
Nhea hanya tetap bersembunyi di balik tembok menara, sambil sesekali megintip keluar. Ia tahu jika yang dilakukannya ini adalah sesuatu yang benar, namun di sisi lain juga sesuatu yang salah. Ify memang pantas mendapatkan hal itu, yang belum ada apa-apanya dengan berapa banyak jiwa yang harus pergi setiap kali gadis ini datang kemari. Tapi ibu tetaplah seorang ibu, tak peduli seburuk apa anaknya.
“Apa yang harus ku lakukan sekarang?” tanya Nhea.
“Bersikaplah untuk menjadi setenang mungkin,” jawab Chanwo dengan apa adanya.
“Bagaimana aku bisa tenang jika aku terus hidup di dalam ketakutanku sendiri,” ujar gadis itu.
‘Tap! Tap! Tap!’
Tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki yang begitu jelas dari bawah sana. Kelihatannya ada seseorang dari koridor bawah yang akan menuju ke sini. Nhea buru-buru menghapus air matanya, supaya tak ada yang curiga. Tenang saja, gadis ini sudah cukup ahli dalam berpura-pura. Tak lama kemudian, seorang wanita dengan wajah tertunduk datang menhampiri mereka.
“Ternyata kau berada di sini?” tanya Hwang Ji Na.
“Buktinya sekarang kau melihatku jelas-jelas di hadapanmu,” balas Chanwo.
“Dia cantik, matanya terlihat begitu menawan,” batin Nhea dalam hati.
“Siapa yang memanah tadi? Apa gadis ini?” tanya Hwang Ji Na kembali.
__ADS_1
Chanwo mengangguk-anggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan gadis itu.
“Sepertinya dia cukup ahli dalam memanah,” ujar Hwang Ji Na.
“Aku juga berpikir seperti itu,” balas Chanwo.
Kelihatannya Nhea hanya bisa menyimak pembicaraan mereka, tanpa pernah mengerti dengan jelas apa yang mereka maksud. Pikirannya sedang tak berada di sini, meskipun ia benar berada di tempat ini.
“Perkenalkan namaku Hwang Ji Na!” ucap gadis itu.
“Ha?” balas Nhea yang baru tersadar dari lamunannya saat itu.
“Oh, namaku Nhearsya Clastisia,” lanjutnya.
“Chanwo, bisa bicara sebentar?” tanya Hwang Ji Na, mengalihkan topic pembicaraan.
“Baiklah!” balas pria itu.
“Kau tetap di sini dan jangan kemana-mana,” peringati Chanwo kepada Nhea.
__ADS_1
“Tunggu!” cegah gadis itu.
Kedua orang itu lalu menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, tepat sebelum menuruni tangga.
“Sebenarnya darimana kalian datang? Kalian belum pernah memberitahuku tentang hal yang satu itu,” ungkapnya secara gamblang.
“Kami berasal dari negeri yang jauh di seberang sana,” jawab Hwang Ji Na.
“Lalu, apakah orang-orang yang tadi itu salah satu dari kalian?” tanya Nhea lagi.
Hwang Ji Na mengangguk pelan, kemudian pergi berlalu meninggalkan Nhea. Tak lupa dengan langkah Chanwo yang menyusul di belakangnya.
Chanwo dan Hwang Ji Na pergi menuju salah satu loronga yang cukup sepi di bawah sana. Mereka berdua perlu membicarakan sesuatu secara pribadi tanpa perlu campur tangan orang lain. Itu sebabnya mereka harus menyingkir dari hadapan Nhea untuk sesaat.
“Ayo kita kembali sekarang!” ajak Hwang Ji Na sambil membereskan senjatanya.
“Tugasmu sudah selesai bukan?” lanjutnya.
Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah Chanwo, karena tak mendapati tanggapan sedikitpun atas pertanyaannya. Di sisi lain pria itu terlihat begitu bingung sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. Hwang Ji Na lantas menghela kasar setelah melihat kelakuan pria itu. Ia sangat yakin jika ada sesuatu yang salah dengan Chanwo.
__ADS_1
“Apa lagi alasanmu kali ini?” tanya Hwang Ji Na.
“Kerajaan membutuhkanmu untuk berada di sana,,” lanjutnya.