Mooneta High School

Mooneta High School
Brand New Day


__ADS_3

 


 


Situasinya semakin tak terkendali, karena terasa semakin


membingungkan. Tidak ada sau orang pun yang paham dengan situasinya saat ini.


Untuk mengantisipasi hal buruk terjadi, Bibi Ga Eun memutuskan untuk tetap


melaksanakan kembali proses pembelajaran yang akan dimulai nanti malam. Mereka


tidak bisa terus-terusan dia seperti ini. Apa lagi jika sampai proses belajar


dihentikan, meski untuk sementara waktu. Sementara para siswa harus memiliki


bekal berupa ilmu dasar sihir untuk menghadapi situasi pelik yang tengah


terjadi saat ini. Mereka harus tetap mendapatkan ilmu, meski pun sedikit.


Setidaknya pasti akan berguna.


“Apa kau telah mendengar kabar terbaru hari ini?” tanya


Oliver.


“Kabar soal apa lagi?” tanya gadis itu balik.


“Apa soal sekolah nanti malam?” timpal Nhea untuk menambahi


ucapannya yang barusan.


“Bukan tentang itu!” tepis Oliver dengan cepat.


Begitu mendengar jawaban dari Oliver, gadis itu segera


mengerutkan dahinya karenaa kebingungan. Dia tidak tahu, kabar yang mana satu


yang ia maksud. Hari ini tidak ada berita apa-apa, keculai soal sekolah nanti


malam. Nhea mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu. Sorot matanya seolah


tengah menuntut jawaban.


“Menurt kabar yang beredar, katanya hari ini kita akan


kedatangan murid baru lagi,” beber Oliver.


“Apa mereka masih menerimamurid baru pada saat seperti ini?”


balas Nhea.


“Yang benar saja. Sungguh tidak masuk akal,” cicitnya.


“Aku juga belum tahu soal kabar pastinya. Ini hanya


desas-desus yang beredar baru-baru ini,” jelas Oliver agar tidak terjadi


kesalah pahaman.


“Ya sudahlah kalau begitu!” tukas Nhea.


“Kita lihat saja nanti malam bagaimana kebenarnannya,”


simpul gadisitu dengan cepat.


“Aku akan tidur sebentar. Jangan bangunkan aku jika tidak


penting,” ucapnya dengan pebuh penanakan. Pasalnya, ia memang tidak suka di


ganggu.


Saat ini Oliver dan juga Nhea sedang berada di dalam


kamarnya. Tidak ada yang mereka lakukan, kecuali hanya bermalas-malasan.


Keduanya tengah merebahkan diri di atas tempat tidurnya masing-masing. Nhea


berencana akan tidur sebentar, karena kemarin malam ia tidak bisa tidur sama


sekali. Gadis itu terjaga sepanjang malam, bahkan hingga pagi. Sekarang ia


mulai merasa mengantuk. Sepertinya, Nhea memang harus sergera pergi tidur.


Pasalnya jika ia tidak beristirahat saat ini juga, maka ia tidak akan bisa


mengikuti kelas nanti malam dengan maksimal.


Sementara Nhea mengistirahatkan jiwa dan raganya, Oliver


hanya bisa kembali melamun. Pasalnya, tidak ada seorang pun yang bisa ia ajak


untuk berbicara dengannya. Gadis itu melemparkan pandangannya pada


langit-langit ruangan ini. Dia tidak tahu sampai kapan ia harus begini. Yang


jelas, sampai Nhea kembali bangun dari tidurnya. Tapi, sepertinya kali ini ia


akan tidur dalam jangka waktu yang cukup lama. Mengingat jika tadi malam ia


sama sekali tidak tidur.


Butuh waktu yang seppada baginya untuk mencadangkan ulang


semua itu. Sejak kemarin malam jam tidur gadis ini sudah berantakan. Mungkin


akan tetap bertahan sampai beberapa hari ke depan. Setidaknya, sampai isi


pikirannya kembali seperti semula. Ini adalah efek samping dari pola pikirnya


yang berantakan akhir-akhir ini. Hal tersebut juga berdampak besar terhadap


kehidupan sehari-harinya. Bahkan aktivitas rutinnya pun menjadi berantakan


sekarang. Tidak ada yang bisa ia harapkan di saat seperti ini. Semua itu


kembali lagi kepada bagaimana cara ia untuk menghadapi semua masalah yang ada.


