
Lagi-lagi Nhea menghela napasnya dengan panjang. Kedua tangannya
ia gunakan untuk menyangga tubuhnya yang sedang tidak bersandar kala itu. Pembahasan
mereka soal kehidupan di dimensi lain tadi itu belum benar-benar selesai.
Sebenarnya masih banyak hal yang bisa mereka bicarakan lagi. Tidak ada yang
benar-benar selesai di sini.
Ada banyak persoalan yang perlu diluruskan. Mereka tidak
ingin terlalu memaksa untuk saat ini. Bagaimanapun juga, sampai sekarang Nhea
belum menemukan portalnya. Gadis itu sungguh tidak ingat dari mana awal pertama
kali ia bisa sampai pada dimensi ini. Entah ruangan yang mana satu yang
menghantarkannya ke sini.
Ia bahkan tidak bisa mengingat dengan jelas, pemandangan apa
yang ia lihat selama perjalanan kemari. Setidaknya itu mungkin bisa menjadi
sebuah petunjuk. Sedikit banyaknya, Nhea pasti akan merasa terbantu. Paling tidak,
jika tidak bisa menyelesaikan keseluruhan masalah, masih ada satu atau dua hal
yang berhasil terselesaikan.
Ingatan Nhea memang tidak sebagus yang ia bayangkan. Oleh sebab
itu, ia tidak pernah mengandalkan dirinya sendiri. Jangan pernah berharap lebih
kepada gadis itu. Dirinya saja tidak pernah melakukan hal tersebut sebelumnya.
Nhea terlalu tidak percaya dengan kemampuannya sendiri. Anggaplah jika ia
memang seorang pesimis. Tapi, gadis itu bukan pengecut sama sekali.
“Aku sering heran melihat orang lain selalu mengandalkan
diriku. Padahal, aku sendiri tidak bisa melakukan apa-apa,” ungkap Nhea secara
terang-terangan.
“Memangnya apa yang bisa mereka harapkan dariku?” lanjutnya.
Chanwo tidak langsung menanggapi pertanyaan tersebut. Baginya,
ia perlu waktu untuk mencerna setiap kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu
dengan amat hati-hati. Sebab, tidak jarang jika kalimat dari Nhea malah
terkesan menjebak di awal. Ringkasnya, seperti memiliki dua atau lebih makna
secara bersamaan.
“Menurutmu, kenapa mereka selalu mengandalkan dirimu?” tanya
Chanwo balik.
Dengan cepat Nhea langsung menggeleng-gelengkan kepalanya
sambil menggidikkan bahunya. Kedua gerakan itu cukup untuk menunjukkan jika dirinya
memang sedang tidak mengerti apa pun.
“Mereka hanya terus menunjukku. Menjadikan diriku seperti
sebuah umpan pancing,” gumamnya.
“Seolah-olah diriku adalah orang yang paling berguna di
antara mereka. Padahal, kenyataannya tidak sama sekali,” jelas gadis itu
kemudian.
__ADS_1
Apa yang dikatakan oleh Nhea barusan ada benarnya juga.
Namun, di sisi lain juga tidak bisa dibenarkan sepenuhnya.
“Apa menurutmu tidak ada hal lain yang bisa mereka lihat
dari dirimu?” tanya Chanwo sekali lagi.
“Terserah, entah dalam aspek apa pun itu,” tegasnya sekali
lagi.
Nhea tertegun. Ia berpikir sejenak. Kedua bola matanya tidak
tampak menatap objek apa pun. Bisa dipastikan jika saat ini ia tengah sibuk
berpikir. Jarang sekali gadis itu memaksakan dirinya seperti ini. Hanya pada
saat-saat tertentu saja. Bukan setiap saat.
“Bisa-bisa kepalaku
meledak nantinya.”
Nhea pernah mengungkapkan hal tersebut tepat satu pekan
sebelum ujian berlangsung. Pada saat itu, statusnya yang masih merupakan siswa
pindahan membuatnya terlalu sulit untuk beradaptasi di lingkungan baru. Harus ia
akui jika semua itu tidak mudah sama sekali.
