sesuatu yang aneh. Dia menduga jika
ada sesuatu yang salah dengannya. Gadis itu langsung mengeluarkan tangannya
dari dalam saku. Dan yang benar saja. Dugaannya tepat. Ia sedang tidak
baik-baik saja. Jari kelingking gadis itu membiru hampir membeku. Suhunya juga
mendadak dingin. Tidak seperti anggota tubuh yang lainnya.
Panik adalah reaksi alami pertama yang ia alami. Tanpa tahu apa
alasannya, secara mendadak sebagian kecil dari tangannya hampir membeku.
Sungguh gila. Ia masih tak habis pikir tentang bagaimana bisa hal ini terjadi.
Tanpa pikir panjang lagi, Nhea segera mengambil sarung tangan miliknya dari
dalam saku. Seharusnya benda itu cukup untuk menghangatkan tangannya. Sehingga
setidaknya ia tidak akan membeku total. Paling tidak jaringan di bawah kulitnya
masih berfungsi dengan baik.
“Apa ini karena salju abadi tadi?” batinnya di dalam hati.
Gadis itu mencoba untuk tenang. Padahal ia tahu jika dirinya
sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Tapi, panik tidak akan
menyelesaikan apa pun. Ia juga tidak akan bisa berpikir dengan jernih jika terjebak
dalam rasa panik. Pikirannya akan kalut. Akan sulit bagi Nhea untuk berdamai
dengan dirinya sendiri setelah semua itu terjadi. Emosi negatif akan beralih
menguasai dirinya. Oleh sebab itu, dalam situasi seperti ini Nhea harus
pandai-pandai dalam mengendalikan dirinya sendiri.
Mungkin saat ini wajahnya terlihat begitu tenang. Sama
sekali tidak menunnjukkan jika ada yang aneh apa lagi sampai sesuatu yang
salah. Nhea terlalu tenang sampai orang mengira jika gadis itu baik-baik saja.
Seolah tidak ada yang terjadi di sini. yang barusan bukan apa-apa.
Orang tidka bisa menilai sesuatu dari yang terlihat saja.
__ADS_1
yang tidak terlihat belum tentu tidak kejadian. Semua asumsi tersebut benar.
Karena saat ini hati dan otak gadis itu sedang tidak sinkron. Ia sedang merasa
kegaduhan dengan dirinya sendiri. Sangat sulit untuk berdamai rasanya.
Kejadian aneh tadi benar-benar membuatnya kebingungan
setengah mati. Sampai-sampai ia harus memutar otak untuk mencari jalan keluar
dari semua permasalahan yang ada. Tapi, sampai sekarang hasilnya tetap saja
nihil. Ia tak tahu harus berbuat apa dan kenapa hal semacam ini bisa terjadi.
“Kenapa kau memakai sarung tangan?” tanya Oliver yang
kebetulan tengah duduk di sebelah gadis itu.
“Udaranya semakin dingin,” bohong
Nhea.
“Lagi pula sedang ada badai di tengah malam,” tukasnya.
Oliver mengangguk paham dengan penjelasna dari gadis itu
barusan. Meski sebenarnya sama sekali tidak ada masalah jika Nhea memakai
sarung tangan. Lagi pula bukan hanya ia satu-satunya orang yang melakukan hal
serupa di sini. Ada banyak orang yang sudah mulai memakai sarung tangannya
karena merasa dingin.
Sementara itu di sisi lain, Hwang Ji Na diam-diam masih
mampu mencuri perhatiannya. Entah kenapa ia berhasil mencuri seluruh perhatian
Hwang Ji Na hingga ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Nhea sedikit
pun. Sepertinya, gadis itu memiliki daya tarik yang cukup besar terhadap
sekitarnya.
Hwang Ji Na kemudian menepuk-nepuk pundak pria yang tengah
berada di sampingnya secara sengaja. Ia melakukan hal tersebut untuk
mendapatkan perhatian dari Chanwo. Pria itu refleks mengalihkan pandangannya ke
arah Hwang Ji Na. Sorot matanya menuntut jawaban.
“Ada apa?” tanya pria itu tanpa mengeluarkan suara sedikit
pun.
Setelah menyadari jika ia berhasil mendapatkan perhatian
dari pria itu, Hwang Ji Na segera berbalik menghadap Chanwo. Sehingga kedua
netra mereka saling bertemu pandang satu sama lain. Tatapan Chanwo masih memiliki
makna yang sama kurang lebih.
“Kau bilang, gadis itu masih memiliki darah manusia di dalam
tubuhnya bukan?” tanya Hwang Ji Na.
Jari telunjuknya mengarah ke arah seseorang yang sedang ia
__ADS_1
maksud dalam kalimatnya barusan. Memangnya siapa lagi jika bukan Nhea.
“Iya,” jawab pria itu dengan apa adanya.
“Kenapa memangnya?” tanya Chanwo balik.
“Apa ada sesuatu yang salah dengannya?” lanjutnya.
Hwang Ji Na mengangguk-anggukkan kepalanya setelah menerima
jawaban yang ia inginkan dari pria itu. Kemudian dengan cepat ia mengubah
gerakan kepalanya menjadi menggeleng ketika Chanwo bertanya alasan gadis itu. Hwang
Ji Na bukan tidak tahu soal jawabannya. Melainkan ia hanya sedang tidak ingin
memperpanjang obrolan mereka saat ini. Menurutnya, alasan tersebut tidak
terlalu penting. Bukan itu poin penting yang menjadi sorotannya di sini
sekarang. Tapi, ada hal lain yang jauh lebih penting dari semua itu baginya. Hwang
Ji Na tidak bisa menceritakan semua itu kepada sembarang orang. Sekalipun terhadap
Chanwo. Selama belum ada kepastian soal asumsinya, Hwang Ji Na tidak akan
membeberkan sisi pikirannya sendiri.
“Bukan apa-apa,” dalih Hwang Ji Na.
“Apa kau sedang berusaha untuk menyembunyikan sesuatu
dariku?” tanya Chanwo untuk memastikan.
Hwang Ji Na menggeleng dengan cepat untuk menepis pernyataan
dari pria itu. Yang baru saja diucapkan oleh Chanwo sama sekali tidak benar. Dia
sedang mengada-ngada.
“Kalau begitu, kenapa kau bertanya soal Nhea?” tanya Chanwo.
“Ah, jadi namanya Nhea?” tanya Hwang Ji Na balik.
Sepertinya Chanwo telah menyebutkan nama itu sebelumnya saatia
bertanya soal siapa gadis itu sebelum mereka memulai perjalanan tadi. Tapi,
sepertinya daya ingat Hwang Ji Na memang tidak terlalu bagus belakangan ini. Ia
menjadi sering melupakan banyak hal. Mulai dari yang paling sepele hingga yang
paling penting. Dia menyama ratakan semuanya dengan begitu saja.
Chanwo hanya bisa menghela napas dengan kasar. Ia sama
sekali tidak habis pikir dengan gadis itu. Chanwo sudah kehabisan kata-kata. Ia
sampai bungun harus berbuat apa dengan Hwang Ji Na. Hari ini gadis itu
benar-benar menguji kesabarannya.
“Lupakan saja kalau begitu!” celetuk Chanwo dengan nada
bicara yang jauh lebih tinggi dari biasanya.
Kelihatannya pria itu sedang kesal. Tapi Hwang Ji Na tetap
mengacuhkannya begitu saja.
__ADS_1