Mooneta High School

Mooneta High School
Boys Talk


__ADS_3

Chanwo sudah berdiri di ujung anak tangga sejak tadi.


Menunggu orang yang dimaksud turun ke bawah. Tadi, ia tampak masih sibuk


berbincang dengan seseorang yang diyakini sebagai temannya. Mereka tidak


sengaja berpapasan saat akan melewati koridor yang sama dan memutuskan untuk


bercengkrama sebentar. Tenang saja. Chanwo sama sekali tidak merasa keberatan


jika harus menunggu pria itu.


“Baiklah, sampai jumpa lagi!” pamit Jongdae yang memutuskan


untuk pergi lebih dulu.


Ia kembali melanjutkan perjalanannya. Namun, lagi-lagi


langkahnya kembali berhenti saat sampai di dekat tangga yang menghubungkan


antara lantai satu dengan lantai yang berada di atasnya. Jingdae mendapati


seorang pria yang tengah menatapnya dengan tajam. Bahkan sorot matanya cukup


untuk melukai iris Jongdae.


Tak ingin ambil pusing soal hal tersebut sendirian, Jongdae


lantas bergegas menuruni tangga untuk menghampiri pria itu. Mereka memang bukan


teman dekat. Tapi, setidaknya sudah saling mengenal satu sama lain. Mereka


berdua bertemu hampir setiap hari. Bahkan, Jongdae bisa mengenali wajah baru


itu dengan cepat.


“Apa yang kau lakukan di sini sendirian?” tanya Jongdae


sambil mengerutkan dahinya.


Sementara I tu, Chanwo tidak langsung menjawab. Ia masih


tetap bergeming untuk beberapa saat.


“Bisa kita bicara sebentar?” tanya Chanwo balik.


“Hanya kita berdua saja. Empat mata!” tegasnya sekali lagi.


Tak ingin membuang-buang waktu lebih lama lagi, Jongdae


segera mengiyakan perkataan pria itu. Lagipula dia memang tidak bisa


berlama-lama di sini. Ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan. Tadi,


Jongdae hanya ingin memastikan apakah benar jika ada siswa yang sakit.


Pasalnya, tadi ia menerima laporan seperti itu dari salah satu teman sekamarnya.


Kemungkinan besar ia tidak akan masuk kelas nanti malam. Tapi, bisa berbeda


ceritanya jika ia sudah merasa jauh lebih baik.


Chanwo mengajak pria ini untuk pergi ke ujung koridor.


Terdapat sebuah jendela besar di sana. Cukup untuk mendapatkan pasokan oksigen,


serta sinar matahari yang melimpah saat pagi. Karena, jendela ini menghadap


langsung kea rah timur. Tempat dimana matahari keluar dari sangkarnya setiap


pagi.


Chanwo menyandarkan punggungnya pada salah satu sisi


dinding. Membiarkan angina sepoi-sepoi mengelus halus surai hitamnya. Sementara

__ADS_1


itu, Jongdae langsung mengambil tempat tepat di sebelah pria itu. Bahkan, ia


akan tetap melakukannya tanpa diminta sama sekali.


“Jadi, apa yang membawamu kemari untuk menemuiku?” tanya Jongdae.


Ia memilih untuk buka suara lebih dulu. Keheningan di antara


mereka berdua tidak akan berakhir sebelum salah satunya bertindak.


Lagi-lagi, Chanwo tidak langsung menjawab pertanyaan pria


itu. Dia memilih untuk mengulur waktu secara sengaja. Membuat Jongdae terjebak


dalam situasi yang jelas tidak ia inginkan. Chanwo berdeham beberapa kali untuk


menetralisir suasananya.


“Seperti yang kukatakan sebelumnya, jika aku memiliki


beberapa hal yang perlu dibicarakan secara pribadi,” ungkap Chanwo sekali lagi.


“Apa itu tentang asrama? Kau ingin menyampaikan keluhan?”


tanya Jongdae untuk memastikan jika tebakannya benar.


“Katakan saja. Nanti akan kuteruskan keluhanmu kepada pihak


yang penanggung jawab gedung,” lanjutnya.


“Bukan,” balas Chanwo dengan singkat. Sontak ia berhasil


mematahkan semua asumsi pria itu sebelumnya.


Mendapati jawaban yang sama sekali tidak sesuai dengan


ekspektasinya barusan, Jongdae lantas mengerutkan dahinya. Kedua alis pria itu


tampak saling bertautan satu sama lain. Tergambar dengan jelas dari ekspresinya


jika ia sedang dilanda kebingungan.


jadi mari langsung ke intinya saja,” ujar Jongdae tak sabaran.