Mulai dari kehidupan, pola kebiasaan, hingga yang tersulit
adalah soal pelajaran. Ia harus mengingat semuanya dan menyimpannya di dalam
otak dalam waktu yang terbilang cukup singkat. Satu bulan bukan waktu yang lama
untuk mempelajari pelajaran empat tahun penuh. Waktunya tidak akan cukup. Namun,
Jika bicara soal melampaui batas, sepertinya ini bukan kali
pertama bagi gadis itu untuk melakukannya. Ia sudah pernah melampaui batas
dirinya sendiri. Bahkan sudah lebih dari satu kali. Hanya saja masalahnya
adalah, Nhea sama sekali tidak pernah menyadari jika dirinya telah berhasil
menciptakan sebuah capaian besar.
“Aku bukan seseorang yang bisa mereka andalkan,” ucap gadis
itu secara gamblang.
Ia tidak ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu. Bahkan jika itu
adalah sebuah hal buruk tentang dirinya. Nhea tidak peduli sama sekali. Entah
ia akan terjatuh atau malah bangkit karena ucapannya sendiri. Sepertinya, lain
kali ia harus lebih berhati-hati. Nhea perlu tahu jika ia tidak bisa bicara
soal banyak hal kepada sembarang orang.
Manusia adalah mahluk yang paling sulit untuk dipercaya. Namun,
sebagian besar dari kita masih tetap percaya kepada manusia. Bukan karena tidak
setuju dengan pepatah kuno tersebut. Melainkan karena mereka tidak memiliki
tempat lain untuk bersandar.
“Manusia akan selalu
mengandalkan manusia lainnya. Meski pada dasarnya mereka saling membenci satu
sama lain.”
__ADS_1
Hukum yang ada di alam semesta ini tidak pernah dilaksanakan
secara baik-baik. Tak ada yang benar-benar mematuhinya. Paling tidak mereka
pasti pernah melanggarnya sekali. Manusia bukan mahluk yang sempurna. Mereka sering
kali membuat kesalahan. Dengan atau tanpa disengaja.
“Sepertinya kau perlu mengenal dirimu lebih dalam lagi,”
ujar Chanwo sembari menyelipkan kedua tangannya di saku celana.
“Aku?” tanya Nhea.
“Hahaha! Bagaimana bisa aku tidak mengenal diriku sendiri. Sementara
aku sudah hidup bersamanya sejak awal terlahir ke dunia,” jelas gadis itu
dengan panjang lebar.
Ia tidak akan terima jika seseorang mengatakan kalau ia
belum benar-benar mengenal dirinya sendiri. Menurut Nhea pribadi, ia telah
melakukan hal tersebut dengan baik. Tidak ada yang terlewatkan sedikit pun.
Jiwanya sudah hidup di dalam raga yang sama selama lebih dari delapan belas
tahun.
Hal konyol macam apa lagi ini. Pada intinya, Nhea sama
sekali tidak setuju dengan pendapat Chanwo barusan. Memangnya pria itu tahu apa
soal Nhea. Jangankan soal gadis itu. Mungkin, jika ditanya soal dirinya sendiri
ia juga belum tentu tahu segalanya.
“Percayalah, kau belum mengetahui seluruh seluk-beluk dirimu
sendiri!” cetus Chanwo.
“Semesta sengaja menyembunyikan beberapa hal dari umat
manusia dan peradabannya. Mereka tidak ingin manusia tahu terlalu cepat,” jelas
pria itu kemudian.
“Kau harus tahu jika sebenarnya ada terlalu banyak misteri
yang mereka sembunyikan dari kita,” lanjutnya.
Kalimat terakhir yang diucapkan oleh pria ini berhasil
membuat pendirian Nhea yang semula teguh, menjadi terombang-ambing tidak
beraturan. Harus ia akui, jika dirinya mulai ragu. Chanwo berhasil mempengaruhi
gadis itu. Kemampuan manipulasi pikirannya tidak mudah untuk terbaca. Namun,
Nhea bisa menyadari dengan cepat hal tersebut.
“Apa maksudmu soal misteri?” tanya Nhea.
“Sama saja seperti kehidupan dua dimensi yang sempat kau
katakan tadi,” jawab Chanwo dengan apa adanya.
Benar juga. Jika bicara soal misteri, ada begitu banyak hal
yang masih menjadi misteri sejauh ini. Bisa saja jika salah satu potongan alur
kehidupan gadis ini juga sebenarnya masih menjadi misteri. Selama ini mungkin Nhea
sama sekali tidak tahu menahu soal hal itu. Tapi, bagaimana jika orang lain
malah mengetahuinya.
__ADS_1