Mooneta High School

Mooneta High School
Our Fight


__ADS_3

Saat ini semua orang sudah berdiri di posisinya


masing-masing. Bersiap untuk bertanding melawan akademi lain. Yang jelas bukan


Orton atau bahkan Reodal. Biasanya, pada tahap awal seperti ini mereka akan


melawan akademi sihir yang termasuk ke dalam golongan biasa-biasa saja.


Puncaknya adalah ketika ketiga akademi sihir terbesar itu saling bertemu di


babak final.


Jangankan pada babak final. Saat ini saja semua orang sudah


tampak begitu antusias. Tidak sabar melihat bagaimana anak-anak Mooneta


bertanding. Bermain secara lihat dan sportif. Mooneta, Reodal serta Orton


selalu menjadi sorotan pada saat ada acara besar seperti ini.


“Marilah kita sambut, akademi sihir Mooneta!” seru pemandu


acara dari puncak menara pengawas.


Entah ada berapa banyak menara yang tersebar di kota ini.


Yang jelas sangat banyak. Belum termasuk menara yang terletak di akademi sihir


Mooneta.


Suasana semakin memanas di sini. bukan panas karena sinar


matahari lagi. Melainkan karena semangat mereka yang sudah berkobar sejak tadi


pagi dan tidak pernah padam sampai sekarang.


“Kuharap mereka tidak berekspektasi terlalu tinggi kepada


kita,” ujar rekam satu timnya.


Mereka sedang berdiri bersebelahan pada saat itu. Jadi, wajar


saja jika Nhea bisa mendengar semuanya dengan jelas. Tidak peduli seberisik apa


suasana di sana saat ini. Jika dipikir-pikir, sepertinya rongga telinga gadis


ini sudah penuh karena dijejalkan oleh beragam bunyi.


Ia sama sekali tidak berniat untuk menanggapi perkataan


temannya yang satu itu. Lagipula Nhea yakin jika ia hanya asal bicara tadi.


Pria itu sama sekali tidak berniat untuk mengutarakan pernyataannya kepada satu


orang tertentu saja.


Tak ingin ambil pusing soal hal tersebut,Nhea segera


mengalihkan pandangannya kembali. Kali ini bukan ke tribun penonton lagi.


Melainkan ke papan-papan target yang telah disebar pada seluruh penjuru. Tugas mereka


saat ini adalah mencetak nilai sebanyak-banyaknya dengan teknik permainan yang


telah mereka pelajari selama ini. Seharusnya hasilnya tidak akan terlalu


mengecewakan. Setimpal dengan kerja keras yang telah mereka lakukan selama ini.


Tapi, semua kembali lagi kepada takdir. Terkadang kita tidak bisa berharap


lebih pada semesta. Dewi Fortuna tak selalu memihak kita.


Setiap orang telah berdiri pada posisinya masing-masing. Menghadap


langsung ke papan target mereka masing-masing. ini adalah waktu dimana mereka

__ADS_1


harus benar-benar fokus. Tidak boleh sampai lengah. Salah sedikit saja, maka


sudah sulit untuk diperbaiki.


Ketika aba-aba sudah mulai dikumandangkan, Nhea segera


menarik tali busur panahnya. Kedua matanya mengernyit. Berusaha fokus pada


titik tengah yang telah ditargetkan sejak awal. Jika berhasil mencapai titik


itu dengan sempurna, maka nilai yang diperoleh juga akan sempurna.


“Satu! Dua! Tiga!”


‘SYUT!’


Tepat setelah hitungan maju berakhir, saat itu pula Nhea


melepaskan anak panahnya. Sehingga benda ramping tersebut melesat dengan cepat.


Membelah atmosfir yang berada di sekitarnya.


‘JLEB!’


Untuk beberapa saat setelah anak panah menancap secara


sempurna di papan target, Nhea sama sekali belum memberikan reaksi apa pun.


Kedua bola matanya masih terfokus kepada objek yang berada tepat di depannya


saat ini. Ia sibuk mengamati bagaimana bisa bidikannya meleset. Tidak terlalu


jauh memang. Hanya selisih satu poin saja. Tapi, meskipun begitu tetap saja ia


belum merasa puas.


Sebenarnya tidak ada tekanan sama sekali di sini. Bahkan


pelatih mereka sempat menyatakan jika mereka tidak harus menang lagi tahun ini.


adalah hal nomer dua yang akan mereka bicarakan.