“Baiklah, jika memang itu yang kau mau,” balas Chanwo asuh


tak acuh.


Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada. Melemparkan


tatapan sinis yang sulit untuk dijelaskan. Atmosfir tempat ini mendadak berubah


menjadi mencekam, seiring dengan perubahan emosi Chanwo. Tidak bisa dipungkiri


jika pria itu memang cukup mengintimidasi lawan bicaranya saat ini. Jongdae


tidak ingin terlihat lemah, meski pertahanannya  sudah mulai tidak stabil lagi.


“Sebaiknya, malam ini kau merenungi semua kesalahan yang


telah kau perbuat sejauh ini,” ucap Chanwo dengan penuh penekanan.


“Aku tidak yakin jika harimu akan berjalan menyenangkan.


Kecuali jika kau memang tidak merasa bersalah sama sekali. Itu pun belum tentu


akan menjamin hidupmu akan tenang,” jelas pria itu dengan panjang lebar.


Jongdae masih tetap bergeming. Dia tidak tahu harus bereaksi


bagaimana. Otaknya masih sibuk mencerna perkataan Chanwo barusan. Pemilihan


kata-katanya sedikit sulit untuk dimengerti. Sehingga, mau tak mau membuatnya


terpaksa harus berpikir keras. Kalimat barusan sangat berpotensi untuk

__ADS_1


menimbulkan kesalah pahaman.


Chanwo berdeham untuk memecah keheningan suasana kala itu. Tangannya


beralih ke saku celana miliknya. Pria itu tampak lebih tenang dari pada yang


sebelumnya.


“Sebenarnya hanya itu yang ingin kusampaikan kepadamu,” ujar


Chanwo.


“Sebaiknya kau segera mengambil langkah yang tepat untuk semua


kesalahan itu. Aku tidak mau kau menyesal nantinya,” finalnya sebelum beranjak


dari sana. Tanpa menunggu balasan lebih lanjut lagi dari Jongdae, ia


meninggalkan pria itu begitu saja tepat di belakangnya. Kelihatannya Jongdae


juga tidak ingin mengatakan apa-apa lagi.


Semua perkataan pria itu tadi hanya menyisakan sekian banyak


pertanyaan di dalam benak Jongdae. Dia tidak pernah memahami makna dari kalimat


barusan secara utuh. Entah memang dirinya yang tidak sanggup berpikir lagi,


atau malah penjelasan Chanwo yang terkesan berantakan. Sehingga sulit bagi


orang seperti Jongdae untuk memahaminya.


Selepas kepergian Chaneo dari sana, hanya tersisa Jongdae


yang masih berdiri di depan jendela raksasa itu. Ia masih terpaut terhadap satu


hal yang sama. Kalimat Chanwo barusan sama sekali tidak bisa terlapas dari


dalam pikirannya. Tidak peduli sekeras apa dia telah mencoba. Hasilnya tetap


sama saja.


Pria itu menyandarkan tubuhnya pada salah satu sisi dinding


pembatas ruangan. Membiarkan hawa dingin menyeruak tajam ke dalam pori-porinya.


Pandangannya beralih ke luar. Menatap batas cakrawala.


Ia menarik napasnya dalam-dalam. Memenuhi kedua paru-parunya


dengan pasokan oksigen yang didatangkan langsung dari pegunungan sekitar. Udaranya


masih cukup segar dan belum tercemar sama sekali. Setidaknya, dengan seperti


ini ia bisa jauh lebih tenang daripada sebelumnya.


Untuk sesaat, Jongdae lebih memilih untuk mengesampingkan


semua hal yang memenuhi isi kepalanya saat ini. Pria itu sengaja menunda


beberapa pekerjaannya. Padahal, tadinya ia memiliki ambisi yang begitu besar


utnuk segera menyelesaikannya. Tapi, semua itu bisa berubah dalam beberapa


detik saja.


Kita tidak bisa


menentukan apa yang akan terjadi di masa depan.


Mungkin pepatah kuno yang satu itu cukup cocok untuk


mendeskripsikan apa yang tengah terjadi saat ini. Manusia mungkin bisa


mengusahakan. Tapi, mereka tidak benar-benar tahu apa yang akan mereka lakukan

__ADS_1


di masa depan nantinya. Semua hal memiliki potensi yang sama besar untuk


terjadi.


__ADS_2