
Situasinya semakin tak terkendali, karena terasa semakin
membingungkan. Tidak ada sau orang pun yang paham dengan situasinya saat ini.
Untuk mengantisipasi hal buruk terjadi, Bibi Ga Eun memutuskan untuk tetap
melaksanakan kembali proses pembelajaran yang akan dimulai nanti malam. Mereka
tidak bisa terus-terusan dia seperti ini. Apa lagi jika sampai proses belajar
dihentikan, meski untuk sementara waktu. Sementara para siswa harus memiliki
bekal berupa ilmu dasar sihir untuk menghadapi situasi pelik yang tengah
terjadi saat ini. Mereka harus tetap mendapatkan ilmu, meski pun sedikit.
Setidaknya pasti akan berguna.
“Apa kau telah mendengar kabar terbaru hari ini?” tanya
Oliver.
“Kabar soal apa lagi?” tanya gadis itu balik.
“Apa soal sekolah nanti malam?” timpal Nhea untuk menambahi
ucapannya yang barusan.
“Bukan tentang itu!” tepis Oliver dengan cepat.
Begitu mendengar jawaban dari Oliver, gadis itu segera
mengerutkan dahinya karenaa kebingungan. Dia tidak tahu, kabar yang mana satu
yang ia maksud. Hari ini tidak ada berita apa-apa, keculai soal sekolah nanti
malam. Nhea mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu. Sorot matanya seolah
tengah menuntut jawaban.
“Menurt kabar yang beredar, katanya hari ini kita akan
kedatangan murid baru lagi,” beber Oliver.
“Apa mereka masih menerimamurid baru pada saat seperti ini?”
balas Nhea.
“Yang benar saja. Sungguh tidak masuk akal,” cicitnya.
“Aku juga belum tahu soal kabar pastinya. Ini hanya
desas-desus yang beredar baru-baru ini,” jelas Oliver agar tidak terjadi
kesalah pahaman.
“Ya sudahlah kalau begitu!” tukas Nhea.
“Kita lihat saja nanti malam bagaimana kebenarnannya,”
simpul gadisitu dengan cepat.
“Aku akan tidur sebentar. Jangan bangunkan aku jika tidak
penting,” ucapnya dengan pebuh penanakan. Pasalnya, ia memang tidak suka di
ganggu.
Saat ini Oliver dan juga Nhea sedang berada di dalam
kamarnya. Tidak ada yang mereka lakukan, kecuali hanya bermalas-malasan.
Keduanya tengah merebahkan diri di atas tempat tidurnya masing-masing. Nhea
berencana akan tidur sebentar, karena kemarin malam ia tidak bisa tidur sama
sekali. Gadis itu terjaga sepanjang malam, bahkan hingga pagi. Sekarang ia
mulai merasa mengantuk. Sepertinya, Nhea memang harus sergera pergi tidur.
Pasalnya jika ia tidak beristirahat saat ini juga, maka ia tidak akan bisa
mengikuti kelas nanti malam dengan maksimal.
Sementara Nhea mengistirahatkan jiwa dan raganya, Oliver
hanya bisa kembali melamun. Pasalnya, tidak ada seorang pun yang bisa ia ajak
untuk berbicara dengannya. Gadis itu melemparkan pandangannya pada
langit-langit ruangan ini. Dia tidak tahu sampai kapan ia harus begini. Yang
jelas, sampai Nhea kembali bangun dari tidurnya. Tapi, sepertinya kali ini ia
akan tidur dalam jangka waktu yang cukup lama. Mengingat jika tadi malam ia
sama sekali tidak tidur.
Butuh waktu yang seppada baginya untuk mencadangkan ulang
semua itu. Sejak kemarin malam jam tidur gadis ini sudah berantakan. Mungkin
akan tetap bertahan sampai beberapa hari ke depan. Setidaknya, sampai isi
pikirannya kembali seperti semula. Ini adalah efek samping dari pola pikirnya
yang berantakan akhir-akhir ini. Hal tersebut juga berdampak besar terhadap
kehidupan sehari-harinya. Bahkan aktivitas rutinnya pun menjadi berantakan
sekarang. Tidak ada yang bisa ia harapkan di saat seperti ini. Semua itu
kembali lagi kepada bagaimana cara ia untuk menghadapi semua masalah yang ada.
