Mooneta High School

Mooneta High School
Class 2


__ADS_3

Perlahan namun pasti, suasana di


dalam kelas mulai beralih ramai. Satu-persatu siswa tampak memasuki ruangan.


Sekarang hanya tinggal tersisa sedikit lagi ruang bagi mereka yang belum sampai


di sini. Salah satunya adalah Oliver. Gadis itu belum kembali sejak berpamitan


untuk pergi ke perpustakaan tadi.


“Kemana Oliver?” gumam Nhea sambil


memperhatikan sekelilingnya.


Tidak ada tanda-tanda sama sekali


jika gadis itu akan segera muncul. Batang hidungnya bahkan sama sekali tidak


terlihat sejak tadi. Hanya tersisa lima menit lagi sebelum kelas dimulai. Jika ia


berhasil masuk sebelum jam tersebut berakhir, maka Nhea bisa memastikan kalauu


Oliver tidak akan terlambat. Sekarang semua tergantung kepada dirinya. Oliver


yang akan menentukan apakah ia akan terlambat atau tidak. Sebab, gadis itu


harus bisa berpacu dengan waktu untuk menghindari kemungkinan terburuknya.


“Kemana Oliver?” tanya sebuah suara


yang tidak lagi asing di telinganya.


Nhea lantas menoleh ke arah sumber


suara untuk memastikan jika dugaannya benar. Rupanya itu adalah Jogdae.


Tampaknya ia barusaja sampai.


“Entahlah, tadi dia pergi ke


perpustakaan sebentar katanya,” jawab Nhea dengan apa adanya.


“Tapi, sampai sekarang ia bahkan


belum kembali,” timpal gadis itu kemudian.


“Kalau begitu, apakah aku boleh


duduk di sini?” tanya Jongdae.


Yang ia maksud adalah sebuah tempat


duduk tepat di sebelah Nhea. Masih ada sedikit ruang yang tersisa di sana.


Setidaknya masih bisa untuk menampung satu orang lagi.


Biasanya Oliver yang mengisi tempat


itu. Namun, karena gadis itu sedang tidak ada di sini, sepertinya tidak


masalah. Oliver juga tidak akan keberatan jika ia harus bertukar posisi dengan


kakaknya untuk satu hari saja.


“Baiklah, kalau begitu,” balas Nhea


secara gamblang.


Dia tidak perlu mempertimbangkan apa


pun lagi dalam mengambil keputusan yang satu ini. Oliver sebenarnya juga tidak


berhak untuk melarangnya. Aturannya, siapa cepat dia dapat. Jadi, jangan


salahkan Jongdae atau bahkan Nhea. Pria itu berhak untuk duduk dimana saja.


Tak lama setelah Jongdae mendapatkan


tempat duduknya, Oliver datang. Gadis itu melirik ke arah Nhea sekilas,


kemudian segera pergi berlalu. Tidak, tatapan itu tidak menunjukkan rasa putus


asa sama sekali. Atau bahkan kecewa. Ekspresi Oliver pada saat itu sungguh


biasa saja. Tidak ada emosi negatif yang perlu dicemaskan.


Dugaan Nhea benar. Oliver tidak akan

__ADS_1


mempermasalahkan hal tersebut. Memangnya kenapa jika mereka tidak bersama di


dalam kelas. Bukankah selama ini keduanya sudah menghabiskan terlalu banyak


waktu dengan bersama-sama? Baik di dalam maupun di luar kelas.


Oliver memutuskan untuk duduk


bersama Chanwo di kursi belakang. Kebetulan memang masih kosong dan tempatnya


tidak terlalu jauh dari tempat duduk Nhea dan Jongdae. Tempatnya tepat berada


di belakang kursi mereka.


“Kau sudah menyelesaikan urusanmu?”


tanya Jongdae secara tiba-tiba.


Gadis itu hanya mengangguk-anggukkan


kepalanya, menyatakan jawaban singkat darinya.


Awalnya, ia tampak sedikit terkejut


karena Jongdae memulai pembicaraan lebih dulu. Tidak biasanya pria itu bersikap


demikian. Apalagi setelah kejadian hari itu yang membuat semuanya berubah.


Oliver mengapresiasi hal tersebut


sebenarnya. Ini menjadi sebuah pertanda baik. Oliver sangat berharap jika


hubungan mereka bisa kembali seperti semula lagi. Kakak dan adik ini tidak


boleh sampai terpisahkan. Entah bagaimana perasaan orang tua mereka jika sampai


tahu kondisi anak-anaknya yang sedang tidak baik-baik saja sekarang.


