Mooneta High School

Mooneta High School
Debate Now


__ADS_3

Pria itu berhasil mengacak-acak


suasana hatinya hanya dalam hitungan menit. Sekarang ia bahkan sudah tidak


bersemangat lagi untuk melakukan apa pun. Nhea sungguh merasa kesal. Tapi, ia


juga tidak tahu harus melampiaskan hal tersebut kepada siapa. Dia tidak bisa


menyalahkan orang lain.


Mendengar pernyataan demikian


dari gadis itu, Chanwo lantas mengerutkan dahinya. Ia tidak mengerti sama


sekali sejak awal. Sebenarnya kemana Tanpa memusingkan perihal yang terjadi


barusan, Nhea dan teman-temannya yang lain tengah berusaha untuk kembali fokus.


Ini bukan sesuatu yang mereka inginkan.


Suasananya masih sama saja


seperti yang tadi. Tidak ada bedanya sama sekali. Gadis itu sejak tadi tidak


pernah menikmati suasananya. Atmosfir tempat ini bahkan mendadak berubah. Tidak


nyaman. Seolah ada sesuatu tak terlihat yang mendesaknya dari segala arah.


Nhea tengah berusaha untuk


bertahan di sini. Mau tak mau ia tetap harus melakukannya, meski sebenarnya


tengah merasa muak. Tidak bisa dipungkiri. Terlihat jelas dari raut wajah gadis


itu yang menunjukkan jika ia tidak betah berlama-lama di tempat ini.


Sebenarnya, akses menuju pintu


keluar yang ditutup tidak menjadi satu-satunya alasan kenapa Nhea tidak memutuskan


untuk keluar dari sana. Ada alasan lain yang terasa jauh lebih kuat dan logis.


Perihal mahkota itu. Ia tidak akan meninggalkannya begitu saja sebelum berhasil


merebutnya. Nhea tidak sudi jika sesuatu yang telah ditetapkan untuk menjadi


miliknya malah jatuh ke tangan orang yang tidak tepat. Terlebih jika itu Eun Ji


Hae.


Kalau sampai hal tersebut


terjadi, mungkin Nhea tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Bagaimana bisa


ia bersikap ceroboh seperti itu. Tidak mudah bagi Nhea untuk melupakan rasa


penyesalan yang selalu datang di akhir. Dia bukan tipikal orang yang mudah lupa


terhadap kesalahannya sendiri, maupun kesalahan orang lain terhadapnya,


Seharusnya kemarin ia langsung


mengambil alih mahkota tersebut saja. Coba lihat situasinya sekarang. Malah semakin


sulit dan nyaris tak terkendali. Mungkin jika ia tidak mengulur-ulur waktu


kemarin, pasti sekarang semuanya akan baik-baik saja. Meski keadaan akademi


sihir Mooneta pasti akan berantakan tak karuan. Sebab mereka panik jika benda


tersebut mendadak menghilang dari tempatnya. Selama ni ruang penyimpanan


dianggap sebagai tempat yang paling aman dari seluruh ruang akademi yang lain.


Setidaknya mahkota itu sudah aman


bersamanya. Berada di tangan yang tepat, yaitu Nhea. Tidak ada hal lain yang perlu


ia risaukan sekarang. Tapi, hal itu hanya akan terjadi jika Nhea bergerak lebih


cepat sebelumnya.


Kemarin malam ia sama sekali

__ADS_1


tidak kepikiran dengan acara ini. Nhea bahkan tidak tahu apa-apa. Jadi, selama


ini ia selalu mengira jika kondisi di luar sana akan tetap baik-baik saja


sampai ia kembali. Ternyata tidak sama sekali. Malah sebaliknya.


Hari ini, mau tak mau gadis itu


dipaksa untuk memutar otak. Tidak ada jalan lain. Kali ini ia hanya bisa


mengandalkan solusi dari dirinya sendiri. Bagaimanapun juga, Nhea harus


bertanggung jawab kepada dirinya sendiri. Pada dasarnya Nhea harus tahu


terlebih dahulu jika ada resiko tersembunyi dari setiap keputusan yang ia


ambil. Hak tersebut bersifat mutlak dan tidak bisa ia hindari. Baik dengan atau


tanpa sadar sama sekali.


“Baiklah, perhatian semuanya!”


seru Bibi GGa Eun dari depan sana.


