
Vallery mengantarkan Eun Ji Hae ke ruangannya. Malam ini, gadis itu akan menginap di sini. Ruangannya masih berada di koridor yang sama dengan orang tuanya. Lee Seung Rim bilang jika itu adalah kamar terakhir yang tersisa di tempat ini. Tempatnya tak begitub buruk untuk di tinggali, tentu saja karena ini adalah gedung penginapan khusus bagi para tamu penting yang datang ke sekolah ini. Eun Ji Hae tak pernah menyangka jika sekolah ini punya banyak hal luar biasa yang tak bisa di temuinya di Sekolah Mooneta.
“Selamat malam sayang,” ujar wanita itu, sambil mengecup singkat dahi putrinya tersebut.
“Selamat malam juga bu. Jangan lupa tidur yang cukup, besok kita akan melakukan perjalanan panjang,” balas Eun Ji Hae sambil tersenyum kecil.
“Nikmati suasana malam di Orton, kau akan suka dengan tempat ini,” ujar Vallery.
“Kalau begitu, ibu harus pergi dulu. Dah!” lanjutnya, kemudian beranjak dari tempat itu.
Setelah memastikan jika wanita itu telah benar-benar pergi dari sana, Eun Ji Hae mulai masuk ke kamarnya. Ia sesekali berdecak kagum, melihat ruangan yang sedang ia tempati ini. Eun Ji Hae pikir jika Mooneta adalah satu-satunya sekolah sihir dengan arsitektur khas seperti di masa Victoria yang terbaik. Ternyata ia salah besar, Orton jauh lebih memiliki desain yang nyaris lebih rumit dari pada Mooneta.
Eun Ji Hae merobohkan dirinya di ats kasur empuk itu. Ini adalah saat pertama kali baginya untuk kembali ke kamar, setelah bertahun-tahun terjebak di dalam patung Phoenix itu. Ini juga pertama kalinya bagi Eun Ji Hae untuk menghadapi musim dingin tanpa coat khusus seperti biasanya. Kekuatan yang di bekali oleh bibinya ini mampu membuatnya bertahan di cuaca yang nyaris mencapai minus dua derajat tersebut.
***
__ADS_1
Matahari sudah mulai menampakkan dirinya dari ufuk timur. Perlahan namun pasti, dirinya turut naik dan semakin tinggi seiring berjalannya waktu. Sinar kuning jingga nya lembut menyapa semua insan pagi ini. Termasuk Eun Ji Hae yang pagi ini nyaris bangun lebih awal dari pada biasanya. Hari ini cuacanya jauh lebih cerah. Suhu hari ini juga lebih hangat tiga derajat dari sebelumnya.
Eun Ji Hae segera bersiap dengan seragam barunya yang telah di sediakan oleeh sekolah ini. Ia bahkan tak tahu kapan terakhir kali ia mengganti busananya ini. Setelah selesai bersiap, Eun Ji Hae segera keluar dari kamarnya tersebut. Koridor ini kelihatannya selalu sepi dan tak ada seorangpun yang terlihat melintas di sana.
‘Tok! Tok! Tok!’
Eun Ji Hae mengetuk pintu kamar orang tuanya dengan perlahan. Untuk ukuran sebuah tempat yang sepi seperti ini, rasanya suara sekecil itu cukup untuk menembus masuk ke seberang sana. Ia menunggu di depan pintu kayu jati tersebut sambil menunggu seseorang di balik sana untuk membukakakn pintu ini. Sesekali ia merapihkan seragamnya sekali lagi dan sepatu ankle boots yang ia kenakan hari ini. Baginya pakaian para penyihir selalu mengikuti perkembangan trend busana masa kini. Meskipun warnanya selalu monoton dan tetap selalu itu-itu saja sepanjang masa, tapi modenya kini jauh lebih beragam dan unik. Para penyihir masa ini nyaris terlihat lebih modis jika di bandingkan dengan dahulu kala. Kadang ia tak habis pikir jika ternyata para penyihir juga menggeluti bidang seperti ini. Eun Ji Hae pikir, para manusia istimewa itu hanya akan fokus pada rapalan mantra mereka dan tak sempat untuk memikirkan hal semacam ini.
