
Pria itu mulai beraksi saat semua orang sudah terlelap. Ia bahkan
tidak mempermasalahkan sama sekali soal hawa dingin yang menyeruak masuk ke
dalam pori-porinya. Akan jauh lebih gawat lagi jika ia tidak bisa menemukan
sesuatu yang bisa membuat badannya tetap terasa hangat. Dengan begitu, maka
pertanda jika hidupnya akan segera berakhir telah muncul. Jika sampai Chanwo
mati karena kedinginan, mungkin ini akan menjadi sejarah baru bagi kaum
kegelapan sekaligus klan vampir. Jika selama ini yang menyebabkan kematian
mereka adalah terbunuh atau terkena paparan sinar matahari, namun untuk pertama
kalinya Chanwo akan menuliskan kisah baru dalam peradaban bangsa mereka. Yaitu seorang
anggota klan yang mati karena membeku dan tidak bisa bertahan hidup menghadapi
terjangan angina kencang sepanjang musim dingin.
Tapi Chanwo tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia tidak
akan mau mati dengan caya yang konyol seperti itu. Setidaknya ia harus tetap
bertahan hidup sampai musim dingin selesai. Kemudian kembali ke tempat asalnya.
Chanwo adalah pria yang kuat. Tidak perlu sebuah pembuktian untuk menyatakan
jika hal tersebut benar. Cukup tatap saja matanya selama beberapa detik dan kau
akan menemukan semua hal yang kau inginkan. Apa pun itu. Sebab, mata merupakan
jendela diri. Orang bisa mengetahui apa pun tentang diri kita hanya melalui
organ yang satu itu.
Malam ini pria itu tidak akan menyerah begitu saja. Ia rela
melakukan segala cara untuk tetap bertahan hidup. Chanwo penuh dengan ambisi
yang membara di dalam dirinya.
“Apa saat ini mereka semua telah tidur?” gumamnya pelans
ambil menyusuri lorong bawah tanah.
Lorong itu akan menghubungkan kandang tempat hewan-hewan
tadi berada dengan lantai dasar gedung sekolah. Tempat ini memiliki empat
bangunan terpisah yang terdiri dari gedung sekolah, gedung utama, dan juga dua
gedung asrama. Namun sebenarnya mereka semua masih tetap saling menyatu dengan
sebuah koridor kecil yang ditempatkan tepat di ujung setiap gedung.
Aula dan ruang makan sendiri terdapat di bagian bawah gedung
utama. Memang benar jika tidak semua orang bisa menginjakkan kaki di tempat
itu. Tapi tempat yang dimaksud di sini adalah lantai paling atas yang merupakan
__ADS_1
tempat tinggal para keluarga sekaligus para petinggi sekolah. Hanya orang-orang
tertentu yang memiliki akses masuk ke sana. Tapi untuk dua lantai pertama, sama
sekali tidak ada larangan bagi mereka untuk memasukinya. Mereka bisa pergi ke
sana kapan pun mereka mau.
Tapi untuk kali ini, Chawo tidak akan pergi ke gedung utama.
Dia tidak akan pernah mendekati tempat itu lagi selama masih ada Wilson di
sana. Pria ini bukan orang bodoh yang akan mendatangi sumber bahaya. Malam ini
ia hanya akan berkeliling di gedung asrama saja. Ia yakin jima murid-murid
pasti memiliki baju hangat di setiap lemarinya masing-masing. Tidak akan ada
masalah jika ia meminjamnya satu. Chanwo akan mengembalikannya begitu musim
dingin selesai. Ia berani berjanji untuk hal yang satu itu.
“Kemana aku harus pergi?” tanya pria itu pada dirinya
sendiri.
“Ke asrama putra atau asrama putri?” gumamnya.
Pria itu menghentikan langkahnya begitu sampai di ujung
lorong yang kini memiliki dua cabang. Yang sebelah kiri mengarah ke gedung
asrama putra. Sementara yang sebelah kanan akan mengarah secara langsung ke
gedung asrama putri.
