
Chanwo sudah berdiri di ujung anak tangga sejak tadi.
Menunggu orang yang dimaksud turun ke bawah. Tadi, ia tampak masih sibuk
berbincang dengan seseorang yang diyakini sebagai temannya. Mereka tidak
sengaja berpapasan saat akan melewati koridor yang sama dan memutuskan untuk
bercengkrama sebentar. Tenang saja. Chanwo sama sekali tidak merasa keberatan
jika harus menunggu pria itu.
“Baiklah, sampai jumpa lagi!” pamit Jongdae yang memutuskan
untuk pergi lebih dulu.
Ia kembali melanjutkan perjalanannya. Namun, lagi-lagi
langkahnya kembali berhenti saat sampai di dekat tangga yang menghubungkan
antara lantai satu dengan lantai yang berada di atasnya. Jingdae mendapati
seorang pria yang tengah menatapnya dengan tajam. Bahkan sorot matanya cukup
untuk melukai iris Jongdae.
Tak ingin ambil pusing soal hal tersebut sendirian, Jongdae
lantas bergegas menuruni tangga untuk menghampiri pria itu. Mereka memang bukan
teman dekat. Tapi, setidaknya sudah saling mengenal satu sama lain. Mereka
berdua bertemu hampir setiap hari. Bahkan, Jongdae bisa mengenali wajah baru
itu dengan cepat.
“Apa yang kau lakukan di sini sendirian?” tanya Jongdae
sambil mengerutkan dahinya.
Sementara I tu, Chanwo tidak langsung menjawab. Ia masih
tetap bergeming untuk beberapa saat.
“Bisa kita bicara sebentar?” tanya Chanwo balik.
“Hanya kita berdua saja. Empat mata!” tegasnya sekali lagi.
Tak ingin membuang-buang waktu lebih lama lagi, Jongdae
segera mengiyakan perkataan pria itu. Lagipula dia memang tidak bisa
berlama-lama di sini. Ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan. Tadi,
Jongdae hanya ingin memastikan apakah benar jika ada siswa yang sakit.
Pasalnya, tadi ia menerima laporan seperti itu dari salah satu teman sekamarnya.
Kemungkinan besar ia tidak akan masuk kelas nanti malam. Tapi, bisa berbeda
ceritanya jika ia sudah merasa jauh lebih baik.
Chanwo mengajak pria ini untuk pergi ke ujung koridor.
Terdapat sebuah jendela besar di sana. Cukup untuk mendapatkan pasokan oksigen,
serta sinar matahari yang melimpah saat pagi. Karena, jendela ini menghadap
langsung kea rah timur. Tempat dimana matahari keluar dari sangkarnya setiap
pagi.
Chanwo menyandarkan punggungnya pada salah satu sisi
dinding. Membiarkan angina sepoi-sepoi mengelus halus surai hitamnya. Sementara
__ADS_1
itu, Jongdae langsung mengambil tempat tepat di sebelah pria itu. Bahkan, ia
akan tetap melakukannya tanpa diminta sama sekali.
“Jadi, apa yang membawamu kemari untuk menemuiku?” tanya Jongdae.
Ia memilih untuk buka suara lebih dulu. Keheningan di antara
mereka berdua tidak akan berakhir sebelum salah satunya bertindak.
Lagi-lagi, Chanwo tidak langsung menjawab pertanyaan pria
itu. Dia memilih untuk mengulur waktu secara sengaja. Membuat Jongdae terjebak
dalam situasi yang jelas tidak ia inginkan. Chanwo berdeham beberapa kali untuk
menetralisir suasananya.
“Seperti yang kukatakan sebelumnya, jika aku memiliki
beberapa hal yang perlu dibicarakan secara pribadi,” ungkap Chanwo sekali lagi.
“Apa itu tentang asrama? Kau ingin menyampaikan keluhan?”
tanya Jongdae untuk memastikan jika tebakannya benar.
“Katakan saja. Nanti akan kuteruskan keluhanmu kepada pihak
yang penanggung jawab gedung,” lanjutnya.
“Bukan,” balas Chanwo dengan singkat. Sontak ia berhasil
mematahkan semua asumsi pria itu sebelumnya.
Mendapati jawaban yang sama sekali tidak sesuai dengan
ekspektasinya barusan, Jongdae lantas mengerutkan dahinya. Kedua alis pria itu
tampak saling bertautan satu sama lain. Tergambar dengan jelas dari ekspresinya
jika ia sedang dilanda kebingungan.
jadi mari langsung ke intinya saja,” ujar Jongdae tak sabaran.
