Mooneta High School

Mooneta High School
The Girls


__ADS_3

Karena salju mendadak turun, mau tak mau mereka harus menepi


ke tempat yang jauh lebih aman terlebih dahulu. Ketiganya memutuskan untuk


pergi ke salah satu lorong yang mengarah langsung ke aula. Ada beberapa tempat


duduk yang kosong si sana. Kebetulan memang sedng tidak ada orang karena tidak


ada kegiatan apa pun yang sedang berlangsung kala itu. Semua orang sedang sibuk


dengan urusannya masing-masing.


Hwang Ji Na belum sempat menjelaskan apa pun tadi. Masih


sampai pembukaan saja. Ada hal yang jauh lebih penting setelahnya. Dan Eun Ji


Hae belum sempat mendengar hal tersebut hanya karena salju turun lebih awal.


“Biar aku lanjutkan kembali yang tadi,” ujar Hwang Ji Na


yang kemudian ikut diangguki oleh Eun Ji Hae.


Di sisi lain, Chanwo sendiri tampak mulai jenuh. Ia tidak


tertarik sama sekali dengan topik pembicaraan kedua gadis yang berada di


sebelahnya ini. Chanwo berharap agar Hwang Ji Na segera menuntaskan urusannya


dengan Eun Ji Hae sehingga mereka bisa langsung pergi meninggalkan Reodal dan


kembali ke kerajaan. Kali ini ia lebih memilih untuk mengabulkan permintaan


Hwang Ji Na yang sebelumnya. Hal itu pula yang sekaligus menjadi tujuan utama Hwang


Ji Na untuk rela datang ke tempat ini.


Chanwo mulai berubah pikiran setelah beberapa hari


setelahnya. Ia tidak bisa mengambil keputusan secara spontan. Padahal seorang


pemimpin dituntut untuk bisa mengambil keputusan secara tepat dan cepat. Tapi,


berbeda dengan pemimpin kaum kegelapan yang satu ini.


Ia sadar jika selama ini dirinya hanya dimanfaatkan secara


tidak langsung. Setelah sekian banyak kejadian yang menimpa akademi sihir


Mooneta, Chanwo takut jika keberadaannya akan terancam. Mereka bisa saja


menuduh pria ini yang tidak-tidak. Terutama Wilson. Ia akan menjadi sasaran


empuk bagi pria itu.


Dari pada mati sia-sia di tangan orang-orang tak berguna


itu, lebih baik ia pergi lebih dulu untuk menyelamatkan diri. Mungkin Chanwo


akan terkesan seperti seorang pengecut di mata orang lain. Tapi, pria itu lebih


menganggap rencana melarikan diri ini sebagai cara paling aman untuk


menyelamatkan diri. Iya, benar. Dia memang egois. Bukan hanya Chanwo saja.


Setiap orang memiliki sisi egoisnya masing-masing. Baik itu disadari atau tidak


sama sekali.

__ADS_1


***


Eun Ji Hae terkejut bukan main saat Hwang Ji Na membeberkan


sebuah fakta kepadanya. Kedua bola mata gadis itu membulat dengan sempurna


pertanda ia masih tak percaya.


“Sejak kapan pria ini menjadi salah satu siswa di sekolah


kami?” tanya Eun Ji Hae sambil melongo tak percaya.


“Aku tidak tahu sejak kapan. Yang jelas, ia sudah menjadi


siswa akademi sihir Mooneta secara resmi saat aku sampai. Chanwo menolak untuk


kembali ke istana karena alasan tersebut,” jelas Hwang Ji Na dengan panjang


lebar.


“Mana pernah aku mengatakan tidak mau kembali ke istana


karena alasan yang satu itu!” bantah Chanwo dengan segera.


Pada akhirnya pria itu buka suara juga. Ia melakukannya


karena terpaksa. Jika Chanwo tidak menepis perkataan Hwang Ji Na tadi, pasti


akan terjadi kesalahpahaman dan masalahnya akan semakin melebar kemana-mana. Seperti


yang semua orang tahu jika ia tak ingin berlama-lama lagi di tempat ini. Reodal


tak membuatnya nyaman seperti saat di Mooneta dulu. Rasanya berbeda saja. Sulit


untuk dijelaskan jika ada yang bertanya apa perbedaannya.


