
Bagi Nhea sendiri, sudah bukan sesuatu yang tabu lagi untuk
berkunjung kemari. Meski sebenarnya anggota keluarga pun masih memiliki batasan
tertentu. Tidak setiap saat mereka bisa keluar masuk ruang penyimpanan. Meski seluruh
dari mereka memiliki hak yang sama untuk mengaksesnya.
Namun meski begitu, sepertinya batasan yang satu itu sama sekali
tidak berlaku bagi Nhea. Ia akan tetap melakukan apa pun yang menurutnya benar.
Selagi tidak salah, kenapa harus takut. Setidaknya, nanti gadis ini akan
memiliki sesuatu yang bisa ia andalkan untuk membela dirinya sendiri.
Jika orang lain tidak bisa memberikan pembelaan kepadanya,
maka mau tak mau Nhea yang harus melakukannya sendiri. Terkadang untuk beberapa
hal kita harus terbiasa mandiri. Melakukannya sendiri tanpa harus bergantung
kepada orang lain.
Entah sampai kapan gadis itu akan terus bersembunyi di sini.
Mungkin orang-orang memang tidak ada yang menyadari hal tersebut. Namun, Nhea
perlu kembali ke sana untuk meluruskan kembali semuanya. Jangan sampai ada
kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka. Hal tersebut hanya akan
memperkeruh suasana yang sudah buruk sejak awal.
Mulai merasa bosan dengan aktivitasnya saat ini, Nhea lantas
bangkit dari posisinya. Paling tidak ia harus berdiri untuk meluruskan tulang
punggungnya. Terlalu lama duduk dengan posisi yang terkesan sedikit membungkuk,
juga tidak akan baik bagi kesehatannya.
Kini ia beralih menuju jendela utama. Lebih tepatnya memang
hanya ada satu jendela saja di sini. Tidak lebih. Namun karena ukurannya yang
cukup besar, jumlahnya tidak menjadi masalah. Pihak pengelola gedung utama
sendiri tidak pernah membuka jendela tersebut. Sebab, itu ruang penyimpanan.
Hal buruk mungkin saja terjadi jika jendelanya terbuka.
Mereka hanya mengandalkan beberapa lubang fentilasi, agar
sirkulasi udara di ruangan in tetap tejaga. Meski tidak ada mahluk hidup yang
berdiam diri di dalam sana, pasokan oksigen tetap harus tercukupi. Bukan hanya
itu saja. mereka bahkan juga memikirkan bagaimana agar cahaya matahari bisa
tetap masuk. Tentu tanpa harus membuka jendela tersebut.
“Apa orang-orang belum ada yang kembali?” gumam Nhea.
Kedua bola matanya sibuk mengamati situasi di luar sana.
Tampaknya dugaannya memang benar. Belum ada satu pun dari mereka yang kembali
__ADS_1
ke akademi. Bahkan anggota tim saja belum kembali. Padahal mereka sudah kalah
secara tidak terhormat. Itu berarti, tidak ada lagi urusan di sana. Tidak ada
alasan bagi mereka untuk tetap berlama-lama di pusat kota.
“Sebenarnya apa yang mereka lakukan di sana, hingga betah
berlama-lama seperti itu?” tanya gadis itu kepada dirinya sendiri.
“Kuharap aku tidak ketinggalan informasi apa pun,”
lanjutnya.
Ia sedikit menyesal karena kembali lebih dulu. Sementara
yang lain masih tetap berada di sana. Mungkin Nhea sudah melewatkan begitu
banyak hal. Tapi, di sisi lain ia juga tidak sepenuhnya merasa menyesal. Karena
bagaimanapun juga Nhea perlu waktu untuk berdamai dengan dirinya sendiri.
Bukan pekara yang mudah untuk berkompromi dengan rasa ego.
Terkadang hati dan pikiran sering tak sejalan. Seolah ada dua tim yang saling
bertentangan di dalam satu raga. Itu adalah permasalahan yang paling umum
terjadi.
“Mereka menyimpan mahkotanya pada kotak kaca yang kemudian
diletakkan di ruang penyimpanan. Kau bisa menemukannya di atas rak.”
