
Pria itu tetap pada keputusannya di awal. Dia tidak akan
mengubah hal tersebut begitu saja. Keputusannya sudah bulat, tidak bisa
diganggu gugat. Segala bujukan dan kata-kata rayuan yang diucapkan oleh Hwang
Ji Na sama sekali tidak ada pengaruh apa-apanya terhadap pria ini.
“Aku enggak bisa pergi di saat seperti ini. Ladi pula, aku
sudah resmi menjadi bagian dari sekolah,” beber Chanwo.
Hwang Ji Na yang mendengar kalimat tersebut barusan hanya
bisa geleng-geleng kepala. Ia sama sekali tak habis pikir jika akan ssesulit
ini untuk membawanya kembali ke tempat asalnya. Gadis ini perlu memutar otak
lagi untuk mancari opsi lainnya.
“Lalu,apa yang kau tunggu?”
“Kapan kau akan kembali?”
“Semua orang di kerajaan sudah menunggumu untuk kembali!”
Hwang Ji Na terus berbicara tanpa henti. Nyaris tidak
memberikan kesempatan kepada pria itu. Emosinya tengah menggebu-gebu sekarang. Ia
bahkan hampir lupa untuk menjaga intonasi dan volume suaranya, agar tidak
membangunkan yang lainnya. Dia harus selalu berhati-hati saat berada di sini.
“Aku akan kembali setelah semua situasinya kembali kondusif,”
ucap pria itu secara gamblang.
Hwang Ji Nae tampak mengerutkan dahinya. Ia tak benar-benar
paham dengan apa yang baru saja dibicarakan oleh pria ini barusan. Memangnya apa
yang terjadi, sampai –sampai ia harus menunggu. Ini berhasil merujuk kepada
pertanyaan Hwang Ji Na yang pertama tadi.
“Dengar!” ucap Chanwo.
Pria itu sengaja menyita seluruh perhatian Hwang Ji Na. Ini
sudah malam dan ia mengantuk. Chanwo tak akan mengulangi semua penjelasannya
untuk yang kedua kalinya.
“Barru-baru ini telah terjadi kasus pembunuhan seorang siswa
di sekolah ini. Bahkan mereka masih menyelidiki siapa pelakunya. Yang jelas itu
bukan aku. Dan aku baru saja resmi masuk kemarin. Jika aku mendadak menghilang,
maka otomatis hal tersebut akan menarik perhatian mereka. Semua orang akan
menaruh rasa curiga kepadaku,” jelasnya dengan panjang lebar.
“Mereka pasti akan menuduhku sebagai pelakunya!” tukas pria
itu.
Jika dipikir-pikir lagi, sepertinya apa yang dikatakan oleh
pria ini ada benarnya juga. Chawnwo bisa terjebak di dalam masalah jika tetap
nekat untuk pergi di saat seperti ini. Semua orang pasti akan mencurigainya. Begitulah
__ADS_1
manusia. Mereka akan tetap mencurigai oknum-oknum yang terlihat berpotensi,
meski sebenarnya ia tak bersalah sama sekali.
Hwang Ji Na tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa
pasrah terhadap keadaan. Dia tidak bisa memaksa. Sekarang gadis itu paham betul
bagaimana situasinya. Sama saja dengan menyeret pria itu ke dalam bahaya jika
ia tetap nekat untuk membawanya pulang. Setidaknya mereka harus menunggu sampai
semuanya membaik. Tapi situasi tidak akan pernah membaik. Setiap harinya selalu
ada saja masalah baru yang datang. Tidak peduli dengan masalah yang lama sudah
selesai atau belum.
Gadis itu menghela napas dengan kasar. Mendadak ia kehabisan
stok kata-kata di dalam kepalanya. Hal tersebut berhail membuatnya bungkam
untuk sementara waktu, tak bisa berkutik sedikitpun. Mereka berdua masih tetap
bergeming.
“Sekarang kau paham bukan, kenapa aku tidak bisa kembali
meski aku mau?” tanya Chanwo.
Hwang Ji Na mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tapi, kapan rencananya kau akan kembali?” tanya Hwang Ji Na
balik.
“Aku belum tahu waktu pastinya kapan,” ungkap pria itu.
Tidak ada yang bisa mereka lakukan sejauh ini, kecuali satu.