Gadis itu lantas memutar bola


matanya dengan malas. Terkadang Nhea sampai merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia


bisa sampai terjebak di dalam kekacauan seperti ini. Hal tersebut sungguh


berada di luar rencana yang telah ia susun sebelumnya.


“Aku benar-benar muak!” gumam


Chanwo sambil berdecak sebal.


Untuk pertama kalinya Nhea


mendengar pria itu berkata kasar. Sebelumnya tidak pernah sama sekali. Gadis itu


lantas tercengang. Ia tidak mampu berkata-kata untuk beberapa saat. Kepalanya


tidak mampu berpikir sama sekali. Masih sulit untuk dipercaya. Sehingga Nhea


tidak memberikan respon apa pun.


itu barusan?” tanya Nhea dengan ragu.


Chanwo sepertinya masih belum


sadar jika sejak tadi gadis it uterus menyorotinya. Kemudian ia menoleh dan


mendapati ekspresi Nhea yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.


“Memangnya kenapa?” tanya pria


itu balik.


Bukannya menjawab pertanyaan Nhea


barusan, Chanwo malah melemparkan pertanyaan lain kepada gadis itu. Sudah jelas


Nhea tidak tahu apa jawabannya. Pasalnya sejak awal Nhea sudah melemparkan


pertanyaan lebih dulu.


“Tidak apa-apa, aku hanya


bertanya saja!” dalih Nhea sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.


Ia tampak berusaha sekeras


tenanga untuk menghindari dari percakapa yang berpotensi untuk mengalihkan


topik pembicaraan.


“Memangnya ada perlu apa sampai


bertanya tentang hal seperti itu?” tanya pria itu lagi.


Nhea yang mendengarnya hanya bisa


menghela napas dengan kasar. Sepertinya sikap Chanwo kali ini cukup menguji

__ADS_1


kesabaran. Sehingga, mau tak mau ia terpaksa harus meningkatkan level


kesabarannya. Tidak biasanya Chanwo berubah menjadi menyebalkan seperti ini.


Entah sejak kapan ia mulai bersikap demikian.


Sejak tadi Chanwo terus


melemparkan pertanyaan kepada Nhea. Membalas pertanyaan yang satu dengan


pertanyaan lainnya. Bukan dengan jawaban. Oleh sebab itu Nhea sama sekali belum


mendapatkan titik terangnya sejak tadi.


“Bisakah kau berhenti menanyaiku


seperti itu?!” kesal gadis itu.


Kali ini kesabarannya sudah


mencapai batas maksimal. Ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Tidak peduli


siapa yang akan merasa tersinggung dengan kalimatnya yang satu itu nantinya. Nhea


yakin jika Chanwo tidak akan merasa demikian. Dia bukan tipikal orang yang


pemikir, meski sebenarnya ia adalah pemimpin. Tapi, pada kenyataannya Chanwo


sama sekali tidak perah merasa tersinggung dengan perkataan siapa pun itu.


“Kalau begitu, langsung katakan


saja apa sebenarnya maumu?” tanya Chanwo dengan nada serius.


“Lain kali jangan bertele-tele


lagi seperti itu!” peringatinya sekali lagi.


Pria itu kembali mempertegas


kalimatnya barusan. Sementara itu, di sisi lain Nhea malah mendengus sebal.


“Jadi, apa yang kau perlukan


dariku?” tanya Chanwo kembali.


Ia mengulang pertanyaannya lagi.


Kurang lebih masih sama seperti yang tadi. Hanya berbeda dalam penyusnan


katanya saja.


“Tidak ada apa-apa,” jawab Nhea


acuh tak acuh.


“Lupakan saja!” timpalnya


kemudian.


dan apa yang diinginkan oleh


gadis ini.


“Baiklah, kalau begitu. Terserah mu


saja!” tukas Chanwo.


Pria itu bahkan ikut menyerah


juga. Dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Chanwo juga sebenarnya tidak


ingin ambil pusing sama sekali. Terlebih jika permasalahannya tidak penting.


Seorang pemimpin harus bisa membuat skala prioritas dalam hal apa pun. Termasuk


berpikir.


Mereka memutuskan


untuk mengakhiiri pembicaraannya tepat pada saat itu juga. Nhea sudah terlanjur


kesal. Ia bahkan tidak berminat untuk melanjutkan topik obrolannya kembali. Rasanya

__ADS_1


percum saja jika berbicara dengan pria ini. Ia tidak akan menemukan solusi apa


pun. Lagipula pemikiran mereka memang tidak pernah searah.


__ADS_2