Mooneta High School

Mooneta High School
Midnight Task


__ADS_3

Nhea berpamitan lebih dulu dengan yang lainnya. Ia tidak mau


sampai di kamar lewat tengah malam. Kebetulan memang tidak ada siapa-siapa di


sini sekarang. Hanya ada gadis itu seorang. Bahkan Oliver belum kunjung


kembali. Sepertinya hari ini mereka akan bertukar posisi. Jika kemarin Nhea


yang terlambat samppai asrama, sekarang Oliveer akan melakukan hal serupa.


Mungkin Oliver masih berbincang-bincang dengan kedua


temannya yang lain. Padahal mereka bisa melanjutkan topik itu nanti setelah


matahari keluar dari sangkarnya. Sekarang waktunya tidur. Mungkin mereka adalah


satu-satunya orang yang masih berada di gedung sekolah saat ini. Ketika yang


lain sudah mulai masuk ke dalam kamarnya masing-masing. Jangan lupa jika


Jongdae dan Oliver harus melakukan tugas mereka sebagai ketua asrama sebelum


terlelap. Biasanya mereka tak pernah absen untuk mengecek setiap ruangan yang


ada di asrama. Kecuali sedang sakit atau berhalangan, maka orang lain akan


menggantikannya. Selama mereka masih menjabat sebagai ketua asrama, tidak ada


asalan untuk tidak berkeliling dan melakukan pengawasan.


‘TAP! TAP! TAP!’


Suara sol sepatu yang beradu dengan permukaan lantai


terdengar menggema di seluruh penjuru ruangan. Temponya tak menentu. Terkadang


cepat, tapi juga bisa melambat atau bahkan berhenti. Untuk yang kesekian


kalinya, suara yang sama kembali memecah keheningan suasana kala itu.


Eun Ji Hae memang sengaja meminta semua orang untuk tidak


mematikan lenteranya. Setidaknya ia tidak sampai kekurangan cahaya saat


berjalan di koridor. Mengingat di luar sudah gelap, dia memerlukan pasokan


cahaya yang cukup untuk menerangi setiap tempat yang dipijakinya.


Lagi-lagi Eun Ji Hae masih belum tidur sampai pukul segini.


Sama seperti kemarin malam. Sepertinya akhir-akhir ini jam tidur gadis itu


menjadi sedikit berantakan. Ada banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan. Jika


tidak, mungkin akan menumpuk dan malah menyusahkannya. Bibi Ga Eun bukan orang


yang peduli soal hal seperti itu. Dia hanya ingin hasil yang terbaik.


Lingkaran hitam di bawah mata Eun Ji Hae semakin menebal


setiap harinya. Sampai saat ini dia masih menemukan cara untuk menghilangkan


masalah tersebut. Sebenarnya, Eun Ji Hae tidak terlalu mempermasalahkan hal


tersebut. Dia bukan orang yang peduli dengan penampilannya. Tapi, meskipun


begitu tetap saja rasanya mengganggu. Jadi, selama ini yang ia lakukan untuk

__ADS_1


menyembunyikan kantong mata tersebut adalah dengan membubuhkan bubuk mutiara di


bawah matanya. Hal tersebut dipercaya mampu mengurangi noda hitamnya. Walaupun


tidak hilang, setidaknya bisa menutupinya untuk sementara.


Beberapa kali ia sempat menguap. Tak bisa dipungkiri jika saat


ini rasa kantuk mulai menghampirinya. Untung saja Eun Ji Hae masih bisa


bertahan. Setidaknya ia masih bisa membuka kelopak matanya walau hanya segaris.


Eun Ji Hae bertugas untuk mengutip kembali kertas daftar


nama yang sempat ia sebar tadi pagi. Harusnya sekarang sudah terisi penuh. Tanpa


perlu diberi tahu secara rinci pun, anak-anak itu sudah tahu harus diapakan


kertas tersebut. Mereka memang cukup pandai.


Lantai satu telah ia bereskan. Bisa dipastikan jika saat ini


tidak ada lagi kertas yang tersisa di sana. Meskipun sudah bergelut dengan rasa


kantuk tak tertahankan, Eun Ji Hae masih tidak kehilangan fokusnya. Dia bukan


orang yang dikenal ceroboh.


