
Eun Ji Hae langsung mengajak Chanwo untuk naik ke jendela tadi. Mereka duduk sambil menikmati dinginnya hawa musim dingin yang mulai menyeruak masuk. Eun Ji Hae merapatkan baju hangatnya untuk menjaga suhu tubuhnya agar tetap normal. Ia tidak bisa melepaskan yang satu itu pada saat seperti ini. Mau tak mau Eun Ji Hae memang harus memakainya.
“Jadi, kenapa tiba-tiba kembali?” tanya Eun Ji Hae yang memutuskan untuk buka suara lebih dulu.
Sebelumnya mereka hanya saling membisu satu sama lain. Sibuk menikmati pemandangan yang disuguhkan dari sudut pandang yang satu ini. Eun Ji Hae sendiri bahkan tak pernah menyadari jika ia bisa memantau seluruh kota dari jendelanya yang satu ini.
Sangking terpesonanya dengan pemandangan hamparan tanah luas itu, Chanwo sampai lupa dengan maksud kedatangannya kemari. Hal itu membuat Eun Ji Hae harus bertanya lebih dulu agar tahu.
“Entahlah, aku hanya ingin kembali ke sini,” ucap Chanwo sambil menghirup udara.
Tunggu dulu. Dia bahkan tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya. Jangan bilang jika ia lupa dengan jati dirinya sendiri karena sudah terlalu sering bergaul dengan anak-anak manusia. Dia adalah seorang vampir yang notabene nya tidak bisa bernapas. Paru-paru dan jantungnya tidak bisa bekerja dengan baik. Begitu pula dengan organ pencernaannya. Dia tidak hidup seperti manusia pada umumnya. Karena memang, Chanwo bukan manusia.
Eun Ji Hae sama sekali tidak menyadari hal tersebut. Bukan urusannya. Gadis itu bahkan tidak tahu jika sebagian organ dari pria ini tidak berfungsi sama sekali. Tapi, anehnya dia tetap hidup dengan normal. Meski kulitnya tampak sedikit lebih pucat karena jantungnya tidak mampu memompakan darah ke seluruh tubuh. Tapi, belakangan ia mulai mendapatkan hal itu kembali. Meski belum sepenuhnya. Samar-samar ia bisa merasakan sebuah organ di dalam sana yang berdetak secara halus.
“Ternyata seperti ini rasanya menghirup udara segar di malam musim dingin,” gumam Chanwo yang membuat Eun Ji Hae menoleh ke arahnya.
“Hidupmu pasti terlalu monoton,” ujar gadis itu secara terang-terangan.
“Kau menghabiskan sebagian besar waktumu tanpa bepergian melihat belahan dunia yang lainnya,” lanjutnya.
__ADS_1
Chanwo masih tetap bergeming. Apa yang dikatakan oleh Eun Ji Hae tadi benar. Dia tidak salah. Chanwo bahkan merasa menyesal. Kenapa tidak sejak dulu ia memberanikan diri untuk keluar dari tempat terkutuk itu.
“Kau salah besar,” ucap pria itu secara gamblang.
Eun Ji Hae memang tidak berkata apa-apa. Tapi, keningnya yang berkerut cukup untuk menandakan jika ia sedang kebingungan.
“Ini hanya sebagian kecil dari hidupku,” ungkapnya.
“Asal kau tahu saja, kaum kegelapan memiliki kehidupan yang abadi. Mereka tidak akan mati kecuali terbunuh atau bunuh diri. Selama aku masih bisa menjaga diriku dengan baik, mungkin aku bisa hidup sampai seratus atau bahkan dua ratus tahun lagi,” jelas pria itu dengan panjang lebar.
Satu-satunya hal yang bisa dilakukan oleh Eun Ji Hae saat itu adalah menyimak pemaparan dari pria itu dengan seksama. Kemudian mengangguk-angguk paham saat ia mulai mendapatkan poin penting dari ucapan Chanwo barusan.
“Apakah pria itu akan memiliki nasib yang sama denganmu?” tanya Eun Ji Hae.
