
Baik Eun Ji Hae maupun golongan tua tetap pada pendiriannya
masing-masing. Mereka sungguh keras kepala dan enggan untuk saling mengalah.
Padahal demi kebaikan bersama juga. Bukankah tujuan mereka selama ini adalah
itu. Keselamatan adalah yang paling penting. Semua orang telah sepakat. Bahkan
sebelum memulai perjalanan sekalipun. Tapi, mendadak hal tersebut berubah
begitu saja pada situasi seperti ini. Pada tetua tidak bisa berdamai dengan ego
mereka masing-masing. lebih tepatnya, mereka tak ingin dicap sebagai pihak yang
salah. Lagi-lagi, faktor usia sebagai tolak ukur kedewasaan telah menciptakan
tuntutan tersebut secara tidak langsung.
Akibat perbedaan pendapat tadi, terciptalah dua kubu dengan
pendirian yang saling bertolak belakang di sini. ada yang memihak kepada Eun Ji
Hae dan ada juga yang jauh lebih setuju dengan pendapat dari tetua. Mereka
harus memilih.
Para tetua tentu memiliki pemikiran yang sama, dibantu
dengan beberapa orang lainnya. Mereka tetap akan menyebrangi lapisan es yang
sudah mulai retak. Entah hal apa yang membuat mereka merasa sangat yakin jika
semua itu tidak ada artinya. Mereka akan tetap selamat meskipun lapisan esnya
sudah retak.
Karena bagaimanapun juga, cara paling cepat untuk sampai di
seberang sana adalah dengan menyebrangi danaunya. Akan memakan terlalu banyak
waktu jika mereka harus menyusuri jalanan yang terdapat di sekitar danau
tersebut.
Sejauh ini, kelompok Eun Ji Hae jauh lebih unggul jika
dibangdingkan dengan para tetua. Anak-anak muda di sini memiliki pikiran yang
cukup panjang untuk ke depannya. Mereka memiliki cara berpikira yang sama
dengan Eun Ji Hae kurang lebih. Ada banyak hal buruk yang mungkin akan terjadi
ke depannya dan kita tidak pernah tahu kapan hal tersebut akan terjadi. Tapi,
setidaknya kita bisa mengantisipasi hal buruk itu. Waspada akan membuatmu aman.
“Kami tidak akan menunggu kalian jika pada akhirnya kami
akan sampai lebih dulu di seberang sana,” ungkap Bibi Ga Eun.
Kalimat yang baru saja ia ucapkan berpotensi untuk membuat perpecahan
di antara warga Sekolah Mooneta.
“Kami akan menyusul nanti. Aku tahu rute jalanannya,” balas
Eun Ji Hae.
Wanita itu hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya untuk
mengiyakan perkataan Eun Ji Hae barusan.
Hampir sebagian besar siswa Mooneta memihak kepada Eun Ji
__ADS_1
Hae. Entah kenapa, merka merasa jauh lebih percaya saja kepada gadis itu. Lagi
pula Eun Ji Hae memang selalu bisa diandalkan. Dia hebat. Semua orang tahu soal
hal itu.
Para tetua memulai perjalanan mereka lebih dulu.
Meninggalkan sisanya jauh di belakang. Mereka melangkah dengan hati-hati. Berusaha
untuk menjaga keseimbangan dengan semaksimal mungkin. Karena selain licin,
lapisan es yang terbentuk di danau ini juga sudah mulai retak. Mereka harus
berhati-hati dan siap jika sewaktu-waktu retakannya semakin melebar.
“Baiklah, bagi kalian yang tersisa, ikut denganku!” perintah
Eun Ji Hae.
Gadis itu mengambil alih lebih dulu. Dia akan memimpin jalan
bagi semua orang kali ini. Dari awal sepertinya Eun Ji Hae memang sudah
ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin sejati. Bahkan Chanwo dan Hwang Ji
Na sendiri berhasil berada di bawah kendalinya kali ini.
