
Karena salju mendadak turun, mau tak mau mereka harus menepi
ke tempat yang jauh lebih aman terlebih dahulu. Ketiganya memutuskan untuk
pergi ke salah satu lorong yang mengarah langsung ke aula. Ada beberapa tempat
duduk yang kosong si sana. Kebetulan memang sedng tidak ada orang karena tidak
ada kegiatan apa pun yang sedang berlangsung kala itu. Semua orang sedang sibuk
dengan urusannya masing-masing.
Hwang Ji Na belum sempat menjelaskan apa pun tadi. Masih
sampai pembukaan saja. Ada hal yang jauh lebih penting setelahnya. Dan Eun Ji
Hae belum sempat mendengar hal tersebut hanya karena salju turun lebih awal.
“Biar aku lanjutkan kembali yang tadi,” ujar Hwang Ji Na
yang kemudian ikut diangguki oleh Eun Ji Hae.
Di sisi lain, Chanwo sendiri tampak mulai jenuh. Ia tidak
tertarik sama sekali dengan topik pembicaraan kedua gadis yang berada di
sebelahnya ini. Chanwo berharap agar Hwang Ji Na segera menuntaskan urusannya
dengan Eun Ji Hae sehingga mereka bisa langsung pergi meninggalkan Reodal dan
kembali ke kerajaan. Kali ini ia lebih memilih untuk mengabulkan permintaan
Hwang Ji Na yang sebelumnya. Hal itu pula yang sekaligus menjadi tujuan utama Hwang
Ji Na untuk rela datang ke tempat ini.
Chanwo mulai berubah pikiran setelah beberapa hari
setelahnya. Ia tidak bisa mengambil keputusan secara spontan. Padahal seorang
pemimpin dituntut untuk bisa mengambil keputusan secara tepat dan cepat. Tapi,
berbeda dengan pemimpin kaum kegelapan yang satu ini.
Ia sadar jika selama ini dirinya hanya dimanfaatkan secara
tidak langsung. Setelah sekian banyak kejadian yang menimpa akademi sihir
Mooneta, Chanwo takut jika keberadaannya akan terancam. Mereka bisa saja
menuduh pria ini yang tidak-tidak. Terutama Wilson. Ia akan menjadi sasaran
empuk bagi pria itu.
Dari pada mati sia-sia di tangan orang-orang tak berguna
itu, lebih baik ia pergi lebih dulu untuk menyelamatkan diri. Mungkin Chanwo
akan terkesan seperti seorang pengecut di mata orang lain. Tapi, pria itu lebih
menganggap rencana melarikan diri ini sebagai cara paling aman untuk
menyelamatkan diri. Iya, benar. Dia memang egois. Bukan hanya Chanwo saja.
Setiap orang memiliki sisi egoisnya masing-masing. Baik itu disadari atau tidak
sama sekali.
__ADS_1
***
Eun Ji Hae terkejut bukan main saat Hwang Ji Na membeberkan
sebuah fakta kepadanya. Kedua bola mata gadis itu membulat dengan sempurna
pertanda ia masih tak percaya.
“Sejak kapan pria ini menjadi salah satu siswa di sekolah
kami?” tanya Eun Ji Hae sambil melongo tak percaya.
“Aku tidak tahu sejak kapan. Yang jelas, ia sudah menjadi
siswa akademi sihir Mooneta secara resmi saat aku sampai. Chanwo menolak untuk
kembali ke istana karena alasan tersebut,” jelas Hwang Ji Na dengan panjang
lebar.
“Mana pernah aku mengatakan tidak mau kembali ke istana
karena alasan yang satu itu!” bantah Chanwo dengan segera.
Pada akhirnya pria itu buka suara juga. Ia melakukannya
karena terpaksa. Jika Chanwo tidak menepis perkataan Hwang Ji Na tadi, pasti
akan terjadi kesalahpahaman dan masalahnya akan semakin melebar kemana-mana. Seperti
yang semua orang tahu jika ia tak ingin berlama-lama lagi di tempat ini. Reodal
tak membuatnya nyaman seperti saat di Mooneta dulu. Rasanya berbeda saja. Sulit
untuk dijelaskan jika ada yang bertanya apa perbedaannya.
