
Untuk pertama kalinya Nhea mengunjungi sebuah tempat yang
sebelumnya bahkan tidak pernah ia lihat sama sekali. Ia sendiri bahkan tidak
tahu dimana lokasinya. Tapi, bukan itu poin utamanya. Melainkan bagaimana
caranya ia bisa sampai ke sini.
Sungguh tidak masuk akal. Nhea sama sekali tidak bisa
mengingat apa pun. Satu-satunya hal terakhir yang masih tertinggal di dalam
kepalanya adalah kamar asrama. Nhea ingat betul dengan tempat yang satu itu.
Terakhir kali ia menginjakkan kakinya di sana. Tidak perlu dipastikan, Nhea
sudah yakin betul soal yang satu itu. Dia terlalu percaya kepada dirinya
sendiri. Sampai-sampai tidak ingin mendengarkan perkataan orang lain.
“Bagaimana bisa aku berada di sini?” gumamnya.
Entah atas dasar apa Nhea tetap melontarkan pertanyaan
tersebut kepada dirinya sendiri. Padahal, ia sendiri juga tidak tahu apa
jawabannya.
Semua hal yang terjadi sejauh ini sama sekali tidak masuk
akal baginya. Nhea terus menerka-nerka bagaimana alur ceritanya. Meski ia tidak
bisa memastikan sama sekali. Otaknya masih mencerna dengan susah payah.
Terkadang malah ia menolak untuk percaya.
__ADS_1
Bagaimana bisa gadis itu terbangun di tempat yang bahkan
tidak pernah ia kunjungi sebelumnya. Padahal Nhea ingat betul jika ia berada d
dalam kamar asrama sebelumnya.
“Siapa orang jahil yang nekat memindahkanku kemari?”
gumamnya sekali lagi.
Nhea menghela napasnya dengan kasar. Ia mendengus sebal.
Sebab, ini bukan pertama kalinya bagi gadis itu untuk mendapatkan perlakuan
tidak menyenangkan dari orang lain. Sepertinya bukan hanya satu orang saja yang
berambisi untuk menjatuhkan gadis itu. Lebih dari yang pernah ia bayangkan.
Nhea bahkan tidak pernah menduga jika ia akan mendapatkan perlakuan tersebut. Sebab,
mengusik kehidupan orang lain. Nhea memang bukan tipikal orang yang seperti
itu.
Setelah diperhatikan baik-baik, Nhea kembali meyakinkan
dirinya jika ia tidak pernah berkunjung kemari sebelumnya.
Gadis itu terbangun di tengah pebukitan. Tampaknya tempat
ini berada di sebuah desa. Jauh dari pusat keramaian. Tempatnya sungguh damai.
Mungkin, itu adalah satu-satunya hal positif yang bisa ia dapatkan. Selebihnya
tidak ada sama sekali. Karena sisanya merupakan hal negatif semua.
__ADS_1
Nhea masih tidak habis pikir. Bagaimana bisa dirinya
terjebak di tempat seperti ini. Siapa sebenarnya yang melakukan hal tersebut.
Apakah itu orang yang sama atau malah sebaliknya.
Sejauh mata memandang, ia tidak bisa menemukan apa pun
selain hamparan hijau rerumputan. Bahkan hanya ada satu gubuk kecil di sini.
Entah milik siapa. Yang jelas, tidak ada orang sama sekali di sini ketika ia
terbangun. Mungkin hanya ia satu-satunya orang di sini.
“Apa mereka sengaja ingin mengasingkanku ke tempat ini?”
“Lantas bagaimana caranya aku dapat bertahan hidup?”
Lagi-lagi Nhea kembali bermonolog. Ia merutuki nasibnya yang
tidak pernah berjalan baik sesuai dengan harapannya. Hal buruk selalu terjadi
di luar ekspektasinya. Sulit untuk diterima olehnya. Tapi, mau tak mau ia
memang harus menerima semua itu.
Mustahil untuk melawan balik arus takdir. Atau bahkan
menulis ulang takdir yang kita rasa jauh lebih baik. Kenapa tidak? Mungkin Nhea
akan tetap melakukan hal tersebut jika diberi kesempatan. Bukannya ia ingin
mengeluh apa lagi menyerah. Tapi, kesialan ini selalu membuatnya menjadi orang
yang paling tidak bersyukur di muka bumi. Selalu saja begitu.
__ADS_1