Mooneta High School

Mooneta High School
Twice


__ADS_3

Soal urutan bukanlah sebuah masalah lagi. Anak-anak dari


akademi sihir Mooneta akan siap kapan saja mereka dipanggil. Tidak masalah jika


memang mereka harus mendapatkan urutan pertama dan bertanding lebih awal dari


akademi sihir yang lainnya. Sekarang Nhea sudah kembali bersama timnya. Jadi,


tidak ada yang perlu dicemaskan lagi.


Omong-omong soal kejadian tidak masuk akal yang menimpa Nhea


tadi, sama sekali tidak ada yang tahu kecuali Oliver. Semua orang hanya menganggap


tidak terjadi apa-apa. Bahkan tidak ada seorang pun di sana yang menyadari jika


Nhea nyaris tak bisa keluar dari dalam bilik kamar mandi. Beruntung Oliver


datang di saat yang tepat. Sehingga Nhea tidak perlu menunggu terlalu lama di


sana.


Setelah selesai makan siang, mereka semua pergi ke hall


utama. Sama seperti rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Sebenarnya, nomer


urut peserta baru akan diumumkan sekitar dua puluh menit lagi jika dilihat


melalui jadwal yang sebenarnya. Namun, tidak ada salahnya jika mereka datang


lebih cepat.


Mooneta tidak menjadi satu-satunya akademi sihir yang


pertama kali sampai di tempat itu. Ada beberapa akademi lain yang ternyata


sudah berada di sana jauh sebelum mereka datang. Mungkin mereka juga sudah


makan siang di sana.


“Ayo!” ajak Oliver sembari menarik tangan gadis itu.


Memangnya siapa lagi jika bukan Nhea. Semenjak kejadian di


kamar mandi tadi, Oliver tidak akan pernah membiarkan Nhea terlepas dari


jangkauannya. Gadis itu masih cukup muda. Dia tidak tahu apa-apa soal dimensi


ini yang jelas-jelas berbeda jauh dengan dunia nyata pada umumnya.


Tidak mudah untuk beradaptasi dengan dimensi yang satu ini. Terlebih


bagi orang biasa seperti Nhea. Lebih tepatnya tidak sembarang orang bisa


bertahan hidup. Hanya mereka yang terpilih saja. Mungkin Nhea adalah salah


satunya. Pasalnya, gadis itu masih bisa bertahan hingga titik ini. Bukan pekara


mudah untuk bisa sampai pada fase tertentu. Ada banyak rintangan yang


memungkinkan untuk membuat nyawamu hilang.


“Bagaimana kalau kita duduk di sana?” tanya Oliver yang


kemudian dibalas dengan anggukan oleh Nhea.


Tanpa pikir panjang lagi, mereka segera menuju salah satu


tempat yang masih cukup lengang di sudut ruangan. Sepertinya tempat ini tidak


terlalu besar jika dilihat sekilas. Namun, pada kenyataannya, hall utama bisa

__ADS_1


menampung hingga lebih dari lima ribu orang.


Belum sempat mereka mendaratkan bokongnya di tempat duduk


yang tersedia, sudah ada orang lain yang duduk di sana lebih dulu. Sontak hal


tersebut berhasil memancing emosi kedua gadis itu secara tidak langsung.


“Apa yang kalian lakukan di tempat duduk kami?” tanya Oliver


dengan tatapan sinis.


“Apa maksudmu?” tanya orang itu balik.


“Sudah jelas-jelas jika kami yang sampai dan duduk di sini


lebih dulu. Kau tidak memiliki ha katas tempat ini sama sekali,” timpal


temannya yang lain beberapa detik kemudian.


“Sudahlah, lebih baik kita cari tempat duduk yang lain saja,”


bujuk Nhea.


Gadis itu berusaha untuk tetap terlihat tenang meskipun


tidak bisa dipungkiri jika saat ini mereka tengah dilanda rasa kesal. Tapi, di


sisi lain apa yang dikatakan oleh orang-orang tadi itu ada benarnya juga. Mereka


tidak seharusnya bersikap seperti itu. Bagaimanapun juga, siapa yang berhasil


sampai di tempat ini lebih awal, maka ia adalah orang yang paling berhak.


