
Saat ini semua orang sudah berdiri di posisinya
masing-masing. Bersiap untuk bertanding melawan akademi lain. Yang jelas bukan
Orton atau bahkan Reodal. Biasanya, pada tahap awal seperti ini mereka akan
melawan akademi sihir yang termasuk ke dalam golongan biasa-biasa saja.
Puncaknya adalah ketika ketiga akademi sihir terbesar itu saling bertemu di
babak final.
Jangankan pada babak final. Saat ini saja semua orang sudah
tampak begitu antusias. Tidak sabar melihat bagaimana anak-anak Mooneta
bertanding. Bermain secara lihat dan sportif. Mooneta, Reodal serta Orton
selalu menjadi sorotan pada saat ada acara besar seperti ini.
“Marilah kita sambut, akademi sihir Mooneta!” seru pemandu
acara dari puncak menara pengawas.
Entah ada berapa banyak menara yang tersebar di kota ini.
Yang jelas sangat banyak. Belum termasuk menara yang terletak di akademi sihir
Mooneta.
Suasana semakin memanas di sini. bukan panas karena sinar
matahari lagi. Melainkan karena semangat mereka yang sudah berkobar sejak tadi
pagi dan tidak pernah padam sampai sekarang.
“Kuharap mereka tidak berekspektasi terlalu tinggi kepada
kita,” ujar rekam satu timnya.
Mereka sedang berdiri bersebelahan pada saat itu. Jadi, wajar
saja jika Nhea bisa mendengar semuanya dengan jelas. Tidak peduli seberisik apa
suasana di sana saat ini. Jika dipikir-pikir, sepertinya rongga telinga gadis
ini sudah penuh karena dijejalkan oleh beragam bunyi.
Ia sama sekali tidak berniat untuk menanggapi perkataan
temannya yang satu itu. Lagipula Nhea yakin jika ia hanya asal bicara tadi.
Pria itu sama sekali tidak berniat untuk mengutarakan pernyataannya kepada satu
orang tertentu saja.
Tak ingin ambil pusing soal hal tersebut,Nhea segera
mengalihkan pandangannya kembali. Kali ini bukan ke tribun penonton lagi.
Melainkan ke papan-papan target yang telah disebar pada seluruh penjuru. Tugas mereka
saat ini adalah mencetak nilai sebanyak-banyaknya dengan teknik permainan yang
telah mereka pelajari selama ini. Seharusnya hasilnya tidak akan terlalu
mengecewakan. Setimpal dengan kerja keras yang telah mereka lakukan selama ini.
Tapi, semua kembali lagi kepada takdir. Terkadang kita tidak bisa berharap
lebih pada semesta. Dewi Fortuna tak selalu memihak kita.
Setiap orang telah berdiri pada posisinya masing-masing. Menghadap
langsung ke papan target mereka masing-masing. ini adalah waktu dimana mereka
__ADS_1
harus benar-benar fokus. Tidak boleh sampai lengah. Salah sedikit saja, maka
sudah sulit untuk diperbaiki.
Ketika aba-aba sudah mulai dikumandangkan, Nhea segera
menarik tali busur panahnya. Kedua matanya mengernyit. Berusaha fokus pada
titik tengah yang telah ditargetkan sejak awal. Jika berhasil mencapai titik
itu dengan sempurna, maka nilai yang diperoleh juga akan sempurna.
“Satu! Dua! Tiga!”
‘SYUT!’
Tepat setelah hitungan maju berakhir, saat itu pula Nhea
melepaskan anak panahnya. Sehingga benda ramping tersebut melesat dengan cepat.
Membelah atmosfir yang berada di sekitarnya.
‘JLEB!’
Untuk beberapa saat setelah anak panah menancap secara
sempurna di papan target, Nhea sama sekali belum memberikan reaksi apa pun.
Kedua bola matanya masih terfokus kepada objek yang berada tepat di depannya
saat ini. Ia sibuk mengamati bagaimana bisa bidikannya meleset. Tidak terlalu
jauh memang. Hanya selisih satu poin saja. Tapi, meskipun begitu tetap saja ia
belum merasa puas.
Sebenarnya tidak ada tekanan sama sekali di sini. Bahkan
pelatih mereka sempat menyatakan jika mereka tidak harus menang lagi tahun ini.
adalah hal nomer dua yang akan mereka bicarakan.
