Mooneta High School

Mooneta High School
Mooneta vs Reodal


__ADS_3

Lawan mereka kali ini tidak main-main. Berjumpa dengan


akademi terbaik sepanjang sejarah di babak final bukanlah sesuatu yang


mengejutkan lagi. Ekspektasi Nhea kali ini dibenarkan oleh semesta. Ia mewujudkannya.


Padahal, bukan itu yang dia ingin. Tidak bisa dipungkiri jika ternyata Nhea


sempat merasa kecewa di menit-menit awal pertandingan.


Bagaimana tidak kecewa, ketika mereka harus menghadapi


Reodal sebagai lawannya. Meski di satu sisi mereka juga merasa tertantang. Pada


saat yang bersamaan, energi positif dan energi negatif beradu di dalam diri


mereka. Sepertinya bukan hanya Nhea saja satu-satunya orang yang merasakan hal


tersebut. Nyaris seluruh anggota tim merasakan hal yang serupa.


Pertandingan kali ini terkenal sengit. Ketika dua akademi


sihir yang saling berselisih dipertemukan dalam suatu pertandingan. Mereka


bahkan sudah saling berkompetisi sejak lama. Terlepas dari festival atau bukan.


Tiga akademi sihir terbaik di negeri ini sama sekali tidak


pernah akur. Hanya Orton dengan Mooneta saja yang masih tetap menjaga hubungan


baiknya. Sementara itu, Reodal dikenal sebagai si pembuat onar. Mereka akan


melakukan cara apa saja untuk mendapatkan tujuan utamanya.


Semua orang tampak serius menyaksikan pertandingan yang satu


ini. Bukan hanya Eun Ji Hae dan Do Yen Sae saja yang merasa cemas. Bahkan


seluruh penonton juga merasakan hal yang sama. Posisi mereka saat ini bisa


dikatakan imbang. Meski beberapa serangan sudah dilancarkan dari pihak Reodal. Begitu


pula sebaliknya. Mooneta terus berusaha membela diriri mereka sekaligus


memperkuat posisinya.


Orang-orang tampaknya penasaran. Mereka tidak sabar menunggu


hasil akhir dari permainan. Siapa yang akan menang kali ini. Apakah tim dari


Reodal atau malah Mooneta. Mereka berdua memiliki potensi yang sama besar untuk


menang.


“Apakah aku masih bisa diandalkan lagi kali ini?” gumam Nhea


di balik topeng pelindung kepala miliknya.


Tidak ada yang peduli seberapa keras mereka bertahan di


tempat ini. Tidak akan ada yang peduli soal usaha yang telah mereka lakukan. Orang-orang


hanya peduli dengan hasilnya saja. Sejak awal seharusnya ia sudah menyadari hal


tersebut. Bahkan kehidupan di dimensi lain tidak jauh berbeda dengan dunia yang


sebenarnya. Nhea merasakan tekanan yang sama di kedua tempat tersebut. Sulit


bagi orang sepertinya untuk bertahan di sana. Namun, pada kenyatannya ia tetap

__ADS_1


bertahan sampai sekarang.


‘WUSH!!!’


Nhea sontak mematung di tempat. Ketika secara tidak sengaja


sebuah anak panah yang berasal entah dari mana melintas tepat di hadapannya


dengan kecepatan tinggi. Ia terkesiap. Nyaris saja dirinya terluka. Jika tadi


gadis itu bergerak sedikit saja, mungkin tidak akan ada yang bisa menjamin jika


saat ini ia masih bisa berdiri tegak.


Secara perlahan namun pasti, pola irama detak jantung gadis


itu meningkat. Dadanya bergerak secara beraturan. Paru-parunya ikut bekerja


lebih cepat kali ini. Sehingga dadanya tampak kembang kempis. Lebih tepatnya,


ia ikut terengah-engah karena organ tubuhnya bekerja secara paksa.


Tidak ingin terlarut dalam situasi tersebut, Nhea lantas


mengalihkan pandangannya ke atas. Beberapa orang tampak sibuk membalas serangan


lawan. Sementara itu, Nhea sendiri tidak berbuat apa-apa. Jangan sampai orang


lain menganggapnya sebagai beban para anggota tim. Selama ini ia adalah orang


yang cukup bisa diandalkan. Asal mereka tahu saja. Nhea tidak ingin dirinya


dipandang sebelah mata kali ini, hanya karena mereka sedang berhadapan dengan


akademi sihir Reodal.


