
Nhea berpamitan lebih dulu dengan yang lainnya. Ia tidak mau
sampai di kamar lewat tengah malam. Kebetulan memang tidak ada siapa-siapa di
sini sekarang. Hanya ada gadis itu seorang. Bahkan Oliver belum kunjung
kembali. Sepertinya hari ini mereka akan bertukar posisi. Jika kemarin Nhea
yang terlambat samppai asrama, sekarang Oliveer akan melakukan hal serupa.
Mungkin Oliver masih berbincang-bincang dengan kedua
temannya yang lain. Padahal mereka bisa melanjutkan topik itu nanti setelah
matahari keluar dari sangkarnya. Sekarang waktunya tidur. Mungkin mereka adalah
satu-satunya orang yang masih berada di gedung sekolah saat ini. Ketika yang
lain sudah mulai masuk ke dalam kamarnya masing-masing. Jangan lupa jika
Jongdae dan Oliver harus melakukan tugas mereka sebagai ketua asrama sebelum
terlelap. Biasanya mereka tak pernah absen untuk mengecek setiap ruangan yang
ada di asrama. Kecuali sedang sakit atau berhalangan, maka orang lain akan
menggantikannya. Selama mereka masih menjabat sebagai ketua asrama, tidak ada
asalan untuk tidak berkeliling dan melakukan pengawasan.
‘TAP! TAP! TAP!’
Suara sol sepatu yang beradu dengan permukaan lantai
terdengar menggema di seluruh penjuru ruangan. Temponya tak menentu. Terkadang
cepat, tapi juga bisa melambat atau bahkan berhenti. Untuk yang kesekian
kalinya, suara yang sama kembali memecah keheningan suasana kala itu.
Eun Ji Hae memang sengaja meminta semua orang untuk tidak
mematikan lenteranya. Setidaknya ia tidak sampai kekurangan cahaya saat
berjalan di koridor. Mengingat di luar sudah gelap, dia memerlukan pasokan
cahaya yang cukup untuk menerangi setiap tempat yang dipijakinya.
Lagi-lagi Eun Ji Hae masih belum tidur sampai pukul segini.
Sama seperti kemarin malam. Sepertinya akhir-akhir ini jam tidur gadis itu
menjadi sedikit berantakan. Ada banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan. Jika
tidak, mungkin akan menumpuk dan malah menyusahkannya. Bibi Ga Eun bukan orang
yang peduli soal hal seperti itu. Dia hanya ingin hasil yang terbaik.
Lingkaran hitam di bawah mata Eun Ji Hae semakin menebal
setiap harinya. Sampai saat ini dia masih menemukan cara untuk menghilangkan
masalah tersebut. Sebenarnya, Eun Ji Hae tidak terlalu mempermasalahkan hal
tersebut. Dia bukan orang yang peduli dengan penampilannya. Tapi, meskipun
begitu tetap saja rasanya mengganggu. Jadi, selama ini yang ia lakukan untuk
__ADS_1
menyembunyikan kantong mata tersebut adalah dengan membubuhkan bubuk mutiara di
bawah matanya. Hal tersebut dipercaya mampu mengurangi noda hitamnya. Walaupun
tidak hilang, setidaknya bisa menutupinya untuk sementara.
Beberapa kali ia sempat menguap. Tak bisa dipungkiri jika saat
ini rasa kantuk mulai menghampirinya. Untung saja Eun Ji Hae masih bisa
bertahan. Setidaknya ia masih bisa membuka kelopak matanya walau hanya segaris.
Eun Ji Hae bertugas untuk mengutip kembali kertas daftar
nama yang sempat ia sebar tadi pagi. Harusnya sekarang sudah terisi penuh. Tanpa
perlu diberi tahu secara rinci pun, anak-anak itu sudah tahu harus diapakan
kertas tersebut. Mereka memang cukup pandai.
Lantai satu telah ia bereskan. Bisa dipastikan jika saat ini
tidak ada lagi kertas yang tersisa di sana. Meskipun sudah bergelut dengan rasa
kantuk tak tertahankan, Eun Ji Hae masih tidak kehilangan fokusnya. Dia bukan
orang yang dikenal ceroboh.