“Baiklah, jika memang itu yang kau mau,” balas Chanwo asuh
tak acuh.
Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada. Melemparkan
tatapan sinis yang sulit untuk dijelaskan. Atmosfir tempat ini mendadak berubah
menjadi mencekam, seiring dengan perubahan emosi Chanwo. Tidak bisa dipungkiri
jika pria itu memang cukup mengintimidasi lawan bicaranya saat ini. Jongdae
tidak ingin terlihat lemah, meski pertahanannya sudah mulai tidak stabil lagi.
“Sebaiknya, malam ini kau merenungi semua kesalahan yang
telah kau perbuat sejauh ini,” ucap Chanwo dengan penuh penekanan.
“Aku tidak yakin jika harimu akan berjalan menyenangkan.
Kecuali jika kau memang tidak merasa bersalah sama sekali. Itu pun belum tentu
akan menjamin hidupmu akan tenang,” jelas pria itu dengan panjang lebar.
Jongdae masih tetap bergeming. Dia tidak tahu harus bereaksi
bagaimana. Otaknya masih sibuk mencerna perkataan Chanwo barusan. Pemilihan
kata-katanya sedikit sulit untuk dimengerti. Sehingga, mau tak mau membuatnya
terpaksa harus berpikir keras. Kalimat barusan sangat berpotensi untuk
__ADS_1
menimbulkan kesalah pahaman.
Chanwo berdeham untuk memecah keheningan suasana kala itu. Tangannya
beralih ke saku celana miliknya. Pria itu tampak lebih tenang dari pada yang
sebelumnya.
“Sebenarnya hanya itu yang ingin kusampaikan kepadamu,” ujar
Chanwo.
“Sebaiknya kau segera mengambil langkah yang tepat untuk semua
kesalahan itu. Aku tidak mau kau menyesal nantinya,” finalnya sebelum beranjak
dari sana. Tanpa menunggu balasan lebih lanjut lagi dari Jongdae, ia
meninggalkan pria itu begitu saja tepat di belakangnya. Kelihatannya Jongdae
juga tidak ingin mengatakan apa-apa lagi.
Semua perkataan pria itu tadi hanya menyisakan sekian banyak
pertanyaan di dalam benak Jongdae. Dia tidak pernah memahami makna dari kalimat
barusan secara utuh. Entah memang dirinya yang tidak sanggup berpikir lagi,
atau malah penjelasan Chanwo yang terkesan berantakan. Sehingga sulit bagi
orang seperti Jongdae untuk memahaminya.
Selepas kepergian Chaneo dari sana, hanya tersisa Jongdae
yang masih berdiri di depan jendela raksasa itu. Ia masih terpaut terhadap satu
hal yang sama. Kalimat Chanwo barusan sama sekali tidak bisa terlapas dari
dalam pikirannya. Tidak peduli sekeras apa dia telah mencoba. Hasilnya tetap
sama saja.
Pria itu menyandarkan tubuhnya pada salah satu sisi dinding
pembatas ruangan. Membiarkan hawa dingin menyeruak tajam ke dalam pori-porinya.
Pandangannya beralih ke luar. Menatap batas cakrawala.
Ia menarik napasnya dalam-dalam. Memenuhi kedua paru-parunya
dengan pasokan oksigen yang didatangkan langsung dari pegunungan sekitar. Udaranya
masih cukup segar dan belum tercemar sama sekali. Setidaknya, dengan seperti
ini ia bisa jauh lebih tenang daripada sebelumnya.
Untuk sesaat, Jongdae lebih memilih untuk mengesampingkan
semua hal yang memenuhi isi kepalanya saat ini. Pria itu sengaja menunda
beberapa pekerjaannya. Padahal, tadinya ia memiliki ambisi yang begitu besar
utnuk segera menyelesaikannya. Tapi, semua itu bisa berubah dalam beberapa
detik saja.
Kita tidak bisa
menentukan apa yang akan terjadi di masa depan.
Mungkin pepatah kuno yang satu itu cukup cocok untuk
mendeskripsikan apa yang tengah terjadi saat ini. Manusia mungkin bisa
mengusahakan. Tapi, mereka tidak benar-benar tahu apa yang akan mereka lakukan
__ADS_1
di masa depan nantinya. Semua hal memiliki potensi yang sama besar untuk
terjadi.