“Jadi, apa yang dikatakan oleh Hwang Ji Na tadi benar?”


“Kalau iya kenapa?” tanya pria itu balik.


“Apa kau sudah gila?!” seru gadis itu.


“Apa yang kau lakukan di akademi sihir?!” sarkasnya.


Chanwo hanya bisa berdecak sebal. Eun Ji Hae terlalu


antusias untuk membongkar semuanya hari ini. Chanwo sama sekali tidak pernah


menduga jika Hwang Ji Na akan membawanya sampai sejauh ini.


“Bukan apa-apa,” jawab Chanwo secara gamblang.


“Tunggu dulu, bagaimana bisa kau keluar dari hutan itu?


Bukankah kau tidak bisa terkena paparan sinar matahari? Itu adalah ketakutan


terbesarmu selama ini bukan?” tanya Eun Ji Hae sekali lagi untuk memastikan.


“Aku sudah melewati batas,” ungkap pria itu.


“Ku rasa aku tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi di sini.


hanya itu yang bisa ku katakan,” jelas Chanwo kemudian.


“Selesaikan urusan kalian berdua dengan cepat. Aku akan


menunggu di pintu gerbang,” pesan pria itu kepada Hwang Ji Na.

__ADS_1


Ia sudah muak untuk berlama-lama di tempat ini bersama


mereka berdua. Terutama Eun Ji Hae. Kenapa gadis itu ingin tahu tentang setiap


hal yang bahkan ia sendiri tidak memiliki hak atas itu. Serakah adalah kata


yang paling tepat untuk mendeskripsikan sifatnya saat ini.


Chanwo pergi meninggalkan keduanya. Ia memilih untuk


memberikan ruang dan waktu kepada Hwang Ji Na. Sehingga gadis itu bisa


menyelesaikan urusannya dengan cepat tanpa perlu ada hambatan seperti tadi. Ia


akan membiarkan kedua gadis itu saling bercengkrama satu sama lain untuk yang terakhir


kkalinya sebelum mereka benar-benar berpisah. Setelah ini Hwang Ji Na tidak


akan bisa bertemu dengan Eun Ji Hae lagi. Begitu pula sebaliknya.


Karena salju masih turun dengan lebat, Chanwo tidak mungkin


menunggu di depan gerbang. Bisa-bisa ia akan mati kedinginan nantinya. Jadi,


Chanwo memutuskan untuk menunggu di ujugn lorong saja. Ia masih bisa mengawasi


kedua gadis itu dari sini. Jika saja salju tidak turun, pasti ia sudah pergi


jauh. Kemana saja asal tidak berada di sekitar Eun Ji Hae. Entah kenapa gadis


itu mendadak berubah menjadi sosok yang menyebalkan baginya. Yang ia lihat hari


ini bukan Eun Ji Hae yang pernah dikenalnya dahulu.


Di sisi lain, Hwang Ji Na dan Eun Ji Hae memutuskan untuk


tak menghiraukan pria itu. Mereka tidak ingin memusingkan atau bahkan


mempermasalahkan kejadian yang barusan terjadi.


“Pantas saja tadi aku melihatnya memakai baju seragam


Mooneta. Ternyata diam-diam ia telah menjadi salah satu siswa di sekolah kami,”


cicit Eun Ji Hae.


“Aku juga tidak tahu kenapa ia mendadak mengambil keputusan


seperti itu,” ujar Hwang Ji Na dengan apa adanya.


Keduanya sama-sama tidak habis pikir. Entah dorongan macam


apa yang membuat pria ini berubah pikiran seketika dan meninggalkan istana.


Padahal kehidupannya di hutan itu nyaris sempurna. Ia adalah seorang raja yang


memimpin dua klan secara sekaligus. Kehidupan para kaum kegelapan di sana juga


baik-baik saja. Tidak ada masalah apa pun, karena tak ada yang berani mengacau


di hutan terkutuk itu.


Tapi, secara mengejutkan Chanwo


memutuskan untuk meninggalkan istana tanpa alasan yang jelas. Tidak hanya sampai


di situ saja. Ia bahkan mendaftarkan dirinya sebagai salah satu peserta didik

__ADS_1


di akademi sihir Mooneta. Jalan pikirannya sungguh tidak bisa ditebak. Ia penuh


dengan kejutan.


__ADS_2