
Secara tak sengaja kedua bola matanya berhasil menangkap
sesosok wanita paruh baya. Ia berdiri tepat di bawah pohon yang berada di
lereng bukit. Nhea bisa melihatnya dengan jelas. Sebab, saat ini posisinya
berada di atas bukti. Jadi, otomatis ia bisa mengawasi dari segala arah.
Nhea memicingkan matanya. Otaknya menolak untuk percaya,
jika pada akhirnya memang ada seseorang di sini. Ia tidak sendirian lagi.
Mungkin wanita tersebut sedikit banyaknya pasti bisa membantu.
Tanpa pikir panjang lagi, Nhea bergegas untuk menghampiri
wanita tersebut. Sampai saat ini mungkin ia sama sekalibelum menyadari
keberadaan Nhea di sekitarnya. Pasalnya, wanita itu tampak begitu tenang. Tidak
ada kecemasan yang tersirat sedikit pun melalui raut wajahnya.
Nhea memantapkan diri untuk menghampiri wanita tersebut. Menurutnya,
wanita itu adalah satu-satunya jalan keluar dari sini. Jika pun memang tidak
tahu jalan keluarnya, itu berarti mereka akan sama-sama terjebak di sini. Jauh lebih
baik daripada Nhea harus terjebak di tempat misterius ini sendirian. Setidaknya,
dengan begini mereka bisa berbagi rasa sakit dan berbagai penderitaan lainnya.
“Permisi!” sahut Nhea sambil menepuk pundak wanita itu
pelan.
Ia bersikap dengan sangat hati-hati. Berusaha untuk
__ADS_1
mengurangi masalah semaksimal mungkin.
Seseorang yang diajak bicara, spontan berbalik. Ia mendapati
Nhea yang ternyata sudah berdiri di belakangnya, entah sejak kapan. Namun,
tampaknya wanita itu sama sekali tidak ingin memberikan respon berupa balasan
dalam bentuk kalimat apa pun. Bahasa tubuhnya dirasa sudah cukup untuk membalas
semua itu.
“Bolehkan aku bertanya beberapa hal kepadamu nyonya?” tanya
Nhea dengan ragu.
“Tentu saja! Kenapa tidak?” balas wanita tersebut dengan
sangat antusias.
Mendengar jawaban seperti itu berhasil membuat Nhea bernapas
“Memangnya hal macam apa yang mau kau tanyakan kepadaku?”
tanya wanita itu balik.
Nhea tidak langsung menjawabnya. Melainkan, ia berdeham
beberapa kali untuk mengurangi rasa gugupnya sekaligs menetralisir suasana.
“Jadi, begini. Aku tersesat,” ungkapnya secara
terang-terngangan.
“Seseorang membawaku ke sini di saat aku tidak sadarkan
diri. Saat terbangun, aku mendapati diriku sudah berada di bukit. Ku kira
__ADS_1
awalnya tidak ada orang sama sekali di tempat ini. Tapi, ternyata dugaanku
salah,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.
“Jadi, bisakah kau membantuku untuk menemukan jalan keluar
dari tempat ini?” tanya Nhea.
“Aku harus segera kembali,” lanjutnya.
Nhea menunggu jawaban dari wanita itu dengan harap-harap
cemas. Untuk kali ini ia sungguh berharap agar Dewi Fortuna kembali berpihak
kepadanya. Beberapa hari belakangan, Nhea selalu saja ditimpah dengan kesulitan
yang datang tanpa jeda sama sekali. Ia bahkan tidak diberikan waktu untuk
menarik napas sedikit pun.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Nhea, wanita itu tidak
langsung menjawab. Ia tampak berpikir dulu sejenak. Mencerna setiap perkataan
yang meluncur keluar dari mulutnya. Butuh pertimbangan baginya untuk
memutuskan. Meski menolong orang lain bukanlah suatu keputusan yang perlu
melewati proses pertimbangan rumit.
Wanita tersebut melemparkan pandangannya ke arah Nhea. Sorot
matanya penuh makna, tapi tidak bisa ditangkap dengan jelas apa artinya.
Sementara itu di sisi lain, Nhea yang merasa kurang siap dengan jawaban yang
akan diberikan lantas menggigit bibir bawahnya. Ia gugup. Tak siap dengan
__ADS_1
jawabannya. Bagaimana jika ternyata malah berbanding terbalik dari apa yang
telah ia rencanakan selama ini?