Mooneta High School

Mooneta High School
Our Own Way


__ADS_3

Baik Eun Ji Hae maupun golongan tua tetap pada pendiriannya


masing-masing. Mereka sungguh keras kepala dan enggan untuk saling mengalah.


Padahal demi kebaikan bersama juga. Bukankah tujuan mereka selama ini adalah


itu. Keselamatan adalah yang paling penting. Semua orang telah sepakat. Bahkan


sebelum memulai perjalanan sekalipun. Tapi, mendadak hal tersebut berubah


begitu saja pada situasi seperti ini. Pada tetua tidak bisa berdamai dengan ego


mereka masing-masing. lebih tepatnya, mereka tak ingin dicap sebagai pihak yang


salah. Lagi-lagi, faktor usia sebagai tolak ukur kedewasaan telah menciptakan


tuntutan tersebut secara tidak langsung.


Akibat perbedaan pendapat tadi, terciptalah dua kubu dengan


pendirian yang saling bertolak belakang di sini. ada yang memihak kepada Eun Ji


Hae dan ada juga yang jauh lebih setuju dengan pendapat dari tetua. Mereka


harus memilih.


Para tetua tentu memiliki pemikiran yang sama, dibantu


dengan beberapa orang lainnya. Mereka tetap akan menyebrangi lapisan es yang


sudah mulai retak. Entah hal apa yang membuat mereka merasa sangat yakin jika


semua itu tidak ada artinya. Mereka akan tetap selamat meskipun lapisan esnya


sudah retak.


Karena bagaimanapun juga, cara paling cepat untuk sampai di


seberang sana adalah dengan menyebrangi danaunya. Akan memakan terlalu banyak


waktu jika mereka harus menyusuri jalanan yang terdapat di sekitar danau


tersebut.


Sejauh ini, kelompok Eun Ji Hae jauh lebih unggul jika


dibangdingkan dengan para tetua. Anak-anak muda di sini memiliki pikiran yang


cukup panjang untuk ke depannya. Mereka memiliki cara berpikira yang sama


dengan Eun Ji Hae kurang lebih. Ada banyak hal buruk yang mungkin akan terjadi


ke depannya dan kita tidak pernah tahu kapan hal tersebut akan terjadi. Tapi,


setidaknya kita bisa mengantisipasi hal buruk itu. Waspada akan membuatmu aman.


“Kami tidak akan menunggu kalian jika pada akhirnya kami


akan sampai lebih dulu di seberang sana,” ungkap Bibi Ga Eun.


Kalimat yang baru saja ia ucapkan berpotensi untuk membuat perpecahan


di antara warga Sekolah Mooneta.


“Kami akan menyusul nanti. Aku tahu rute jalanannya,” balas


Eun Ji Hae.


Wanita itu hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya untuk


mengiyakan perkataan Eun Ji Hae barusan.


Hampir sebagian besar siswa Mooneta memihak kepada Eun Ji

__ADS_1


Hae. Entah kenapa, merka merasa jauh lebih percaya saja kepada gadis itu. Lagi


pula Eun Ji Hae memang selalu bisa diandalkan. Dia hebat. Semua orang tahu soal


hal itu.


Para tetua memulai perjalanan mereka lebih dulu.


Meninggalkan sisanya jauh di belakang. Mereka melangkah dengan hati-hati. Berusaha


untuk menjaga keseimbangan dengan semaksimal mungkin. Karena selain licin,


lapisan es yang terbentuk di danau ini juga sudah mulai retak. Mereka harus


berhati-hati dan siap jika sewaktu-waktu retakannya semakin melebar.


“Baiklah, bagi kalian yang tersisa, ikut denganku!” perintah


Eun Ji Hae.


Gadis itu mengambil alih lebih dulu. Dia akan memimpin jalan


bagi semua orang kali ini. Dari awal sepertinya Eun Ji Hae memang sudah


ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin sejati. Bahkan Chanwo dan Hwang Ji


Na sendiri berhasil berada di bawah kendalinya kali ini.


