
Eun Ji Hae tidak akan ikut bermain dalam pertandingan kali
ini. Meski sebenarnya ia masih ingin bergabung bersama salah satu tim di sana.
Sangat disayangkan karena sekarang statusnya sudah bukan sebagai siswa lagi.
Tidak peduli apakah sekarang dia masih berada di akademi atau tidak. Mereka tidak
akan dianggap sebagai siswa lagi setelah lulus. Melainkan alumni.
Sepertinya semua orang juga tahu persis jika alumni tidak
bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan sekolah. Mereka memiliki akses yang
terbatas. Berbeda jauh dengan para siswa yang aksesnya nyaris tidak terbatas
dalam kehidupan sekolah.
Dahulu Eun Ji Hae pernah membuat nama tim panahan melejit
tajam di angkatannya. Sebab, gadis itu adalah pemimpin bagi tim mereka kala
itu. Tidak salah jika Eun Ji Hae dipilih sebagai pemimpin. Semua orang
tampaknya tahu persis jika Eun Ji Hae cocok berada di posisi tersebut.
“Apakah semuanya sudah siap?” tanya Bibi Ga Eun yang
mendadak muncul entah dari mana.
Tidak bisa dipungkiri jika Eun Ji Hae juga merasa terkejut
karena kedatangannya yang terkesan mendadak seperti itu. Namun, ia segera
bersikap biasa saja. Seolah tidak ada apa pun yang terjadi. Bibi Ga Eun pasti
akan menganggapnya berlebihan jika sampai tahu kalau Eun Ji Hae sungguh
terkejut karenanya.
“Bisa bibi ulangi lagi? Aku sedikit kurang fokus tadi,” ujar
Eun Ji Hae.
Sementara itu, sosok yang diajak bicara hanya bisa menghela
napasnya panjang. Sejujurnya, ia pasti merasa keberatan jika harus melakukan
hal yang sama lebih dari satu kali. Tapi, untuk kali ini Bibi Ga Eun rela
melakukannya.
“Apa semuanya sudah siap?” tanya Bibi Ga Eun sekali lagi.
“Kau sudah membereskan semuanya bukan?” timpalnya kemudian.
Belum sempat Eun Ji Hae menjawab pertanyaannya yang
sebelumnya, Wanita itu sudah menyuguhinya dengan pertanyaan yang lain.
“Jangan khawatir. Aku sudah memastikan jika semuanya
berjalan baik-baik saja,” jawab Eun Ji Hae dengan apa adanya.
“Baiklah, kerja bagus kalau begitu!” puji Bibi Ga Eun secara
spontan.
“Aku tahu jika kau akan melaksanakan semua sesuai dengan
perintah. Kau termasuk orang yang bisa kami andalkan di sini,” jelas wanita itu
__ADS_1
dengan panjang lebar.
Eun Ji Hae hanya bisa tersenyum tipis begitu mendengar
kalimat seperti itu meluncur keluar dari mulut Bibi Ga Eun. Kali ini tidak ada
rasa terpaksa seperti yang sebelumnya. Untuk pertama kalinya ia sungguh
melakukan ini dengan tulus. Tidak ada paksaan sama sekali. Lupakan soal
perselisihan yang sempat terjadi di antara mereka berdua beberapa saat yang
lalu. Sekarang hal tersebut bahkan tidak terasa penting sama sekali.
“Aku mempercayakan semua urusannya kepadamu,” ungkap Bibi Ga
Eun.
“Kau bisa mempercayaiku kalau begitu,” balas gadis itu.
“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu,” pamit Bibi Ga Eun
yang kemudian diangguki oleh Eun Ji Hae.
Gadis itu masih tetap berdiri di sana sambil menatap
punggung Bibi Ga Eun yang kian menjauh darinya. Dalam diam ia menyadari jika
dirinya tidak membenci wanita itu dengan sepenuhnya. Ada banyak hal baik yang
bisa ia lihat dari sudut pandang yang sekarang.
“Manusia memang
terlalu mudah percaya pada asumsi orang lain, ketimbang dirinya sendiri.”
