
Perlahan namun pasti, suasana di
dalam kelas mulai beralih ramai. Satu-persatu siswa tampak memasuki ruangan.
Sekarang hanya tinggal tersisa sedikit lagi ruang bagi mereka yang belum sampai
di sini. Salah satunya adalah Oliver. Gadis itu belum kembali sejak berpamitan
untuk pergi ke perpustakaan tadi.
“Kemana Oliver?” gumam Nhea sambil
memperhatikan sekelilingnya.
Tidak ada tanda-tanda sama sekali
jika gadis itu akan segera muncul. Batang hidungnya bahkan sama sekali tidak
terlihat sejak tadi. Hanya tersisa lima menit lagi sebelum kelas dimulai. Jika ia
berhasil masuk sebelum jam tersebut berakhir, maka Nhea bisa memastikan kalauu
Oliver tidak akan terlambat. Sekarang semua tergantung kepada dirinya. Oliver
yang akan menentukan apakah ia akan terlambat atau tidak. Sebab, gadis itu
harus bisa berpacu dengan waktu untuk menghindari kemungkinan terburuknya.
“Kemana Oliver?” tanya sebuah suara
yang tidak lagi asing di telinganya.
Nhea lantas menoleh ke arah sumber
suara untuk memastikan jika dugaannya benar. Rupanya itu adalah Jogdae.
Tampaknya ia barusaja sampai.
“Entahlah, tadi dia pergi ke
perpustakaan sebentar katanya,” jawab Nhea dengan apa adanya.
“Tapi, sampai sekarang ia bahkan
belum kembali,” timpal gadis itu kemudian.
“Kalau begitu, apakah aku boleh
duduk di sini?” tanya Jongdae.
Yang ia maksud adalah sebuah tempat
duduk tepat di sebelah Nhea. Masih ada sedikit ruang yang tersisa di sana.
Setidaknya masih bisa untuk menampung satu orang lagi.
Biasanya Oliver yang mengisi tempat
itu. Namun, karena gadis itu sedang tidak ada di sini, sepertinya tidak
masalah. Oliver juga tidak akan keberatan jika ia harus bertukar posisi dengan
kakaknya untuk satu hari saja.
“Baiklah, kalau begitu,” balas Nhea
secara gamblang.
Dia tidak perlu mempertimbangkan apa
pun lagi dalam mengambil keputusan yang satu ini. Oliver sebenarnya juga tidak
berhak untuk melarangnya. Aturannya, siapa cepat dia dapat. Jadi, jangan
salahkan Jongdae atau bahkan Nhea. Pria itu berhak untuk duduk dimana saja.
Tak lama setelah Jongdae mendapatkan
tempat duduknya, Oliver datang. Gadis itu melirik ke arah Nhea sekilas,
kemudian segera pergi berlalu. Tidak, tatapan itu tidak menunjukkan rasa putus
asa sama sekali. Atau bahkan kecewa. Ekspresi Oliver pada saat itu sungguh
biasa saja. Tidak ada emosi negatif yang perlu dicemaskan.
Dugaan Nhea benar. Oliver tidak akan
__ADS_1
mempermasalahkan hal tersebut. Memangnya kenapa jika mereka tidak bersama di
dalam kelas. Bukankah selama ini keduanya sudah menghabiskan terlalu banyak
waktu dengan bersama-sama? Baik di dalam maupun di luar kelas.
Oliver memutuskan untuk duduk
bersama Chanwo di kursi belakang. Kebetulan memang masih kosong dan tempatnya
tidak terlalu jauh dari tempat duduk Nhea dan Jongdae. Tempatnya tepat berada
di belakang kursi mereka.
“Kau sudah menyelesaikan urusanmu?”
tanya Jongdae secara tiba-tiba.
Gadis itu hanya mengangguk-anggukkan
kepalanya, menyatakan jawaban singkat darinya.
Awalnya, ia tampak sedikit terkejut
karena Jongdae memulai pembicaraan lebih dulu. Tidak biasanya pria itu bersikap
demikian. Apalagi setelah kejadian hari itu yang membuat semuanya berubah.
Oliver mengapresiasi hal tersebut
sebenarnya. Ini menjadi sebuah pertanda baik. Oliver sangat berharap jika
hubungan mereka bisa kembali seperti semula lagi. Kakak dan adik ini tidak
boleh sampai terpisahkan. Entah bagaimana perasaan orang tua mereka jika sampai
tahu kondisi anak-anaknya yang sedang tidak baik-baik saja sekarang.
