Mooneta High School

Mooneta High School
Menyusup


__ADS_3

 


 


Pria itu mulai beraksi saat semua orang sudah terlelap. Ia bahkan


tidak mempermasalahkan sama sekali soal hawa dingin yang menyeruak masuk ke


dalam pori-porinya. Akan jauh lebih gawat lagi jika ia tidak bisa menemukan


sesuatu yang bisa membuat badannya tetap terasa hangat. Dengan begitu, maka


pertanda jika hidupnya akan segera berakhir telah muncul. Jika sampai Chanwo


mati karena kedinginan, mungkin ini akan menjadi sejarah baru bagi kaum


kegelapan sekaligus klan vampir. Jika selama ini yang menyebabkan kematian


mereka adalah terbunuh atau terkena paparan sinar matahari, namun untuk pertama


kalinya Chanwo akan menuliskan kisah baru dalam peradaban bangsa mereka. Yaitu seorang


anggota klan yang mati karena membeku dan tidak bisa bertahan hidup menghadapi


terjangan angina kencang sepanjang musim dingin.


Tapi Chanwo tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia tidak


akan mau mati dengan caya yang konyol seperti itu. Setidaknya ia harus tetap


bertahan hidup sampai musim dingin selesai. Kemudian kembali ke tempat asalnya.


Chanwo adalah pria yang kuat. Tidak perlu sebuah pembuktian untuk menyatakan


jika hal tersebut benar. Cukup tatap saja matanya selama beberapa detik dan kau


akan menemukan semua hal yang kau inginkan. Apa pun itu. Sebab, mata merupakan


jendela diri. Orang bisa mengetahui apa pun tentang diri kita hanya melalui


organ yang satu itu.


Malam ini pria itu tidak akan menyerah begitu saja. Ia rela


melakukan segala cara untuk tetap bertahan hidup. Chanwo penuh dengan ambisi


yang membara di dalam dirinya.


“Apa saat ini mereka semua telah tidur?” gumamnya pelans


ambil menyusuri lorong bawah tanah.


Lorong itu akan menghubungkan kandang tempat hewan-hewan


tadi berada dengan lantai dasar gedung sekolah. Tempat ini memiliki empat


bangunan terpisah yang terdiri dari gedung sekolah, gedung utama, dan juga dua


gedung asrama. Namun sebenarnya mereka semua masih tetap saling menyatu dengan


sebuah koridor kecil yang ditempatkan tepat di ujung setiap gedung.


Aula dan ruang makan sendiri terdapat di bagian bawah gedung


utama. Memang benar jika tidak semua orang bisa menginjakkan kaki di tempat


itu. Tapi tempat yang dimaksud di sini adalah lantai paling atas yang merupakan

__ADS_1


tempat tinggal para keluarga sekaligus para petinggi sekolah. Hanya orang-orang


tertentu yang memiliki akses masuk ke sana. Tapi untuk dua lantai pertama, sama


sekali tidak ada larangan bagi mereka untuk memasukinya. Mereka bisa pergi ke


sana kapan pun mereka mau.


Tapi untuk kali ini, Chawo tidak akan pergi ke gedung utama.


Dia tidak akan pernah mendekati tempat itu lagi selama masih ada Wilson di


sana. Pria ini bukan orang bodoh yang akan mendatangi sumber bahaya. Malam ini


ia hanya akan berkeliling di gedung asrama saja. Ia yakin jima murid-murid


pasti memiliki baju hangat di setiap lemarinya masing-masing. Tidak akan ada


masalah jika ia meminjamnya satu. Chanwo akan mengembalikannya begitu musim


dingin selesai. Ia berani berjanji untuk hal yang satu itu.


“Kemana aku harus pergi?” tanya pria itu pada dirinya


sendiri.


“Ke asrama putra atau asrama putri?” gumamnya.


Pria itu menghentikan langkahnya begitu sampai di ujung


lorong yang kini memiliki dua cabang. Yang sebelah kiri mengarah ke gedung


asrama putra. Sementara yang sebelah kanan akan mengarah secara langsung ke


gedung asrama putri.