Untuk yang kesekian kalinya di dalam hari ini, Nhea kembali
memikirkan hal yang sama. Bukan disengaja. Ia bahkan tidak tahu bagaimana
begitu saja. Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Sekarang perhatiannya sudah teralihkan. Ia bergegas menuju
tempat yang dimaksud dan meninggalkan pemandangan dari jendela begitu saja.
Sekarang apa pun yang terjadi di luar sana sudah tidak menjadi pusat
perhatiannya lagi. Ada sesuatu yang jauh lebih menarik. Dan ia perlu mencari
tahu soal itu.
Dengan sedikit berjinjit, kedua bola mata gadis itu berhasil
menangkap salah satu objek di atas sana. Yang kini ia yakini sebagai kotak
penyimpanan mahkota. Dari bawah, memang tampak begitu mengkilap. Sama persis
dengan kebanyakan mahkota pada umumnya.
“Haruskan aku melihatnya lebih dekat?” ujar gadis itu.
Pandangannya mengedar ke seluruh penjuru ruangan untuk
mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk memanjat. Bukan pekara yang mudah
untuk mencapai kotak penyimpanan mahkota tersebut. Sebab ia terletak di bagian
atas lemari penyimpanan. Yang bahkan tingginya saja beberapa centi lebih tinggi
__ADS_1
dari tubuh Nhea.
Ia butuh sesuatu untuk membawanya ke sana. Andai saja
proporsi tubuhnya sedikut lebih tinggi. Minimal seperti Jongdae ataau Chanwo. Maka,
ia pasti tidak perlu bersusah payah untuk memanjat seperti ini. Mungkin dengan
tinggi segitu ia hanya cukup sedikit berjinjit saja. Nhea bisa mencapai kotak
penyimpanan mahkota tersebut dengan mudahnya.
“Ah! Ini dia!” celetuk Nhea dengan semangat.
Kebetulan memang ada sebuah kursi di sana. Sepertinya memang
sudah tidak digunakan lagi. Entah karena apa. Padahal jika dilihat dari bentuk
dan rupanya, terlihat masih begitu layak untuk dipakai. Tidak ada yang rusak. Hanya
sedikit berdebu karena sudah terlalu lama ditinggalkan di sini.
“Apa ini kursi di meja makan?” gumam Nhea sambil mengamati
kursi tersebut.
Jika diperhatikan baik-baik, kelihatannya corak kain alas
tempat duduk kursi ini sama persis dengan yang ada di meja makan. Selain itu,
bentuknya juga sama. Hanya ada satu yang membuatnya berbeda dan tampak lebih
mencolok jika dibandingkan dengan kursi yang berjejer di ruang makan.
Kursi yang ia temui kali ini tampak jauh lebih besar
ukurannya. Selain itu, alas tempat duduknya juga terasa lebih empuk. Pasti tidak
sembarang orang bisa duduk di sini. Hanya orang tertentu saja. Siapa pun itu,
yang jelas ia orang penting dan cukup terhormat di akademi ini.
Terlepas dari semua itu, Nhea tidak ingin memikirkannya
lebih jauh lagi. Lebih tepatnya gadis itu tidak ingin memusingkan sesuatu yang
tidak memiliki kaitan sama sekali dengan hidupnya. Sejak awal ia sudah
berpegang teguh terhadap prinsip tersebut.
Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu segera melepas kedua
alas kakinya. Kemudian dengan mantap berpijak di atas tempat duduk. Setelah memastikan
jika keseimbangannya cukup baik, Nhea memberanikan diri untuk sedikit
berjinjit. Ternyata kursi ini belum cukup untuk membantunya. Masih kurang
tinggi beberapa centi lagi. Mungkin Nhea memang harus lebih rajin lagi
berolahraga untuk menambah tinggi badannya.
“Aku mendapatkannya!” seru Nhea dengan girang.
Gadis itu tampak begitu antusias ketika berhasil mencapai
tujuannya. Padahal yang tercapai baru hal kecil. Bagaimana lagi jika pencapaiannya
__ADS_1
jauh lebih besar. Mungkin reaksi Nhea akan jauh lebih heboh dari yang sekarang.
Bahagia seseorang terkadang bisa didapatkan hanya dari hal yang sederhana saja.