“Selamat malam semuanya!” sapa


seseorang dari depan sana.


Ternyata itu adalah salah satu dari


staff pengajar yang akan membagikan ilmunya kepada seisi kelas malam ini.


“Malam Bu!” balas seisi kelas dengan


serentak.


Mereka semua tampak antusias, meski


pada kenyataannya tidak selalu seperti itu. Seperti sekarang saja contohnya.


Tidak semua orang merasakan semangat yang sama untuk mengikuti kelas hari ini.


“Apa semua orang sudah berada di


dalam kelas ini?” tanya wanita peruh baya tersebut.


“Sudah Bu!” jawab Jongdae selaku


ketua kelas.


“Kalau begitu, silahkan isi daftar


hadir kalian. Lalu, kembalikan kepadaku jika sudah selesai,” ujar wanita


tersebut sambil menyerahkan selembar kertas yang masih kosong.


Mereka biasanya memang selalu


melakukan absensi rutin setiap kali akan masuk kelas. Laporan absensinya


kemudian akan diserahkan kepada Eun Ji Hae. Siklus yang sama akan berjalan


setiap hari.


Sembari siswa yang lain mengisikan namanya


di dalam daftar hadir, wanita tersebut tampak menyisipkan sebagian kecil materi


ajar di papan tulis. Hari ini dia tidak akan membagikan terlalu banyak hal.


Cukup beberapa hal penting yang memang harus mereka ketahui saja. Ia tahu betul


jika saat ini mereka sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja untuk

__ADS_1


belajar.


“Bola api,” eja Nhea.


Gadis itu membaca judul besarnya.


Tapi, tampaknya ia sama sekali tidak berniat untuk melanjutkan kegiatan


tersebut dengan membaca keterangan yang tertulis di bawahnya. Dari judul


besarnya saja, Nhea sudah tahu apa yang akan mereka lakukan nantinya.


“Apa kelas sebelah juga mepelajari


tentang bola api kemarin?” tanya Nhea kepada teman sebangkunya.


Memangnya siapa lagi jika bukan


Jongdae. Hanya pria itu yang bisa ia tanyakan perihal tersebut. Pasalnya, di


meja makan tadi Jongdae telah membocorkan beberapa informasi yang ia peroleh


dari kelas sebelah.


“Aku tidak terlalu yakin soal yang


satu itu,” jawab Jongdae.


“Lalu, apa saja yang kau tanyakan


kepada mereka?” tanya gadis itu lagi.


“Tidak banyak,” balas Jongdae dengan


singkat.


“Aku hanya berpapasan dengan mereka


saat menuju ke gedung utama. Tidak banyak waktu yang bisa kami gunakan untuk


saling berbincang satu sama lain,” jelas pria itu dengan panjang lebar.


Kali ini Nhea bisa menyimpulkan.


Jika pada faktanya, Jongdae tidak benar-benar sempat untuk mengutarakan semua


pertanyaan yang sedang memenuhi isi kepalanya pada saat itu.


“Jadi, satu-satunya informasi yang


kau ketahui hanya tentang pembagian kelompok itu?” tanya Nhea sekali lagi untuk


memastikan.


Kemudian di sisi lain Jongdae tampak


mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai balasan. Ia memutuskan untuk mengiyakan


perkataan gadis itu.


Setelah mendapatkan jawaban dari


pria itu, Nhea tidak berharap banyak lagi. Ia segera mengalihkan pandangannya


ke arah lain. Sejauh ini sama sekali belum ada perintah yang diberikan kepada


mereka selain mengisi absensi. Jadi, Nhea tidak bisa melakukan apa pun selain


menunggu.


Padahal, menunggu adalah salah satu


hal yang paling tidak ia sukai. Memangnya siapa yang suka menunggu. Nhea bahkan


tidak akan membiarkan orang lain menunggu untuk dirinya. Setidak suka itu dia


menunggu.


“Karena tidak mau menunggu, maka aku


tidak akan membuat orang lain menunggu juga,” gumamnya pelan.


Sepertinya Nhea sudah sering mengatakan


kalimat yang satu itu. Ini bukan yang pertama kalinya lagi bagi Nhea untuk mengucapkan


hal serupa.

__ADS_1


__ADS_2