Entah kenapa ia mendadak jadi bingung seperti ini. Padahal sama
saja. Ia bisa menemukan baju hangat dimana-mana. Tidak ada pengaruhnya sama
sekali mau pria itu pergi ke gedung asrama putra ataupun putri. Keduanya sama
saja.
Pada akhirnya pria itu memutuskan untuk pergi ke gedung
asrama putri. Sudah bisa ditebak kemana ia akan pergi. Tentu saja ke kamar
Nhea. Memangnya kemana lagi. Untuk saat ini hanya gadis itu yang ia kenal
selain Eun Ji Hae. Sebenarnya ia jauh lebih kenal baik dengan Eun Ji Hae. Hubungan
mereka berdua pun sudah jau lebih dekat dari pada Nhea. Tapi, Chanwo tidak
ingin mengambil resiko dengan pergi ke kamar gadis itu lagi. Kemarin saja ia
nyaris tertangkap basa oleh Wilson. Pasalnya, Eun Ji Hae tinggal di gedung
utama. Sedangkan Nhea berada di gedung asrama. Jauh lebih mudah untuk
menjangkau gadis itu dari pada Eun Ji Hae.
Kini Chanwo sudah berada tepat di depan kamar gadis itu. Ia mengedarkan
pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Memastikan jika tidak ada seorang pun
yang sedang menguntitnya saat ini. Setelah merasa benar-benar aman, ia segera
__ADS_1
melangkah masuk ke dalam tanpa ragu sama sekali. Chanwo membuka pintu kamar
Nhea dengan sangat perlahan. Ia tidak mau membuat keributan.
Engsel pintu kamar ini sudah berkarat karena tidak pernah
dirawat sama sekali. Jadi ia harus ekstra hati-hati saat membukanya agar tidak
menimbulkan suara berderit yang bisa mengusik penghuninya. Jika sampai mereka
terbangun, maka gagal sudah rencananya.
“Kenapa ada gadis ini di sini?” batin Chanwo dalam hati.
“Siapa dia?” lanjutnya.
Yang dimaksud oleh pria ini adalh Oliver. Pasalnya, ia sama
sekali belum pernah melihat gadis itu berada di sini sebelumnya. Nhea selalu
sendiri saat ia datang kemari. Tidak ada siapa pun.
“Mungkin dia hanya sedang kebetulan menginap di tempat ini,”
pikirnya.
Chanwo sama sekali tidak mau ambil pusing soal hal itu. Dia langsung
berjalan dengan percaya diri memasuki ruangan itu dan menuju ke arah lemari
baju. Setelah mendapatkan apa yang ia mau, Chanwo langsung berbalik. Ia tidak
mau berlama-lama berada di tempat ini. Bisa-bisa salah satu dari mereka malah
menyadari keberadaan Chanwo.
Tanpa pikir panjang lagi, ia bergegas untuk meninggalkan
tempat itu dengan membawa baju hangat milik yang ia kira miliki Nhea padahal
bukan. Itu adalah miliki Oliver. Gadis itu maasih memiliki beberapa cadangan
baju hangt di dalam lemarinya.
Semua orang juga tahu jika gadis itu datang kemari tanpa
persiapan sama sekali. Semuanya terjadi begitu mendadak, sehingga ia tidak bisa
mempersiapkan apa pun. Tidak satu pun. Termasuk barang-barangnya sendiri. Ia bahkan
lupa untuk membawa baju hangat. Kemarin ia hendak kembali, namun Bibi Ga Eun
melarangnya. Mungkin wanita itu takut jika Nhea malah akan melarikan diri dari
tempat ini karena tidak betah dan tidak akan pernah kembali lagi. Jadi untuk
sementara waktu, Nhea memilih untuk menggunakan baju hangat miliki Oliver.
‘GREP!!!’
Langkah Chanwo mendadak terhenti untuk yang kesekian
kalinya. Kedua bola matanya membulat dengan sempurna saat ia menyadari jika
sebuah tangan berhasil meraih tungkai kakinya. Lebih tepatnya, tangan itu
tengah mencengkram kakinya dengan kuat-kuat. Seolah tidak membiarkan pria itu
__ADS_1
pergi dari sana dengan begitu saja.