
Kemungkinan terburuknya bisa saja terjadi. Tidak ada yang
tahu. Tapi, satu hal yang pasti. Waspada akan membuat mereka aman.
“Jadi, maksudmu kejadian pertama adalah penyebab peristiwa
kedua dan seterusnya. Begitu bukan?” simpul Eun Ji Hae.
“Tepat sekali!” seru Nhea.
Eun Ji Haemulai mendapatkan poin pentingnya di sini. Gadis
itu mengangguk-anggukkan kepalanya, pertanda ia paham dengan situasi yang
tengah terjadi saat ini.
“Itu artinya, apa yang terjadi hari ini memiliki hubungan
erat dengan kematian Ify begitu?” tanya Eun Ji Hae kepada seorang gadis yang
lebih muda darinya itu.
“Menurutku pasti begitu. Tapi, aku tidak tahu pasti apa hubungannya dan kenapa alasaanya,”jelas Nhea.
Kini keduanya mulai terbawa suasana. Jika dipikir-pikir,
sepertinya apa yang dikatakan oleh Nhea tadi tidak sepenuhnya salah. Meski itu
hanya asumsi tanpa bukti. Mereka perlu mencari beberapa bukti untuk semakin
memperkuat asumsinya.
“Kita harus melakukan sesuatu!” usul Nhea.
Eun Ji Hae tampak tak ingin menanggapinya sama sekali. Ia lebih
memilih untuk menyimak perkataan gadis itu saja. Apa yang akan ia katakan
selanjutnya. Eun Ji Hae terlihat menuntut jawaban dari Nhea. dia tidak bisa
mengandalkan otaknya untuk bekerja sepenuhnya hari ini.
“Beberapa hari yang lalu, aku menemui seorang pria asing. Dia
berada di lingkungan sekolah ini. Tapi aku yakin jika pria itu bukanlah salah
__ADS_1
satu siswa,” jelas Nhea dengan panjang lebar.
“Dia sepertinya sedang menyusup ke tempat ini dengan suatu
tujuan tertentu,” tukasnya.
Eun Ji Hae terlihat mengerutkan dahinya. Sehingga kedua alis
gadis itu tampak seperti menyatu.
“Apa kau masih mengingat seperti apa wajahnya?” tanya Eun Ji
Hae.
Gadis itu mulai terbawa suasana. Kini mereka berdua
benar-benar serius, mengikuti topik pembicaraannya.
Nhea hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak
terlalu yakin dengan daya ingatnya.
“Kenapa kau tak mencegahnya?!” protes Eun Ji Hae tak terima.
balas Nhea yang tak ingin kalah.
Nhea tau jika dirinya salah pada saat itu. Bagaimana bisa ia
membiarkan seorang penyusup masuk ke wilayahnya tanpa menaruh rasa curiga sama
sekali. Ia bahkan telah membiarkan pria itu untuk mengacau beberapa kali. Namun
tetap saja, Nhea tidak ingin disalahkan seperti itu.
Bukankah ini menjadi tanggung jawab sekolah. Kenapa harus
Nhea yang disalahkan seorang diri. Lagi pula ia masih terlalu awam. Dia tidak
tahu apa-apa dan tidak tahu harus berbuat apa. Bagaimana bisa mereka berharap
agar ia menangkap seorang penyusup yang jelas-jelas jauh lebih hebat darinya.
“Kita harus bicarakan ini kepada Bibi Ga Eun. Dia pasti bisa
membantu,” usul Eun Ji Hae.
__ADS_1
“Tapi, bagaimana cara kita menjelaskannya?” tanya Nhea.
“Jelaskan saja sebagaimana kau menjelaskan kepadaku tadi. Aku
yakin jika ia pasti akan memahaminya,” jelas gadis itu.
“Tapi jagan sekarang!” cegah Nhea.
“Kenapa?” tanya Eun Ji Hae.
Pasalnya, kenapa mereka sampai harus mengulur waktu. Sementara
saat ini sisa waktu yang mereka miliki tidak banyak lagi. Salju semakin menebal
setiap saatnya dan siap untuk mengubur seluruh bangunan sekolah ini. Mereka harus
bergerak cepat. Siapa tahu apa yang diceritakan oleh Nhea bisa menjadi jalan
keluar bagi semua orang.
Permasalahan yang tengah terjadi di Sekolah Mooneta saat ini
harus segera dicari jalan keluarnya. Secepat mungkin yang mereka bisa. Jalan
keluar terbaik tanpa harus mengorbankan apa pun.
“Tadi, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Bibi Ga Eun
dengan Ibu sewaktu berada di perpustakaan,” ujar Nhea.
“Mereka terdengar seperti tengah beradu argument,”
ungkapnya.
“Saat ini pasti Bibi Ga Eun sedang dalam kondisi yang tidak
baik-baik saja. Jadi, sebaiknya kita tunggu dulu sampai setidaknya kondisi
emosional bibi stabil,” papar gadis itu dengan panjang lebar.
Jadi ternyata itu alasannya kenapa Bibi Ga Eun terlihat aneh
saat berpapasan dengan Eun Ji Hae tadi. Ternyata ia baru saja berselisih
pendapat dengan Vallery.
__ADS_1