Mooneta High School

Mooneta High School
Kembalinya Hwang Ji Na


__ADS_3

Hwang Ji Na bukan tipikal orang yang suka bertele-tele. Ia


langsung menghampiri pria itu begitu merasa jauh lebih tenang. Hwang Ji Na


mengguncang-guncang tubuh Chanwo dengan pelan. Berusaha untuk membuatnya


terjaga, dengan cara mengusik pria itu secara sengaja. Pasalnya, tidak ada hal


lain yang bisa ia lakukan lagi selain itu.


Usahanya sama sekali tak berakhir sia-sia. Karena pada


akhirnya, Chanwo yang merasa terganggu mulai bangun. Ia membuka kedua kelopak


matanya secara perlahan. Sinar jingga yang berasal dari sudut ruangan ini menyapa


indera pengelihatannya dengan sangat lembut. Dia tidak langsung bangkit dari


posisinya saat ini. Melainkan mengumpulkan kesadarannya terlebih dahulu agar ia


bisa kembali fokus.


“Cepat bangun!” desak Hwang Ji Na.


Sudah dikatakan sebelumnya, jika ia bukan tipikal gadis yang


penyabar. Ia nyaris tidak memiliki hal itu di dalam dirinya sama sekali. Segala


tindakannya terkesan tergesa-gesa, meski pada akhirnya memang berjalan sesuai


dengan rencana.


Hwang Ji Na menarik tangan pria itu dan membuatnya terduduk.


Dengan kondisi yang masih setengah sadar dan juga pandangan yang masih buram,


ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk memfokuskan pandangannya. Chanwo tahu


betul jika ada seseorang yang diam-diam menyelinap masuk ke kamarnya pada malam


hari, kemudian membangunkannya dengan sengaja.


“Ada apa?” tanya pria itu.


Suaranya parau, khas seperti orang yang baru bangun tidur


pada umumnya. Ia mengusap-usap kelopak matanya dengan lembut. Segala cara telah


ia lakukan agar sadar. Namun tak pernah benar-benar berhasil. Sampai pada


akhirnya, ia berhasil mencapai satu titik yang mambuatnya sungguh tersadar.


Pria itu langsung menoleh ke samping. Mengarahkan


pandangannya tepat pada sebuah objek yang tengah berjongkok di samping tempat


tidurnya. Tidak lain dan tidak bukan adalah Hwan Ji Na. Ia sudah dari tadi


berada di posisi seperti ini. Memang sengaja untuuk menyama ratakan tingginya


dengan pria itu yang tengah tertidur tadi.


Chanwo terkesiap. Ia mundur beberapa centi. Membuat jarak


yang ada di antara mereka berdua semakin melebar. Kedua bola matanya membulat


dengan sempurna begitu mendapati apa yang berada di hadapannya saat ini.


Otaknya seperti berhenti bekerja. Ia mendaak seperti orang linglung yang tidak tahu


apa-apa.


Sementara itu, Hwang Ji Na sendiri terlihat kebingungan

__ADS_1


dibuatnya. Ia mengerutkan dahinya sembari mengajukan satu pertanyaan kepada


pria itu.


“Ada apa denganmu?” katanya.


Chanwo menepuk-nepuk pipinya sendiri. Bahkan tak jarang ia


juga mencubit dirinya sendiri. Pria itu meringis kesakitan akibat perbuatannya.


Sungguh aneh. Untuk apa ia menyakiti dirinya sendiri seperti ini. Kurang


kerjaan saja. Sebenarnya dia hanya ingin memastikan jika apa yang dilihatnya


saat ini nyata, bukan halusinasi atau bahkan mimpi. Untuk beberapa saat setelah


bangun tidur, ia memang menjadi sedikit kesulitan untuk membedakan mana yang


benar ada dan mana yang tidak ada.


Chanwo masih tak habis pikir jika yang dilihatnya saat ini


adalah Hwang Ji Na. bagaimana bisa gadis itu sampai ke sini. Berada tepat di


hadapannya pula. Apa yang dilakukan oleh Hwang Ji Na di sini pada tengah malam.


Keberadaan Hwang Ji Na benar-benar mengejutkan Chanwo.