Mungkin itu adalah pelajaran yang bisa ia ambil untuk hari
ini. Sebuah hal yang cukup berarti di dalam hidupnya sebenarnya.
petik hari ini. Bukan hanya satu atau dua hal saja. Tapi, satu hal yang
berhasil menarik atensinya sekarang adalah tentang bagaimana kita menilai
seseorang dari berbagai sudut pandang.
“Manusia memang lebih
mudah untuk melihat satu salah daripada seribu bahagia.”
***
Eun Ji Hae kembali ke dalam kamp untuk memastikan semuanya
kembali. Sebagai penanggung jawab atas para siswa selain Bibi Ga Eun, dia harus
memastikan jika semuanya baik-baik saja. Jika beberapa saat yang lalu Nhea
sempat berkata jika dirinya kelelahan dan nyaris tidak pernah bisa tidur. Kalau
bicara soal itu, maka kondisi Eun Ji Hae saat ini jauh lebih buruk dari yang
mereka alami.
Gadis itu hanya perlu mengkoordinasi para pemimpin tim dan
juga pelatih. Menanyakan apa saja kendalanya dan sudah sampai dimana
perkembangan mereka. Satu hal yang tidak boleh terlewat adalah, sudah berapa
banyak persiapa mereka.
__ADS_1
Setelah selesai berkeliling, maka gadis itu bisa langsung
kembali ke tendanya. Ia belum bisa kembali ke gedung akademi sebelum mereka selesai bertangding. Ringkasnya, Eun Ji
Hae harus tetap berada di sini untuk mengawasi mereka semua. Jika ada sesuatu
yang terjadi, maka itu menjadi tanggung jawab Eun Ji Hae sepenuhnya.
Tidak perlu banyak waktu untuk mengontrol mereka semua. Eun Ji
Hae bisa melakukannya dalam waktu kurang dari lima belas menit. Setelah
memastikan jika semuanya beres, Eun Ji Hae berjalan keluar kamp. Tidak ada
alasan lagi baginya untuk tetap berada di sini.
“Jang Eunbi dan Nhea! Bisa kemari sebentar?” sahut pelatih.
Kedua gadis itu hanya saling melempar tatapan untuk beberapa
saat. Sebelum pada akhirnya mereka memutuskan untuk pergi menghadap pelatih. Tidak
ada yang tahu pasti apa alasan di baliknya. Lebih tepatnya kenapa mereka
mendadak dipanggil untuk datang ke sana.
“Kalian berdua ikut aku!” titah pelatih.
Tanpa menunggu balasan dari keduanya, wanita itu langsung
beranjak dari tempat duduknya. Ia memilih untuk pergi lebih dulu. Sekaligus memimpin
jalanan bagi Jang Eunbi dan juga Nhea. Keduanya hanya menurut saja. Tidak ada
yang berani untuk bertanya lebih lanjut perihal hal tersebut.
Mereka berdua mengikuti langkah wanita itu dari belakang
dengan tetap menjaga jarak. Hal yang paling utama dan harus tetap diutamakan
adalah kenyamanan si pelatih.
Nhea sama sekali tidak habis pikir kenapa ia bisa mendadak
dipanggil oleh pelatih menjelang pertandingan. Padahal jika diingat-ingat, dia
sama sekali tidak memiliki kesalahan. Nhea belum berbuat salah yang berdampak
serius kepada tim atau bahkan pelatihnya sendiri untuk hari ini. Gadis itu
sungguh kehabisan akal. Dia bahkan tidak bisa mencari tahu kenapa dan apa
alasannya.
Hari ini sepertinya ada cukup banyak orang yang ingin
berbicara langsung kepadanya. Hanya mereka berdua. Obrolan yang bersifat
privasi dan bukan terbuka. Mulai dari Eun Ji Hae, hingga pelatih. Kemarin
Chanwo. Besok entah siapa lagi yang mengajaknya mengobrol secara privat seperti
ini.
“Duduklah!” titah wanita itu saat mereka sampai di taman
yang tempatnya tidak jauh dari kamp.
Tanpa pikir panjang lagi, mereka langsung menuruti perintah sang
pelatih. Baik Nhea maupun Jang Eunbi, keduanya sama sekali tidak ingin membuat
__ADS_1
masalah baru. Jadi, akan jauh lebih baik jika mereka mengikuti alur
permainannya saja sekarang.