“Si pria menyebalkan itu,” cicitnya.
Chanwo hanya tertawa pelan begitu mendengar ucapan gadis itu. Bagaimana bisa ia mengumpat soal pria itu pada saat seperti ini. Sekarang telinganya pasti sedang terasa panas. Karena ada seseorang yang sedang membicarakannya secara diam-diam.
“Harus kubilang iya untuk yang satu itu,” jawab Chanwo secara gamblang.
__ADS_1
“Lalu, bagaimana jika seluruh dunia telah hancur? Apakah kalian tetap akan hidup?” tanya Eun Ji Hae.
“Mungkin, itu adalah akhir dari segalanya,” jawab si raja vampir itu dengan apa adanya.
“Akhir dari peradaban klan vampir, klan bayangan dan juga semua mahluk hidup yang tersebar di seluruh penjuru semesta ini,” lanjutnya.
Dia sedang tidak mengarang cerita di sini. Mari berpikir realistis saja. Jika dunia tempat mereka tinggal dan berpijak saja sudaj hancur, mau bagaimana lagi. Keadaan pasti akan menjadi sangat kacau dan tentu saja seluruh mahluk hidup akan terbunuh. Tidak terkecuali kepada Chanwo dan klan lainnya.
“Bagaimana dengan Nhea? Apakah dia memliki kehidupan yang abadi juga?” tanya Eun Ji Hae lagi.
Kali ini pertanyaan dari gadis itu berhasil membuat Chanwo bungkam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Karena memang ia sendiri tidak tahu apa jawabannya. Seumur hidupnya, ia belum pernah bertemu dengan orang seperti Nhea. Mungkin Wilson adalah satu-satunya anggota klan yang melarikan diri dari hutan dan menikah dengan manusia. Padahal jelas-jelas jika poin kedua itu adalah larangan. Tidak ada yang berani melanggar hal tersebut sebelumnya.
“Aku tidak tahu jawabannya,” ucap Chanwo dengan suara yang melemah.
Malam itu mereka tak bicara banyak. Hanya beberapa hal acak. Termasuk soal kehidupan para klan. Entahlah. Mendadak Eun Ji Hae merasa penasaran saja dengan hal tersebut. Ia bahkan mempertanyakan soal jati dirinya sendiri. Apakah ia merupakan salah satu keturunan dari kaum matahari? Lebih tepatnya klan phoenix. Fakta jika ia bukan anak kandung Wilson dan Vallery berhasil menguatkan asumsinya kali ini.
Eun Ji Hae kembali merebahkan diri di atas kasurnya setelah Chanwo berpamitan. Tidak. Kali ini dia tidak akan kembali ke hutan terkutuk yang menjadi tempat tinggalnya itu. Ia akan kembali ke kamarnya. Pria itu memutuskan untuk tetap berada di sini sampai beberapa saat ke depan. Sampai waktu yang tidak ditentukan.
Chanwo memang mudah berubah. Akhir-akhir ini dia sedang tidak bisa memutuskan. Hatinya terasa gundah. Dia sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Lalu, bagaimana cara mengatasinya.
__ADS_1
Selama Chanwo pergi dan tidak berada di istana, semua kekuasaan atas pemerintahan yang sedang dijalankan akan diserahkan kepada adiknya. Ia yakin jika pria itu bisa diandalkan. Bahkan jika dilihat dari segi mana pun, ia jauh lebih baik dalam melakukan segalanya dari pada Chanwo. Ia hanya menjadi raja karena posisinya sebagai putra pertama dari keluarga itu. Otomatis semua harta dan kekuasaan serta segala hal yang dimiliki oleh kedua orang tuanya akan jatuh ke tangan anak itu. Entahlah. Entah kenapa harus dia. Padahal adiknya lebih pantas dan berhak atas semua itu.
Kali ini Chanwo hanya kembali seorang diri tanpa ditemani oleh siapa pun. Tidak dengan Hwang Ji Na. Gadis itu diberi perintah untuk melatih prajurit seperti biasanya.