
Pria itu menundukkan kepalanya, sambil memainkan salah satu kakinya. Ia terlihat enggan untuk menggubris, apalagi harus menjawab pertanyaan Hwang Ji Na. Chanwo sangat tahu jika gadis keturunan bangsa serigala alpha ini terlalu emosi dalam bertindak. Mereka terlalu berambisi untuk mendapatkan apa yang mereka mau.
“Kenapa kau malah diam?” ujar Hwang Ji Na.
“Cepat jawab pertanyaanku!” lanjutnya dengan nada bicara yang terdengar lebih tinggi.
Chanwo menarik napasnya dalam-dalam, sambil menatap tajam ke arah gadis menyebalkan ini.
“Aku yakin jika kau dan adikku masih mampu untuk mengatasi masalah di sana. Tak pernah ada hal yang terlalu serius di tempat itu. Jadi ku rasa kalian akan baik-baik saja tanpa diriku untuk sementara waktu,” jelasnya dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.
“Apa maksudmu?” tanya Hwang Ji Na untuk yang kesekian kalinya.
“Ku rasa kau tahu apa maksudku tanpa perlu ku jelaskan lebih detail lagi. Kau cukup cerdas bukan, untuk menebaknya?” ucap Chanwo dengan santai.
“Baiklah,mari kita buat hal ini jadi lebih sederhana!” balas Hwang Ji Na.
“Pertama-tama, apa yang membuatmu ingin tetap berada di sini?” lanjutnya.
“Kau sudah tahu apa alasanku sejak awal kepergianku dari tempat itu,” jawab Chanwo.
“Tapi bukankah semuanya sudah selesai sekarang? Aku lihat gadis yang kau tolong itu sudah lebih baik,” ungkapnya.
“Semuanya jadi lebih rumit sekarang dan itu semua karena aku,” jelas Chanwo dengan apa adanya.
“Baiklah, ternyata kau bukanlah seseorang yang pantas untuk menjadi seorang pemimpin. Kau hanya lebih mementingkan orang lain daripada rakyatmu sendiri. Kau tak pantas menjadi seorang pemimpin! Adikmu lah yang seharusnya sejak dulu ditunjuk sebagai seorang ahli waris tahta kerajaan,” sindir Hwang Ji Na secara terang-terangan.
__ADS_1
Setelah mendengar kata-kata sindiran yang cukup pedas keluar dari mulut Hwang Ji Na, pria ini mencoba untuk tetap bersikap biasa saja seolah tak ada sesuatu yang terjadi barusan. Padahal tak bisa dipungkiri jika emosinya tengah meledak-ledak di dalam dirinya dan sekarang sedang berisiap untuk meletus.
Jika ia bisa melakukannya,mungkin ia sudah menghabisi Hwang Ji Na tepat di hadapannya sekarang ini. Tak peduli seerat apa hubungan yang pernah mereka ciptakan dulu, karena sekarang situasinya sudah berbeda jauh. Tapi sayangnya Chanwo tak bisa melakukan hal itu meski sebenarnya ia mau. Pria ini tak bisa mengingkari janjinya terhadap almarhum ayahnya, jika ia tak akan menyakiti siapapun yang telah menjadi bagian dari dirinya. Karena itu sama saja dengan menyakiti dirinya sendiri. Seperti yang semua orang juga sudah tahu jika Hwang Ji Na dan Chanwo sempat berada dalam satu keluarga yang sama, meski berasal dari dua garis keturunan yang berbeda. Mereka juga telah hidup akur selama bertahun-tahun, jadi tak mungkin jika Chanwo harus merusak semuanya. Hanya itu kenangan manis bersama keluarganya yang masih ia miliki sampai saat ini.
“Aku hanya sedang mencoba untuk menjadi seorang raja yang baik, sama seperti ayah dulu,” ujar Chanwo dengan nada bicara yang jauh lebih santai.
“Baik katamu?” sindir Hwang Ji Na sekali lagi.
“Raja mana yang rela membiarkan rakyatnya tanpa seorang pemimpin!?” lanjutnya.
“Aku tengah berusaha untuk melindungi salah satu rakyatku,” ungkapnya secara gamblang.
“Tapi jika kalian memang menginginkan seseorang yang lebih baik untuk menggantikanku, maka aku tak pernah mempermasalahkan itu,” lanjutnya.
“Tentu saja kami ingin!” tegas Hwang Ji Na.
