
Pria itu berhasil mengacak-acak
suasana hatinya hanya dalam hitungan menit. Sekarang ia bahkan sudah tidak
bersemangat lagi untuk melakukan apa pun. Nhea sungguh merasa kesal. Tapi, ia
juga tidak tahu harus melampiaskan hal tersebut kepada siapa. Dia tidak bisa
menyalahkan orang lain.
Mendengar pernyataan demikian
dari gadis itu, Chanwo lantas mengerutkan dahinya. Ia tidak mengerti sama
sekali sejak awal. Sebenarnya kemana Tanpa memusingkan perihal yang terjadi
barusan, Nhea dan teman-temannya yang lain tengah berusaha untuk kembali fokus.
Ini bukan sesuatu yang mereka inginkan.
Suasananya masih sama saja
seperti yang tadi. Tidak ada bedanya sama sekali. Gadis itu sejak tadi tidak
pernah menikmati suasananya. Atmosfir tempat ini bahkan mendadak berubah. Tidak
nyaman. Seolah ada sesuatu tak terlihat yang mendesaknya dari segala arah.
Nhea tengah berusaha untuk
bertahan di sini. Mau tak mau ia tetap harus melakukannya, meski sebenarnya
tengah merasa muak. Tidak bisa dipungkiri. Terlihat jelas dari raut wajah gadis
itu yang menunjukkan jika ia tidak betah berlama-lama di tempat ini.
Sebenarnya, akses menuju pintu
keluar yang ditutup tidak menjadi satu-satunya alasan kenapa Nhea tidak memutuskan
untuk keluar dari sana. Ada alasan lain yang terasa jauh lebih kuat dan logis.
Perihal mahkota itu. Ia tidak akan meninggalkannya begitu saja sebelum berhasil
merebutnya. Nhea tidak sudi jika sesuatu yang telah ditetapkan untuk menjadi
miliknya malah jatuh ke tangan orang yang tidak tepat. Terlebih jika itu Eun Ji
Hae.
Kalau sampai hal tersebut
terjadi, mungkin Nhea tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Bagaimana bisa
ia bersikap ceroboh seperti itu. Tidak mudah bagi Nhea untuk melupakan rasa
penyesalan yang selalu datang di akhir. Dia bukan tipikal orang yang mudah lupa
terhadap kesalahannya sendiri, maupun kesalahan orang lain terhadapnya,
Seharusnya kemarin ia langsung
mengambil alih mahkota tersebut saja. Coba lihat situasinya sekarang. Malah semakin
sulit dan nyaris tak terkendali. Mungkin jika ia tidak mengulur-ulur waktu
kemarin, pasti sekarang semuanya akan baik-baik saja. Meski keadaan akademi
sihir Mooneta pasti akan berantakan tak karuan. Sebab mereka panik jika benda
tersebut mendadak menghilang dari tempatnya. Selama ni ruang penyimpanan
dianggap sebagai tempat yang paling aman dari seluruh ruang akademi yang lain.
Setidaknya mahkota itu sudah aman
bersamanya. Berada di tangan yang tepat, yaitu Nhea. Tidak ada hal lain yang perlu
ia risaukan sekarang. Tapi, hal itu hanya akan terjadi jika Nhea bergerak lebih
cepat sebelumnya.
Kemarin malam ia sama sekali
__ADS_1
tidak kepikiran dengan acara ini. Nhea bahkan tidak tahu apa-apa. Jadi, selama
ini ia selalu mengira jika kondisi di luar sana akan tetap baik-baik saja
sampai ia kembali. Ternyata tidak sama sekali. Malah sebaliknya.
Hari ini, mau tak mau gadis itu
dipaksa untuk memutar otak. Tidak ada jalan lain. Kali ini ia hanya bisa
mengandalkan solusi dari dirinya sendiri. Bagaimanapun juga, Nhea harus
bertanggung jawab kepada dirinya sendiri. Pada dasarnya Nhea harus tahu
terlebih dahulu jika ada resiko tersembunyi dari setiap keputusan yang ia
ambil. Hak tersebut bersifat mutlak dan tidak bisa ia hindari. Baik dengan atau
tanpa sadar sama sekali.
“Baiklah, perhatian semuanya!”
seru Bibi GGa Eun dari depan sana.
Gadis itu lantas memutar bola
matanya dengan malas. Terkadang Nhea sampai merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia
bisa sampai terjebak di dalam kekacauan seperti ini. Hal tersebut sungguh
berada di luar rencana yang telah ia susun sebelumnya.
