
Lawan mereka kali ini tidak main-main. Berjumpa dengan
akademi terbaik sepanjang sejarah di babak final bukanlah sesuatu yang
mengejutkan lagi. Ekspektasi Nhea kali ini dibenarkan oleh semesta. Ia mewujudkannya.
Padahal, bukan itu yang dia ingin. Tidak bisa dipungkiri jika ternyata Nhea
sempat merasa kecewa di menit-menit awal pertandingan.
Bagaimana tidak kecewa, ketika mereka harus menghadapi
Reodal sebagai lawannya. Meski di satu sisi mereka juga merasa tertantang. Pada
saat yang bersamaan, energi positif dan energi negatif beradu di dalam diri
mereka. Sepertinya bukan hanya Nhea saja satu-satunya orang yang merasakan hal
tersebut. Nyaris seluruh anggota tim merasakan hal yang serupa.
Pertandingan kali ini terkenal sengit. Ketika dua akademi
sihir yang saling berselisih dipertemukan dalam suatu pertandingan. Mereka
bahkan sudah saling berkompetisi sejak lama. Terlepas dari festival atau bukan.
Tiga akademi sihir terbaik di negeri ini sama sekali tidak
pernah akur. Hanya Orton dengan Mooneta saja yang masih tetap menjaga hubungan
baiknya. Sementara itu, Reodal dikenal sebagai si pembuat onar. Mereka akan
melakukan cara apa saja untuk mendapatkan tujuan utamanya.
Semua orang tampak serius menyaksikan pertandingan yang satu
ini. Bukan hanya Eun Ji Hae dan Do Yen Sae saja yang merasa cemas. Bahkan
seluruh penonton juga merasakan hal yang sama. Posisi mereka saat ini bisa
dikatakan imbang. Meski beberapa serangan sudah dilancarkan dari pihak Reodal. Begitu
pula sebaliknya. Mooneta terus berusaha membela diriri mereka sekaligus
memperkuat posisinya.
Orang-orang tampaknya penasaran. Mereka tidak sabar menunggu
hasil akhir dari permainan. Siapa yang akan menang kali ini. Apakah tim dari
Reodal atau malah Mooneta. Mereka berdua memiliki potensi yang sama besar untuk
menang.
“Apakah aku masih bisa diandalkan lagi kali ini?” gumam Nhea
di balik topeng pelindung kepala miliknya.
Tidak ada yang peduli seberapa keras mereka bertahan di
tempat ini. Tidak akan ada yang peduli soal usaha yang telah mereka lakukan. Orang-orang
hanya peduli dengan hasilnya saja. Sejak awal seharusnya ia sudah menyadari hal
tersebut. Bahkan kehidupan di dimensi lain tidak jauh berbeda dengan dunia yang
sebenarnya. Nhea merasakan tekanan yang sama di kedua tempat tersebut. Sulit
bagi orang sepertinya untuk bertahan di sana. Namun, pada kenyatannya ia tetap
__ADS_1
bertahan sampai sekarang.
‘WUSH!!!’
Nhea sontak mematung di tempat. Ketika secara tidak sengaja
sebuah anak panah yang berasal entah dari mana melintas tepat di hadapannya
dengan kecepatan tinggi. Ia terkesiap. Nyaris saja dirinya terluka. Jika tadi
gadis itu bergerak sedikit saja, mungkin tidak akan ada yang bisa menjamin jika
saat ini ia masih bisa berdiri tegak.
Secara perlahan namun pasti, pola irama detak jantung gadis
itu meningkat. Dadanya bergerak secara beraturan. Paru-parunya ikut bekerja
lebih cepat kali ini. Sehingga dadanya tampak kembang kempis. Lebih tepatnya,
ia ikut terengah-engah karena organ tubuhnya bekerja secara paksa.
Tidak ingin terlarut dalam situasi tersebut, Nhea lantas
mengalihkan pandangannya ke atas. Beberapa orang tampak sibuk membalas serangan
lawan. Sementara itu, Nhea sendiri tidak berbuat apa-apa. Jangan sampai orang
lain menganggapnya sebagai beban para anggota tim. Selama ini ia adalah orang
yang cukup bisa diandalkan. Asal mereka tahu saja. Nhea tidak ingin dirinya
dipandang sebelah mata kali ini, hanya karena mereka sedang berhadapan dengan
akademi sihir Reodal.