Sekarang ia beralih ke lantai selanjutnya melalui tangga
penghubung antara lantai dasar dengan lantai yang berada di atasnya. Suasana
saat ini benar-benar sepi. Langkah kakinya tak lagi terdengar nyaring karena
diredam oleh sebuah karpet hitam bercorak yang membentang di sepanjang anak
tangga. Sehingga hal tersebut tidak akan terlalu mengganggunya saat ini.
melakukannya tanpa ragu-ragu. Namun, sayangnya tidak ada opsi lain yang bisa ia
pilih. Jadi, mau tak mau Eun Ji Hae harus melakukan hal tersebut.
“Wanita itu benar-benar licik,” umpat Eun Ji Hae secara
terang-terangan.
Kini dia tidak peduli dengan hal tersebut. Lagipula tidak
ada siapa-siapa di sini. Bibi Ga Eun tidak akan menyadari jika gadis itu sedang
mengumpat atas dirinya saat ini. Sekarang ia bisa meluapkan perasaannya dengan
bebas. Selama tidak ada Bibi Ga Eun di sini tidak masalah. Saat ini apsti dia
sedang berada di dalam kamarnya. Terlelap bersama dengan bunga-bunga mimpi.
“Bagaimana bisa ia melimpkahkan semua pekerjaan ini
kepadaku.”
“Ia bahkan tidak berniat untuk membantuku. Paling tidak
membantu setengahnya saja.”
“Aku pasti akan sangat berterima kasih kepadanya.”
Gadis itu terus bermonolog di sepanjang perjalanan. Bahkan
__ADS_1
ia tidak sadar kalau dirinya baru saja menyelesaikan titian tiap anak tangga
yang ia lalui hingga menghantarkannya sampai ke bibir lantai dua. Melihat
lorong yang lengang itu saja sudah membuatnya letih. Membayangkan ia harus
menyusuri lorong sepanjang tiga puluh meter itu yang memuat dua belas kelas di
dalamnya saja pasti melelahkan. Untuk yang kesekian kalinya, Eun Ji Hae kembali
menghela napasnya kasar. Rasanya ia ingin menghilang saja dari muka bumi ini
untuk sementara. Kemudian kembali lagi saat semua masalah sudah selesai dan
situasi kembali normal. Tapi, jika dipikir-pikir sungguh tidak masuk akal juga
sebenarnya.
Dengan langkah berat, ia mulai menguatkan tekadnya untuk
menyusuri lorong yang terbilang tidak pendek ini. Mengumpulkan kembali semua
kertas yang telah tersebar. Ini bukan pekerjaan yang terlampau sulit
sebenarnya. Eun Ji Hae bisa saja melakukannya dengan mudah dan cepat jika
mengerjakannya di waktu yang tepat. Mungkin kinerjanya akan jauh lebih baik
jika ia kembali melakukan hal yang sama besok pagi. Tapi, sudah tidak ada waktu
lagi. Bagaimanapun juga, Bibi Ga Eun memintanya untuk mengunpulkan semua data
itu malam ini. Dispensasi adalah hal yang mustahil untuk diberikan kepada Eun
Ji Hae.
Langkah kaki Eun Ji Hae kembali terhenti di depan kelas A4.
Sebagian besar pelita di dalam ruangan ini masih menyala. Padahal ruangan lain
yang telah ia kunjungi sebelumnya, kebanyakan lenteranya sudah padam
sepenuhnya. Sehingga hanya menyisakan gulita. Tidak ada cahaya yang menyapa
pandangan Eun Ji Hae kecuali cahaya dari lentera di lorong.
Mendapati satu ruangan yang masih terang benderang, Eun Ji
Hae lantas mengernyitkan dahinya. Bertanya-tanya apakah masih ada orang di
dalam yang menggunakan ruangan ini. Tidak mungkin jika masih ada kegiatan
belajar mengajar. Seharusnya sudah selesai sejak beberapa menit yang lalu. Semua
orang sudah kembali ke dalam kamarnya masing-masing. Tapi, sepertinya hal
tersebut adalah sebuah pengecualian bagi seseorang yang tengah berada di dalam
sana.
Tanpa pikir panjang, Eun Ji Hae
segera menarik gerendel pintu yang menyisakan bunyi deritan di antara engsel
yang saling bergesekan satu sama lain. Tidak
ada jalan lain. Dia perlu memuaskan rasa penasarannya dengan mencari tahu
__ADS_1
jawaban dari pertanyaan yang mendadak muncul di dalam pikirannya secara
tiba-tiba.