***


Keadaan di tempat ini masih sama seperti sebelumnya. Sungguh


sunyi. Tidak ada seorang pun yang berkeliaran di luar ruangan. Karena mereka


diminta untuk tetap berada di dalam kamarnya jika tidak ada sesuatu yang


terlalu penting.


Hal tersebut dilakukan demi menjaga kemanan bersama. Dengan


semakin mengurangi aktifitas di luar ruangan tersebut, maka akan semakin banyak


pula cadangan energi yang mereka miliki untuk melawan hawa dingin. Mereka harus


berpikir kreatif. Bagaimana caranya untuk tetap bertahan pada situasi seperti


ini. Terlebih, saat mengetahui jika persediaan bahan makanan sudah tidak banyak


lagi.


Ada begitu banyak masalah yang harus mereka tangain saat


ini. Bukan hanya satu atau dua, seperti anggapan mereka selama ini. Semua


masalah itu jauh lebih banyak dari apa yang pernah mereka pikirkan sebelumnya. tapi


pada intinya, tetap berasal dari satu sumber permasalahan yang sama.

__ADS_1


Sekarang sudah siang hari, hampir sore. Tapi sama sekali


tidak ada pertanda jika suhu akan naik beberapa derajat hari ini. Paling tidak


dua derajat saja. Tidak bisa dipungkiri, jika suhu udara menjadi turun drastis


setelahnya.


Nhea sama sekali belum terbangun dari tidurnya. Ia sudah


terlelap leniih dari enam jam. Bahkan karena sangking lamanya, Oliver sampai


ikut tertidur karena menunggu gadis itu yang tak kunjung bangun juga. Kini


merek berdua sedang sama-sama terlelap. Hanyut terbawa arus oleh alam bawah


sadarnya. Melintasi dimesi lain untuk menuju tempat tak terbatas.


Sementara yang lain tidur, beberapa orang sengaja ditugaskan


untuk menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Mereka harus segera menyalakan


lenteranya sebelum matahari tenggelam. Sebentar lagi malam. Beberapa orang


telah diberikan tugas masing-masing. Pasalnya, ada banyak lentera yang harus


dipasang. Dalam satu lorong saja ada lebih dari lima belas lentera yang harus


dipasang. Kalikan saja dengan berapa banyak lorong yang ada di sini. Maka


sebanyak itu lah lentera yang harus mereka pasang. Pekerjaan yang satu ini


harus dilakukan dengan cepat. Jika tidak, mereka tidak akan bisa beraktifitas


tanpa penerangan sama sekali.


***


Gadis itu terkesiap dari tidurnya. Ia mendadak bangun,


karena hawa dingin yang tiba-tiba menyeruak tajam ke dalam pori-pori kulitnya.


Mampu menembus hingga ke bagian tulang terdalam. Hal tersebut berhasil mengusik


ketenangannya. Dia hampir menggigil.


Nhea membuka kedua kelopak matanya secara perlahan, kemudia


mengusapnya dengan lembut. Padahal ia masih terasa mengantuk. Pandangannya


bahkan masih terasa kabur. Dengan keadaan yang masih setengah sadar, Nhea


beranjak dari tempat tidurnya. Langkahnya tertaih-tatih. Ia bahkan nyaris


kehilangan keseimbangannya.


Pantas saja ruangan ini terasa begitu dingin. Ternyata udara


musim dingin dengan bebas keluar masuk melalui sirkulasi utama ruangan ini.


Memangnya apa lagi jika bukan jendela. Kedua daun jendelanya terbuka dengan


sendirinya. Sepertinya tadi angin sedang berhembus terlalu kencang. Sehingga


menyebabkan jendelanya sampai terbuka. Pasalnya, selama ini jendela itu memang


tidak pernah dibuka lagi sama sekali. Sejak salju pertama turun, mereka telah


menutup jendelanya dengan rapat-rapat.


“Apa tadi terjadi badai besar lagi?” gumam Nhea sembari


menarik daun jendelanya lagi.


