
“Kenapa ia tak ingin menunjukkan wajahnya sama sekali kepadaku?” tanya Eun Ji Hae pada dirinya sendiri.
“Apa ia sebenarnya wajahnya itu buruk rupa? Tapi kurasa tak begitu, ku pikir ia adalah seorang lelaki yang sangat tampan” gumamnya dalam hati.
Eun Ji Hae baru menyadari jika ternyata dirinya bisa terbang dan melayang di udara tanpa perlu berubah sama sekali. Ia tak harus berubah menjadi seekor Phoenix, hanya agar bisa mendapatkan kekuatan sebagai seorang penyihir setengah Phoenix. Meskipun gadis itu pada nyatanya tetap menawan dalam bentuk apapun itu. Mau saat ia sebagai seorang manusia biasa, atau hanya seekor Phoenix. Pesona kedua wujudnya itu sama-sama memikat hati siapa saja yang melihatnya.
“Apa kau sudah selesai dengan urusanmu?” tanya Vallery.
“Kenapa lama sekali?” sambung Wilson yang ikut menimpali ucapan istrinya tersebut.
“Kalian bisa pergi lebih dulu tanpa harus menungguku, itu bukan masalah,” balas EunJi Hae dengan begitu santai.
“Kami tak bisa meninggalkanmu begitu saja,” ujar Vallery sambil merangkul pundak anaknya tersebut.
“Ya, itu benar. Sudah terlalu lama kami tak melihatmu dan sekarang kami tak akan membiarkanmu menghilang lagi. Kami tak ingin kau pergi meninggalkan aku dan Vallery untuk yang kedua kalinya,” jelas Wilson dengan panjang lebar.
Kekhawatiran terggambar dengan jelas di wajah keduannya. Ketakutan akan kehilangan itu belum sepenuhnya membuat mereka lupa. Justru hal itu adalah satu-satunya ketakutan terbesar mereka untuk saat ini dan selamanya.
__ADS_1
Kepergian dan kehilangan tak pernah menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi semua orang. Karena manusia tak pernah benar-benar siap untuk hal tersebut. Kepergian dan kehilangan adalah hal terburuk yang tak pernah diimpikan setiap orang, meski pada kenyataannya sesuatu yang mengerikan itu pasti terjadi. Kehilangan selalu hadir jika pertemuan menyapa lebih dulu. Kepergian justru akan datang secara tiba-tiba tanpa pernah diduga sebelumnya.
Terkadang dunia ini tak seindah yang kita pikirkan sebalumnya. Ada banyak hal indah yang tak bisa terwujud, karena selalu bertentangan dengan semesta. Ada beberapa harapan baik yang hanya akan selalu menjadi puing-puing harapan. Tak semua harap bisa semesta wujudkan, karena dunia tak sanggup jika menerima jutaan semoga setiap harinya.
“Kalian harusnya mencegah Nhea yang entah kapan ia akan pergi,” ujar Eun Ji Hae.
“Sebaiknya kita bergegas ke sana sebelum terlambat,” balas Vallery.
Tanpa pikir lama lagi, mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda tersebut. Ada sebuah jiwa yang telah menunggu mereka. Menunggu untuk diselamatkan dari jurang kegelapan yang nyaris tak memberi sedikitpun warna di kehidupannya. Sudah berhari-hari ia terjebak di sana, dan sekarang sudah saatnya jjiwa itu kembali ke raga pemiliknya.
‘Syut…’
Tak ada seorangpun yang mengetahuia ataupun menyadari hal ini. Pria ini jauh lebih cerdik dan licik daripada manusia biasa. Jalan pikirannya selalu tak bisa untuk ditebak, ia punya jutaan taktik yang pasti akan berhasil. Pria ini telah menyatu dengan Eun Ji Hae, menjelma menjadi sebuah bayangan yang berjalan tepat di belakannya. Berkamuflase dan menyatu dengan bayangan orang lain bukanlah hal yang asing lagi baginya. Itu karena hanya kaum kegelapan yang bisa melakukan hal semacam itu.
