Mooneta High School

Mooneta High School
Besides You


__ADS_3

Lagi-lagi Nhea menghela napasnya dengan panjang. Kedua tangannya


ia gunakan untuk menyangga tubuhnya yang sedang tidak bersandar kala itu. Pembahasan


mereka soal kehidupan di dimensi lain tadi itu belum benar-benar selesai.


Sebenarnya masih banyak hal yang bisa mereka bicarakan lagi. Tidak ada yang


benar-benar selesai di sini.


Ada banyak persoalan yang perlu diluruskan. Mereka tidak


ingin terlalu memaksa untuk saat ini. Bagaimanapun juga, sampai sekarang Nhea


belum menemukan portalnya. Gadis itu sungguh tidak ingat dari mana awal pertama


kali ia bisa sampai pada dimensi ini. Entah ruangan yang mana satu yang


menghantarkannya ke sini.


Ia bahkan tidak bisa mengingat dengan jelas, pemandangan apa


yang ia lihat selama perjalanan kemari. Setidaknya itu mungkin bisa menjadi


sebuah petunjuk. Sedikit banyaknya, Nhea pasti akan merasa terbantu. Paling tidak,


jika tidak bisa menyelesaikan keseluruhan masalah, masih ada satu atau dua hal


yang berhasil terselesaikan.


Ingatan Nhea memang tidak sebagus yang ia bayangkan. Oleh sebab


itu, ia tidak pernah mengandalkan dirinya sendiri. Jangan pernah berharap lebih


kepada gadis itu. Dirinya saja tidak pernah melakukan hal tersebut sebelumnya.


Nhea terlalu tidak percaya dengan kemampuannya sendiri. Anggaplah jika ia


memang seorang pesimis. Tapi, gadis itu bukan pengecut sama sekali.


“Aku sering heran melihat orang lain selalu mengandalkan


diriku. Padahal, aku sendiri tidak bisa melakukan apa-apa,” ungkap Nhea secara


terang-terangan.


“Memangnya apa yang bisa mereka harapkan dariku?” lanjutnya.


Chanwo tidak langsung menanggapi pertanyaan tersebut. Baginya,


ia perlu waktu untuk mencerna setiap kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu


dengan amat hati-hati. Sebab, tidak jarang jika kalimat dari Nhea malah


terkesan menjebak di awal. Ringkasnya, seperti memiliki dua atau lebih makna


secara bersamaan.


“Menurutmu, kenapa mereka selalu mengandalkan dirimu?” tanya


Chanwo balik.


Dengan cepat Nhea langsung menggeleng-gelengkan kepalanya


sambil menggidikkan bahunya. Kedua gerakan itu cukup untuk menunjukkan jika dirinya


memang sedang tidak mengerti apa pun.


“Mereka hanya terus menunjukku. Menjadikan diriku seperti


sebuah umpan pancing,” gumamnya.


“Seolah-olah diriku adalah orang yang paling berguna di


antara mereka. Padahal, kenyataannya tidak sama sekali,” jelas gadis itu


kemudian.

__ADS_1


Apa yang dikatakan oleh Nhea barusan ada benarnya juga.


Namun, di sisi lain juga tidak bisa dibenarkan sepenuhnya.


“Apa menurutmu tidak ada hal lain yang bisa mereka lihat


dari dirimu?” tanya Chanwo sekali lagi.


“Terserah, entah dalam aspek apa pun itu,” tegasnya sekali


lagi.


Nhea tertegun. Ia berpikir sejenak. Kedua bola matanya tidak


tampak menatap objek apa pun. Bisa dipastikan jika saat ini ia tengah sibuk


berpikir. Jarang sekali gadis itu memaksakan dirinya seperti ini. Hanya pada


saat-saat tertentu saja. Bukan setiap saat.


“Bisa-bisa kepalaku


meledak nantinya.”


Nhea pernah mengungkapkan hal tersebut tepat satu pekan


sebelum ujian berlangsung. Pada saat itu, statusnya yang masih merupakan siswa


pindahan membuatnya terlalu sulit untuk beradaptasi di lingkungan baru. Harus ia


akui jika semua itu tidak mudah sama sekali.