Tak lama kemudian, seseorang membukakakn pintu dari balik sana. Eun Ji Hae mendapati ibunya Vallery dan Wilson yang turut berada di sini. Eun Ji Hae terlalu antusisas untuk melakukan perjalana itu bersama kedua orang tuanya. Kembali mendapatkan quality time bersama kedua orang tuanya. Mereka semua akan segera kembali ke rumah yang sebenarnya. Tempat di mana mereka pernah menghabiskan waktu bersama.
“Selamat pagi ayah, ibu!” balas Eun Ji Hae dengan penuh semangat.
Wilson juga tak ingin kalah dengan istrinya tersebut, ia membelai halus puncak kepala anaknya ini. Sudah lama mereka tak memanjakan putrinya yang satu ini, apalagi Nhea. Rasanya mereka sudah menerlantarkan anak-anak mereka begitu saja dan membuat masa kecil mereka berdua menjadi tak seperti anak-anak lainnya.
“Ayo kita pergi ke ruangan makan untuk sarapan, kemudian berberes agar kita bisa segera pergi dari sini,” ujar Vallery.
__ADS_1
Eun Ji Hae mengangguk pelan, mengiyakan perkataan ibunya barusan. Sedetik kemudian, Vallery segera mengunci kamarnya dan Wilson. Meskipun sekolah ini masih berkerabat dengan sekolah yang di pimpin olehnya, itu tak menjamin keamanan privasinya. Mereka tak bisa mempercayai Lee Seung Rim begitu saja, selalu waspada akan membuat mereka lebih aman.
Setelah selesai melakukan hal itu, mereka bertiga segera menuju ke ruangan khusus yang memang di sediakan untuk jamuan makan saja. Termasuk sarapan pagi ini, yang akan di laksanakan bersama seluruh siswa di sekolah ini. Untuk pertama kalinya pula Eun Ji Hae mengenakan pakaian seragam khas berlogokan sekolah ini.
Setelha masuk, mereka bertiga duduk tepat di samping bangkunya Lee Seung Rim. Sebenarnya Eun Ji Hae sudah di buat tak nyaman sejak keluar dari gedung yang menjadi tempat mereka menginap. Sepanjang perjalana menuju ke sini, Eun Ji Hae terus menjadi pusat perhatian seluruh siswa di sekolah ini. Seluruh mata tertuju ke arah Eun Ji Hae, dengan tatapan yang tak menyenangkan. Termasuk saat sarapan bersama mereka semua, Eun Ji Hae lah yang menjadi topik utama dari obrolan para siswa pagi ini. Tak jarang jika ia melihat nyaris semua siswa berbisik pelan di ruangan makam, ia tahu dengan jelas jika semua orang sedang membicarakannya saat ini. Entah kenapa, telinganya terasa panas seketika.
“Selamat pagi anak-anak!” sapa Lee Seung Rim dari ujung meja makan raksasa itu.
“Pagi nyonya!” sapa balik murid-murid itu secara antusias.
Akhirnya Eun Ji Hae bisa sedikit merasa lebih lega dan tenang. Setidaknya para murid-murid yang menyebalkan ini bisa diam dan tak menggosipi nya untuk sejenak. Lee Seung Rim memang sangat terpandang dan begitu disegani oleh semua orang di sini. Buktinya saja, para murid-murid ini bisa langsung terbungkan dan tak bisa berkutik sama sekali di buatnya.
“Perkenalkan anak di sebelahku ini, namanya Eun Ji Hae,” ujar Lee Seung Rim.
Eun Ji Hae lantas berdiri dari tempat duduknya, untuk memperkenalkan dirinya sendiri. Ia sudah benar-benar muak dan geram dengan perlakuan para murid itu terhadap dirinya.
__ADS_1
“Salam kenal, namaku Eun Ji Hae,” ucapnya sambil membungkukkan badannya sedikit.