Mooneta High School

Mooneta High School
Who this


__ADS_3

Ketiga orang itu kembali ke sekolah itu dengan melewati jalur yang sama. Kembali melewati hutan kegelapan itu, tempat di mana jutaan kaum kegelapan tinggal di dalamnya. Namun kali ini mereka hanya lewat di atasnya, tanpa menyentuh tanah kekuasaaan para bangsa vampir itu. Eun Ji Hae menatap pemandangan hutan di bawahnya dengan sorot mata yang sulit untuk diartikan. Tiba-tiba ia teringat akan satu hal, jika ternyata gadis itu belum mengembalikan kalung pemberian gadis werewolf itu.


“Ibu, ayah…” sahut gadis itu.


“Kalian lanjutkan saja perjalanannya, nanti aku akan menyusul,” lanjutnya.


Lantas kedua mahluk yang sedang mereka tumpangi itu, menghentikan dirinya tepat di atas hutan tersebut. Hal itu juga membuat Vallery dan Wilson memalingkan pandangannya ke arah burung Phoenix tersebut, yang tak lain dan tak bukan adalah anaknya sendiri.


“Kau ingin kemana Eun Ji Hae?” tanya Vallery.


“Aku ada urusan sebentar, nanti akan ku susul kalian,” jawab Eun Ji Hae apa adanya.


“Baiklah berhati-hati, berjanjilah pada kami jika kau akan segera menyusul kami setelah urusanmu selesai nanti,” ujar Wilson yang mengingatkan anaknya tersebut.


“Aku janji, kalian bisa memegang janjiku kali ini,” balas Eun Ji Hae.


“Kami percaya padamu,” ucap Vallery.

__ADS_1


Sedetik kemudian, kedua orang tersebut langsung pergi dan meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanannya. Vallery dan Wilson harus segera sampai ke tempat itu, sesegera mungkin yang ia bisa. Ada sebuah nyawa yang sedang menunggu untuk diselamatkan, kedua orang ini selalu berharap agar Nhea masih bisa bertahan hingga mereka sampai.


Rasanya tak apa jika meninggalkan Eun Ji Hae untuk sementara di tengah-tengah perjalanan. Lagi pula ia sudah cukup dewasa dan kuat untuk melindungi dirinya sendiri jika tiba-tiba ia terjebak di antara bahaya. Gadis ini selalu bisa dipercayai setiap ucapannya oleh semua orang. Karena Eun Ji Hae memang tak pernah main-main dengan ucapannya.


“Semoga Hwang Ji Na sedang berada di gua nya sekarang ini. Aku perlu mengucapkan terimakasih dan salam perpisahan untuknya,” gumamnya sambil memegangi kalung pemberian Hwang Ji Na.


“Aku belum sempat mengatakan hal itu kepadanya. Belum tentu suatu saat nanti aku akan bertemu dengannya lagi,” Lanjutnya.


Eun Ji Hae langsung terbang menungkik ke bawah dengan sudut yang sangat tajam. Biarpun ia baru mendapatkan kekuatan barunya ini beberapa hari yang lalu, tapi nyatanya Eun Ji Hae seperti memang telah terlahir dengan kekuatan ini. Kelihatannya ia mulai terbiasa dengan perubahan ini.


Gadis itu terbang kemudian mendarat tepat di atas gua tempat tinggal Hwang Ji Na selama ini. Eun Ji Hae mengintip dan mencuri pandang sesekali ke dalam tempat tersebut lewat celah yang ada di atap tempat ini. Tapi sayangnya ia tak bisa menemui seorangpun di sana, Eun Ji Hae tak melihat keberadaan gadis itu di sana. Spertinya Hwang Ji Na memang belum kembali dari kerajaan para vampire menyebalkan itu, atau kemungkinan ia sedang berburu jauh di dalam hutan sana. Eun Ji Hae tak mungkin turun dan masuk ke tempat itu tanpa seizing dari pemiliknya. Itu bukanlah etika sopan santun yang di ajarkan kepada para penyihir sepertinya.


“Apa kau ada di dalam sana? Tolong jawab aku, ini aku Eun Ji Hae,” Jelasnya.