***
Keadaan di tempat ini masih sama seperti sebelumnya. Sungguh
sunyi. Tidak ada seorang pun yang berkeliaran di luar ruangan. Karena mereka
diminta untuk tetap berada di dalam kamarnya jika tidak ada sesuatu yang
terlalu penting.
Hal tersebut dilakukan demi menjaga kemanan bersama. Dengan
semakin mengurangi aktifitas di luar ruangan tersebut, maka akan semakin banyak
pula cadangan energi yang mereka miliki untuk melawan hawa dingin. Mereka harus
berpikir kreatif. Bagaimana caranya untuk tetap bertahan pada situasi seperti
ini. Terlebih, saat mengetahui jika persediaan bahan makanan sudah tidak banyak
lagi.
Ada begitu banyak masalah yang harus mereka tangain saat
ini. Bukan hanya satu atau dua, seperti anggapan mereka selama ini. Semua
masalah itu jauh lebih banyak dari apa yang pernah mereka pikirkan sebelumnya. tapi
pada intinya, tetap berasal dari satu sumber permasalahan yang sama.
__ADS_1
Sekarang sudah siang hari, hampir sore. Tapi sama sekali
tidak ada pertanda jika suhu akan naik beberapa derajat hari ini. Paling tidak
dua derajat saja. Tidak bisa dipungkiri, jika suhu udara menjadi turun drastis
setelahnya.
Nhea sama sekali belum terbangun dari tidurnya. Ia sudah
terlelap leniih dari enam jam. Bahkan karena sangking lamanya, Oliver sampai
ikut tertidur karena menunggu gadis itu yang tak kunjung bangun juga. Kini
merek berdua sedang sama-sama terlelap. Hanyut terbawa arus oleh alam bawah
sadarnya. Melintasi dimesi lain untuk menuju tempat tak terbatas.
Sementara yang lain tidur, beberapa orang sengaja ditugaskan
untuk menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Mereka harus segera menyalakan
lenteranya sebelum matahari tenggelam. Sebentar lagi malam. Beberapa orang
telah diberikan tugas masing-masing. Pasalnya, ada banyak lentera yang harus
dipasang. Dalam satu lorong saja ada lebih dari lima belas lentera yang harus
dipasang. Kalikan saja dengan berapa banyak lorong yang ada di sini. Maka
sebanyak itu lah lentera yang harus mereka pasang. Pekerjaan yang satu ini
harus dilakukan dengan cepat. Jika tidak, mereka tidak akan bisa beraktifitas
tanpa penerangan sama sekali.
***
Gadis itu terkesiap dari tidurnya. Ia mendadak bangun,
karena hawa dingin yang tiba-tiba menyeruak tajam ke dalam pori-pori kulitnya.
Mampu menembus hingga ke bagian tulang terdalam. Hal tersebut berhasil mengusik
ketenangannya. Dia hampir menggigil.
Nhea membuka kedua kelopak matanya secara perlahan, kemudia
mengusapnya dengan lembut. Padahal ia masih terasa mengantuk. Pandangannya
bahkan masih terasa kabur. Dengan keadaan yang masih setengah sadar, Nhea
beranjak dari tempat tidurnya. Langkahnya tertaih-tatih. Ia bahkan nyaris
kehilangan keseimbangannya.
Pantas saja ruangan ini terasa begitu dingin. Ternyata udara
musim dingin dengan bebas keluar masuk melalui sirkulasi utama ruangan ini.
Memangnya apa lagi jika bukan jendela. Kedua daun jendelanya terbuka dengan
sendirinya. Sepertinya tadi angin sedang berhembus terlalu kencang. Sehingga
menyebabkan jendelanya sampai terbuka. Pasalnya, selama ini jendela itu memang
tidak pernah dibuka lagi sama sekali. Sejak salju pertama turun, mereka telah
menutup jendelanya dengan rapat-rapat.
“Apa tadi terjadi badai besar lagi?” gumam Nhea sembari
menarik daun jendelanya lagi.
