Mooneta High School

Mooneta High School
Controller


__ADS_3

Eun Ji Hae tidak akan ikut bermain dalam pertandingan kali


ini. Meski sebenarnya ia masih ingin bergabung bersama salah satu tim di sana.


Sangat disayangkan karena sekarang statusnya sudah bukan sebagai siswa lagi.


Tidak peduli apakah sekarang dia masih berada di akademi atau tidak. Mereka tidak


akan dianggap sebagai siswa lagi setelah lulus. Melainkan alumni.


Sepertinya semua orang juga tahu persis jika alumni tidak


bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan sekolah. Mereka memiliki akses yang


terbatas. Berbeda jauh dengan para siswa yang aksesnya nyaris tidak terbatas


dalam kehidupan sekolah.


Dahulu Eun Ji Hae pernah membuat nama tim panahan melejit


tajam di angkatannya. Sebab, gadis itu adalah pemimpin bagi tim mereka kala


itu. Tidak salah jika Eun Ji Hae dipilih sebagai pemimpin. Semua orang


tampaknya tahu persis jika Eun Ji Hae cocok berada di posisi tersebut.


“Apakah semuanya sudah siap?” tanya Bibi Ga Eun yang


mendadak muncul entah dari mana.


Tidak bisa dipungkiri jika Eun Ji Hae juga merasa terkejut


karena kedatangannya yang terkesan mendadak seperti itu. Namun, ia segera


bersikap biasa saja. Seolah tidak ada apa pun yang terjadi. Bibi Ga Eun pasti


akan menganggapnya berlebihan jika sampai tahu kalau Eun Ji Hae sungguh


terkejut karenanya.


“Bisa bibi ulangi lagi? Aku sedikit kurang fokus tadi,” ujar


Eun Ji Hae.


Sementara itu, sosok yang diajak bicara hanya bisa menghela


napasnya panjang. Sejujurnya, ia pasti merasa keberatan jika harus melakukan


hal yang sama lebih dari satu kali. Tapi, untuk kali ini Bibi Ga Eun rela


melakukannya.


“Apa semuanya sudah siap?” tanya Bibi Ga Eun sekali lagi.


“Kau sudah membereskan semuanya bukan?” timpalnya kemudian.


Belum sempat Eun Ji Hae menjawab pertanyaannya yang


sebelumnya, Wanita itu sudah menyuguhinya dengan pertanyaan yang lain.


“Jangan khawatir. Aku sudah memastikan jika semuanya


berjalan baik-baik saja,” jawab Eun Ji Hae dengan apa adanya.


“Baiklah, kerja bagus kalau begitu!” puji Bibi Ga Eun secara


spontan.


“Aku tahu jika kau akan melaksanakan semua sesuai dengan


perintah. Kau termasuk orang yang bisa kami andalkan di sini,” jelas wanita itu

__ADS_1


dengan panjang lebar.


Eun Ji Hae hanya bisa tersenyum tipis begitu mendengar


kalimat seperti itu meluncur keluar dari mulut Bibi Ga Eun. Kali ini tidak ada


rasa terpaksa seperti yang sebelumnya. Untuk pertama kalinya ia sungguh


melakukan ini dengan tulus. Tidak ada paksaan sama sekali. Lupakan soal


perselisihan yang sempat terjadi di antara mereka berdua beberapa saat yang


lalu. Sekarang hal tersebut bahkan tidak terasa penting sama sekali.


“Aku mempercayakan semua urusannya kepadamu,” ungkap Bibi Ga


Eun.


“Kau bisa mempercayaiku kalau begitu,” balas gadis itu.


“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu,” pamit Bibi Ga Eun


yang kemudian diangguki oleh Eun Ji Hae.


Gadis itu masih tetap berdiri di sana sambil menatap


punggung Bibi Ga Eun yang kian menjauh darinya. Dalam diam ia menyadari jika


dirinya tidak membenci wanita itu dengan sepenuhnya. Ada banyak hal baik yang


bisa ia lihat dari sudut pandang yang sekarang.


“Manusia memang


terlalu mudah percaya pada asumsi orang lain, ketimbang dirinya sendiri.”