***


tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan siapa pemenangnya. Perolehan skor


sementara mereka bahkan sama. Hanya tersisa dua menit lagi sebelum pertandingan


benar-benar berakhir. Mereka harus memanfaatkan waktu tersebut dengan


semaksimal mungkin. Beradu cepat dengan waktu dan menciptakan skor akhir yang


sempurna adalah tujuan utama dari masing-masing pihak.


Sekarang pertandingannya sudah jauh lebih sengit dari pada


yang sebelumnya. Ini adalah detik-detik penentuan. Siapa yang akan menjadi


pemenang. Sebenarnya, pihak akademi sihir Mooneta bisa saja tetap menjadi juara


umum meski pun tim panahan mereka gagal kali ini. Ada banyak tim dari akademi


tersebut yang bisa menyumbangkan nilai untuk mengangkat nama akademi iitu lagi.


“Alihkan perhatian mereka sementara aku menyerangnya,” ujar


kapten tim.


“Kenapa kau yang harus menyerangnya? Kenapa bukan Nhea saja?”


tanya anggota yang lain.


Mendengar pertanyaan tersebut, ia hanya bisa berdecak sebal.


Secara tidak langsung, harga dirinya berhasil merosot turun. Bagaimana bisa ia

__ADS_1


dijadikan bahan perbandingan dengan gadis itu, yang sudah jelas-jelas tidak ada


apa-apanya jika dibandingkan dengan dirinya. Nhea bahkan belum lama berada di


sini. Belum genap satu tahun. Ia bahkan berhasil masuk ke akademi sihir Mooneta


tanpa tes sama sekali, hanya karena dirinya merupakan anggota keluarga inti.


“Tidak apa-apa, biarkan Nick melakukannya sekali,” ujar Nhea


dengan tenang.


Pria bernama Nick itu hanya memutar bola matanya malas


sambil berkata, “Memang sejak awal akulah yang harus melakukan serangan.


Bukannya kau!”


Nhea sudah terbiasa menerima perkataan kasar seperti itu.


Bahkan jauh sebelum ia pindah kemari. Sudah pernah dikatakan jika semesta tak


pernah adil dengannya. Tapi, di sisi lain pasti ada alasan tersendiri.


“Seorang pemimpin tidak terlahir begitu saja. Mereka akan


terbentuk melalui perlakuan semesta terhadapnya.”


Dengan berat hati, para anggota tim terpaksa mengiyakan


keputusan yang satu ini. Meski sebenarnya terkesan beresiko. Bagaimana jika


serangannya gagal dan malah mempertaruhkan poin terakhir yang mereka miliki.


“Apa kau yakin dengan Nick?” tanya Jang Eunbi sambil sedikit


berbisik, yang kemudian diangguki oleh lawan bicaranya pada saat itu.


Ia sama sekali tidak bermaksud untuk meremehkan kemampuan


pria itu. Semua orang juga tahu jika Nick memang pemanah yang handal. Ia bahkan


sudah mengikuti festival yang sama sebanyak dua kali sebelumnya. Dan tim mereka


memang selalu menang.


Hanya saja sekarang permasalahannya, kondisi Nick sedang


tidak baik-baik saja. Ia sempat mengalami cedera serius pada bagian pergelangan


tangannya. Kejadian itu bermula saat perang melawan Ify di awal musim dingin


tahun lalu. Meski sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik daripada yang


sebelumnya, tapi tetap saja pergerakan Nick masih terbatas.


“Kami mempercayakan tugas terakhir ini kepadamu. Jadi,


jangan kecewakan kami,” pesan Jang Eunbi sebelum berlalu pergi.


Mereka kembali ke posisinya masing-masing, menyusun pola


perlindungan paling aman. Untuk berjaga-jaga, jika sewaktu-waktu mereka


mendapatkan serangan balik. Nick berhasil menempati posisi penyerang utama. Padahal,


seharusnya tempat itu adalah milik Nhea. Tapi, ia berhasil merebutnya. Dan dengan


bodohnya Nhea melepas posisi tersebut dengan begitu mudah. Gadis itu mendadak

__ADS_1


lupa dengan ekspektasi semua orang yang harus ia penuhi. Entah hal gila macam


apa lagi yang akan terjadi setelah ini.


__ADS_2