Setelah selesai dengan urusan jendela, Nhea sama sekali
selesai jamuan makan malam, aka nada kelas pertama. Jadi jika ia kembali tidur,
bisa-bisa akan sulit baginya untuk bangun lagi. Nhea tidak mau melewatkan kelas
pertamanya di hari ini dengan begitu saja.
Nhea kembali menghampiri tempat tidurnya untuk beberes.
Langkahnya terlihat tak semangat. Nyawanya belum terkumpuk sepenuhnya. Gadis
itu mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Tepat di sebelah kanannya,
terdapat Oliver yang masih tidur dengan posisi meringkuk karena kedinginan.
Padahal ia sudah menggunakan baju hangat dan juga selimut tebal. Tapi hal itu
tidak berpengaruh sama sekal baginya. Ia masih saja merasa kedinginan.
Kelihatannya bukan hanya Nhea saja yang merasa kelelahan di
sini. Bahkan sepertinya Oliver juga merasakan hal yang sama. Gadis itu nyatanya
terlihat jauh lebih kelelahan jika dibandingkan dengan dirinya. Tidak bisa
dipungkiri, jika Oliver memang sedang banyak pikiran akhir-akhir ini. Melihat
hal tersebut, membuat Nhea tidak tega untuk mengganggu gadis itu.
Tanggung jawabnya sebagai seorang ketua asrama tidaklah
main-main. Dia harus bisa mengkoordinir semua orang. Tidak mudah untuk
melakukan hal tersebut. Itu sebabnya, Oliver yang terpilih. Semua orang percaya
jika ia akan melaksanakan tugas tersebut dengan baik. Mereka tahu jika gadis
itu bisa melakukannya. Buktinya selama ia dan kakaknya Jongdae menjabat sebagai
ketua asrama, tidak ada masalah yang serius terjadi di sini. Sejauh ini masih
aman-aman saja.
Sebentar lagi masa jabatan keduanya akan segera habis dan
posisi mereka berdua akan digantikan oleh yang baru. Salah satu kandidat
terpilih untuk ketua asrama putri adalah Nhea. Mereka sudah lama membicarakan
tentang hal tersebut. Bahkan sebelum gadis ini datang kemari.
Vallery dan Wilson memang sudah memiliki rencana untuk
membawa serta mengajak anak semata wayangnya itu untuk tinggal di sekolah ini
sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Mungkin ia akan tetap berada di sini
sampai akhir hayatnya.
***
Nhea memutuskan untuk bersiap lebih dulu. Kemudian akan
membangunkan Oliver setelahnya. Gadis itu tetap harus bangun tepat waktu jika
tidak ingin melewatkan banyak hal penting yang akan terjadi di sini nanti. Meski
Nhea sebenarnya tahu jika ia masih butuh istirahat lebih. Pasti sulit baginya
untuk memaksakan diri agar tetap beraktivitas seperti biasanya. Padahal ia
sendiri sedang butuh istirahat. Gadis itu sedang dalam kondisi yang tidak
__ADS_1
baik-baik saja saat ini.
Yang ia maksud dengan bersiap di sini adalah berganti
pakaian dan juga merapihkan penampilannya. Ia akan berhadapan dengan orang
banyak nanti. Mana mungkin jika Nhea tetap keluar dalam kondisi yang seperti
ini. Gadis itu tidak akan mandi selama musim dingin. Selama ini mereka memang
selalu begitu.
Suhu saat musim dingin di tempat ini, selalu saja berada di
bawah rata-rata. Paling rendah, pernah mencapai minus llima belas derajat.
Terlebih lagi, setelah badai besar kemarin. Suhunya turun drastis hingga
menyentuh angka minus sepuluh derajat celscius. Hari ini belum naik sama
sekali. Bahkan tidak satu derajat sekali pun. Bayangkan saja jika kau harus
mandi pada suhu ruangan seminim itu. Mungkin untuk melepaskan baju hangat saja
rasanya enggan. Pasalnya, udara yang berhembus di luar sana sangat dingin. Hawa
dingin tersebut bahkan iktu masuk ke dalam ruangan melalui celah kecil.
Oleh sebab itu, mereka sengaja
menyalakan perapian jauh lebih sering dari pada biasanya. Tentu saja untuk
menjaga suhu ruangan agar tetap stabil. Sehingga mereka masih bisa bertahan
hidup di dalam situasi yang sama sekali tidak bersahabat seperti ini.