Sudah untuk yang kesekian kalinya suara gadis itu menggema di seluruh penjuru tempat tersebut, namun hasilnya tetap saja nihil. Tak ada jawaban ataupun balasan sama sekali yang ia terima. Sepertinya tempat ini memang sedang kosong karrena ditinggal oleh penghuninya. Mau tak mau Eun Ji Hae harus masuk ke sana untuk memastikan agar kalung ini diletakkan di tempat yang tepat. Ia tahu jika benda ini akan sangat berharga bagi  Hwang Ji Na.


Eun Ji Hae meletakkan kalung itu di atas sebuah batu besar, di dekat perapian gua. Gadis iru menuliskakn sebuah pesan singkat di atas tanah, dengan bantuan patahan ranting yang ia dapat dari kayu bakar. Semoga saja Hwang Ji Na membaca sebuah pesan singkat dari nya ini . Eun Ji Hae tak bisa berlama-lama di tempat ini, untuk menunggu Hwang Ji Na kembali. Ia harus menyusul orang tuanya sebelum jarak mereka terpaut terlalu jauh.

__ADS_1


“Jika kau sudah pulang nanti, ku harap kau membaca sesuatu tepat di bawah sini. Terrimakasih telah membantuku selama di sini, dan terimakasih untuk benda yang satu ini. Terimakasih telah memberikanku kepercayaan untuk memakai kalung bangsa werewolf ini untuk sementara waktu. Tapi sekarang aku sudah mengembalikannya kepadamu. Jaga dirimu baik-baik di sini, berharap kita bisa bertemu lagi di lain waktu. Lain kali sempatkan dirimu untuk mengunjungiku di Sekolah Akademi Sihir Mooneta.”


Setelah selesai menulis pesan tersebut, Eun Ji Hae tak ingin berlama-lama di tempat itu. Ia bergegas keluar dari sana dan segera menyusul Vallery dan Wilson.


“Akhh!!!” teriak Eun Ji Hae yang terkejut bukan main.


Gadis itu dibuat terkejut bukan main setelah mendapati seseorang tengah berada di belakangnya ketika ia membalikkan badannya. Seseorang yang kemarin menyambutnya saat sesampainya di Sekolah Orton, orang misterius yang nyaris membuat jantungnya terasa ingin copot itu.


Namun kali ini Eun Ji Hae tetap tak bisa melihat siapa dan bagaimana rupa orang tersebut. Wajahnya tenggelam di dalam kegelapan, bahkan saat ia berada di bawah matahari seperti ini. Jubah yang ia kenakan terlalu membuatnya yaris tak bisa dikenali sama sekali.


“Lain kali jangan membuatku repot seperti ini,” Bisik orang itu di telinganya.


“Apa maksudmu? Bahkan kita tak pernah bertemu sama sekali sebelumnya. Bagaimana bisa aku merepotkanmu,” ucap Eun Ji Hae yang langsung nyerocos seperti kereta api.


Namun orang tersebut tak ambil pusing soal itu, meskipun sebenarnya ia merasa terganggu dengan suara melengking wanita ini. Tanpa berlama-lama lagi, seseorang yang berjubah tersebut segera menundukkan sedikit posisi tubuhnya. Ia meraih pergelangan kaki Eun Ji Hae yang telihat jenjang tersebut, kemudian segera memasangkan gelang kaki tersebut di sana. Benda ini memang sudah seharusnya kembali kepada pemiliknya. Kaki putih dan mulus Eun Ji Hae ini rasanya tak lengkap jika tanpa menggunakan perhiasan yang satu ini. Kini parasnya semakin cantik dan nyaris sempurna karena gelang kaki ini. Ternyata begitu besar pengaruh sebuah pehiasan terhadap penampilan seorang wanita.


“Apa yang kau lakukan?!” teriak Eun Ji Hae pada ornag aneh ini.

__ADS_1


“Aku hanya mengembalikan milikmu,” jawab orang tersebut dengan nada bicara yang jauh lebih tenang dari pada gadis di hadapannya itu.


“Lain kali jangan meninggalkannya di sembarang tempat,” peringati orang tersebut sekali lagi.


__ADS_2