Mooneta High School

Mooneta High School
Pasca


__ADS_3

 


 


Hari ini semua orang sedang beraktivitas seperti biasanya.


Satu hari setelah peperangan, kekacauan tampak dimana-mana. Tidak satupun sudut


dari sekolah ini yang luput dari kekacauan. Bahkan sangking kacaunya, sampai


tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata lagi. Mereka bangun pagi-pagi sekali


untuk membereskan semua ini. Termasuk Eun Ji Hae dan seluruh anggota keluarga


lainnya. Memiliki jabatan dan posisi khusus di sekolah ini, bukan berarti


mereka akan diperlakukan secara khusus pula. Hal tersebut mungkin berlaku di


beberapa tempat tertentu. Tapi tidak dengan di sekolah ini. Mereka berusaha


keras untuk menciptakan lingkungan yang seadil mungkin. Tentu saja agar semua


orang merasa nyaman karena mendapatkan haknya masing-masing.


Choi Ara sengaja bangun lebih awal dari pada semua orang. Ia


harus segera kembali ke kamar asramanya, sebelum ada orang lain yang


mengetahuinya. Kemarin malam Eun Ji Hae sempat berpesan kepada gadis ini untuk


meninggalkan kamar pagi-pagi sekali. Karena ia sadar jika tidak baik kalau Choi


Ara berlama-lama berada di sini. Mungkin mereka para keluarga yang tinggal di


lantai atas akan mengerti dengan situasinya saat itu. Tapi Eun Ji Hae paling

__ADS_1


merasa malas jika harus menjawab semua pertanyaan dari mereka. Hanya itulah


satu-satunya cara untuk membuat mereka semua mengerti.


Sebenarnya kondisi Choi Ara belum terlalu baik. Kemarin


malam ia ia hampir saja mati membeku di atas sana. Ia tidak akan melupakan


pengalaman buruk itu seumur hidupnya. Untuk pertama kalinya ia merasakan


bagaimana rasnaya hampir mendekati maut. Mungkin saat ini dirinya telah


menyusul Ify jika Eun Ji Hae tidak segera menemukannya di sana.


Choi Ara berhutang budi kepada Eun Ji Hae. Lebih tepatnya ia


sedang berhutang nyawa saat ini. Rasanya tidak cukup jika ia hanya mengucapkan


kata terima kasih. Sudah terlalu klasik dan banyak digunakan. Mengingat hal


berarti. Karena Eun Ji Hae berhasil menyelamatkan hidupnya.


***


Semua orang tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing


saat ini. Ada yang membereskan bagian pelataran dan ada juga yang


menanggungjawabi titik-titik lain yang telah ditetapkan sebelumnya. Semua orang


memiliki tanggung jawabnya masing-masing. Sehingga tidak ada yang bisa berbuat


dengan sesuka hatinya di sini. Mereka semua memiliki posisi yang sama rata.


Bahkan para petinggi dan pejabat sekolah sekalipun ikut ambil bagian secara

__ADS_1


langsung. Tidak terkecuali kepada para anggota keluarga yang merupakan posisi


paling tinggi di sekolah ini.


Sebenarnya hari ini mereka masih dalam suasana berduka atas


kepergian Ify. Sama sekali tidak ada yang mengangka jika ia akan pergi secepat


itu. Apalagi cara kematiannya yang terbilang cukup tragis kemarin. Bagaimana


bisa satu anak panah berhasil membunuhnya. Bukankah selama ini ia selalu


berhasil menghindari hal tersebut. Lantas siapa orang yang berhasil membidiknya


dengan tepat, sehingga anak panah itu berhasi mengenai tepati di jantungnya.


Sejauh ini sama sekali belum ada yang mengetahui soal fakta


tersebut. Kecuali Nhea dan Chanwo. Pasalnya, mereka berdua adalah pemilik dari


rahasia besar itu. Sampai saat ini belum ada yang mengetahui perihal


kebenarannya. Mereka hanya bisa menebak-nebak dan memprediksi seberapa banyak


kemungkinannya.


Nhea bahkan sepetinya memang akan tetap menyimpan rahasia


tersebut selama yang ia mampu. Gadis itu sama sekali tidak berniat untuk


menyampaikan kebenarnannya. Ia masih takut. Nhea takut jika ia malah akan


disalahkan atas sebuah kebenaran yang selama ini terus ia perjuangkan. Nhea


tidak ingin perjuangannya berakhir sia-sia. Ia telah banyak berkorban untuk

__ADS_1


mereka semua. Termasuk nyawanya sekalipun tak segan-segan untuk ia pertaruhkan.


__ADS_2