Mulai dari kehidupan, pola kebiasaan, hingga yang tersulit


adalah soal pelajaran. Ia harus mengingat semuanya dan menyimpannya di dalam


otak dalam waktu yang terbilang cukup singkat. Satu bulan bukan waktu yang lama


untuk mempelajari pelajaran empat tahun penuh. Waktunya tidak akan cukup. Namun,


Jika bicara soal melampaui batas, sepertinya ini bukan kali


pertama bagi gadis itu untuk melakukannya. Ia sudah pernah melampaui batas


dirinya sendiri. Bahkan sudah lebih dari satu kali. Hanya saja masalahnya


adalah, Nhea sama sekali tidak pernah menyadari jika dirinya telah berhasil


menciptakan sebuah capaian besar.


“Aku bukan seseorang yang bisa mereka andalkan,” ucap gadis


itu secara gamblang.


Ia tidak ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu. Bahkan jika itu


adalah sebuah hal buruk tentang dirinya. Nhea tidak peduli sama sekali. Entah


ia akan terjatuh atau malah bangkit karena ucapannya sendiri. Sepertinya, lain


kali ia harus lebih berhati-hati. Nhea perlu tahu jika ia tidak bisa bicara


soal banyak hal kepada sembarang orang.


Manusia adalah mahluk yang paling sulit untuk dipercaya. Namun,


sebagian besar dari kita masih tetap percaya kepada manusia. Bukan karena tidak


setuju dengan pepatah kuno tersebut. Melainkan karena mereka tidak memiliki


tempat lain untuk bersandar.


“Manusia akan selalu


mengandalkan manusia lainnya. Meski pada dasarnya mereka saling membenci satu


sama lain.”

__ADS_1


Hukum yang ada di alam semesta ini tidak pernah dilaksanakan


secara baik-baik. Tak ada yang benar-benar mematuhinya. Paling tidak mereka


pasti pernah melanggarnya sekali. Manusia bukan mahluk yang sempurna. Mereka sering


kali membuat kesalahan. Dengan atau tanpa disengaja.


“Sepertinya kau perlu mengenal dirimu lebih dalam lagi,”


ujar Chanwo sembari menyelipkan kedua tangannya di saku celana.


“Aku?” tanya Nhea.


“Hahaha! Bagaimana bisa aku tidak mengenal diriku sendiri. Sementara


aku sudah hidup bersamanya sejak awal terlahir ke dunia,” jelas gadis itu


dengan panjang lebar.


Ia tidak akan terima jika seseorang mengatakan kalau ia


belum benar-benar mengenal dirinya sendiri. Menurut Nhea pribadi, ia telah


melakukan hal tersebut dengan baik. Tidak ada yang terlewatkan sedikit pun.


Jiwanya sudah hidup di dalam raga yang sama selama lebih dari delapan belas


tahun.


Hal konyol macam apa lagi ini. Pada intinya, Nhea sama


sekali tidak setuju dengan pendapat Chanwo barusan. Memangnya pria itu tahu apa


soal Nhea. Jangankan soal gadis itu. Mungkin, jika ditanya soal dirinya sendiri


ia juga belum tentu tahu segalanya.


“Percayalah, kau belum mengetahui seluruh seluk-beluk dirimu


sendiri!” cetus Chanwo.


“Semesta sengaja menyembunyikan beberapa hal dari umat


manusia dan peradabannya. Mereka tidak ingin manusia tahu terlalu cepat,” jelas


pria itu kemudian.


“Kau harus tahu jika sebenarnya ada terlalu banyak misteri


yang mereka sembunyikan dari kita,” lanjutnya.


Kalimat terakhir yang diucapkan oleh pria ini berhasil


membuat pendirian Nhea yang semula teguh, menjadi terombang-ambing tidak


beraturan. Harus ia akui, jika dirinya mulai ragu. Chanwo berhasil mempengaruhi


gadis itu. Kemampuan manipulasi pikirannya tidak mudah untuk terbaca. Namun,


Nhea bisa menyadari dengan cepat hal tersebut.


“Apa maksudmu soal misteri?” tanya Nhea.


“Sama saja seperti kehidupan dua dimensi yang sempat kau


katakan tadi,” jawab Chanwo dengan apa adanya.


Benar juga. Jika bicara soal misteri, ada begitu banyak hal


yang masih menjadi misteri sejauh ini. Bisa saja jika salah satu potongan alur


kehidupan gadis ini juga sebenarnya masih menjadi misteri. Selama ini mungkin Nhea


sama sekali tidak tahu menahu soal hal itu. Tapi, bagaimana jika orang lain


malah mengetahuinya.

__ADS_1


__ADS_2