Mooneta High School

Mooneta High School
Plan B


__ADS_3

Eun Ji Hae egera kembali ke asrama untuk menemui Nhea begitu ia tahu semuanya. Gadis itu tidak langsung pergi setelah melangkah keluar dari ruangan Do Yen Sae. Niat awalnya memang begitu. Ia berencana untuk langsung pergi begitu urusannya selesai. Lagi pula untuk apa ia berlama-lama berada di tempat seperti ini. Namun, Eun Ji Hae segera mengurungkan niatnya untuk kembali ke asrama setelah mendengar gebrakan pintu. Suara itu bahkan sampai menggema hingga ke ujung lorong.


Eun Ji Hae tahu betul jika ada yang tidak beres. Do Yen Sae tengah dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Pasti ada sesuatu yang salah dengannya. Kalau semuanya baik-baik saja, mana mungkin gadis itu menutup pintu ruangannya dengan begitu kasar. Tidak sengaja adalah alasan paling klasik yang pernah ia terima. Eun Ji Hae tidak akan percaya lagi dengan kalimat semacam itu.


Pintu tersebut terbuat dari kayu jati yang tebal. Cukup berat jika hanya tertiup angina. Kecuali memang ada sebuah badai di dalam ruangannya. Ada banyak hal yang dirasa janggal oleh Eun Ji Hae. Untuk menjawab semua rasa penasarannya tadi, gadis itu memutuskan untuk mncari tahu semuanya sebelum terlambat. Ada banyak hal yang bisa ia dapatkan. Tidak hanya sekedar jawaban dari pertanyaannya saja. Bahkan hal yang tidak ia sangka sama skeali saja ikut terekspos.


Kedua bola matanya membulat dengan sempurna saat Do Yen Sae secara tidak sengaja telah membocorkan rahasianya sendiri ke hadapan gadis itu. Eun Ji Hae telah mendengar semuanya dengan jelas. Sudah terbukti jika memang Do Yen Sae memiliki niat tak baik. Ternyata ia dan keluarganya adalah dalang dibalik semua peristiwa buruk yang menimpa Mooneta beberapa hari yang lalu.


Eun Ji Hae tidak bisa tetap diam seperti ini. Ia harus melakukan sesuatu. Sejauh ini baru dirinyalah yang mengetahui rahasia besar tersebut. Bahkan Jin Hae In saja tidak diperkenankan untuk tahu. Do Yen Sae benar-benar mengendalikan semuanya sendiri. Sebuah poin plus bagi gadis itu karena bisa mengatur situasi dengan sedemikian rupa.


‘TOK! TOK! TOK!’


Eun Ji Hae tampak mengetuk pintu kamar Nhea beberapa kali. Menunggu sang empunya keluar dari dalam dan mempersilahkan dirinya untuk masuk terlebih dahulu. Pasalnya, masalah yang akan mereka bicarakan bersifat rahasia. Tidak semua orang diperkenankan untuk tahu.


Benar saja, tak lama kemudian Nhea muncul dari balik pintu. Suara ketukan tadi cukup untuk menarik perhatiannya.


“Kakak Ji?” gumam Nhea.


“Ada perlu apa kemari?” tanya gadis itu.


“Siapa yang datang?!” sahut Oliver dari dalam.

__ADS_1


“Bisa aku masuk lebih dulu?” tawar Eun Ji Hae.


“Tentu saja!” balas gadis itu.


Awalnya Nhea sempat merasa terkejut dengan kedatangan Eun Ji Hae di sini. Pasalnya, sungguh tidak biasa saat Eun Ji Hae berkunjung ke tempat tinggalnya. Lagi pula hubungan mereka memang tidak terlalu dekat meski status keduanya saat ini adalah kakak adik. Nhea tidak benar-benar yakin jika ia bisa memperbaiki hubungannya yang satu ini dengan mudah. Eun Ji Hae adalah tipikal orang yang tidak banyak bicara. Hal tersebut membuatnya terkesan dingin bagi orang lain. Mungkin ia tidak begitu dengan orang-orang terdekatnya. Kebanyakan dari mereka yang pendiam memang seperti itu.


“Kenapa kakak tiba-tiba datang kemari?” tanya Nhea.