Mungkin itu adalah pelajaran yang bisa ia ambil untuk hari


ini. Sebuah hal yang cukup berarti di dalam hidupnya sebenarnya.


petik hari ini. Bukan hanya satu atau dua hal saja. Tapi, satu hal yang


berhasil menarik atensinya sekarang adalah tentang bagaimana kita menilai


seseorang dari berbagai sudut pandang.


“Manusia memang lebih


mudah untuk melihat satu salah daripada seribu bahagia.”


***


Eun Ji Hae kembali ke dalam kamp untuk memastikan semuanya


kembali. Sebagai penanggung jawab atas para siswa selain Bibi Ga Eun, dia harus


memastikan jika semuanya baik-baik saja. Jika beberapa saat yang lalu Nhea


sempat berkata jika dirinya kelelahan dan nyaris tidak pernah bisa tidur. Kalau


bicara soal itu, maka kondisi Eun Ji Hae saat ini jauh lebih buruk dari yang


mereka alami.


Gadis itu hanya perlu mengkoordinasi para pemimpin tim dan


juga pelatih. Menanyakan apa saja kendalanya dan sudah sampai dimana


perkembangan mereka. Satu hal yang tidak boleh terlewat adalah, sudah berapa


banyak persiapa mereka.

__ADS_1


Setelah selesai berkeliling, maka gadis itu bisa langsung


kembali ke tendanya. Ia belum bisa kembali  ke gedung akademi sebelum mereka selesai bertangding. Ringkasnya, Eun Ji


Hae harus tetap berada di sini untuk mengawasi mereka semua. Jika ada sesuatu


yang terjadi, maka itu menjadi tanggung jawab Eun Ji Hae sepenuhnya.


Tidak perlu banyak waktu untuk mengontrol mereka semua. Eun Ji


Hae bisa melakukannya dalam waktu kurang dari lima belas menit. Setelah


memastikan jika semuanya beres, Eun Ji Hae berjalan keluar kamp. Tidak ada


alasan lagi baginya untuk tetap berada di sini.


“Jang Eunbi dan Nhea! Bisa kemari sebentar?” sahut pelatih.


Kedua gadis itu hanya saling melempar tatapan untuk beberapa


saat. Sebelum pada akhirnya mereka memutuskan untuk pergi menghadap pelatih. Tidak


ada yang tahu pasti apa alasan di baliknya. Lebih tepatnya kenapa mereka


mendadak dipanggil untuk datang ke sana.


“Kalian berdua ikut aku!” titah pelatih.


Tanpa menunggu balasan dari keduanya, wanita itu langsung


beranjak dari tempat duduknya. Ia memilih untuk pergi lebih dulu. Sekaligus memimpin


jalanan bagi Jang Eunbi dan juga Nhea. Keduanya hanya menurut saja. Tidak ada


yang berani untuk bertanya lebih lanjut perihal hal tersebut.


Mereka berdua mengikuti langkah wanita itu dari belakang


dengan tetap menjaga jarak. Hal yang paling utama dan harus tetap diutamakan


adalah kenyamanan si pelatih.


Nhea sama sekali tidak habis pikir kenapa ia bisa mendadak


dipanggil oleh pelatih menjelang pertandingan. Padahal jika diingat-ingat, dia


sama sekali tidak memiliki kesalahan. Nhea belum berbuat salah yang berdampak


serius kepada tim atau bahkan pelatihnya sendiri untuk hari ini. Gadis itu


sungguh kehabisan akal. Dia bahkan tidak bisa mencari tahu kenapa dan apa


alasannya.


Hari ini sepertinya ada cukup banyak orang yang ingin


berbicara langsung kepadanya. Hanya mereka berdua. Obrolan yang bersifat


privasi dan bukan terbuka. Mulai dari Eun Ji Hae, hingga pelatih. Kemarin


Chanwo. Besok entah siapa lagi yang mengajaknya mengobrol secara privat seperti


ini.


“Duduklah!” titah wanita itu saat mereka sampai di taman


yang tempatnya tidak jauh dari kamp.


Tanpa pikir panjang lagi, mereka langsung menuruti perintah sang


pelatih. Baik Nhea maupun Jang Eunbi, keduanya sama sekali tidak ingin membuat

__ADS_1


masalah baru. Jadi, akan jauh lebih baik jika mereka mengikuti alur


permainannya saja sekarang.


__ADS_2