Setelah para tetua pergi lebi dulu, Eun Ji Hae dan yang
lainnya baru akan memulai perjalanan mereka. Kemungkinan besar jika mereka akan
sampai jauh lebih lama dari waktu yang telah diperkirakan sebelumnya. lagi pula
hal itu wajar. Mereka yakin jika pihak Sekolah Reodal akan memakslumi hal
tersebut.
Hwang Ji Na dengan berbisik-bisik. Ia tak ingin pembicaraannya didengar oleh
orang lain selain Chanwo.
“Dia dulunya merupakan mantan ketua asrama untuk
angkatannya,” beber pria itu.
“Kalau tidak salah begitu. Aku pernah mendengar soal rumor
tersebut,” lanjutnya.
Hwang Ji Na mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia paham dengan
maksud dari penjelasan pria itu barusan.
“Ku dengar, dia juga merupakan anak dari Vallery dan juga
Wilson. Tapi, sayangnya dia adalah anak angkat. Sekarang Eun Ji Hae adalah
kakak bagi Nhea. Usia mereka memiliki jarak yang cukup jauh,” jelas Chanwo
dengan panjang lebar.
Dari penjelasan yang tadi, sepertinya sudah berhasil mencakup
semuua hal. Sehingga Eun Ji Hae tidak memiliki kesempatan untuk bertanya lagi.
Semua hal yang terasa mengganjal di dalam hatinya sudah terjawab secara tidak
langsung oleh penjelasan pria itu barusan.
Sepertinya Chanwo juga sengaja membeberkan semuanya agar
Hwang Ji Na tidak banyak bertanya lagi kepadanya. Ia sudah cukup dibuat
__ADS_1
kewalahan dengan semua pertanyaan itu sejak kemarin. Bahkan Hwang Ji Na nyaris
mengulang pertanyaan yang sama dengan susunan kata yang berbeda setiap ada
kesempatan.
“Eun Ji Hae bukan seseorang yang mudah untuk diperdaya,”
ujar Hwang Ji Na.
Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Tanpa alasan
sama sekali.
“Aku setuju dengan yang satu itu,” timpal Chanwo.
“Selain cerdas, dia juga berani. Yang lebih menakjubkan lagi
adalah, Eun Ji Hae cukup teliti,” jelas pria itu.
Untuk pertama kalinya Chanwo berhasil mengamati sikap serta
perilaku seseorang yang bahkan sama sekali tidak dekat dengannya. Sudah beberapa
hari ini Eun Ji Hae menyita banyak perhatian selama di sekolah. Sepenting itu
Eun Ji Hae di sekolah. Tidak bisa dibayangkan jika gadis itu menghilang begitu
saja.
‘KRAKK!!!’
Secara mendadak suara misterius itu muncul begitu saja dan
berhasil mencuri atensi semua orang. Refleks, semua mata tertuju kepada sumber
suara tersebut. Ternyata suara yang barusan berasal dari lapisan es di danau
yang lagi-lagi kembali retak. Padahal Eun Ji Hae telah memperingatkan mereka
jika bongkahan es yang terbentuk di permukaan danau tidak cukup kokoh untuk
dilalui. Tapi, mereka tetap keras kepala. Tidak ada yang mau mendengarkan
perkataan Eun Ji Hae sebelumnya.
Kini retakannya semakin melebar dan menjalar kemana-mana. Sepertinya
ada sesuatu yang salah di sini. semua orang panik. Tak terkecuali dengan mereka
yang berada di tepi danau. Eun Ji Hae kembali merasa terbebani. Karena bagaimanapun
juga, ia memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan semua itu. Mana mungkin ia
membiarkan para tetua begitu saja dan terjebak di tengah danau tanpa tahu harus
berbuat apa.
“Sial!” umpat Eun Ji Hae.
“Apa yang terjadi?” tanya
Nhea.
“Sepetinya lapisan es itu semakin rapuh,” balas Oliver.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” timpal Jang Eunbi
yang ikut menambahi ucapan gadis itu barusan.
“Yang jelas, kita harus menyelamatkan mereka,” jawab Oliver
dengan yakin.
__ADS_1