Kaum bayangan yang terusir dari bangsanya dan memilih untuk mengasing di dalam hutan yang gelap gulita tersebut. Kaum yang terdiri atas dua klan di dalamnya dan dipimpim oleh seorang pangeran dari keturunan kaln vampire dan klan bayangan. Orang yang sedang ku maksud sekarang ini adalah Chanwo.
Ternyata Chanwo benar-benar keluar dari tempat itu untuk pertama kalinya. Pria itu melawan takdirnya sendiri, demi mengejar gadis itu. Hanya sebuah keyakinan yang membuatnya tetap bertahan hingga saat ini. Dengan sedikit kebaikan yang ia lakukan sekarang ini, akan mengubah banyak hal di dalam hidupnya. Untuk saat ini Chanwo tak ingin jika Eun Ji Hae mengetahui tentang jati dirinya. Atau mungkin tak akan dibiarkan tahu untuk selamanya.
__ADS_1
Aku lupa menceritakan satu hal tentang Chanwo di bab sebelumnya. Ada satu hal lagi yang perlu kalian tahu tentang pria ini sebelumnya. Chanwo adalah putera pertama dari seorang wanita vampir dan laki-laki terhormat dari klan bayangan. Itu sebabnya dia adalah sosok vampire yang begitu istimewa. Chanwo mewarisi dua darah dari kedua klan tersebut secara sekaligus. Pria itu yaris sempurna di kalangan kaumnya, dan memang pantas untuk diangkat sebagai seorang pemimpin.
Meskipun Chanwo tahu jika matahari adalah ancamamn terbesar baginya, yang tak segan-segan membunuhnya jika sampai pria itu ceroboh sedikit saja. Tapi Chanwo selalu yakin jika Eun Ji Hae akan melindunginya, sama seperti ia melindungi gadis tersebut. Itu sebabnya pria itu selalu berjalan di balik bayang-bayang Eun Ji Hae, agar sinar matahari tak mampu menusuk kedua bola matanya. Caahaya jingga keemasan itu pernah membunuh ayah dan ibunya, sehingga membuat dua orang yang sangat berarti bagi Chanwo itu harus pergi untuk selamanya.
“Aku bisa saja membuat gadis yang sedang terancam nyawanya itu selamat dengan caraku,” gumamnya pelan.
“Tapi aku tak yakin jika kalian siap untuk hal itu,” lanjutnya.
“Siapa itu?!” Teriak Eun Ji Hae di tengah perjalanan.
Sesekali gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, untuk melihat siap kiranya yang sedang mengawasinya saat ini. Namun Eun Ji Hae tak menemukan apa-apa selain beberapa burung berukuran kecil yang terbang bersama kawanannya di langit biru. Chanwo langsung menutup mulutnya rapat-rapat, ia tak ingin jika penyamarannya terbongkar sekarang.
Nyaris saja kecerobohannya itu membuatnya terusir di tengah perjalanan. Ternyata indera pendengaran Eun Ji Hae tajam juga. Ia bisa mendengar suara dengan frekuensi sekecil itu, yang seharusnya tak bisa didengar olehnya sama sekali. Memang dasar Chanwo saja yang ceroboh, kenapa ia tak menguccapkan kalimmat barusan di dalam hati saja. Biasanya ia juga begitu, dasar saja.
“Ada apa Ji Hae?” tanya Vallery yang saat itu yang telah terbang beberapa jarak di depannya.
“Tidak apa-apa bu, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan saja,” jawab Eun Ji Hae yang dengan segera mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
“Sepertinya tadi aku hanya salah dengar saja. Tidak ada apa-apa juga,” gumamnya pelan, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal tersebut.
Eun Ji Hae di buat kebingungan dengan kejadian barusan. Padahal ia sangat yakin jika tadi ia mendengar suara seseorang yang sedang berbicara.