Mooneta High School

Mooneta High School
Bersembunyi


__ADS_3

Bagi Nhea sendiri, sudah bukan sesuatu yang tabu lagi untuk


berkunjung kemari. Meski sebenarnya anggota keluarga pun masih memiliki batasan


tertentu. Tidak setiap saat mereka bisa keluar masuk ruang penyimpanan. Meski seluruh


dari mereka memiliki hak yang sama untuk mengaksesnya.


Namun meski begitu, sepertinya batasan yang satu itu sama sekali


tidak berlaku bagi Nhea. Ia akan tetap melakukan apa pun yang menurutnya benar.


Selagi tidak salah, kenapa harus takut. Setidaknya, nanti gadis ini akan


memiliki sesuatu yang bisa ia andalkan untuk membela dirinya sendiri.


Jika orang lain tidak bisa memberikan pembelaan kepadanya,


maka mau tak mau Nhea yang harus melakukannya sendiri. Terkadang untuk beberapa


hal kita harus terbiasa mandiri. Melakukannya sendiri tanpa harus bergantung


kepada orang lain.


Entah sampai kapan gadis itu akan terus bersembunyi di sini.


Mungkin orang-orang memang tidak ada yang menyadari hal tersebut. Namun, Nhea


perlu kembali ke sana untuk meluruskan kembali semuanya. Jangan sampai ada


kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka. Hal tersebut hanya akan


memperkeruh suasana yang sudah buruk sejak awal.


Mulai merasa bosan dengan aktivitasnya saat ini, Nhea lantas


bangkit dari posisinya. Paling tidak ia harus berdiri untuk meluruskan tulang


punggungnya. Terlalu lama duduk dengan posisi yang terkesan sedikit membungkuk,


juga tidak akan baik bagi kesehatannya.


Kini ia beralih menuju jendela utama. Lebih tepatnya memang


hanya ada satu jendela saja di sini. Tidak lebih. Namun karena ukurannya yang


cukup besar, jumlahnya tidak menjadi masalah. Pihak pengelola gedung utama


sendiri tidak pernah membuka jendela tersebut. Sebab, itu ruang penyimpanan.


Hal buruk mungkin saja terjadi jika jendelanya terbuka.


Mereka hanya mengandalkan beberapa lubang fentilasi, agar


sirkulasi udara di ruangan in tetap tejaga. Meski tidak ada mahluk hidup yang


berdiam diri di dalam sana, pasokan oksigen tetap harus tercukupi. Bukan hanya


itu saja. mereka bahkan juga memikirkan bagaimana agar cahaya matahari bisa


tetap masuk. Tentu tanpa harus membuka jendela tersebut.


“Apa orang-orang belum ada yang kembali?” gumam Nhea.


Kedua bola matanya sibuk mengamati situasi di luar sana.


Tampaknya dugaannya memang benar. Belum ada satu pun dari mereka yang kembali

__ADS_1


ke akademi. Bahkan anggota tim saja belum kembali. Padahal mereka sudah kalah


secara tidak terhormat. Itu berarti, tidak ada lagi urusan di sana. Tidak ada


alasan bagi mereka untuk tetap berlama-lama di pusat kota.


“Sebenarnya apa yang mereka lakukan di sana, hingga betah


berlama-lama seperti itu?” tanya gadis itu kepada dirinya sendiri.


“Kuharap aku tidak ketinggalan informasi apa pun,”


lanjutnya.


Ia sedikit menyesal karena kembali lebih dulu. Sementara


yang lain masih tetap berada di sana. Mungkin Nhea sudah melewatkan begitu


banyak hal. Tapi, di sisi lain ia juga tidak sepenuhnya merasa menyesal. Karena


bagaimanapun juga Nhea perlu waktu untuk berdamai dengan dirinya sendiri.


Bukan pekara yang mudah untuk berkompromi dengan rasa ego.


Terkadang hati dan pikiran sering tak sejalan. Seolah ada dua tim yang saling


bertentangan di dalam satu raga. Itu adalah permasalahan yang paling umum


terjadi.


“Mereka menyimpan mahkotanya pada kotak kaca yang kemudian


diletakkan di ruang penyimpanan. Kau bisa menemukannya di atas rak.”


