Mooneta High School

Mooneta High School
Rest Area


__ADS_3

Setelah dibiarkan semalaman, bukannya membaik malah sebaliknya. Nhea bahkan sudah tidak bisa merasakan tangannya sendiri saat ini. Mati rasa lebih tepatnya. Hampir membeku dan sudah membiru. Kondisinya jelas lebih parah dari pada sebelumnya.


Nhea tidak bisa berkata apa-apa lagi. Realsinya masih sama. Ia tidak bisa berekspresi terlalu banyak. Sebab, orang-orang yang berada di sekitarnya pasti bertanya-tanya. Sejauh ini ia masih merahasiakan soal hal tersebut dari semua orang.


Tak ingin membuat orang lain merasa curiga apalagi sampai khawatir, gadis itu segera memasang kembali sarung tangannya. Satu-satunya alasan kenapa gadis itu selalu memakai sarung tangan akhir-akhir ini hanya satu. Yaitu, ia ingin menutupi kebenaran yang ada.


Nhea tidak bisa terus-terusan bersikap egois dan keras kepala seperti ini. Bagaimana pun juga, ia tetap akan membutihkan banyuan orang lain. Gadis itu tak bisa mengatasi semuanya sendirian. Ia tidak sekuat itu dan masalahnya juga tidak sederhana seperti yang mereka bayangkan selama ini.


Tangan Nhea harus segera diobati. Jika tidak, maka kondisinya akan semakin parah. Ia harus melakukan sesuatu dalam waktu dekat ini. Minimal memberitahu orang-orang yang ia percaya soal penyakit yang dideritanya. Akan terlalu bahaya jika diacuhkan begitu saja. Efek jangka panjangnya bisa bertahan lama.


Jika tidak bisa disembuhkan secara langsung dan dalam waktu yang singkat, setidaknya bisa diringankan gejalanya dengan cara berkonsultasi. Tidak ada salahnya jika ia mencoba terlebih dahulu. Diam tidak akan menyelesaikan masalah. Ia tetap harus bertindak untuk menemukan jalan keluar.

__ADS_1


"Perhatian semuanya!" teriak Eun Ji Hae dari depan sana.


Gadis itu berhasil memecah keriuhan suasana. Lagi-lagi ia mencuri perhatian semua orang. Saat ini seluruh mata hanya tertuju kepadanya. Tidak ada yang lain lagi. Sejauh ini Eun Ji Hae memang terasa cukup mendominasi.


"Kita akan tetap berada di sini selama beberapa jam ke depan. Kalian bisa memanfaatkan waktu untuk makan atau sebagainya," jelas Eun Ji Hae.


Tidak ada seorangpun yang berniat untuk menjawab atau bahkan menanggapi kalimatnya barusan. Menurut mereka, semua itu telah pas. Tidak ada yang perlu ditambah-tambahi lagi. Lagi pula, ini adalah kesempatan bagus bagi mereka. Akhirnya, ada banyak waktu luang yang tersedia. Mereka bisa melakukan apa saja yang mereka mau. Termasuk beristirahat sepuasnya. Tidak akan ada yang melarang. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk mengumpulkan tenaga mereka kembali, sebelum pada akhirnya harus melanjutkan perjalanan lagi.


"Andai ada sebuah kereta cepat yang bisa kita gunakan untul sampai ke sana," ujar Nhea.


Jang Eunbi yang duduk di sebelahnya, lantas segera menoleh ke arah gadis itum Ekspresinya datar, tapi memiliki maksud tertentu. Sulit untuk dideskripsikan begitu saja hanya dengan kata-kata.

__ADS_1


"Kita tidak harus berjalan kaki seperti ini! Sungguh melelahkan!" celotehnya dengan panjang lebar.


Jang Eunbi masih tetap bergeming. Ia enggan untuk menanggapi perkataan Nhea barusan. Tidak ada alasan yang pasti. Hanya sedang tidak maj saja.


"Kenapa kau menatapku dengan seperti itu?" tanya Nhea kebingungan.


"Apa ada yang salah denganku?" timpalnya.


"Ah, tidak!" tepis Jang Eunbi dengan cepat.


"Lupakan saja!" tukasnya.

__ADS_1


__ADS_2