Gadis itu memilih untuk membuka suara lebih dulu. Dengan begitu, Eun Ji Hae akan merasa terpancing untuk berbicara lebih jauh.


“Kali ini aku benar-benar serius. Jadi, aku harap kalian juga begitu,” ujar Eun Ji Hae.


Nhea dan Oliver saling melemparkan pandangan satu sama lain. Kemudian diakhiri dengan menggidikkan bahunya. Pertanda mereka tidak tahu apa yang baru saja dimaksud oleh gadis itu barusan. Apakah bahasa Eun Ji Hae yang terlalu rumit untuk dipahami atau memang otak mereka saja yang tidak bisa mencerna semuanya.


Terlepas dari semua hal itu, mereka kembali fokus kepada topik pembicaraannya. Nhea dan Oliver mulai terbawa suasana. Atmosfirnya bahkan sudah berubah sejak pertama kali Eun Ji Hae datang kemari. Seperti yang semua orang tahu jika gadis itu memiliki aura yang cukup kuat. Siapa pun yang berada di sekitarnya pasti akan merasa terintimidasi secara tidak langsung. Energinya terlalu besar dari para manusia pada umumnya. Oleh sebab itu, Eun Ji Hae jarang menghabiskan waktu bersama banyak orang jika tidak terlalu penting.


“Sebaiknya kalian mulai berhati-hati. Terutama kau Nhea!” ungkap Eun Ji Hae.


“Aku?” tanya gadis itu sekali lagi untuk memastikan.


Eun Ji Hae hanya mengangguk-anggukkan kepalanya untuk mengiyakan perkataan gadis ini tadi.

__ADS_1


“Aku merasa jika da yang tidak beres di sini. Do Yen Sae sedang merencanakan sesuatu yang tidak baik untuk kita. Mereka hanya ingin menang sendiri,” jelas Eun Ji Hae dengan panjang lebar.


“Tadi, aku baru saja bertemu dengannya di ruangan gadis itu. Dan tak sengaja aku telah mendengar beberapa pengakuan yang ia ucapkan secara tak sengaja begitu aku keluar ruangan,” lanjutnya.


Kedua gadis yang berada di hadapannya tengah tercengang saat ini. Mereka sungguh terkejut. Sulit untuk dipercaya. Ternyata ketakutan mereka selama ini benar-benar terjadi.


Sebaik-baiknya tupai melompat, pasti akan terjatuh juga.


Kini mereka mulai percaya terhadap pepatah kuno itu. Tidak peduli seberapa lihai Do Yen Sae dalam melancarkan aksinya. Tak peduli seberapa rapih ia menutupi setiap perbuatan busuknya di belakang mereka. Pada suatu hari, semua itu akan terbongkar juga. Kebenaran yang akan menang pada akhirnya.


“Saat ini mereka sama sekali belum tahu jika kau adalah putri Wilson dan Vallery. Yang mereka tahu hanya aku,” ungkapnya secara mengejutkan.


Bahkan Do Yen Sae dankeluarga Reodal yang lainnya sama sekali tidak tahu jika Eun Ji Hae bukan putri kandung dari keluarga itu. Selama ini mereka hanya menelan mentah-mentah informasi yang tidak jelas. Tanpa mencari tahu terlebih dahulu seperti apa kebenarannya. Tapi, sekarang kecerobohan itu telah menjadi sesuatu yang menguntungkan bagi pihak Mooneta. Mereka bisa berbalik menyerang Reodal dengan senjata ini.


“Tetap jaga rahasia itu. Jangan ungkapkan jati dirimu jika kau tak mau semuanya berakhir dengan sia-sia,” ucap Eun Ji Hae dengan penuh penekanan.


Alih-alih memberi nasihat, kalimatnya barusan jauh lebih terdengar seperti sebuah peringatan akan sebuah ancaman. Nhea tahu betul apa yang sedang mereka hadapi saat ini. Musuh mereka tidak menyerang secara terang-terangan. Melainkan sebaliknya. Mereka harus mulai ekstra hati-hati sejak sekarang.


“Waspada akan membuatmu tetap aman.”


Entah siapa yang pertama kali mengucapkan kalimat tersebut. Sampai pada akhirnya menjadi sebuah prinsip yang mereka pegang teguh.

__ADS_1


__ADS_2