Setelah selesai dengan urusan jendela, Nhea sama sekali


selesai jamuan makan malam, aka nada kelas pertama. Jadi jika ia kembali tidur,


bisa-bisa akan sulit baginya untuk bangun lagi. Nhea tidak mau melewatkan kelas


pertamanya di hari ini dengan begitu saja.


Nhea kembali menghampiri tempat tidurnya untuk beberes.


Langkahnya terlihat tak semangat. Nyawanya belum terkumpuk sepenuhnya. Gadis


itu mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Tepat di sebelah kanannya,


terdapat Oliver yang masih tidur dengan posisi meringkuk karena kedinginan.


Padahal ia sudah menggunakan baju hangat dan juga selimut tebal. Tapi hal itu


tidak berpengaruh sama sekal baginya. Ia masih saja merasa kedinginan.


Kelihatannya bukan hanya Nhea saja yang merasa kelelahan di


sini. Bahkan sepertinya Oliver juga merasakan hal yang sama. Gadis itu nyatanya


terlihat jauh lebih kelelahan jika dibandingkan dengan dirinya. Tidak bisa


dipungkiri, jika Oliver memang sedang banyak pikiran akhir-akhir ini. Melihat


hal tersebut, membuat Nhea tidak tega untuk mengganggu gadis itu.


Tanggung jawabnya sebagai seorang ketua asrama tidaklah


main-main. Dia harus bisa mengkoordinir semua orang. Tidak mudah untuk


melakukan hal tersebut. Itu sebabnya, Oliver yang terpilih. Semua orang percaya


jika ia akan melaksanakan tugas tersebut dengan baik. Mereka tahu jika gadis


itu bisa melakukannya. Buktinya selama ia dan kakaknya Jongdae menjabat sebagai


ketua asrama, tidak ada masalah yang serius terjadi di sini. Sejauh ini masih


aman-aman saja.


Sebentar lagi masa jabatan keduanya akan segera habis dan


posisi mereka berdua akan digantikan oleh yang baru. Salah satu kandidat


terpilih untuk ketua asrama putri adalah Nhea. Mereka sudah lama membicarakan


tentang hal tersebut. Bahkan sebelum gadis ini datang kemari.


Vallery dan Wilson memang sudah memiliki rencana untuk


membawa serta mengajak anak semata wayangnya itu untuk tinggal di sekolah ini


sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Mungkin ia akan tetap berada di sini


sampai akhir hayatnya.


***


Nhea memutuskan untuk bersiap lebih dulu. Kemudian akan


membangunkan Oliver setelahnya. Gadis itu tetap harus bangun tepat waktu jika


tidak ingin melewatkan banyak hal penting yang akan terjadi di sini nanti. Meski


Nhea sebenarnya tahu jika ia masih butuh istirahat lebih. Pasti sulit baginya


untuk memaksakan diri agar tetap beraktivitas seperti biasanya. Padahal ia


sendiri sedang butuh istirahat. Gadis itu sedang dalam kondisi yang tidak

__ADS_1


baik-baik saja saat ini.


Yang ia maksud dengan bersiap di sini adalah berganti


pakaian dan juga merapihkan penampilannya. Ia akan berhadapan dengan orang


banyak nanti. Mana mungkin jika Nhea tetap keluar dalam kondisi yang seperti


ini. Gadis itu tidak akan mandi selama musim dingin. Selama ini mereka memang


selalu begitu.


Suhu saat musim dingin di tempat ini, selalu saja berada di


bawah rata-rata. Paling rendah, pernah mencapai minus llima belas derajat.


Terlebih lagi, setelah badai besar kemarin. Suhunya turun drastis hingga


menyentuh angka minus sepuluh derajat celscius. Hari ini belum naik sama


sekali. Bahkan tidak satu derajat sekali pun. Bayangkan saja jika kau harus


mandi pada suhu ruangan seminim itu. Mungkin untuk melepaskan baju hangat saja


rasanya enggan. Pasalnya, udara yang berhembus di luar sana sangat dingin. Hawa


dingin tersebut bahkan iktu masuk ke dalam ruangan melalui celah kecil.


Oleh sebab itu, mereka sengaja


menyalakan perapian jauh lebih sering dari pada biasanya. Tentu saja untuk


menjaga suhu ruangan agar tetap stabil. Sehingga mereka masih bisa bertahan


hidup di dalam situasi yang sama sekali tidak bersahabat seperti ini.