Otaknya menolak untuk percaya. Padahal ia telah berulang kali mayakinkan


dirinya sendiri jika semua ini nyata dan bukan rekayasa. Ia bisa mencium aroma


klan serigala alpha ini. Dia berpotensi untuk menjadi pemimpin jika masuh


bersama kawanannya pada saat ini. Mengingat Hwang Ji Na sendiri merupakan sang


alpha. Tidak peduli baik itu pria atau wanita.


“Apa yang sedang kau lakukan di sini malam-malam begini?”


Dia nyaris tidak bisa berkata-kata sama sekali tadi.


Kemunculan Hwan Ji Na di kamarnya secara tiba-tiba, berhasil membuatnya mati


ketakutan. Pria itu mengira jika ia telah melihat seorang arwah gentayan. Untuk


pertama kalinya pria itu percaya kepada hantu dan mahluk gaib lainnya. Tidka


bisa dipungkiri jika sekolah ini banyak membawa pengaruh besar baginya.


Terutama pada pola pikirnya sendiri.


“Kau harus kembali. Kerajaan membutuhkanmu saat ini,” ungkap


Hwang Ji Na.


Chanwo mengerutkan dahinya.


“Apa ada hal buruk yang terjadi di sana?” tanya pria itu.


Hwang Ji Na menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai bentuk


jawaban atas pertanyaan pria itu barusan.


“Lalu kenapa kau memintaku untuk kembali ke sana?” tanya


Chanwo lagi. Dia tidak bermaksud apa-apa selain memperjelas semua hal yang


sedang terjadi di sini. otaknya terlalu sulit untuk mencerna semua itu


sekarang.


“Karena itu adalah tempat asalmu!” tukas Hwang Ji Na yang

__ADS_1


tak sabaran.


Gadis itu masihi tetap menjaga volume suaranya agar tetap


rendah. Dia tidak akan berbuat ceroboh kali ini dan membiarkan dirinya


tertangkap begitu saja. Bukan itu tujuannya untuk datang ke sini.


“Itu adalah rumahmu. Bagaimana pun kau harus kembali ke


sana. Tempat ini bukan untukmu,” jelas Hwang Ji Na di kemudian.


Pemaparan siingkat dari Hwang Ji Na berhasil membuat dirinya


merasa jauh lebih paham. Sekarang ia mengerti kenapa gadis itu rela jauh-jauh


ke sini. Berjalan di tengah tumpukan salju yang menggunung. Ia bahkan tidak


mempedulikan lagi angina musim dingin yang nyaris membunuhnya secara perlahan.


“Aku tidak bisa kembali sekarang,” ungkap Chanwo.


“Kenapa?” bingun Hwang Ji Na.


Padahal mereka bisa pergi sekarang juga jika pria itu mau. Mereka


tidak akan membeku di luar sana hanya karena terkena salju abadi. Anggota klan


akan tetap aman. Hanya para manusian biasa yang isa merasakan dampak dari salju


abadi tersebut. Tidak dengan mahluk lainnya.


“Tempat ini tidak baik untukmu. Sebaiknya kita jangan


berlama-lama di sini,” bujuk Hwang Ji Na.


Gadis itu masih belum menyerah. Ia akan melakukan apa pun


untuk membawa pria itu kembali ke kerjaan. Hwang Ji Na tidak akan membiarkan


Chanwo berada lebih lama lagi di sini.


“Ku dengar seorang anggota klan yang pernah diusir dari


dalam hutan berada di sini,” ungkapnya.


“Kau benar. Dia memang sedang berada di sini sekarang,”


balas Chanwo.


Priai itu mengakui segalanya. Semua hal yang baru saja


diucapkan oleh gadi ini benar. Dia tidak sedang mengada-ada. Entah dari mana


Hwang Ji Na bisa mengetahui hal tersebut. Padahal tidak ada seorang pun yang


pernah memberitahunya soal ini.


“Kalau begitu apa lagi yang kau tunggu?!” desak Hwang Ji Na.


“Apa kau ingin mati di tangannya?!” tukas gadis itu.


Berbicara dengan pria ini benar-benar menguji kesabaran. Dia


terlalu keras kepala untuk diluluhkan.


“Hal itu tidak akan terjadi. Aku akan baik-baik saja selama


berada di sini,” ujar Chanwo.


“Mereka tidak akan menyakitku,” lanjutnya.


Mereka tengah berusaha meyakinkan dua hal yang saling

__ADS_1


bertolak belakang satu sama lain dan berharap hal itu berhasil. Mustahil.


__ADS_2