***
Semua orang telah kembali ke dalam
kelasnya masing-masing setelah jam makan malam selesai. Sekarang mereka harus
tetap terjaga sampai kelasnya selesai sekitar pukul sebelas malam nanti. Setelah
itu baru mereka bisa kembali ke kelasnya masing-masing. Kelas malam memang akan
selalu selesai pada jam segitu. Dan biasanya baru akan dimulai begitu selesai
acara perjamuan makan malam. Kurang lebih pada sekitaran pukul delapan malam.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari yang lalu gedung
sekolah ditutup, kini tempat itu kembali dipadati oleh ratusan orang. Kelas pertama
akan dimulai malam ini juga. Meski pun solusi untuk salju abadi sama sekali
belum ditemukan, mereka tetap akan bertahan di tempat ini untuk beberapa hari
ke depan. Orang-orang tetap tidak ingin beranjak pindah dari sini. Mereka akan
tetap mempertahankan tempat ini bagaimana pun caranya. Bahkan jika harus
mempertaruhkan nyawanya sekali pun. Mereka sudah siap untuk hal tersebut. Ini adalah
sebuah harga yang pantas untuk dibayar dengan perjuangan.
“Apakah murid baru itu akan masuk ke kelas kita?” tanya Jang
Eunbi.
“Kita tidak pernah tahu ke kelas mana ia akan masuk
nantinya. Ada lebih dari sepuluh kelas yang berada di sini,” jelas Jongdae.
“Benar!” timpal Nhea yang kebetulan sedang ikut menimbrung
saat itu.
“Lagi pula kita tidak tahu dia kelas berapa. Apakah adik
kelas, kakak kelas atau malah seangkata dengan dia,” ujar Oliver.
“Kita bisa bertemu dengannya kapan saja. Dan mungkin akan
selalu bertemu selama kit masih berada di lingkungan sekolah yang sama. Jadi tidak
perlu khawatir,” beber gadis itu.
Apa yang dikatakan oleh gadis ini tadi tidak ada salahnya. Biasanya
mereka akan selalu bertemu setiap harinya selama dua puluh empat jam. Terutama
pada saat acara perjamuan makan atau acara-acara besar lainnya yang juga akan
melibatkan seluruh murid dari sekolah ini.
“Tapi, kapan ia sampai ke sini dan bagaimana bisa ia tetap
selamat?!” celetuk Nhea.
Benar juga. Kenapa selama ini mereka tidak kepikiran soal
hal itu sama sekali. Bukankah yang berada di luar itu adalah salju abadi. Seorang
manusia tidak bisa bersentuhan secara langsung dengan salju abadi. Jika tidak
mereka akan mengetahui akibatnya sendiri. Sudah ada satu orang yang menjadi
korban di sini dan harusnya itu telah menjadi contoh palign nyata. Mereka harus
berhati-hati mulai sekarang.
“Benar! Kapan dia tiba di sini?” tanya Oliver balik.
“Kenapa kau malah menanyakan hal itu kembali kepada kami?”
ujar Jang Eunbi dengan nada bicara yang
terkesan jauh lebih ketus dari pada sebelumnya. Kemudian ia memutar bola
matanya dengan malas.
“Sudah jelas jika kami juga tidak mengetahui jawaban
pastinya,” tukas Jongdae.
Oliver berdecak sebal karena merasa jika posisinya saat ini
semakin terpojok. Padahal ia tidak bermaksud untuk berbuat seperti itu sama
sekali.
“Sudah-sudah!” lerai Nhea.
“Tapi, bukankah ini terasa aneh?” tanya gadis itu, kemudian
diangguki oleh yang lainnya.
“Benar! Ini aneh sekali,” sambar Oliver.
“Tidak biasanya orang akan berkeliaran di luar sana pada
situasi seperti ini. Keadaan di luar menjadi sangat kacau setelah badai salju
kemarin,” jelas Jang Eunbi.
Entah kenapa murid baru itu sudah berhasil menarik perhatian
__ADS_1
mereka, padahal bertemu saja belum. Dia sudah terlihat mencurigakan sejak awal.