Tapi, sepertinya Nhea masih belum bisa mengiplementasikan
hal tersebut secara utuh. Dia terus menuntut dirinya sendiri untuk bersikap
sempurna. Padahal tidak ada yang sempurna di dunia ini. Gadis itu terus saja
bersikap perfeksionis. Ia tak pernah puas dengan hasil kerja kerasnya sendiri.
Beberapa saat setelah penghitungan skor pertama, peluit
kembali berbunyi. Pertanda bahwa mereka harus segera memasuki babak berikutnya.
Beberapa ekor pegasus yang sejak awal sudah berada di tepi lapangan, kini
beralih masuk ke tengah-tengah lapangan. Tanpa pikir panjang lagi, mereka
segera naik ke atas kuda tunggangannya masing-masing. Tantangan pada tahap ini jelas
jauh lebih berat daripada yang sebelumnya. Mereka memang harus memusatlan
perhatiannya secara lebih maksimal lagi kali ini.
Nhea mendapatkan papan target urutan keempat untuk dipanah.
Membidik sambil berada di atas pegasus seperti ini memang bukan sesuatu yang
mudah. Nhea mulai merasa ragu kepada dirinya sendiri. Ini bukan yang pertama
kalinya ia merasa tidak percaya diri dengan kemampuannya. Gadis itu beranggapan
jika hasil di babak awal saja sudah tidak bagus, bagaimana ia akan bisa
melampaui skor yang sudah tercetak sebelumnya.
__ADS_1
‘SYUT!’
‘JLEB!’
Kali ini anak panahnya mendarat dengan baik di papan target.
Meski belum bisa mencapai titik sempurna, setidaknya kali ini Nhea tlah
mencetak skor yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan yang sebelumnya.
“Aww!!!”
Di saat yang bersamaan pula Nhea meringis kesakitan. Secara
tidak sengaja anak panah yang ia lepaskan tadi telah melukainya. Jari telunjuk
kirinya terluka. Meski tidak mengeluarkan darah begitu banyak, tetap saja
terasa sakit.
Ia bahkan tidak sempat mengamati papan targetnya seperti
yang pernah ia lakukan sebelumnya. Luka yang baru saja tercipta itu berhasil
menyita seluruh perhatiannya. Tak lama kemudian pegasus kembali turun ke bawah
atas aba-aba dari pembawa acara.
Untuk sementara Nhea terpaksa harus menahan rasa sakit
tersebut. Mereka tidak bisa langsung meninggalkan arena ini. Juri akan
menghitung skor terlebih dahulu. Kemudian setelah itu mereka baru bisa meninggalkan tempat ini. Tentunya tidak
lupa untuk memberikan salah terlebih dahulu.
Bukan Nhea namanya jika tidak banyak akal. Dia berusaha
untuk menghentikan pendarahan yang terjadi pada lukanya dengan cara melilitkan
pita rambut miliknya. Kebetulan pita itu memang berwarna merah pada dasarnya.
Jadi, jika seandainya terkena noda darah pun tidak akan meninggalkan bekas yang
terlalu mencolok.
Karena lukanya tidak terlalu parah, rasa sakit yang
ditimbulkan juga tidak begitu sakit. Ia masih bisa menahannya dengan bersikap
biasa saja untuk beberapa saat ke depan. Tapi, tetap saja ia harus meninggalkan
tempat ini dengan cepat untuk mengobati lukanya. Jika terlalu lama dibiarkan
tentu akan terjaid infeksi. Setelah kejadian salju abadi kemarin, ia tidak
ingin dirinya terluka lagi.
Di sisi lain Chanwo yang tengah berada di belakang arena
tampaknya berhasil merasakan keberadaan darah itu. Indera penciumannya berhasil
menangkap bau yang tak asing. Sontak kedua mata pria itu langsung membulat
dengan sempurna. Otaknya menolak untuk percaya. Ia berharap jika ini salah.
“Apa aroma darah ini sungguh milik Nhea?” batinnya dalam
hati.
Ia tampak mulai was-was. Pikirannya sudah berkelana. Takut
jika terjadi sesuatu kepada gadis itu. Kemungkinan terburuknya adalah, Nhea
terluka saat sedang bertanding.
__ADS_1