
Suasana di pusat kota kurang lebih masih sama seperti yang
kemarin. Tidak jauh berbeda. Mungkin sekarang jalanan terasa sedikit lebih
lengang. Karena tidak banyak orang yang melakukan aktivitas di jalanan seperti
kemarin. Masyarakat kota sudah tidak seantusias kemarin lagi. Tidak bisa dipungkiri
jika mereka memang tetap harus kembali ke realita.
Semeriah dan sepenting apa pun festival kali ini, pekerjaan
dan kehidupan mereka tetap menjadi yang utama. Mereka tidak bisa melupakan hal
tersebut. Tanpa bekerja, merka tidak akan bisa mengisi perutnya. Perekonomian
di kota ini juga pasti akan mati jika warganya tidak melakukan aktivitas yang
bisa menggerakkan perekonomian.
Sebagian besar dari masyarakat kota sudah kembali bekerja.
Hari ini tidak terlalu banyak cabang lomba yang dipertandingkan. Hanya
beberapa. Tepat pada hari ini pula akhir dari babak penyisihan. Sekaligus
menjadi babak penentuan siapa saja yang akan menuju babak selanjutnya.
Biasanya, tiga akademi sihir terbesar itu akan tetap bertahan sampai hari
terakhir. Bahkan nama mereka pasti ada di daftar pemenang nantinya. Hanya
tinggal penentuan posisi saja. Siapa yang akan menjadi peringkat pertama pada
festival kali ini. Apakah akademi sihir Mooneta lagi, atau bukan.
Sebetulnya mereka tidak pantas untuk cemas secara
berlebihan. Semua orang mengakui kehebatan anak-anak Mooneta. Posisi mereka pati
akan aman sampai babak final. Tapi, di sisi lain mereka juga tidak boleh
bersikap terlalu tenang sampai meremehkan yang lain. Terkadang manusia memang
mudah merasa puas dengan pencapaiannya yang tidak seberapa.
“Akademi sihir Mooneta
adalah ancaman nyata bagi akademi sihir lain.”
Beberapa waktu lalu Paman Johnson sempat mengatakan kalimat
tersebut saat disambangi ke tokonya. Nhea dan Oliver memang sempat melarikan
diri dari barisan secara diam-diam untuk berkunjung ke toko pria itu. Beruntung
mereka tidak tertangkap. Kalau tidak, bisa habis mereka dibuat dewan keamanan
akademi. Kemungkinan terburuknya tidak ada yang tahu. Tapi, yang jelas Bibi Ga
Eun dan Eun Ji Hae pasti akan ikut ambil bagian dalam proses pemutusan hukuman.
Mereka bukan sembarang orang. Tidak ada yang bisa meremehkan keduanya. Bahkan
termasuk Nhea sendiri. Padahal gadis itu termasuk kepada salah satu anggota
keluarga.
“Dimana kita harus duduk?” tanya Oliver.
Gadis itu hanya menggidikkan bahunya saat ditanya begitu.
Dia sedang tidak ingin banyak bicara. Karena memang hari ini suasana hatinya
__ADS_1
sedang tidak baik-baik saja. Sejak tadi pagi wajahnya memang tampak datar.
Seolah tidak memiliki ekspresi sama sekali.
Tak lama kemudian, Oliver menemukan salah satu kursi yang
masih kosong. Ia yakin jika mereka bisa menggunakannya. Tempat yang tersedia
masih cukup untuk menampung dua orang lagi. Hal tersebut sontak membuat isi
kepala gadis itu buyar. Untuk yang kesekian kalinya Nhea terpaksa membuntuti
langkah gadis itu dari belakang. Bukan ia tidak ingin berjalan sejajar dengan Oliver.
Hanya saja, Oliver tampaknya memang sedang bersemangat hari ini. Dia penuh
energi. Sehingga sulit bagi Nhea untuk mengimbangi kecepatannya.
“Ku rasa aku akan bosan berada di sini sampai siang nanti,”
ungap Nhea dengan apa adanya.
“Kau tidak boleh memberikan sugesti buruk seperti itu kepada
dirimu sendiri!” peringati Oliver dengan nada bicara serius.
“Terserah kau saja!” balas Nhea acuh tak acuh.