***
tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan siapa pemenangnya. Perolehan skor
sementara mereka bahkan sama. Hanya tersisa dua menit lagi sebelum pertandingan
benar-benar berakhir. Mereka harus memanfaatkan waktu tersebut dengan
semaksimal mungkin. Beradu cepat dengan waktu dan menciptakan skor akhir yang
sempurna adalah tujuan utama dari masing-masing pihak.
Sekarang pertandingannya sudah jauh lebih sengit dari pada
yang sebelumnya. Ini adalah detik-detik penentuan. Siapa yang akan menjadi
pemenang. Sebenarnya, pihak akademi sihir Mooneta bisa saja tetap menjadi juara
umum meski pun tim panahan mereka gagal kali ini. Ada banyak tim dari akademi
tersebut yang bisa menyumbangkan nilai untuk mengangkat nama akademi iitu lagi.
“Alihkan perhatian mereka sementara aku menyerangnya,” ujar
kapten tim.
“Kenapa kau yang harus menyerangnya? Kenapa bukan Nhea saja?”
tanya anggota yang lain.
Mendengar pertanyaan tersebut, ia hanya bisa berdecak sebal.
Secara tidak langsung, harga dirinya berhasil merosot turun. Bagaimana bisa ia
__ADS_1
dijadikan bahan perbandingan dengan gadis itu, yang sudah jelas-jelas tidak ada
apa-apanya jika dibandingkan dengan dirinya. Nhea bahkan belum lama berada di
sini. Belum genap satu tahun. Ia bahkan berhasil masuk ke akademi sihir Mooneta
tanpa tes sama sekali, hanya karena dirinya merupakan anggota keluarga inti.
“Tidak apa-apa, biarkan Nick melakukannya sekali,” ujar Nhea
dengan tenang.
Pria bernama Nick itu hanya memutar bola matanya malas
sambil berkata, “Memang sejak awal akulah yang harus melakukan serangan.
Bukannya kau!”
Nhea sudah terbiasa menerima perkataan kasar seperti itu.
Bahkan jauh sebelum ia pindah kemari. Sudah pernah dikatakan jika semesta tak
pernah adil dengannya. Tapi, di sisi lain pasti ada alasan tersendiri.
“Seorang pemimpin tidak terlahir begitu saja. Mereka akan
terbentuk melalui perlakuan semesta terhadapnya.”
Dengan berat hati, para anggota tim terpaksa mengiyakan
keputusan yang satu ini. Meski sebenarnya terkesan beresiko. Bagaimana jika
serangannya gagal dan malah mempertaruhkan poin terakhir yang mereka miliki.
“Apa kau yakin dengan Nick?” tanya Jang Eunbi sambil sedikit
berbisik, yang kemudian diangguki oleh lawan bicaranya pada saat itu.
Ia sama sekali tidak bermaksud untuk meremehkan kemampuan
pria itu. Semua orang juga tahu jika Nick memang pemanah yang handal. Ia bahkan
sudah mengikuti festival yang sama sebanyak dua kali sebelumnya. Dan tim mereka
memang selalu menang.
Hanya saja sekarang permasalahannya, kondisi Nick sedang
tidak baik-baik saja. Ia sempat mengalami cedera serius pada bagian pergelangan
tangannya. Kejadian itu bermula saat perang melawan Ify di awal musim dingin
tahun lalu. Meski sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik daripada yang
sebelumnya, tapi tetap saja pergerakan Nick masih terbatas.
“Kami mempercayakan tugas terakhir ini kepadamu. Jadi,
jangan kecewakan kami,” pesan Jang Eunbi sebelum berlalu pergi.
Mereka kembali ke posisinya masing-masing, menyusun pola
perlindungan paling aman. Untuk berjaga-jaga, jika sewaktu-waktu mereka
mendapatkan serangan balik. Nick berhasil menempati posisi penyerang utama. Padahal,
seharusnya tempat itu adalah milik Nhea. Tapi, ia berhasil merebutnya. Dan dengan
bodohnya Nhea melepas posisi tersebut dengan begitu mudah. Gadis itu mendadak
__ADS_1
lupa dengan ekspektasi semua orang yang harus ia penuhi. Entah hal gila macam
apa lagi yang akan terjadi setelah ini.