Untuk yang kesekian kalinya di dalam hari ini, Nhea kembali


memikirkan hal yang sama. Bukan disengaja. Ia bahkan tidak tahu bagaimana


begitu saja. Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Sekarang perhatiannya sudah teralihkan. Ia bergegas menuju


tempat yang dimaksud dan meninggalkan pemandangan dari jendela begitu saja.


Sekarang apa pun yang terjadi di luar sana sudah tidak menjadi pusat


perhatiannya lagi. Ada sesuatu yang jauh lebih menarik. Dan ia perlu mencari


tahu soal itu.


Dengan sedikit berjinjit, kedua bola mata gadis itu berhasil


menangkap salah satu objek di atas sana. Yang kini ia yakini sebagai kotak


penyimpanan mahkota. Dari bawah, memang tampak begitu mengkilap. Sama persis


dengan kebanyakan mahkota pada umumnya.


“Haruskan aku melihatnya lebih dekat?” ujar gadis itu.


Pandangannya mengedar ke seluruh penjuru ruangan untuk


mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk memanjat. Bukan pekara yang mudah


untuk mencapai kotak penyimpanan mahkota tersebut. Sebab ia terletak di bagian


atas lemari penyimpanan. Yang bahkan tingginya saja beberapa centi lebih tinggi

__ADS_1


dari tubuh Nhea.


Ia butuh sesuatu untuk membawanya ke sana. Andai saja


proporsi tubuhnya sedikut lebih tinggi. Minimal seperti Jongdae ataau Chanwo. Maka,


ia pasti tidak perlu bersusah payah untuk memanjat seperti ini. Mungkin dengan


tinggi segitu ia hanya cukup sedikit berjinjit saja. Nhea bisa mencapai kotak


penyimpanan mahkota tersebut dengan mudahnya.


“Ah! Ini dia!” celetuk Nhea dengan semangat.


Kebetulan memang ada sebuah kursi di sana. Sepertinya memang


sudah tidak digunakan lagi. Entah karena apa. Padahal jika dilihat dari bentuk


dan rupanya, terlihat masih begitu layak untuk dipakai. Tidak ada yang rusak. Hanya


sedikit berdebu karena sudah terlalu lama ditinggalkan di sini.


“Apa ini kursi di meja makan?” gumam Nhea sambil mengamati


kursi tersebut.


Jika diperhatikan baik-baik, kelihatannya corak kain alas


tempat duduk kursi ini sama persis dengan yang ada di meja makan. Selain itu,


bentuknya juga sama. Hanya ada satu yang membuatnya berbeda dan tampak lebih


mencolok jika dibandingkan dengan kursi yang berjejer di ruang makan.


Kursi yang ia temui kali ini tampak jauh lebih besar


ukurannya. Selain itu, alas tempat duduknya juga terasa lebih empuk. Pasti tidak


sembarang orang bisa duduk di sini. Hanya orang tertentu saja. Siapa pun itu,


yang jelas ia orang penting dan cukup terhormat di akademi ini.


Terlepas dari semua itu, Nhea tidak ingin memikirkannya


lebih jauh lagi. Lebih tepatnya gadis itu tidak ingin memusingkan sesuatu yang


tidak memiliki kaitan sama sekali dengan hidupnya. Sejak awal ia sudah


berpegang teguh terhadap prinsip tersebut.


Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu segera melepas kedua


alas kakinya. Kemudian dengan mantap berpijak di atas tempat duduk. Setelah memastikan


jika keseimbangannya cukup baik, Nhea memberanikan diri untuk sedikit


berjinjit. Ternyata kursi ini belum cukup untuk membantunya. Masih kurang


tinggi beberapa centi lagi. Mungkin Nhea memang harus lebih rajin lagi


berolahraga untuk menambah tinggi badannya.


“Aku mendapatkannya!” seru Nhea dengan girang.


Gadis itu tampak begitu antusias ketika berhasil mencapai


tujuannya. Padahal yang tercapai baru hal kecil. Bagaimana lagi jika pencapaiannya

__ADS_1


jauh lebih besar. Mungkin reaksi Nhea akan jauh lebih heboh dari yang sekarang.


Bahagia seseorang terkadang bisa didapatkan hanya dari hal yang sederhana saja.


__ADS_2