Setelah berhasil menenangkan Oliver, pada akhirnya mereka


memutuskan untuk duduk di bangku belakang saja. Posisinya tepat berada di


“Hari ini sungguh ada banyak hal yang membuatku merasa


kesal,” cicit Oliver.


“Kau harus mengontrol emosimu sendiri,” balas Nhea.


“Bukankah kau yang sering mengatakan hal tersebut kepadaku?”


lanjutnya kemudian.


Nhea tidak pernah tahu jika mereka memiliki cukup banyak


musuh. Ringkasnya, ada beberapa orang yang tidak menyukai mereka. Padahal Nhea


dan Oliver tidak pernah berbuat salah kepada mereka sebelumnya. Atau bahkan


sampai mencari gara-gara.


Sepertinya ini bukan soal personal. Melainkan karena mereka


merupakan salah satu bagian dari akademi sihir Mooneta. Menjadi yang terbaik


memang tidak selamanya tentang hal baik. Tidak selalu positif. Terkadang juga


terjadi sebaliknya. Tidak jarang yang terbaik malah mendapatkan perlakuan yang


tidak sepantasnya.


“Mereka selalu iri


dengan yang terbaik.”


“Aku terlahir tanpa

__ADS_1


bakat. Tapi, untuk sampai ke titik sekarang ini juga bukan pekara yang mudah.”


Untuk pertama kalinya kalimat tersebut kembali dimainkan


ulang oleh otaknya. Beberapa saat yang lalu Nhea pernah mendengarkannya


langsung dari Eun Ji Hae. Tepat sebelum pembagian tim untuk perlombaan. Nhea


pernah diminta untuk menemui Eun Ji Hae ke ruangan Bibi Ga Eun.


Sepertinya gadis yang satu itu memang mengetahui banyak hal


soal hidup. Tidak hanya turan dasar sebagai manusia saja. Bahkan, ia juga turut


mengungkap beberapa hal yang tidak seharussnya diketahui oleh manusia lainnya. Dengan


dalih kebaikan katanya.


“Aku penasaran, dengan siapa aku akan bertanding nantinya,”


gumam Oliver.


“Apa kau begitu berambisi untuk mengalahkan mereka semua?”


tanya Nhea secara mendadak.


“Kenapa tidak?” tanya gadis itu balik.


Nhea hanya menggidikkan bahunya. Mereka mengakhiri


percakapannya secara spontan. Tanpa ada aba-aba sama sekali.


Wajar saja jika Oliver memiliki tujuan demikian. Diamemang


tipikal orang yang cukup ambisius jika dibandingkan dengan orang lain. Terutama


di akademi sihir Mooneta. Bisa dikatakan jika ia termasuk ke dalam barisan


murid yang paling ambisius. Bukan hanya itu saja. ia bahkan juga sering


membuktikan potensinya kepada orang lain hanya demi mendapatkan pengakuan dari


orang lain. Padahal ia tidak memerlukan hal itu lagi. Semua orang juga tahu


jika ia adalah yang terbaik dari terbaik.


Nhea menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Beberapa hari


ini terasa terlalu melelahkan baginya. Mereka terus ditekan habis-habisan. Tidak


dibiarkan untuk bebas bahkan sekali saja. Bagi Nhea sendiri, sangat sulit untuk


tetap menjaga pola tidurnya.


Mereka semua berlatih keras demi memberikan hasil yang


terbaik pada kompetisi kali ini. Meski sebenarnya festival sihir hanya untuk


hiburan, tapi perlombaan tetap menjadi sorotan utama orang-orang.


Masyarakat kota selalu menantikan hari pembukaan dan hari


penutupan. Tapi, biasanya hari terakhir selalu menjadi yang paling berkesan. Sebab


pada saat itu pula mereka akan mengetahui siapa pemenangnya. Mooneta selalu


berada di posisi pertama biasanya. Mereka cukup konsisten untuk mempertahankan


posisinya dari tahun ke tahun.


Namun, untuk posisi ke dua dan seterusnya bisa saja berubah.

__ADS_1


Tergantung performa mereka pada saat itu.


__ADS_2