
Nhea dan Oliver terpaksa harus berpisah pada saat latihan.
Nyaris seperti itu setiap hari. Karena mereka telah terdaftar namanya dalam
cabang perlombaan yang berbeda. Seperti yang diketahui oleh banyak orang, jika setiap
cabang perlombaan akan menyelenggarakan latihan di tempat terpisah. Beberapa
mungkin latihan di luar ruangan. Seperti panahan contohnya. Sementara itu,
sisanya dilakukan di dalam ruangan. Termasuk Oliver yang mengiktui cabang lomba
mantra. Tidak bisa dipungkiri jika mereka perlu konsentrasi tinggi untuk
merapalkan mantra.
Mereka semua berada di tempat yang terpisah untuk saat ini.
Latihan akan langsung dimulai begitu mereka selesai sarapan. Kemudian akan
selesai setelah beberapa menit mendekati jam makan siang. Latihan hanya akan
berlangsung selama satu kali saja dalam sehari.
Nhea sudah memutuskan untuk tidak membuat janji temu dengan
Jang Eunbi sebelumnya. Mereka akan langsung bertemu begitu sampai di arena
latihan. Lagipula tidak ada gunanya saling menunggu di tempat tertentu. Hanya akan
buang-buang waktu saja.
Gadis itu langsung menuju halaman belakang untuk bergabung bersama dengan teman-temannya yang
lain. Mereka pasti sudah berada di sana sejak tadi. Memang latihannya tidak
akan langsung dimulai. Mereka baru akan latihan begitu peserta lengkap, atau
paling tidak jam sudah menunjukkan waktu yang seharusnya.
Nhea memutuskan untuk pergi lebih dulu. Meninggalkan Oliver
yang masih bersiap dai dalam kamar. Bukan masalah yang terlalu serius. Malah
tidak perlu dipermasalahkan sama sekali. Mereka dituntut untuk bertindak dengan
cepat. Tidak boleh datang terlambat ke arena latihan. Dengan kata lain sama
saja dengan harus tepat waktu.
Sama seperti kebanyakan orang, mereka tentu akan melakukan
pemanasan terlabih dahulu sebelum benar –benar berlatih.
Sekarang Nhea sudah berada di lapangan belakang asrama
bersama beberapa orang lainnya. Ada sekitar dua puluh orang yang diikut
sertakan dalam cabang perlombaan yang satu ini. Sudah termasuk dengan Jang Eunbi
tentunya. Ternyata kepindahan gadis itu kemari tidak hanya mengejutkan Nhea
saja. Tapi, juga menggemparkan seluruh peserta latihan memanah.
Nhea mendengar ada banyak desas-desus di antara teman-teman
satu timnya saat ini. Tentu saja mereka sedang membicarakan tentang Jang Eunbi.
Memangnya siapa lagi. Gadis itu telah banyak menyita perhatian sejak berita
soal kepindahannya ke departemen lain dalam waktu yang terkesan mendadak
__ADS_1
tersebar luas. Tidak perlu waktu lama bagi mereka untuuk menyebarkan informasi
tersebut hingga ke penjuru akademi.
“Omong-omong, dimana Jang Eunbi? Apa dia belum datang?”
tanya Nhea kepada salah satu temannya.
“Apa dia sungguh-sungguh akan pindah ke departemen kita?”
tanya gadis itu balik.
Nhea hanya bisa membalasnya dengan anggukan untuk mengiyakan
perkataan temannya tadi. Sebenarnya dia tidak tahu betul. Gadis itu sama sekali
tidak bisa memastikan apakah Jang Eunbi benar-benar akan pindah ke departemen
mereka. Ia sendiri sejauh ini hanya mendengar desas-desus begitu saja. Tapi, karena
dari awal Oliver sudah menjelaskan semua itu kepadanya, maka tidak ada alasan
lagi untuk tidak percaya. Oliver tidak pernah menyembunyikan sesuatu darinya
sejauh ini. Mungkin Nhea memang sempat kehilangan rasa percaya kepada gadis itu
sebelumnya. Tapi, kejadian yang hari ini adalah sebuah pengecualian.