“Aku benar-benar muak!” gumam
Chanwo sambil berdecak sebal.
Untuk pertama kalinya Nhea
mendengar pria itu berkata kasar. Sebelumnya tidak pernah sama sekali. Gadis itu
lantas tercengang. Ia tidak mampu berkata-kata untuk beberapa saat. Kepalanya
tidak mampu berpikir sama sekali. Masih sulit untuk dipercaya. Sehingga Nhea
tidak memberikan respon apa pun.
itu barusan?” tanya Nhea dengan ragu.
Chanwo sepertinya masih belum
sadar jika sejak tadi gadis it uterus menyorotinya. Kemudian ia menoleh dan
mendapati ekspresi Nhea yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.
“Memangnya kenapa?” tanya pria
itu balik.
Bukannya menjawab pertanyaan Nhea
barusan, Chanwo malah melemparkan pertanyaan lain kepada gadis itu. Sudah jelas
Nhea tidak tahu apa jawabannya. Pasalnya sejak awal Nhea sudah melemparkan
pertanyaan lebih dulu.
“Tidak apa-apa, aku hanya
bertanya saja!” dalih Nhea sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.
Ia tampak berusaha sekeras
tenanga untuk menghindari dari percakapa yang berpotensi untuk mengalihkan
topik pembicaraan.
“Memangnya ada perlu apa sampai
bertanya tentang hal seperti itu?” tanya pria itu lagi.
Nhea yang mendengarnya hanya bisa
menghela napas dengan kasar. Sepertinya sikap Chanwo kali ini cukup menguji
__ADS_1
kesabaran. Sehingga, mau tak mau ia terpaksa harus meningkatkan level
kesabarannya. Tidak biasanya Chanwo berubah menjadi menyebalkan seperti ini.
Entah sejak kapan ia mulai bersikap demikian.
Sejak tadi Chanwo terus
melemparkan pertanyaan kepada Nhea. Membalas pertanyaan yang satu dengan
pertanyaan lainnya. Bukan dengan jawaban. Oleh sebab itu Nhea sama sekali belum
mendapatkan titik terangnya sejak tadi.
“Bisakah kau berhenti menanyaiku
seperti itu?!” kesal gadis itu.
Kali ini kesabarannya sudah
mencapai batas maksimal. Ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Tidak peduli
siapa yang akan merasa tersinggung dengan kalimatnya yang satu itu nantinya. Nhea
yakin jika Chanwo tidak akan merasa demikian. Dia bukan tipikal orang yang
pemikir, meski sebenarnya ia adalah pemimpin. Tapi, pada kenyataannya Chanwo
sama sekali tidak perah merasa tersinggung dengan perkataan siapa pun itu.
“Kalau begitu, langsung katakan
saja apa sebenarnya maumu?” tanya Chanwo dengan nada serius.
“Lain kali jangan bertele-tele
lagi seperti itu!” peringatinya sekali lagi.
Pria itu kembali mempertegas
kalimatnya barusan. Sementara itu, di sisi lain Nhea malah mendengus sebal.
“Jadi, apa yang kau perlukan
dariku?” tanya Chanwo kembali.
Ia mengulang pertanyaannya lagi.
Kurang lebih masih sama seperti yang tadi. Hanya berbeda dalam penyusnan
katanya saja.
“Tidak ada apa-apa,” jawab Nhea
acuh tak acuh.
“Lupakan saja!” timpalnya
kemudian.
dan apa yang diinginkan oleh
gadis ini.
“Baiklah, kalau begitu. Terserah mu
saja!” tukas Chanwo.
Pria itu bahkan ikut menyerah
juga. Dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Chanwo juga sebenarnya tidak
ingin ambil pusing sama sekali. Terlebih jika permasalahannya tidak penting.
Seorang pemimpin harus bisa membuat skala prioritas dalam hal apa pun. Termasuk
berpikir.
Mereka memutuskan
untuk mengakhiiri pembicaraannya tepat pada saat itu juga. Nhea sudah terlanjur
kesal. Ia bahkan tidak berminat untuk melanjutkan topik obrolannya kembali. Rasanya
__ADS_1
percum saja jika berbicara dengan pria ini. Ia tidak akan menemukan solusi apa
pun. Lagipula pemikiran mereka memang tidak pernah searah.