Gadis itu kemudian melemparkan pandangannya ke sembarang
arah. Kemana saja, asal bukan melihat Oliver. Mendadak gadis itu terasa
menyebalkan baginya. Padahal Oliver tidak melakukan kesalahan sama sekali. Ia
hanya memberikan nasihat saja. Tidak ada yang salah dengan sikap atau bahkan
perkataannya hari ini. Semua baik-baik saja. Hanya memang perasaan Nhea saja
yang sedang sensitif.
terkontrol. Padahal kendali penuh atas emosi merupakan salah satu hal penting
bagi seorang penyihir. Selain dari pada fokus. Mereka tentu tahu betul untuk
apa mempelajari semua aspek tersebut.
Menyadari pentingnya kendali emosi yang baik, pihak akademi
berinisiatif untuk membuat suatu malam khusus. Dimana semua siswa akan
bermeditasi. Ada banyak manfaat yang diperoleh dari sana.
“Sepertinya nanti malam aku harus melakukan penetralan
energi lagi di kamar,” cicit Oliver.
Gadis itu beranggapan jika Nhea menjadi seperti ini akibat
efek samping dari vibrasi energi negatif yang berada di kamar mereka. Sudah
lama mereka tidak melakukan pembersihan energi dengan membakar dupa. Seharusnya
hal tersebut dilakukan secara rutin untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
“Omong-omong, apa kau pernah merasakan sesuatu yang aneh
terjadi selama beberapa hari belakangan ini?” tanya Oliver secara tiba-tiba.
Mendapati pertanyaan seperti itu, Nhea tidak langsung
menjawab. Ia mengamati kedua bola mata Oliver dengan lamat-lamat terlebih
dahulu. Rasanya sedikit agak aneh memang. Karena, tidak biasanya Oliver
__ADS_1
menanyakan hal seperti itu. Terlebih sekarang mereka semua sedang fokus kepada
festival. Bagaimana bisa hal tersebut terlintas di dalam pikirannya.
“Hal aneh bagaimana maksudmu?” tanya Nhea balik sembari
mengerutkan dahinya.
“Apa pun itu. Yang jelas terasa janggal saja. Seperti tidak
biasanya terjadi,” jelas Oliver dengan singkat. Ia hanya memberikan intinya
saja. Kemudian gadis itu bisa menjabarkannya sendiri nanti.
“Entahlah, aku tidak terlalu yakin,” balas Nhea sembari
menggidikkan bahunya.
“Memangnya kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal seperti itu?
Apa ada sesuatu yang terjadi?” lanjutnya yang kemudian dibalas dengan anggukan
oleh Oliver.
Fokus mereka terbagi menjadi dua atau lebih kini.
Pertandingan yang sedang berlangsung bukan lagi menjadi sebuah sorotan penting.
Perhatian Nhea dan Oliver teralihkan ke topik pembicaraan terbaru mereka.
Oliver menjadi satu-satunya pihak yang membawa mereka ke dalam suasana ini.
Sepertinya topik terbaru mereka jauh lebih menarik perhatian dari pada
pertandingan festival.
“Memangnya apa yang terjadi?”
Nhea kembali mengulangi pertanyaan yang sama. Kali ini ia
hanya bermaksud untuk mempertegas kalimatnya berusan. Ini adalah salah satu
cara yang biasa ia gunakan untuk menuntut penjelasan selain menatapnya dengan
tajam.
Sementara itu, gadis yang ditanyai hanya bisa menarik
napasnya panjang-panjang sebelum mulai berbicara. Tidak ada yang tahu seberapa
panjang penjelasan yang akan ia paparkan. Sampai Oliver melakukan persiapan
yang tampak meyakinkan.
“Apa kau masih ingat soal penemuan kalung misterius pada
waktu itu?” tanya Oliver untuk memastikan.
Tidak ada jawaban lain dari Nhea selain anggukan. Tampaknya
ia cukup yakin dengan jawabannya barusan.
“Aku mengembalikannya ke dalam nakas tempat benda tersebut
ditemukan setelahnya,” ungkap Nhea kemudian.
Berdasarkan penuturan gadis itu, maka bisa disimpulkan jika
kalung tersebut sekarang masih berada di tempat yang sama. Mereka memutuskan
untuk tetapa menyimpannya, karena tidak akan pernah tahu siapa pemiliknya.
Bahkan Oliver sendiri tidak tahu. Padahal ia telah menempati kamar tersebut
__ADS_1
selama lebih dari lima tahun. Lebih tepatnya bersamaan dengan hari pertama ia
diterima menjadi salah satu siswa di akademi sihir Mooneta.