Mooneta High School

Mooneta High School
Misterious Lady


__ADS_3

Secara tak sengaja kedua bola matanya berhasil menangkap


sesosok wanita paruh baya. Ia berdiri tepat di bawah pohon yang berada di


lereng bukit. Nhea bisa melihatnya dengan jelas. Sebab, saat ini posisinya


berada di atas bukti. Jadi, otomatis ia bisa mengawasi dari segala arah.


Nhea memicingkan matanya. Otaknya menolak untuk percaya,


jika pada akhirnya memang ada seseorang di sini. Ia tidak sendirian lagi.


Mungkin wanita tersebut sedikit banyaknya pasti bisa membantu.


Tanpa pikir panjang lagi, Nhea bergegas untuk menghampiri


wanita tersebut. Sampai saat ini mungkin ia sama sekalibelum menyadari


keberadaan Nhea di sekitarnya. Pasalnya, wanita itu tampak begitu tenang. Tidak


ada kecemasan yang tersirat sedikit pun melalui raut wajahnya.


Nhea memantapkan diri untuk menghampiri wanita tersebut. Menurutnya,


wanita itu adalah satu-satunya jalan keluar dari sini. Jika pun memang tidak


tahu jalan keluarnya, itu berarti mereka akan sama-sama terjebak di sini. Jauh lebih


baik daripada Nhea harus terjebak di tempat misterius ini sendirian. Setidaknya,


dengan begini mereka bisa berbagi rasa sakit dan berbagai penderitaan lainnya.


“Permisi!” sahut Nhea sambil menepuk pundak wanita itu


pelan.


Ia bersikap dengan sangat hati-hati. Berusaha untuk

__ADS_1


mengurangi masalah semaksimal mungkin.


Seseorang yang diajak bicara, spontan berbalik. Ia mendapati


Nhea yang ternyata sudah berdiri di belakangnya, entah sejak kapan. Namun,


tampaknya wanita itu sama sekali tidak ingin memberikan respon berupa balasan


dalam bentuk kalimat apa pun. Bahasa tubuhnya dirasa sudah cukup untuk membalas


semua itu.


“Bolehkan aku bertanya beberapa hal kepadamu nyonya?” tanya


Nhea dengan ragu.


“Tentu saja! Kenapa tidak?” balas wanita tersebut dengan


sangat antusias.


Mendengar jawaban seperti itu berhasil membuat Nhea bernapas


“Memangnya hal macam apa yang mau kau tanyakan kepadaku?”


tanya wanita itu balik.


Nhea tidak langsung menjawabnya. Melainkan, ia berdeham


beberapa kali untuk mengurangi rasa gugupnya sekaligs menetralisir suasana.


“Jadi, begini. Aku tersesat,” ungkapnya secara


terang-terngangan.


“Seseorang membawaku ke sini di saat aku tidak sadarkan


diri. Saat terbangun, aku mendapati diriku sudah berada di bukit. Ku kira

__ADS_1


awalnya tidak ada orang sama sekali di tempat ini. Tapi, ternyata dugaanku


salah,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.


“Jadi, bisakah kau membantuku untuk menemukan jalan keluar


dari tempat ini?” tanya Nhea.


“Aku harus segera kembali,” lanjutnya.


Nhea menunggu jawaban dari wanita itu dengan harap-harap


cemas. Untuk kali ini ia sungguh berharap agar Dewi Fortuna kembali berpihak


kepadanya. Beberapa hari belakangan, Nhea selalu saja ditimpah dengan kesulitan


yang datang tanpa jeda sama sekali. Ia bahkan tidak diberikan waktu untuk


menarik napas sedikit pun.


Setelah mendengarkan penjelasan dari Nhea, wanita itu tidak


langsung menjawab. Ia tampak berpikir dulu sejenak. Mencerna setiap perkataan


yang meluncur keluar dari mulutnya. Butuh pertimbangan baginya untuk


memutuskan. Meski menolong orang lain bukanlah suatu keputusan yang perlu


melewati proses pertimbangan rumit.


Wanita tersebut melemparkan pandangannya ke arah Nhea. Sorot


matanya penuh makna, tapi tidak bisa ditangkap dengan jelas apa artinya.


Sementara itu di sisi lain, Nhea yang merasa kurang siap dengan jawaban yang


akan diberikan lantas menggigit bibir bawahnya. Ia gugup. Tak siap dengan

__ADS_1


jawabannya. Bagaimana jika ternyata malah berbanding terbalik dari apa yang


telah ia rencanakan selama ini?


__ADS_2