Mooneta High School

Mooneta High School
Secret


__ADS_3

Langkah Vallery langsung terhenti saat itu juga, saat anak pnah itu nyaris mendarat di kakinya. Hanya jarak beberapa centi saja, mungkin hal buruk itu akan terjadi. Ia mendongakkan kepalanya untuk mencari siapa pelakunya. Jika dilihat sekilas, panah itu berasal dari atas sana. Vallery melemparkan pandangannya pada Nhea yang saat itu menjadi satu-satunya tersangka saat itu, dengan sebuah busur panah di tangannya.


Sudah pasti jika pelakunya adalah gadis itu. Hanya di satu-satunya orang yang paling menunjukkan tanda-tanda yang mencurigakan di sana. Semuanya terjadi di saat yang begitu tepat. Bidikannya tak meleset sedikitpun, karena memang bukan Vallery lah yang menjadi incarannya.


“Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin menyakiti ibumu sendiri?” teriak Wilson dari bawah.


“Apa kalian selalu berpikir buruk soal diriku?” balas Nhea.


“Sedikit lagi, panah itu hampir mengenai ibu mu. Beruntung bidikanmu meleset, karena kau punya niat jahat,” jelas Wilson dengan emosi yang sudah berada di puncak ubun-ubun.


Nhea menarik napasnya dalam-dalam, berusaha untuk meningkatkan level kesabarannya. Ia tak habis pikir bagaimana bisa semua orang di dunia ini bisa membuatnya naik darah seperti ini.


“Lain kali sebaiknya kalian berhati-hati dalam berbicara,” peringati Nhea.


Gadis itu kemudian bergegas untuk turun dari sana untuk menghampiri sekumpulan pecundang itu.

__ADS_1


“Kalian adalah orang jahat yang sesungguhnya,” ucap gadis itu setelah sampai di bawah.


“Lagipula bukan dia incaranku, tapi ubin ini,” lanjutnya sambil mencabut anak panah yang tertancap kuat di lantai.


“Jangan terlalu gegabah dalam mengambil sebuah asumsi!” tegasnya.


“Apa maksudmu?” tanya Vallery dengan tangan yang masih bergetar hebat.


Kelihatannya wanita itu benar-benar shock dengan kejadian barusan.


“Jangan sakiti mereka, karena mereka semua bukan ancaman bagi kita. Mereka hanya sedang mencoba untuk membantu kita,,” lanjutnya.


“Dari mana kau tahu soal hal itu?” tanya Vallery.


“Naluriku berkata begitu,” balasnya.

__ADS_1


“Tapi kau tak bisa mengandalkan naluri payahmu itu di saat seperti ini. Kau tak tahu mana yang lawan dan mana yang kawan,” jelas Vallery dengan panjang lebar.


“Kau mungkin boleh meremehkan ku untuk saat ini, tapi ayah juga merasakan hal yang sama denganku. Aku tahu itu dengan jelas,” dalih gadis itu.


“Benarkan ayah?” lanjutnya.


Di sisi lain, Wilson hanya bungkam dan tak ingin buka suara soal itu sama sekali.  Sementara Nhea hanya tersenyum miring dan merasa jika posisinya tengah unggul untuk sementara saat ini.


“Gunakan kesempatan kalian dengan baik dan jangan menyakiti orang-orang itu jika tak ingin ada masalah,” ujar Nhea sembari meninggalkan tempat tersebut.


Sejauh ini sebenarnya tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kondisi sekolah masih aman-aman saja, dan harusnya portal itu dapat bertahan lebih lama dengan bantuan prajurit misterius itu.


“Bukankah itu Hwang Ji Na dan si pangeran menyebalkan itu?” batin Eun Ji Hae dalam hati.


Merasa ada sesuatu yang aneh dan Nhea juga seperti sedang menutup-nutupi sesuatu dari mereka semua, Eun Ji Hae memutuskan untuk membuntuti langkah gadis itu dari belakang. Ia harus tahu dari mana pasukan itu datang dan apa yang membuat mereka tiba-tiba berada di pihak mereka. Eun Ji Hae sangat yakin jika Nhea tahu soal semua ini.

__ADS_1


__ADS_2