Tapi, sepertinya Nhea masih belum bisa mengiplementasikan


hal tersebut secara utuh. Dia terus menuntut dirinya sendiri untuk bersikap


sempurna. Padahal tidak ada yang sempurna di dunia ini. Gadis itu terus saja


bersikap perfeksionis. Ia tak pernah puas dengan hasil kerja kerasnya sendiri.


Beberapa saat setelah penghitungan skor pertama, peluit


kembali berbunyi. Pertanda bahwa mereka harus segera memasuki babak berikutnya.


Beberapa ekor pegasus yang sejak awal sudah berada di tepi lapangan, kini


beralih masuk ke tengah-tengah lapangan. Tanpa pikir panjang lagi, mereka


segera naik ke atas kuda tunggangannya masing-masing. Tantangan pada tahap ini jelas


jauh lebih berat daripada yang sebelumnya. Mereka memang harus memusatlan


perhatiannya secara lebih maksimal lagi kali ini.


Nhea mendapatkan papan target urutan keempat untuk dipanah.


Membidik sambil berada di atas pegasus seperti ini memang bukan sesuatu yang


mudah. Nhea mulai merasa ragu kepada dirinya sendiri. Ini bukan yang pertama


kalinya ia merasa tidak percaya diri dengan kemampuannya. Gadis itu beranggapan


jika hasil di babak awal saja sudah tidak bagus, bagaimana ia akan bisa


melampaui skor yang sudah tercetak sebelumnya.

__ADS_1


‘SYUT!’


‘JLEB!’


Kali ini anak panahnya mendarat dengan baik di papan target.


Meski belum bisa mencapai titik sempurna, setidaknya kali ini Nhea tlah


mencetak skor yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan yang sebelumnya.


“Aww!!!”


Di saat yang bersamaan pula Nhea meringis kesakitan. Secara


tidak sengaja anak panah yang ia lepaskan tadi telah melukainya. Jari telunjuk


kirinya terluka. Meski tidak mengeluarkan darah begitu banyak, tetap saja


terasa sakit.


Ia bahkan tidak sempat mengamati papan targetnya seperti


yang pernah ia lakukan sebelumnya. Luka yang baru saja tercipta itu berhasil


menyita seluruh perhatiannya. Tak lama kemudian pegasus kembali turun ke bawah


atas aba-aba dari pembawa acara.


Untuk sementara Nhea terpaksa harus menahan rasa sakit


tersebut. Mereka tidak bisa langsung meninggalkan arena ini. Juri akan


menghitung skor terlebih dahulu. Kemudian setelah itu mereka baru  bisa meninggalkan tempat ini. Tentunya tidak


lupa untuk memberikan salah terlebih dahulu.


Bukan Nhea namanya jika tidak banyak akal. Dia berusaha


untuk menghentikan pendarahan yang terjadi pada lukanya dengan cara melilitkan


pita rambut miliknya. Kebetulan pita itu memang berwarna merah pada dasarnya.


Jadi, jika seandainya terkena noda darah pun tidak akan meninggalkan bekas yang


terlalu mencolok.


Karena lukanya tidak terlalu parah, rasa sakit yang


ditimbulkan juga tidak begitu sakit. Ia masih bisa menahannya dengan bersikap


biasa saja untuk beberapa saat ke depan. Tapi, tetap saja ia harus meninggalkan


tempat ini dengan cepat untuk mengobati lukanya. Jika terlalu lama dibiarkan


tentu akan terjaid infeksi. Setelah kejadian salju abadi kemarin, ia tidak


ingin dirinya terluka lagi.


Di sisi lain Chanwo yang tengah berada di belakang arena


tampaknya berhasil merasakan keberadaan darah itu. Indera penciumannya berhasil


menangkap bau yang tak asing. Sontak kedua mata pria itu langsung membulat


dengan sempurna. Otaknya menolak untuk percaya. Ia berharap jika ini salah.


“Apa aroma darah ini sungguh milik Nhea?” batinnya dalam


hati.


Ia tampak mulai was-was. Pikirannya sudah berkelana. Takut


jika terjadi sesuatu kepada gadis itu. Kemungkinan terburuknya adalah, Nhea


terluka saat sedang bertanding.

__ADS_1


__ADS_2