***


Semua orang telah kembali ke dalam


kelasnya masing-masing setelah jam makan malam selesai. Sekarang mereka harus


tetap terjaga sampai kelasnya selesai sekitar pukul sebelas malam nanti. Setelah


itu baru mereka bisa kembali ke kelasnya masing-masing. Kelas malam memang akan


selalu selesai pada jam segitu. Dan biasanya baru akan dimulai begitu selesai


acara perjamuan makan malam. Kurang lebih pada sekitaran pukul delapan malam.


Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari yang lalu gedung


sekolah ditutup, kini tempat itu kembali dipadati oleh ratusan orang. Kelas pertama


akan dimulai malam ini juga. Meski pun solusi untuk salju abadi sama sekali


belum ditemukan, mereka tetap akan bertahan di tempat ini untuk beberapa hari


ke depan. Orang-orang tetap tidak ingin beranjak pindah dari sini. Mereka akan


tetap mempertahankan tempat ini bagaimana pun caranya. Bahkan jika harus


mempertaruhkan nyawanya sekali pun. Mereka sudah siap untuk hal tersebut. Ini adalah


sebuah harga yang pantas untuk dibayar dengan perjuangan.


“Apakah murid baru itu akan masuk ke kelas kita?” tanya Jang


Eunbi.


“Kita tidak pernah tahu ke kelas mana ia akan masuk


nantinya. Ada lebih dari sepuluh kelas yang berada di sini,” jelas Jongdae.


“Benar!” timpal Nhea yang kebetulan sedang ikut menimbrung


saat itu.


“Lagi pula kita tidak tahu dia kelas berapa. Apakah adik


kelas, kakak kelas atau malah seangkata dengan dia,” ujar Oliver.


“Kita bisa bertemu dengannya kapan saja. Dan mungkin akan


selalu bertemu selama kit masih berada di lingkungan sekolah yang sama. Jadi tidak


perlu khawatir,” beber gadis itu.


Apa yang dikatakan oleh gadis ini tadi tidak ada salahnya. Biasanya


mereka akan selalu bertemu setiap harinya selama dua puluh empat jam. Terutama


pada saat acara perjamuan makan atau acara-acara besar lainnya yang juga akan


melibatkan seluruh murid dari sekolah ini.


“Tapi, kapan ia sampai ke sini dan bagaimana bisa ia tetap


selamat?!” celetuk Nhea.


Benar juga. Kenapa selama ini mereka tidak kepikiran soal


hal itu sama sekali. Bukankah yang berada di luar itu adalah salju abadi. Seorang


manusia tidak bisa bersentuhan secara langsung dengan salju abadi. Jika tidak


mereka akan mengetahui akibatnya sendiri. Sudah ada satu orang yang menjadi


korban di sini dan harusnya itu telah menjadi contoh palign nyata. Mereka harus


berhati-hati mulai sekarang.


“Benar! Kapan dia tiba di sini?” tanya Oliver balik.


“Kenapa kau malah menanyakan hal itu kembali kepada kami?”


ujar Jang Eunbi dengan  nada bicara yang


terkesan jauh lebih ketus dari pada sebelumnya. Kemudian ia memutar bola


matanya dengan malas.


“Sudah jelas jika kami juga tidak mengetahui jawaban


pastinya,” tukas Jongdae.


Oliver berdecak sebal karena merasa jika posisinya saat ini


semakin terpojok. Padahal ia tidak bermaksud untuk berbuat seperti itu sama


sekali.


“Sudah-sudah!” lerai Nhea.


“Tapi, bukankah ini terasa aneh?” tanya gadis itu, kemudian


diangguki oleh yang lainnya.


“Benar! Ini aneh sekali,” sambar Oliver.


“Tidak biasanya orang akan berkeliaran di luar sana pada


situasi seperti ini. Keadaan di luar menjadi sangat kacau setelah badai salju


kemarin,” jelas Jang Eunbi.


Entah kenapa murid baru itu sudah berhasil menarik perhatian

__ADS_1


mereka, padahal bertemu saja belum. Dia sudah terlihat mencurigakan sejak awal.


__ADS_2