“Gadis itu telah membuatmu gila sampai lupa dengan segalanya yang telah kau miliki,” ujar Hwang Ji Na.
“Karena dia adalah kawanan bangsa vampir yang tersesat di dunia manusia, nasibnya sama seperti dirimu,” jelas Chanwo kemudian pergi meninggalkan gadis ini.
Ia berjalan naik ke atas menuju menara pengintai, tempat dimana ia menemui Nhea tadi. Chanwo terlihat menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tak terasa gatal sama sekali.
“Kau sudah kembali?” tanya Nhea.
Pria itu hanya menganggukkan kepalanya pelan, sambil tersenyum kecil ke arah gadis itu. Nhea kelihatannya sudah jauh lebih tenang daripada tadi. Tangisannya juga telah berhenti, meski masih meyisakan beberapa jejak air mata yang dapat dilihat dengan sangat jelas.
__ADS_1
Chanwo kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke arah para pasukan yang sengaja ia kirim ke sini. Sebenarnya itu adalah sekumpulan pemuda yang selama ini berlatih di halaman belakang istana miliknya. Latihan mereka selama ini ternyata tak sia-sia sama sekali. Anggap saja kejadian kali ini sebagai evaluasi langsung di lapangan, untuk mengukur kemampuan mereka sejauh ini sudah sampai mana.
Pria itu mengarahkan jari telunjuknya ke arah utara, yang tak lain adalah tempat dimana mereka berasal. Awalnya Chanwo tak yakin dan bahkan menganggap mustahil jika kaum kegelapan yang terdiri dari klan bayangan dan para vampir mampu keluar dari hutan terkutuk itu. Tapi kini mereka akhirnya bisa melakukan itu, hal yang selama ini mereka impikan. Hanya dengan trik-trik sederhana, semuanya bisa menjadi nyata.
Kelihatannya para pemuda kaum bayangan itu tak perlu waktu lama untuk mengerti dengan apa yang dimaksud oleh pemimpinnya. Otak mereka terlalu cerdas dengan kecepatan berpikir sepuluh kali lebih cepat dari manusia. Kini para pasukan itu harus kembali ke tempat mereke berasal, meski harus pulang tanpa Chanwo yang bersama mereka. Lagipula mereka tak bisa berlama-lama berada di luar sini, apalagi sampai harus berdampingan dengan para manusia. Sebentar lagi fajar kan tiba dan matahari akan segera keluar dari sarangnya.
Semua orang-orang berjubah itu segera berlari menuju semak belukar, kemudian menghilang begitu saja. Tentu saja termasuk dengan Hwang Ji Na dan adik sang pangeran yang kini sebenarnya telah menjadi raja sejak ayahnya tiada. Mereka hilang dalam gelap seiring berakhirnya perang ini dengan kekalahan satu pihak. Mungkin untuk musim-muusim berikutnya, mereka tak perlu khawatir jika tiba-tiba Ify datang untuk menyerang.
“Apa kau pemimpin mereka?” tanya Nhea sekali lagi.
“Seperti yang kau lihat barusan,” jawab pria itu.
“Sebenarnya siapa dirimu? Kau belum pernah menjelaskan soal itu,” ujar Nhea secara gamblang.
“Mana ada penyusup yang baik sepertimu, mereka yang lain belum tentu sebaik dirimu,” lanjutnya.
“Apa aku seseorang yang baik menurutmu?” tanya Chanwo antusias.
“Ya, mau tak mau aku harus mengakui itu,” jawab gadis ini dengan polosnya.
“Jadi kau terpaksa?” tanyanya lagi.
“Tidak juga,” balas Nhea singkat.
Kedua sudut bibir pria ini terangkat dengan sempurna setelah mendengar pengakuan dari Nhea, meskipun ia enggan mengatakannya dengan jelas. Ia belum pernah sebahagia ini selama hidup sebagai seorang vampir. Chanwo cukup terkenal dengan ekspresi datarnya yang terkesan dingin. Baru kali ini ia mendengar seseorang yang mengatakan jika dirinya adalah orang baik. Dan yang lebih membuatnya bahagia, saat ia mengetahui jika orang pertama yang mengatakan itu padanya adalah Nhea.
__ADS_1
Itu artinya ia telah berhasil melakukan satu kebaikan. Jadi kurang lebih sebentar lagi mungkin kutukan ini akan terlepas. Ia tak sabar untuk menyambut hari dimana ia bisa bebas dari kutukan turun-menurun ini.