“Tapi, yang ku ceritakan tadi bukan satu-satunya alasan
kenapa aku masih bertahan di tempat ini,” beber Chanwo.
Sontak pengakuan pria ini barusan berhasil membuat Hwang Ji
Na terkesiap dari lamunanya. Ia menatap pria itu dengan penuh pertanyaan. Hwang
Ji Na tengah sibuk menelisik ekspresi dari pria itu.
“Maksudmu, apa ada alasan lainnya?” tanya Hwang Ji Na dengan
ragu-ragu.
Ia tak terlalu yakin dengan pertanyaannya sendiri. Sejauh ini
hanya itu satu-satunya kesimpulan yang bisa ia dapatkan dari pembicaraan
mereka.
“Kau benar,” ucap Chanwo secara gamblang.
Jika yang tadi bukan alasan satu-satunya, lantas ada berada
banyak alasan yang ia miliki. Sebenarnya apa yang sedang berada di dalam
pikiran pria ini. Apa ia berencana untuk melarikan diri dari tanggung jawabnya
di istana? Apa Chanwo sengaja terus mengelak ajakan Hwang Ji Na untuk kembali,
karena pada dasarnya ia memang tak menginginkan hal tersebut?
Semua asumsi itu berhasil timbul di dalam benak Hwang Ji Na
__ADS_1
hanyad alam waktu kurang dari satu menit. Ia langsung menyimpulkan semuanya,
meski apa yang berada di dalam kepalanya saat ini belum tentu sama dengan isi
kepala pria itu.
“Apa lagi yang kau tunggu sampai harus menunda kepulangan
seperti ini?” tanya Hwang Ji Na untuk yang kesekian kalinya.
Ia mulai lelah dan putus asa. Ini bukan pertama kalinya bagi
gadis itu untuk mengajukan pertanyaan serupa. Ia hanya mengubah pola kalimatnya
saja. Sementara pada intinya tetap mengacu kepada satu tujuan yang sama.
Ada begitu banyak hal yang tidak bisa dimengerti oleh gadis
ini sekarang. Tak peduli serinci apa nanti Chanwo menjelaskan hal tersebut
kepadanya. Hwang Ji Na tetap tidak akan mengerti. Dia terlalu sulit untuk
memahami semua ini, karena tidak berada di posisi pria itu.
“Sebaiknya kau pulang lebih dulu,” usul Chanwo.
“Aku pasti akan menyusul nanti ketika situasinya sudah
memungkinkan,” timpalnya.
“Aku tidak akan kembali tanpmu. Itu adalah janji yang kubuat
kepada diriku sendiri,” tepis Hwang Ji Na.
Gadis itu menolak perintah Chanwo secara mentah-mentah. Memangnya
siapa lagi orang yang mau dan berani membantah perkataan seorang pemimpin,
selain Hwang Ji Na.
“Ku mohon, jangan keras kepala,” pinta Chanwo. Kali ini ia
tampak memelas sambil menahan rasa kesal.
“Kau juga keras kepala!” sarkas gadis itu.
Chanwo terus berusaja untuk meningkatkan level kesabarannya,
saat berbicara dengan gadis ini. Hwang Ji Na benar-benar menguji kesabarannya. Padahal
Chwanwo berniat baik. Ia hanya tidka ingin hal buruk terjadi kepada gadis itu.
Pria itu tidak ingin membuat Hwang Ji Na berada di tempat
seperti ini terlalu lama. Lingkungan sekolah ini bukan salah satu tempat yang
cocok baginya. Begitu pula dengan Chanwo sebenarnya. Pria itu berusaha
mati-matian untuk menutupi identitasnya sendiri, agar ia tetap bertahan hidup
di sini.
Tempat ini terlalu berbahaya bagi mereka yang berasal dari
hutan kegelapan. Semua hal yang ada di tempat ini adalah suatu ancaman nyata
bagi mereka. Ia hanya tak ingin Hwang Ji Na terluka sedikit saja. Pria itu
telah menganggap Hwang Ji Na sebagai adiknya sendiri, meski pada dasarnya
mereka berasal dari klan yang berbeda. Seluruh warga kerajaan juga telah
menganggap gadis itu sebagai salah satu dari mereka. Hwang Ji Na diperlakukan
__ADS_1
secara adil di sana.