“Jadi, apa yang dikatakan oleh Hwang Ji Na tadi benar?”
“Kalau iya kenapa?” tanya pria itu balik.
“Apa kau sudah gila?!” seru gadis itu.
“Apa yang kau lakukan di akademi sihir?!” sarkasnya.
Chanwo hanya bisa berdecak sebal. Eun Ji Hae terlalu
antusias untuk membongkar semuanya hari ini. Chanwo sama sekali tidak pernah
menduga jika Hwang Ji Na akan membawanya sampai sejauh ini.
“Bukan apa-apa,” jawab Chanwo secara gamblang.
“Tunggu dulu, bagaimana bisa kau keluar dari hutan itu?
Bukankah kau tidak bisa terkena paparan sinar matahari? Itu adalah ketakutan
terbesarmu selama ini bukan?” tanya Eun Ji Hae sekali lagi untuk memastikan.
“Aku sudah melewati batas,” ungkap pria itu.
“Ku rasa aku tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi di sini.
hanya itu yang bisa ku katakan,” jelas Chanwo kemudian.
“Selesaikan urusan kalian berdua dengan cepat. Aku akan
menunggu di pintu gerbang,” pesan pria itu kepada Hwang Ji Na.
__ADS_1
Ia sudah muak untuk berlama-lama di tempat ini bersama
mereka berdua. Terutama Eun Ji Hae. Kenapa gadis itu ingin tahu tentang setiap
hal yang bahkan ia sendiri tidak memiliki hak atas itu. Serakah adalah kata
yang paling tepat untuk mendeskripsikan sifatnya saat ini.
Chanwo pergi meninggalkan keduanya. Ia memilih untuk
memberikan ruang dan waktu kepada Hwang Ji Na. Sehingga gadis itu bisa
menyelesaikan urusannya dengan cepat tanpa perlu ada hambatan seperti tadi. Ia
akan membiarkan kedua gadis itu saling bercengkrama satu sama lain untuk yang terakhir
kkalinya sebelum mereka benar-benar berpisah. Setelah ini Hwang Ji Na tidak
akan bisa bertemu dengan Eun Ji Hae lagi. Begitu pula sebaliknya.
Karena salju masih turun dengan lebat, Chanwo tidak mungkin
menunggu di depan gerbang. Bisa-bisa ia akan mati kedinginan nantinya. Jadi,
Chanwo memutuskan untuk menunggu di ujugn lorong saja. Ia masih bisa mengawasi
kedua gadis itu dari sini. Jika saja salju tidak turun, pasti ia sudah pergi
jauh. Kemana saja asal tidak berada di sekitar Eun Ji Hae. Entah kenapa gadis
itu mendadak berubah menjadi sosok yang menyebalkan baginya. Yang ia lihat hari
ini bukan Eun Ji Hae yang pernah dikenalnya dahulu.
Di sisi lain, Hwang Ji Na dan Eun Ji Hae memutuskan untuk
tak menghiraukan pria itu. Mereka tidak ingin memusingkan atau bahkan
mempermasalahkan kejadian yang barusan terjadi.
“Pantas saja tadi aku melihatnya memakai baju seragam
Mooneta. Ternyata diam-diam ia telah menjadi salah satu siswa di sekolah kami,”
cicit Eun Ji Hae.
“Aku juga tidak tahu kenapa ia mendadak mengambil keputusan
seperti itu,” ujar Hwang Ji Na dengan apa adanya.
Keduanya sama-sama tidak habis pikir. Entah dorongan macam
apa yang membuat pria ini berubah pikiran seketika dan meninggalkan istana.
Padahal kehidupannya di hutan itu nyaris sempurna. Ia adalah seorang raja yang
memimpin dua klan secara sekaligus. Kehidupan para kaum kegelapan di sana juga
baik-baik saja. Tidak ada masalah apa pun, karena tak ada yang berani mengacau
di hutan terkutuk itu.
Tapi, secara mengejutkan Chanwo
memutuskan untuk meninggalkan istana tanpa alasan yang jelas. Tidak hanya sampai
di situ saja. Ia bahkan mendaftarkan dirinya sebagai salah satu peserta didik
__ADS_1
di akademi sihir Mooneta. Jalan pikirannya sungguh tidak bisa ditebak. Ia penuh
dengan kejutan.