Setelah para tetua pergi lebi dulu, Eun Ji Hae dan yang


lainnya baru akan memulai perjalanan mereka. Kemungkinan besar jika mereka akan


sampai jauh lebih lama dari waktu yang telah diperkirakan sebelumnya. lagi pula


hal itu wajar. Mereka yakin jika pihak Sekolah Reodal akan memakslumi hal


tersebut.


Hwang Ji Na dengan berbisik-bisik. Ia tak ingin pembicaraannya didengar oleh


orang lain selain Chanwo.


“Dia dulunya merupakan mantan ketua asrama untuk


angkatannya,” beber pria itu.


“Kalau tidak salah begitu. Aku pernah mendengar soal rumor


tersebut,” lanjutnya.


Hwang Ji Na mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia paham dengan


maksud dari penjelasan pria itu barusan.


“Ku dengar, dia juga merupakan anak dari Vallery dan juga


Wilson. Tapi, sayangnya dia adalah anak angkat. Sekarang Eun Ji Hae adalah


kakak bagi Nhea. Usia mereka memiliki jarak yang cukup jauh,” jelas Chanwo


dengan panjang lebar.


Dari penjelasan yang tadi, sepertinya sudah berhasil mencakup


semuua hal. Sehingga Eun Ji Hae tidak memiliki kesempatan untuk bertanya lagi.


Semua hal yang terasa mengganjal di dalam hatinya sudah terjawab secara tidak


langsung oleh penjelasan pria itu barusan.


Sepertinya Chanwo juga sengaja membeberkan semuanya agar


Hwang Ji Na tidak banyak bertanya lagi kepadanya. Ia sudah cukup dibuat

__ADS_1


kewalahan dengan semua pertanyaan itu sejak kemarin. Bahkan Hwang Ji Na nyaris


mengulang pertanyaan yang sama dengan susunan kata yang berbeda setiap ada


kesempatan.


“Eun Ji Hae bukan seseorang yang mudah untuk diperdaya,”


ujar Hwang Ji Na.


Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Tanpa alasan


sama sekali.


“Aku setuju dengan yang satu itu,” timpal Chanwo.


“Selain cerdas, dia juga berani. Yang lebih menakjubkan lagi


adalah, Eun Ji Hae cukup teliti,” jelas pria itu.


Untuk pertama kalinya Chanwo berhasil mengamati sikap serta


perilaku seseorang yang bahkan sama sekali tidak dekat dengannya. Sudah beberapa


hari ini Eun Ji Hae menyita banyak perhatian selama di sekolah. Sepenting itu


Eun Ji Hae di sekolah. Tidak bisa dibayangkan jika gadis itu menghilang begitu


saja.


‘KRAKK!!!’


Secara mendadak suara misterius itu muncul begitu saja dan


berhasil mencuri atensi semua orang. Refleks, semua mata tertuju kepada sumber


suara tersebut. Ternyata suara yang barusan berasal dari lapisan es di danau


yang lagi-lagi kembali retak. Padahal Eun Ji Hae telah memperingatkan mereka


jika bongkahan es yang terbentuk di permukaan danau tidak cukup kokoh untuk


dilalui. Tapi, mereka tetap keras kepala. Tidak ada yang mau mendengarkan


perkataan Eun Ji Hae sebelumnya.


Kini retakannya semakin melebar dan menjalar kemana-mana. Sepertinya


ada sesuatu yang salah di sini. semua orang panik. Tak terkecuali dengan mereka


yang berada di tepi danau. Eun Ji Hae kembali merasa terbebani. Karena bagaimanapun


juga, ia memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan semua itu. Mana mungkin ia


membiarkan para tetua begitu saja dan terjebak di tengah danau tanpa tahu harus


berbuat apa.


“Sial!” umpat Eun Ji Hae.


“Apa yang terjadi?” tanya


Nhea.


“Sepetinya lapisan es itu semakin rapuh,” balas Oliver.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” timpal Jang Eunbi


yang ikut menambahi ucapan gadis itu barusan.


“Yang jelas, kita harus menyelamatkan mereka,” jawab Oliver


dengan yakin.

__ADS_1


__ADS_2