Entah kenapa ia mendadak jadi bingung seperti ini. Padahal sama


saja. Ia bisa menemukan baju hangat dimana-mana. Tidak ada pengaruhnya sama


sekali mau pria itu pergi ke gedung asrama putra ataupun putri. Keduanya sama


saja.


Pada akhirnya pria itu memutuskan untuk pergi ke gedung


asrama putri. Sudah bisa ditebak kemana ia akan pergi. Tentu saja ke kamar


Nhea. Memangnya kemana lagi. Untuk saat ini hanya gadis itu yang ia kenal


selain Eun Ji Hae. Sebenarnya ia jauh lebih kenal baik dengan Eun Ji Hae. Hubungan


mereka berdua pun sudah jau lebih dekat dari pada Nhea. Tapi, Chanwo tidak


ingin mengambil resiko dengan pergi ke kamar gadis itu lagi. Kemarin saja ia


nyaris tertangkap basa oleh Wilson. Pasalnya, Eun Ji Hae tinggal di gedung


utama. Sedangkan Nhea berada di gedung asrama. Jauh lebih mudah untuk


menjangkau gadis itu dari pada Eun Ji Hae.


Kini Chanwo sudah berada tepat di depan kamar gadis itu. Ia mengedarkan


pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Memastikan jika tidak ada seorang pun


yang sedang menguntitnya saat ini. Setelah merasa benar-benar aman, ia segera

__ADS_1


melangkah masuk ke dalam tanpa ragu sama sekali. Chanwo membuka pintu kamar


Nhea dengan sangat perlahan. Ia tidak mau membuat keributan.


Engsel pintu kamar ini sudah berkarat karena tidak pernah


dirawat sama sekali. Jadi ia harus ekstra hati-hati saat membukanya agar tidak


menimbulkan suara berderit yang bisa mengusik penghuninya. Jika sampai mereka


terbangun, maka gagal sudah rencananya.


“Kenapa ada gadis ini di sini?” batin Chanwo dalam hati.


“Siapa dia?” lanjutnya.


Yang dimaksud oleh pria ini adalh Oliver. Pasalnya, ia sama


sekali belum pernah melihat gadis itu berada di sini sebelumnya. Nhea selalu


sendiri saat ia datang kemari. Tidak ada siapa pun.


“Mungkin dia hanya sedang kebetulan menginap di tempat ini,”


pikirnya.


Chanwo sama sekali tidak mau ambil pusing soal hal itu. Dia langsung


berjalan dengan percaya diri memasuki ruangan itu dan menuju ke arah lemari


baju. Setelah mendapatkan apa yang ia mau, Chanwo langsung berbalik. Ia tidak


mau berlama-lama berada di tempat ini. Bisa-bisa salah satu dari mereka malah


menyadari keberadaan Chanwo.


Tanpa pikir panjang lagi, ia bergegas untuk meninggalkan


tempat itu dengan membawa baju hangat milik yang ia kira miliki Nhea padahal


bukan. Itu adalah miliki Oliver. Gadis itu maasih memiliki beberapa cadangan


baju hangt di dalam lemarinya.


Semua orang juga tahu jika gadis itu datang kemari tanpa


persiapan sama sekali. Semuanya terjadi begitu mendadak, sehingga ia tidak bisa


mempersiapkan apa pun. Tidak satu pun. Termasuk barang-barangnya sendiri. Ia bahkan


lupa untuk membawa baju hangat. Kemarin ia hendak kembali, namun Bibi Ga Eun


melarangnya. Mungkin wanita itu takut jika Nhea malah akan melarikan diri dari


tempat ini karena tidak betah dan tidak akan pernah kembali lagi. Jadi untuk


sementara waktu, Nhea memilih untuk menggunakan baju hangat miliki Oliver.


‘GREP!!!’


Langkah Chanwo mendadak terhenti untuk yang kesekian


kalinya. Kedua bola matanya membulat dengan sempurna saat ia menyadari jika


sebuah tangan berhasil meraih tungkai kakinya. Lebih tepatnya, tangan itu


tengah mencengkram kakinya dengan kuat-kuat. Seolah tidak membiarkan pria itu

__ADS_1


pergi dari sana dengan begitu saja.


__ADS_2