Mooneta High School

Mooneta High School
Bukit


__ADS_3

Untuk pertama kalinya Nhea mengunjungi sebuah tempat yang


sebelumnya bahkan tidak pernah ia lihat sama sekali. Ia sendiri bahkan tidak


tahu dimana lokasinya. Tapi, bukan itu poin utamanya. Melainkan bagaimana


caranya ia bisa sampai ke sini.


Sungguh tidak masuk akal. Nhea sama sekali tidak bisa


mengingat apa pun. Satu-satunya hal terakhir yang masih tertinggal di dalam


kepalanya adalah kamar asrama. Nhea ingat betul dengan tempat yang satu itu.


Terakhir kali ia menginjakkan kakinya di sana. Tidak perlu dipastikan, Nhea


sudah yakin betul soal yang satu itu. Dia terlalu percaya kepada dirinya


sendiri. Sampai-sampai tidak ingin mendengarkan perkataan orang lain.


“Bagaimana bisa aku berada di sini?” gumamnya.


Entah atas dasar apa Nhea tetap melontarkan pertanyaan


tersebut kepada dirinya sendiri. Padahal, ia sendiri juga tidak tahu apa


jawabannya.


Semua hal yang terjadi sejauh ini sama sekali tidak masuk


akal baginya. Nhea terus menerka-nerka bagaimana alur ceritanya. Meski ia tidak


bisa memastikan sama sekali. Otaknya masih mencerna dengan susah payah.


Terkadang malah ia menolak untuk percaya.

__ADS_1


Bagaimana bisa gadis itu terbangun di tempat yang bahkan


tidak pernah ia kunjungi sebelumnya. Padahal Nhea ingat betul jika ia berada d


dalam kamar asrama sebelumnya.


“Siapa orang jahil yang nekat memindahkanku kemari?”


gumamnya sekali lagi.


Nhea menghela napasnya dengan kasar. Ia mendengus sebal.


Sebab, ini bukan pertama kalinya bagi gadis itu untuk mendapatkan perlakuan


tidak menyenangkan dari orang lain. Sepertinya bukan hanya satu orang saja yang


berambisi untuk menjatuhkan gadis itu. Lebih dari yang pernah ia bayangkan.


Nhea bahkan tidak pernah menduga jika ia akan mendapatkan perlakuan tersebut. Sebab,


mengusik kehidupan orang lain. Nhea memang bukan tipikal orang yang seperti


itu.


Setelah diperhatikan baik-baik, Nhea kembali meyakinkan


dirinya jika ia tidak pernah berkunjung kemari sebelumnya.


Gadis itu terbangun di tengah pebukitan. Tampaknya tempat


ini berada di sebuah desa. Jauh dari pusat keramaian. Tempatnya sungguh damai.


Mungkin, itu adalah satu-satunya hal positif yang bisa ia dapatkan. Selebihnya


tidak ada sama sekali. Karena sisanya merupakan hal negatif semua.

__ADS_1


Nhea masih tidak habis pikir. Bagaimana bisa dirinya


terjebak di tempat seperti ini. Siapa sebenarnya yang melakukan hal tersebut.


Apakah itu orang yang sama atau malah sebaliknya.


Sejauh mata memandang, ia tidak bisa menemukan apa pun


selain hamparan hijau rerumputan. Bahkan hanya ada satu gubuk kecil di sini.


Entah milik siapa. Yang jelas, tidak ada orang sama sekali di sini ketika ia


terbangun. Mungkin hanya ia satu-satunya orang di sini.


“Apa mereka sengaja ingin mengasingkanku ke tempat ini?”


“Lantas bagaimana caranya aku dapat bertahan hidup?”


Lagi-lagi Nhea kembali bermonolog. Ia merutuki nasibnya yang


tidak pernah berjalan baik sesuai dengan harapannya. Hal buruk selalu terjadi


di luar ekspektasinya. Sulit untuk diterima olehnya. Tapi, mau tak mau ia


memang harus menerima semua itu.


Mustahil untuk melawan balik arus takdir. Atau bahkan


menulis ulang takdir yang kita rasa jauh lebih baik. Kenapa tidak? Mungkin Nhea


akan tetap melakukan hal tersebut jika diberi kesempatan. Bukannya ia ingin


mengeluh apa lagi menyerah. Tapi, kesialan ini selalu membuatnya menjadi orang


yang paling tidak bersyukur di muka bumi. Selalu saja begitu.

__ADS_1


__ADS_2