
Hwang Ji Na bukan tipikal orang yang suka bertele-tele. Ia
langsung menghampiri pria itu begitu merasa jauh lebih tenang. Hwang Ji Na
mengguncang-guncang tubuh Chanwo dengan pelan. Berusaha untuk membuatnya
terjaga, dengan cara mengusik pria itu secara sengaja. Pasalnya, tidak ada hal
lain yang bisa ia lakukan lagi selain itu.
Usahanya sama sekali tak berakhir sia-sia. Karena pada
akhirnya, Chanwo yang merasa terganggu mulai bangun. Ia membuka kedua kelopak
matanya secara perlahan. Sinar jingga yang berasal dari sudut ruangan ini menyapa
indera pengelihatannya dengan sangat lembut. Dia tidak langsung bangkit dari
posisinya saat ini. Melainkan mengumpulkan kesadarannya terlebih dahulu agar ia
bisa kembali fokus.
“Cepat bangun!” desak Hwang Ji Na.
Sudah dikatakan sebelumnya, jika ia bukan tipikal gadis yang
penyabar. Ia nyaris tidak memiliki hal itu di dalam dirinya sama sekali. Segala
tindakannya terkesan tergesa-gesa, meski pada akhirnya memang berjalan sesuai
dengan rencana.
Hwang Ji Na menarik tangan pria itu dan membuatnya terduduk.
Dengan kondisi yang masih setengah sadar dan juga pandangan yang masih buram,
ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk memfokuskan pandangannya. Chanwo tahu
betul jika ada seseorang yang diam-diam menyelinap masuk ke kamarnya pada malam
hari, kemudian membangunkannya dengan sengaja.
“Ada apa?” tanya pria itu.
Suaranya parau, khas seperti orang yang baru bangun tidur
pada umumnya. Ia mengusap-usap kelopak matanya dengan lembut. Segala cara telah
ia lakukan agar sadar. Namun tak pernah benar-benar berhasil. Sampai pada
akhirnya, ia berhasil mencapai satu titik yang mambuatnya sungguh tersadar.
Pria itu langsung menoleh ke samping. Mengarahkan
pandangannya tepat pada sebuah objek yang tengah berjongkok di samping tempat
tidurnya. Tidak lain dan tidak bukan adalah Hwan Ji Na. Ia sudah dari tadi
berada di posisi seperti ini. Memang sengaja untuuk menyama ratakan tingginya
dengan pria itu yang tengah tertidur tadi.
Chanwo terkesiap. Ia mundur beberapa centi. Membuat jarak
yang ada di antara mereka berdua semakin melebar. Kedua bola matanya membulat
dengan sempurna begitu mendapati apa yang berada di hadapannya saat ini.
Otaknya seperti berhenti bekerja. Ia mendaak seperti orang linglung yang tidak tahu
apa-apa.
Sementara itu, Hwang Ji Na sendiri terlihat kebingungan
__ADS_1
dibuatnya. Ia mengerutkan dahinya sembari mengajukan satu pertanyaan kepada
pria itu.
“Ada apa denganmu?” katanya.
Chanwo menepuk-nepuk pipinya sendiri. Bahkan tak jarang ia
juga mencubit dirinya sendiri. Pria itu meringis kesakitan akibat perbuatannya.
Sungguh aneh. Untuk apa ia menyakiti dirinya sendiri seperti ini. Kurang
kerjaan saja. Sebenarnya dia hanya ingin memastikan jika apa yang dilihatnya
saat ini nyata, bukan halusinasi atau bahkan mimpi. Untuk beberapa saat setelah
bangun tidur, ia memang menjadi sedikit kesulitan untuk membedakan mana yang
benar ada dan mana yang tidak ada.
Chanwo masih tak habis pikir jika yang dilihatnya saat ini
adalah Hwang Ji Na. bagaimana bisa gadis itu sampai ke sini. Berada tepat di
hadapannya pula. Apa yang dilakukan oleh Hwang Ji Na di sini pada tengah malam.
Keberadaan Hwang Ji Na benar-benar mengejutkan Chanwo.
Otaknya menolak untuk percaya. Padahal ia telah berulang kali mayakinkan
dirinya sendiri jika semua ini nyata dan bukan rekayasa. Ia bisa mencium aroma
klan serigala alpha ini. Dia berpotensi untuk menjadi pemimpin jika masuh
bersama kawanannya pada saat ini. Mengingat Hwang Ji Na sendiri merupakan sang
alpha. Tidak peduli baik itu pria atau wanita.
