
Vallery lantas langsung memeluk putrinya tersebut, yang baru saja sadarkan diri beberapa detik lalu. Tentu saja ia tak ingin kehilangan gadis ini untuk yang kedua kalinya. Kali ini wanita itu akan menggenggam erat gadis ini untuk selamanya dan tak akan pernah melepaskannya sedikitpun.
Nhea masih berusaha mengumpulkan sebagian besar nyawanya, yang entah berada dimana setelah mengalami tidur panjang. Semuanya terasa begitu nyata baginya sekarang ini. Sudah terlalu lama ia terjebak dalam dunia yang semu dan fana. Namun kali ini ia merasakan semuanya begitu berbeda, karena yang kali ini dilihat oleh gadis itu terasa lebih hidup.
“Berikan ia kesempatan untuk bernafass, jangan menghalanginya seperti itu,” ujar Wilson yang terlihat begitu girang.
“Oh, maaf. Aku terlalu bahagia untuk menyambut hal ini,” balas Vallery kemudian menyingkir beberapa langkah dari sana.
Nhea masih terlihat beradaptasi dengan dunia barunya, yang memang menjadi tempat dimana gadis ini seharusnya berada. Gadis ini mengamati sekelilingnya dengan begitu teliti. Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan merasa lega atas semuanya. Setidaknya gadis itu sadar jika sekarang dirinya masih hidup, karena jantung yang sebagai pertanda kehiduppan dirinya itu masih berdetak.
Vallery menangis terharu karena terlalu bahagia. Tangisnya pecah begitu saja dalam dekapan hangat pria yang dicintainya itu. Ia tak tahu bagaimana cara mengekspresikan perasaannya untuk sekarang ini. Begitu pula Wilson yang dibuat begitu takjub atas keajaiban yang tak pernah ia duga sebelumnya ini.
Setelah merasa jika tenaganya telah terkumpul sepenuhnya, Nhea mulai mendudukkan dirinya di atas tempat tidur. Ia menatap kedua orang di depannya dengan tatapan yang tak memiliki arti sedikitpun.
“Apa kalian datang untukku?” tanya Nhea dengan nada bicara datar.
“Tentu saja sayang….” jawab Vallery dengan antusias.
“Kami datang untuk menyelamatkanmu, kau tahu jika dirimu terlalu berarti untuk kami,” sambung Wilson sambil membelai halus rambut putrinya tersebut.
__ADS_1
“Kabar terakhir yang aku dengan soal kalian, mereka bilang jika kalian sudah tak bersama-sama lagi,” jelas gadis itu dengan sedikit menurunkan pandangannya.
“Apa itu benar?” lanjutnya.
“Tentu saja itu tidak benar, kami tak akan pernah berpisah sayang,” jelas Vallelry dengan penuh pengertian.
“Kami saling mencintai, ikatan cinta tak mudah untuk dilepaskan begitu saja,” timpal Wilson yang ikut menambahi.
Nhea sama sekali tak menggubris penjeelasan kedua orang tuanya barusan. Sepertinya diam sudah cukup untuk menjadi sebuah jawaban bagi mereka, jika artinya anak in telah paham dengan apa yang mereka sampaikan tadi.
“Kau sudah tahukan, alasan kenapa kami terpaksa meninggalkanmu selama ini?” tanya Wilson dengan hati-hati.
Sementara Nhea beristirahat dan menikmati waktu bersantainya sebentar, kedua orang tersebut lantassegera menyingkir dari tempat tersebut. Mereka perlu memberikan sedikit ruang pribadi bagi anaknya yang sudah mulai beranjak dewasa itu. Tak terasa jika waktu terus berjalan dengan begitu cepat
Setidaknya sekarang gadis itu bisa mengerti dan tak akan marah dengan Vallery dan Wilson. Sekarang mereka berdua sudah mulai bisa bernapas dengan lega. Karena ketakutan terbesar yang terus menghantui mereka selama beberapa hari ini, akhirnya bisa pergi dan menjauh untuk selamanya.