Sekarang ia beralih ke lantai selanjutnya melalui tangga


penghubung antara lantai dasar dengan lantai yang berada di atasnya. Suasana


saat ini benar-benar sepi. Langkah kakinya tak lagi terdengar nyaring karena


diredam oleh sebuah karpet hitam bercorak yang membentang di sepanjang anak


tangga. Sehingga hal tersebut tidak akan terlalu mengganggunya saat ini.


melakukannya tanpa ragu-ragu. Namun, sayangnya tidak ada opsi lain yang bisa ia


pilih. Jadi, mau tak mau Eun Ji Hae harus melakukan hal tersebut.


“Wanita itu benar-benar licik,” umpat Eun Ji Hae secara


terang-terangan.


Kini dia tidak peduli dengan hal tersebut. Lagipula tidak


ada siapa-siapa di sini. Bibi Ga Eun tidak akan menyadari jika gadis itu sedang


mengumpat atas dirinya saat ini. Sekarang ia bisa meluapkan perasaannya dengan


bebas. Selama tidak ada Bibi Ga Eun di sini tidak masalah. Saat ini apsti dia


sedang berada di dalam kamarnya. Terlelap bersama dengan bunga-bunga mimpi.


“Bagaimana bisa ia melimpkahkan semua pekerjaan ini


kepadaku.”


“Ia bahkan tidak berniat untuk membantuku. Paling tidak


membantu setengahnya saja.”


“Aku pasti akan sangat berterima kasih kepadanya.”


Gadis itu terus bermonolog di sepanjang perjalanan. Bahkan

__ADS_1


ia tidak sadar kalau dirinya baru saja menyelesaikan titian tiap anak tangga


yang ia lalui hingga menghantarkannya sampai ke bibir lantai dua. Melihat


lorong yang lengang itu saja sudah membuatnya letih. Membayangkan ia harus


menyusuri lorong sepanjang tiga puluh meter itu yang memuat dua belas kelas di


dalamnya saja pasti melelahkan. Untuk yang kesekian kalinya, Eun Ji Hae kembali


menghela napasnya kasar. Rasanya ia ingin menghilang saja dari muka bumi ini


untuk sementara. Kemudian kembali lagi saat semua masalah sudah selesai dan


situasi kembali normal. Tapi, jika dipikir-pikir sungguh tidak masuk akal juga


sebenarnya.


Dengan langkah berat, ia mulai menguatkan tekadnya untuk


menyusuri lorong yang terbilang tidak pendek ini. Mengumpulkan kembali semua


kertas yang telah tersebar. Ini bukan pekerjaan yang terlampau sulit


sebenarnya. Eun Ji Hae bisa saja melakukannya dengan mudah dan cepat jika


mengerjakannya di waktu yang tepat. Mungkin kinerjanya akan jauh lebih baik


jika ia kembali melakukan hal yang sama besok pagi. Tapi, sudah tidak ada waktu


lagi. Bagaimanapun juga, Bibi Ga Eun memintanya untuk mengunpulkan semua data


itu malam ini. Dispensasi adalah hal yang mustahil untuk diberikan kepada Eun


Ji Hae.


Langkah kaki Eun Ji Hae kembali terhenti di depan kelas A4.


Sebagian besar pelita di dalam ruangan ini masih menyala. Padahal ruangan lain


yang telah ia kunjungi sebelumnya, kebanyakan lenteranya sudah padam


sepenuhnya. Sehingga hanya menyisakan gulita. Tidak ada cahaya yang menyapa


pandangan Eun Ji Hae kecuali cahaya dari lentera di lorong.


Mendapati satu ruangan yang masih terang benderang, Eun Ji


Hae lantas mengernyitkan dahinya. Bertanya-tanya apakah masih ada orang di


dalam yang menggunakan ruangan ini. Tidak mungkin jika masih ada kegiatan


belajar mengajar. Seharusnya sudah selesai sejak beberapa menit yang lalu. Semua


orang sudah kembali ke dalam kamarnya masing-masing. Tapi, sepertinya hal


tersebut adalah sebuah pengecualian bagi seseorang yang tengah berada di dalam


sana.


Tanpa pikir panjang, Eun Ji Hae


segera menarik gerendel pintu yang menyisakan bunyi deritan di antara engsel


yang saling bergesekan satu sama lain.  Tidak


ada jalan lain. Dia perlu memuaskan rasa penasarannya dengan mencari tahu

__ADS_1


jawaban dari pertanyaan yang mendadak muncul di dalam pikirannya secara


tiba-tiba.


__ADS_2