“Apa yang sedang kau lakukan di sini malam-malam begini?”
Dia nyaris tidak bisa berkata-kata sama sekali tadi.
Kemunculan Hwan Ji Na di kamarnya secara tiba-tiba, berhasil membuatnya mati
ketakutan. Pria itu mengira jika ia telah melihat seorang arwah gentayan. Untuk
pertama kalinya pria itu percaya kepada hantu dan mahluk gaib lainnya. Tidka
bisa dipungkiri jika sekolah ini banyak membawa pengaruh besar baginya.
Terutama pada pola pikirnya sendiri.
“Kau harus kembali. Kerajaan membutuhkanmu saat ini,” ungkap
Hwang Ji Na.
Chanwo mengerutkan dahinya.
“Apa ada hal buruk yang terjadi di sana?” tanya pria itu.
Hwang Ji Na menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai bentuk
jawaban atas pertanyaan pria itu barusan.
“Lalu kenapa kau memintaku untuk kembali ke sana?” tanya
Chanwo lagi. Dia tidak bermaksud apa-apa selain memperjelas semua hal yang
sedang terjadi di sini. otaknya terlalu sulit untuk mencerna semua itu
sekarang.
“Karena itu adalah tempat asalmu!” tukas Hwang Ji Na yang
__ADS_1
tak sabaran.
Gadis itu masihi tetap menjaga volume suaranya agar tetap
rendah. Dia tidak akan berbuat ceroboh kali ini dan membiarkan dirinya
tertangkap begitu saja. Bukan itu tujuannya untuk datang ke sini.
“Itu adalah rumahmu. Bagaimana pun kau harus kembali ke
sana. Tempat ini bukan untukmu,” jelas Hwang Ji Na di kemudian.
Pemaparan siingkat dari Hwang Ji Na berhasil membuat dirinya
merasa jauh lebih paham. Sekarang ia mengerti kenapa gadis itu rela jauh-jauh
ke sini. Berjalan di tengah tumpukan salju yang menggunung. Ia bahkan tidak
mempedulikan lagi angina musim dingin yang nyaris membunuhnya secara perlahan.
“Aku tidak bisa kembali sekarang,” ungkap Chanwo.
“Kenapa?” bingun Hwang Ji Na.
Padahal mereka bisa pergi sekarang juga jika pria itu mau. Mereka
tidak akan membeku di luar sana hanya karena terkena salju abadi. Anggota klan
akan tetap aman. Hanya para manusian biasa yang isa merasakan dampak dari salju
abadi tersebut. Tidak dengan mahluk lainnya.
“Tempat ini tidak baik untukmu. Sebaiknya kita jangan
berlama-lama di sini,” bujuk Hwang Ji Na.
Gadis itu masih belum menyerah. Ia akan melakukan apa pun
untuk membawa pria itu kembali ke kerjaan. Hwang Ji Na tidak akan membiarkan
Chanwo berada lebih lama lagi di sini.
“Ku dengar seorang anggota klan yang pernah diusir dari
dalam hutan berada di sini,” ungkapnya.
“Kau benar. Dia memang sedang berada di sini sekarang,”
balas Chanwo.
Priai itu mengakui segalanya. Semua hal yang baru saja
diucapkan oleh gadi ini benar. Dia tidak sedang mengada-ada. Entah dari mana
Hwang Ji Na bisa mengetahui hal tersebut. Padahal tidak ada seorang pun yang
pernah memberitahunya soal ini.
“Kalau begitu apa lagi yang kau tunggu?!” desak Hwang Ji Na.
“Apa kau ingin mati di tangannya?!” tukas gadis itu.
Berbicara dengan pria ini benar-benar menguji kesabaran. Dia
terlalu keras kepala untuk diluluhkan.
“Hal itu tidak akan terjadi. Aku akan baik-baik saja selama
berada di sini,” ujar Chanwo.
“Mereka tidak akan menyakitku,” lanjutnya.
Mereka tengah berusaha meyakinkan dua hal yang saling
__ADS_1
bertolak belakang satu sama lain dan berharap hal itu berhasil. Mustahil.