Gadis itu merebahkan dirinya di atas kasur, untuk yang kesekian kalinya. Meskipun baru beberapa detik yang lalu rasanya ia beranjak dari tempat ini, namun sekarang hanya benda empuk itulah yang menjadi magnet tersendiri baginya. Bukan hanya gadis ini yang merasakannya mungkin. Pasti semua orang juga menjadikan kasur sebagai spot paling menarik dan terbaik untuk beristirahat setelah berkelana seharian penuh.
“Fiuh….”
__ADS_1
Nhea menghela nafasnya panjang, sambil menatap langit-langit dari ruangan ini. Sesekali ia sering bertanya kepada dirinya sendiri, kenapa ia bisa sampai ke tempat ini. Berada di sekolah ini adalah sesuatu yang tak pernah ia duga sebelumnya. Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah status yang ia miliki di sekolah ini, menjadikannya sangat disegani oleh orang lain di tempat ini.
“Hai….” sahut seseorang entah dari mana.
Gadis itu lantas terkejut bukan main. Bahkan ia tak tahu dari mana asal suara tersebut berasal. Yang ia tahu jika hanya dirinya lah satu-satunya orang yang berada di ruangan ini. Lalu siapa yang barusan berbicara itu. Jangan bilang jika di sekolah ini ada hantunya. Benar-benar tidak asik jika ternyata ada seseorang yang tenga mengerjainya sekarang ini.
“Siapa itu?!” ucap gadis itu dengan lantang.
Namun sama sekali tak ada jawaban dari si pemilik suara tersebut. Bulu kuduk gadis ini semakin dibuat berdiri, sekujur tubuhnya terasa begitu merinding. Seolah ada sayup-sayup angin yang melalui kakinya dengan begitu lembut. Nhea memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya saat itu juga. Ia mengamati sekelilingnya dengan begitu seksama, memastikan tak ada sedikitpun yang terlewat oleh pandangannya.
Nhea terus berjaga-jaga dengan situasi saat ini yang sama sekali tak menyenangkan baginya. Ia berusaha mempertahankan dirinya sendiri dengan memegang bantal yang ia letakkan di depan dada. Mungkin tak akan bisa menyakiti musuhnya, namun setidaknya bisa melindungi dirinya sendiri dari serangan senjata tajam atau semacamnya. Tetap waspada akan membuatnya menjadi sedikit lebih aman.
“Hai…” bisik seseorang dari belakang telinganya.
Bukan hanya itu, entah kejutan macam apa ini. Tapi yang jelas ini sama sekali tak lucu. Bagaimana bisa tiba-tiba ada seseorang yang memeluk tubuhnya dari belakang, sambil mengucapkan satu kata tersebut yang terdengar begitu jelas di telinganya. Nhea yakin jika ia sedang tak salah dengar, karena ia yakin jika suara itu benar-benar tertangkap oleh indera pendengarannya sendiri.
Bantal yang tadinya ia genggam dengan segenap tenaga itu, lantas jatuh begitu saja ke lantai tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Tubuhnya seketika itu lantas mematung di tempat, setelah mengalami hal menakutkan itu. Kaki Nhea bergetar hebat, lidahnya terlalu kellu untuk meminta pertolongan atau hanya untuk sekedar mengucapkan satu kata saja. Gadis itu menelan salivanya sendiri dengan susah payah.
Ia tak tahu sosok mahluk seperti apa yang sedang dihadapinya sekarang. Satu hal yang jelas ia rasakan saat ini adalah ketakutan yang begitu luar biasa, hingga membuatnya menjadi tak berdaya.
__ADS_1
Dengan segenap sisa keberanian yang ia miliki, Nhea berusaha menurunkan pandangannya. Namun yang ia dapati hanyalah sebuah tangan dengan warna kulit yang terlihat pucat. Jangan bilang jika saat ini ia sedang benar-benar dihadapkan dengan hantu penunggu sekolah ini.