“Selamat malam semuanya!” sapa
seseorang dari depan sana.
Ternyata itu adalah salah satu dari
staff pengajar yang akan membagikan ilmunya kepada seisi kelas malam ini.
“Malam Bu!” balas seisi kelas dengan
serentak.
Mereka semua tampak antusias, meski
pada kenyataannya tidak selalu seperti itu. Seperti sekarang saja contohnya.
Tidak semua orang merasakan semangat yang sama untuk mengikuti kelas hari ini.
“Apa semua orang sudah berada di
dalam kelas ini?” tanya wanita peruh baya tersebut.
“Sudah Bu!” jawab Jongdae selaku
ketua kelas.
“Kalau begitu, silahkan isi daftar
hadir kalian. Lalu, kembalikan kepadaku jika sudah selesai,” ujar wanita
tersebut sambil menyerahkan selembar kertas yang masih kosong.
Mereka biasanya memang selalu
melakukan absensi rutin setiap kali akan masuk kelas. Laporan absensinya
kemudian akan diserahkan kepada Eun Ji Hae. Siklus yang sama akan berjalan
setiap hari.
Sembari siswa yang lain mengisikan namanya
di dalam daftar hadir, wanita tersebut tampak menyisipkan sebagian kecil materi
ajar di papan tulis. Hari ini dia tidak akan membagikan terlalu banyak hal.
Cukup beberapa hal penting yang memang harus mereka ketahui saja. Ia tahu betul
jika saat ini mereka sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja untuk
__ADS_1
belajar.
“Bola api,” eja Nhea.
Gadis itu membaca judul besarnya.
Tapi, tampaknya ia sama sekali tidak berniat untuk melanjutkan kegiatan
tersebut dengan membaca keterangan yang tertulis di bawahnya. Dari judul
besarnya saja, Nhea sudah tahu apa yang akan mereka lakukan nantinya.
“Apa kelas sebelah juga mepelajari
tentang bola api kemarin?” tanya Nhea kepada teman sebangkunya.
Memangnya siapa lagi jika bukan
Jongdae. Hanya pria itu yang bisa ia tanyakan perihal tersebut. Pasalnya, di
meja makan tadi Jongdae telah membocorkan beberapa informasi yang ia peroleh
dari kelas sebelah.
“Aku tidak terlalu yakin soal yang
satu itu,” jawab Jongdae.
“Lalu, apa saja yang kau tanyakan
kepada mereka?” tanya gadis itu lagi.
“Tidak banyak,” balas Jongdae dengan
singkat.
“Aku hanya berpapasan dengan mereka
saat menuju ke gedung utama. Tidak banyak waktu yang bisa kami gunakan untuk
saling berbincang satu sama lain,” jelas pria itu dengan panjang lebar.
Kali ini Nhea bisa menyimpulkan.
Jika pada faktanya, Jongdae tidak benar-benar sempat untuk mengutarakan semua
pertanyaan yang sedang memenuhi isi kepalanya pada saat itu.
“Jadi, satu-satunya informasi yang
kau ketahui hanya tentang pembagian kelompok itu?” tanya Nhea sekali lagi untuk
memastikan.
Kemudian di sisi lain Jongdae tampak
mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai balasan. Ia memutuskan untuk mengiyakan
perkataan gadis itu.
Setelah mendapatkan jawaban dari
pria itu, Nhea tidak berharap banyak lagi. Ia segera mengalihkan pandangannya
ke arah lain. Sejauh ini sama sekali belum ada perintah yang diberikan kepada
mereka selain mengisi absensi. Jadi, Nhea tidak bisa melakukan apa pun selain
menunggu.
Padahal, menunggu adalah salah satu
hal yang paling tidak ia sukai. Memangnya siapa yang suka menunggu. Nhea bahkan
tidak akan membiarkan orang lain menunggu untuk dirinya. Setidak suka itu dia
menunggu.
“Karena tidak mau menunggu, maka aku
tidak akan membuat orang lain menunggu juga,” gumamnya pelan.
Sepertinya Nhea sudah sering mengatakan
kalimat yang satu itu. Ini bukan yang pertama kalinya lagi bagi Nhea untuk mengucapkan
hal serupa.
__ADS_1