Benar juga. Sudah hampir beberapa menit sejak Nhea pertama
kali sampai ke sini, tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda jika Jang Eunbi
akan tiba. Sejak tadi pagi gadis itu sama sekali tidak menampakkan batang
hidungnya. Bahkan Nhea saja tidak dapat menemuinya pada saat acara jamuan makan
tadi. Padahal mereka semua berada di dalam ruangan yang sama. Tidak ada sekat
pembatas sama sekali. Mungkin Jang Eunbi berada di tempat terpisah dan
Entahlah, hubungan mereka akhir-akhir ini memang tidak
pernah sebaik dulu lagi. Tapi setidaknya mereka sudah berbaikan sejak kejadian
di hari itu. Keadaan sama sekali tidak pernah menjadi jauh lebih buruk dari
pada itu setelahnya. Permintaan maaf yang sempat ia lontarkan beberapa saat
lalu ternyata memang cukup membantu. Padahal sebenarnya Nhea sudah memaafkan
mereka semua. Bahkan tanpa perlu meminta maaf.
Sejadk hari dimana mereka tak lagi seperti dulu, ada banyak
hal yang berubah. Jang Eunbi mulai membatasi interaksinya terhadap orang-orang.
Bukan hanya memberi jarak kepada Nhea saja. Bahkan orang lain juga. Entahlah,
ia seperti menghindar secara sengaja dari keramaian. Mengasingkan dirinya dari
hiruk pikuk suasana.
“Apakah semua orang sudah berkumpul di sini?” tanya salah
satu orang yang baru saja datang. Ternyata itu adalah guru yang selama ini
bertindak sebagai pelatih mereka.
Kalimat barusan berhasil membuat isi kepala Nhea buyar
seketika. Lagi-lagi ia melamun. Memikirkan hal yang tidak perlu dipikirkan sama
__ADS_1
sekali.
“Jang Eunbi belum sampai di sini Bu!” sahut salah satu siswa
yang berinisiatif untuk menjawab pertanyaan tersebut.
“Jang Eunbi?” gumamnya.
“Ah! Apakah dia siswa yang baru dipindahkan ke departemen
ini beberapa saat yang lalu?” tanya guru tersebut yang kemudian mendapatkan
anggukan dari para siswa.
“Tadi aku tidak sengaja bertemu dengannya di gedung utama.
Katanya ia akan pergi menemui Nyonya kepala sekolah,” ungkap wanita itu secara
gamblang.
“Kelihatannya mereka ada urusan mendadak yang cukup penting
untuk dibicarakan. Nyonya Ga Eun pasti adalah orang yang memintanya untuk
datang ke sana setelah acara jamuan makan,” jelasnya dengan panjang lebar.
Para siswa lainnya yang mendengarkan hanya bisa mengangguk
pelan untuk mengiyakan perkataan wanita tersebut. Mereka tidak bisa memberika
reaksi lebih dari itu. Bahkan mereka tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Latihan hari ini langsung dimulai tanpa Jang Eunbi sama
sekali. Guru meminta mereka untuk tetap melanjutkan latihan seperti biasanya.
Gaids itu akan segera menyusul nantinya. Lagipula ia sudah berpesan kepada Jang
Eunbi untuk langsung datang ke arena latihan setelah menyelesaikan urusannya
dengan Bibi Ga Eun.
“Pertama-tama, apakah kalian sudah melakukan pemanasaan
sebelumnya?” tanya sang guru.
“Belum Bu!” balas seluruh siswa secara bersamaan.
Mendapati pertanyaan seperti itu, wanita tersebut hanya bisa
menghela napasnya dengan pasrah. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Mendadak
lidahnya kelu. Ia kehabisan stok kata-kata hanya dalam waktu beberapa menit
saja.
“Baiklah, kalau begitu lakukan pemanasan terlebih dahulu,”
ujar wanita tersebut.
“Aku akan memberikan kalian waktu selama sepuluh menit,”
lanjutnya sebelum beralih ke tepi lapangan.
“Seharusnya itu cukup bagi mereka untuk merenggangkan
seluruh otot yang ada di tubuhnya,” gumamnya.
Ini bukan pertama kalinya bagi mereka untuk melakukan
pemanasan. Hampir setiap hari mereka selalu melakukan hal yang sama sebelum
__ADS_1
memulai latihan. Jadi, anak-anak ini tidak perlu dibimbing lagi untuk melakukan
pemanasan. Mereka sudah tahu apa-apa saja yang perlu dilakukan dan tidak.